Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Jumat, Juni 12, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeSorot Publik

Virus Tak Punya Paspor, Tak Masalah Vaksin Impor

byRedaksi
07/08/2020
inSorot Publik
98
SHARES
699
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Sejumlah pakar kesehatan Indonesia berpendapat bahwa ketika kebutuhan vaksin tinggi, tidak menjadi masalah apakah pasokan vaksin didapat dari impor atau produksi dalam negeri. Yang terpenting vaksin yang dipakai adalah produk yang terbaik untuk masyarakat.

Profesor Tri Wibawa, pakar Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, menjelaskan yang menjadi masalah saat permintaan vaksin tinggi adalah kapasitas produksi.

“Jadi, kalau misalnya kita bisa amankan itu produk dalam negeri, tentu saja kita bisa memprioritaskan untuk masyarakat Indonesia. Sementara kalau kita hanya mendasarkan pada produksi luar negeri, maka dari sisi prioritas kita akan kalah dengan yang punya,” kata Tri Wibawa.

Tri Wibawa

Tri Wibawa menanggapi pro-kontra seputar pengadaan vaksin COVID-19, yang disebabkan virus corona jenis baru. Seperti negara-negara lain di dunia, Indonesia berpacu dengan waktu untuk mengupayakan ketersediaan vaksin COVID-19 sesegera mungkin.

Indonesia sendiri sudah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan pembuat vaksin untuk menguji kandidat vaksin COVID-19, beberapa berasal dari sumber impor.

Namun, tambah Tri Wibawa, jika Indonesia memutuskan menggunakan vaksin impor, selama produsen di luar negeri dapat bekerja sama menjamin ketersediaan, tidak ada hal yang perlu dipersoalkan.

Keterlibatan Produksi Penting

Bio Farma, badan usaha milik negara (BUMN) produsen vaksin, saat ini bekerja sama dengan perusahaan farmasi Sinovac asal China, dalam pengembangan vaksin corona. Kerja sama ini memungkinkan vaksin dapat diproduksi pada tahun depan. Pada sisi yang lain, Bio Farma juga sedang bekerja sama dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman untuk memproduksi vaksin Merah Putih. Kerja sama ini mengagendakan produksi vaksin dalam negeri pada 2022.

Tri Wibawa menyambut baik keterlibatan Indonesia dalam uji coba vaksin produksi Sinovac. Proses ini memungkinkan otoritas pemerintah terkait dapat mengawasi prosesnya, dan menjamin vaksin yang dihasilkan aman dan efektif untuk masyarakat Indonesia.

Ada dua pertimbangan penting dalam memilih produk vaksin. Keterlibatan otoritas Indonesia dalam uji klinis penting untuk memenuhi dua kondisi itu. Pertama adalah keamanan dan efektivitas dalam pemilihan vaksin. Kedua adalah kemudahan akses terhadap vaksin itu, jika sudah terbukti menjadi produk berkualitas baik. Indonesia perlu jaminan dari produsen, terkait akses yang cukup untuk mendapatkan vaksin itu.

“Soal harga, soal kemudahan untuk penyimpanan dan pemberian itu yang belakangan,” tegas Tri Wibawa.

Manfaat lain keterlibatan Indonesia dalam proses produksi vaksin adalah transfer ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan vaksin membutuhkan waktu yang sangat lama. Ada sejumlah vaksin yang pengembangannya butuh hingga 10 tahun. Bila vaksin COVID-19 bisa dikembangkan dalam waktu dua tahun atau kurang akan menjadi sesuatu yang luar biasa.

Virus Tak Berpaspor

Pakar biologi molekuler, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, setuju bahwa penting bagi Indonesia untuk terlibat dalam uji klinis vaksin COVID-19 produksi luar negeri. Dia memahami kontroversi di masyarakat belakangan ini, yang menganggap relawan uji klinis vaksin menjadi kelinci percobaan. Namun, pendapat ini diyakini Ahmad Rusdan, hanya muncul di kalangan masyarakat yang memang selalu mengaitkan berbagai hal sebagai bentuk konspirasi.

Ahmad Rusdan Handoyo Utomo. (Foto: pribadi)
Ahmad Utomo

“Kalau kita tidak uji klinis di Indonesia, sementara vaksin sudah mau keluar, ini pemerintah malah jadi ragu untuk deploy (mendistribusikan.red) ke masyarakat kita sendiri. Misalnya, Amerika, Eropa dan India sudah memproduksi, pertanyaannya masyarakat Indonesia siap enggak langsung dipakai? Justru itu kelinci percobaan, karena tidak dilibatkan dari awal,” kata Ahmad Rusdan.

Peneliti lulusan Harvard Medical School itu juga mengatakan, uji klinis memberi kesempatan para ahli Indonesia mengawasi langsung prosesnya di Tanah Air. Sinovac selaku produsen hanya menyediakan bahan baku. Jika ada efek samping atau hasilnya tidak bagus, dia meyakini para ahli itu akan secara jujur mengakui. Jika masyarakat ragu, Ahmad Rusdan menilai sikap itu sama dengan meragukan keahlian para peneliti Indonesia sendiri.

Para relawan, lanjut Ahmad Rusdan, juga berkontribusi besar bagi kemanusiaan. Mereka bukan kelinci percobaan. Pengorbanan dan peran relawan sangat penting bagi masyarakat. Kesehatan relawan juga dipantau sepanjang waktu sehingga tidak perlu dikhawatirkan. 

Yang harus dipastikan, lanjut Ahmad Rusdan, adalah komitmen pemerintah dalam pengembangan vaksin karena riset dan pengembangan vaksin butuh biaya yang sangat besar.

Ahmad Rusan mencontohkan wabah Sindrom Pernafasan Parah Akut (Severe Acute Respiratory Syndrome/SARS) dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (Middle East Respiratory Syndrome/MERS). Kedua wabah itu ketika itu selesai tanpa pemakaian vaksin. Padahal industri sudah membelanjakan dana besar dalam proses pengembangannya. Pada titik inilah sebenarnya industri farmasi kadang berhitung dalam pengembangan vaksin.

Selain China, Indonesia Gandeng Korea Selatan dan CEPI Produksi Vaksin Covid-19

Ahmad Rusdan setuju bahwa tidak bisa mengaitkan isu nasionalisme dalam persoalan vaksin. Justru saat ini, para ahli dan peneliti di seluruh dunia bekerja sama erat melalui berbagai platform sosial media. Meski sebuah kajian belum ditulis dalam jurnal, para ahli sudah berbagi ilmu dan pengalaman melalui jejaring dunia maya.

“Virus ini tidak punya paspor. Jadi sebetulnya, kalau dibuat vaksin merah putih, itu sebagai penyemangat saja. Tetapi justru saya berpikirnya, Indonesia kalau membuat vaksin, berpikirnya jangan nasionalisme. Justru kita buat di Indonesia untuk dunia,” kata Ahmad Rusdan.


Sumber: VOA Indonesia/ Nurhadi Sucahyo

Tags:#pandemiCoronaVaksin
Share39SendShare

Related Posts

PMKRI Pematangsiantar Sukses Gelar MPAB 2026: Momentum Penguatan Kaderisasi Baru

25/05/2026

PIRAMIDA.ID-​SIMALUNGUN – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi sukses menyelenggarakan Masa Penerimaan Anggota Baru...

Ketua ILAJ Soroti Jalan Rusak di Pagagan Hilir, Bupati Dairi: “Kenapa Disebut Tutup Mata?”

10/05/2026

PIRAMIDA.ID - Kecamatan Pagagan Hilir kembali menjadi sorotan akibat kondisi jalan rusak yang dinilai membahayakan masyarakat. Kerusakan terjadi di sejumlah ruas...

Komjen Pol Ridwan Zulkarnaen Panca Putra Jadi Kalemdiklat Polri, Ketua ILAJ: Dimana Saja Beliau Pasti Cemerlang

10/05/2026

PIRAMIDA.ID - Ketua Institute Law And Justice (ILAJ) Fawer Full Fander Sihite memberikan apresiasi atas pelantikan Komjen Pol Drs Ridwan...

Refleksi 800 Tahun Santo Fransiskus: PMKRI Pematangsiantar Ajak Generasi Muda Hidupi Kesederhanaan dan Cinta Lingkungan

10/05/2026

PIRAMIDA.ID-PEMATANGSIANTAR — Dalam semangat memperingati 800 tahun perjalanan spiritual Santo Fransiskus dari Assisi, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang...

ILAJ Desak Dirut PTPN IV PalmCo Copot Regional Head Budi Susanto, Dinilai Lindungi Oknum VAN

04/05/2026

PIRAMIDA.ID — Institute Law and Justice (ILAJ) mendesak Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Krisna Santosa, untuk mencopot Budi Susanto...

Isu Mobil & Rumah, Fawer Sihite Tegaskan Ilal Mahdi Nasution Sosok Taat Aturan, Minta Publik Hentikan Opini Negatif Karena Cemburu

29/04/2026

PIRAMIDA.ID — Fawer Sihite angkat bicara menanggapi berbagai isu miring yang diarahkan kepada Ilal Mahdi Nasution. Sebagai sahabat lama, Fawer...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

Ketua Pemuda Muhammadiyah Simalungun, Film Children of Heaven: Dakwah Kultural Muhammadiyah.

11/06/2026
Berita

Ketua ILAJ Minta Presiden Prabowo Atensi Kasus Fitri Agus Karo Karo, Petisi Rakyat Bebaskan FAK Tembus 1.283 Tanda Tangan

09/06/2026
Berita

Tumbuhkan Kesadaran Diri, PMKRI Sukses Gelar Diskusi Interaktif “Knowing Yourself”

09/06/2026
Berita

PA Simalungun dan Posbakum Perkuat Komitmen Berikan Akses Keadilan Masyarakat.

06/06/2026
Berita

Ketua BEM FE USI: Uang Rakyat Harus Kembali untuk Rakyat

03/06/2026
Berita

Jakarta Bisa Kalahkan Sampah! Komrad Pancasila Puji Gebrakan Polda Metro, Kodam Jaya dan Pemprov DKI Jakarta Lewat Gerakan Pilah Sampah

03/06/2026

Populer

Berita

PA Simalungun dan Posbakum Perkuat Komitmen Berikan Akses Keadilan Masyarakat.

06/06/2026
Berita

Ketua Pemuda Muhammadiyah Simalungun, Film Children of Heaven: Dakwah Kultural Muhammadiyah.

11/06/2026
Edukasi

Kesenjangan Sosial Wilayah Perkotaan Menurut Pandangan Sosiologi

25/10/2022
Pojokan

Asal Usul Kata Rokok di Indonesia

05/08/2022
Edukasi

Sosiologi Hukum Memandang Kekerasaan dan Pelecehan Seksual

21/12/2021
Berita

Ketua ILAJ Minta Presiden Prabowo Atensi Kasus Fitri Agus Karo Karo, Petisi Rakyat Bebaskan FAK Tembus 1.283 Tanda Tangan

09/06/2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber