Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Senin, Oktober 5, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeDunia

Komitmen Iklim Negara Maju Dinilai Abaikan Keadilan

byRedaksi
10/05/2021
inDunia
98
SHARES
703
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Ketika Presiden Joe Biden menetapkan bahwa AS akan memangkas separuh emisi gas rumah kaca dari level tahun 2005 pada 2030 nanti, sembari mendesak Cina dan India untuk bertindak lebih, dia gagal meyakinkan pecinta lingkungan.

Potongan itu terasa besar, tapi nyatanya tidak menghentikan AS untuk melampaui batas emisi sesuai ukuran ekonomi seperti yang ditetapkan Perjanjian Paris 2015, menurut lembaga studi Climate Action Tracker.

Artinya meski sudah dikurangi separuh, jumlah emisi AS masih berada di zona merah yang memproyeksikan kenaikan suhu rata-rata Bumi di atas 2 derajat Celcius.

Fenomena ini digugat karena mencederai keadilan. Tidak hanya menyumbang emisi gas rumah kaca lebih banyak dari negara lain di dunia, AS juga punya dana paling tebal untuk menanggulangi krisis iklim.

Komitmen emisi AS hanya membantu mencapai jumlah potongan emisi yang “mendekati atau hanya sejengkal” dari yang dibutuhkan untuk membatasi kenaikan suhu di bawah 2 derajat Celcius, kata Andreas Geiges, peneliti Climate Analytics.

Bahkan tanpa menghitung jumlah emisi yang dibuat di masa lalu pun, pengurangan jejak karbon AS tidak mencukupi untuk proyeksi suhu di bawah 1,5 derajat Celcius yang lebih ambisius.

Ketika negara-negara di dunia merumuskan komitmen iklimnya menjelang konferensi COP26 pada November mendatang, politisi dan penggiat lingkungan ramai membicarakan “keadilan iklim.” Belakangan istilah ini giat diadopsi oleh peneliti atau muncul dalam retorika politik.

“Kami menuntut Anda berhenti menghukum negara di selatan (negara berkembang), dan komunitas hitam, cokelat atau masyarakat adat, melalui penjarahan lingkungan,” kata aktivis Meksiko, Xiye Bastida, saat berpidato di hadapan konferensi iklim yang digelar AS baru-baru ini.

“Solusi harus dibuat selaras dengan fakta bahwa keadilan iklim adalah keadilan sosial.”

Apa itu keadilan iklim?

Keadilan iklim mengakui bahwa mereka yang paling banyak menciptakan emisi, juga yang paling aman dari dampaknya terhadap iklim Bumi. Artinya negara-negara industri maju mengemban tanggung jawab lebih besar dalam perang melawan klim.

Tapi sejauh ini istilah itu masih jauh panggang dari api. “Kita semua menghadapi krisis iklim, tapi kita tidak bersama-sama,” tulis Guru Besar Filsafat di Universitas Georgetown, Olúfẹ́mi Táíwò, kepada DW, Maret lalu.

Setiap tahun, negara kaya menghasilkan 10 kali lipat emisi CO2 ketimbang negara miskin seperti India, atau 20 kali lipat ketimbang negara Afrika seperti Nigeria. Kesenjangan ini semakin lebar jika mengingat bahwa negara industri sudah lebih lama mengotori atmosfer Bumi.

Studi yang dirilis di jurnal Ilmiah, Lancet Planetary Health, September lalu, menyimpulkan negara industri maju bertanggungjawab atas 92% jumlah emisi CO2 di dunia yang melebihi batas aman konsentrasi atmosfer, yakni 350 ppm. Sementara negara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah, hanya bertanggungjawab atas 8% dari gas berlebih di atmosfer Bumi.

Studi itu mengurangi emisi total sebuah negara dengan jumlah ideal yang mencerminkan ukuran ekonominya. Dengan mengukur perubahan populasi, dan emisi dari komoditas yang diekspor ke luar negeri, para peneliti menyimpulkan bahkan Cina yang kini penghasil polusi CO2 paling besar sekali pun, hanya menghabiskan jatah emisinya.

“Hasilnya sangat mengejutkan,” kata Prakash Kshwan, Guru Besar Politik di Universitas Connecticut, AS, yang ikut menulis studi. “Ketimpangan seperti ini lah yang menyeret kita ke krisis iklim saat ini. Fenomena ini sulit dipercaya, tapi kita tidak banyak membicarakannya.”

Saat ini pun dampak perubahan iklim lebih terasa di negara berkembang, ketimbang negara maju. Di Asia, pemanasan global yang disebabkan emisi gas rumah kaca tidak hanya mengancam sumber air bersih bagi 1,5 miliar manusia di Asia Selatan, tetapi juga kehidupan warga di kawasan pesisir yang rentan oleh kenaikan permukaan air laut.(*)


DW Indonesia

Tags:#globalisasi#iklim#keadilan
Share39SendShare

Related Posts

KOMRAD : Jakarta Buktikan Diri, Dari Kota Rawan Jadi Salah Satu Kota Teraman Di ASEAN

09/04/2026

PIRAMIDA.ID | Jakarta, 8 April 2026 - Koordinator Nasional Komrad Pancasila, Antony Yudha Benusu, menyampaikan apresiasi sekaligus penegasan bahwa Jakarta...

Perang Israel-Iran Menunjukkan Pentingnya STEM, Fawer Sihite: Dukung Sikap Presiden Prabowo

22/06/2025

PIRAMIDA.ID - Dalam sebuah wawancara eksklusif yang berlangsung di Mall Atrium Senen, Jakarta Pusat, Fawer Sihite menegaskan bahwa perang antara...

Kebahagiaan Berasal dari Keyakinan dalam Diri

10/07/2023

PIRAMIDA.ID- Pernahkah Anda berkata pada diri sendiri saat marah, ‘Saya tidak boleh marah?' Atau mungkin ketika Anda merasa sedikit sedih,...

Mengapa Orang Terlihat Serius dan Tidak Tersenyum di Foto-foto Kuno?

30/04/2023

PIRAMIDA.ID- Foto-foto pertama diambil pada akhir tahun 1820-an. Tetapi sampai tahun 1920-an, tampaknya orang-orang mulai “belajar” tersenyum saat di foto....

Bagaimana Asal Usul Jabat Tangan?

02/04/2023

PIRAMIDA.ID- Kita sudah begitu terbiasa berjabat tangan dengan orang lain, kita hampir tidak memikirkan bagaimana, di mana, dan mengapa kebiasaan...

Marcus Aurelius: Kaisar Romawi Baik Hati yang Juga Seorang Filsuf

05/03/2023

PIRAMIDA.ID- Marcus Aurelius lahir pada 26 April 121 Masehi di Roma dengan nama lahir Marcus Annius Verus. Perjalanan hidupnya membuat...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

62 Tahun PMKRI Pematangsiantar: Bertumbuh dalam Persaudaraan, Mengabdi dalam Perjuangan

05/10/2026
Berita

Tokoh Simalungun: Pemilihan Rektor USI PerluMengedepankan Kapasitas dan Visi

05/10/2026
Berita

5 Fraksi DPRD tidak mau bahas P-APBD berpotensi melakukan Perbuatan Melawan Hukum

02/10/2026
Berita

Apresiasi Polda Metro Jaya Dalam Pengungkapan Kasus Alm Bambang Setiawan, Komrad Pancasila: Jangan Naikkan Dugaan Menjadi Vonis

01/10/2026
Berita

PMKRI Pematangsiantar Kota Pendidikan Tak Boleh Membiarkan Anak Belajar dalam Ketakutan

26/09/2026
Berita

Dugaan Perundungan di SMP Negeri 12 Siantar, Ketua ILAJ: Masalah Anak Tidak Boleh Dianggap Sepele

26/09/2026

Populer

Berita

5 Fraksi DPRD tidak mau bahas P-APBD berpotensi melakukan Perbuatan Melawan Hukum

02/10/2026
Pojokan

Seperti Apa Sistem Absensi yang Banyak Digunakan di Indonesia?

20/12/2022
istimewa
Dialektika

Ana ‘Abdu Man ‘Allamani

17/06/2020
Berita

BNN Bekuk ‘Mami’ Dua Ton Sabu, Komrad Pancasila: Kemenangan Negara atas Kartel Narkoba Internasional

03/12/2025
Dialektika

Kesehatan Mental & Jiwa dalam Perspektif Sosiologi & Hukum

05/07/2022
Pojokan

Putu Laxman Pendit, Doktor Perpustakaan yang Tidak Dapat Tempat di Indonesia

30/07/2021
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus