Kalau dipijak-pijak dengan kaki tawanan-tawanan di dunia, kalau hak orang dibelokkan di hadapan Yang Mahatinggi, atau orang diperlakukan tidak adil dalam perkaranya, masakan Tuhan tidak melihatnya?
(Ratapan 3:34–36)
Seyogianya, Natal adalah sebuah perayaan. Kelahiran Juru Selamat ke dunia semestinya disambut dengan gegap gempita. Namun, situasi Indonesia hingga penghujung 2025 ini sepertinya tidak mengizinkan itu. Berbagai persoalan menimpa bangsa ini setahun terakhir. Yang terbaru adalah peristiwa bencana alam di Sumatera. Selain masifnya kerusakan infrastruktur, korban meninggal akibat musibah itu sudah lebih dari seribu jiwa. Melalui peristiwa ini, hati kecil seperti berbisik untuk merayakan Natal dalam ratapan.
Realitas Sosial Kita
Secara keseluruhan, 2025 adalah tahun ujian bagi Indonesia. Situasi sosial dan politik menunjukkan dinamika yang kompleks. Tahun ini ditandai dengan transisi kepemimpinan, gelombang protes massal, isu pertumbuhan ekonomi, problem hukum, dan bencana alam yang menguji kompetensi negara. Gambaran besarnya, dalam konteks penanganan kepentingan publik, berita buruk senantiasa menghiasi media kita sepanjang 2025. Jadinya tidak mengherankan jika #IndonesiaGelap dan #KaburAjaDulu sempat menjadi tren di media sosial Indonesia.
Salah satu isu yang menonjol perihal persoalan bangsa pada 2025 ini adalah inkompetensi para pejabat publik. Alih-alih melayani kepentingan publik, kebijakan dan tingkah laku mereka kerap meresahkan masyarakat. Peristiwa demonstrasi yang menewaskan Affan Kurniawan pada Agustus 2025 menjadi contoh terbaik. Di tengah situasi ekonomi yang tak menentu, pemerintah memutuskan untuk menaikkan anggaran perumahan bagi anggota legislatif. Publik pun kecewa karena merasakan ketidakadilan. Namun, alih-alih menyejukkan suasana, beberapa anggota DPR malah berceloteh tak keruan. Komentar mereka bahkan memancing kemarahan masyarakat. Ujungnya adalah pecahnya aksi massa di berbagai daerah. Tragedi Agustus menjadi saksi inkompetensi para pejabat negara.
Memahami Suasana Natal Awal
Situasi sosial dan politik yang sedang terjadi sekarang tentu saja rentan menciptakan kegamangan. Bayangan akan masa depan bangsa ini terasa mengkhawatirkan. Bencana alam di Sumatera membuka mata kita bahwa pemerintah bukanlah tempat untuk meminta perlindungan. Karena pada akhirnya, fakta menunjukkan warga sendirilah yang membantu sesamanya. Pada situasi demikian, keresahan, ketakutan, dan kekhawatiran menjadi sesuatu yang lumrah.
Menariknya, situasi gamang ini jugalah yang hadir menemani bangsa Israel dalam peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Ketika itu, Israel sedang dijajah oleh Imperium Romawi (bdk. Luk. 2:1–3). Kemiskinan sudah menjadi pemandangan biasa di masa itu. Romawi mencekik mereka dengan pajak yang tinggi—inilah alasannya orang Israel membenci pemungut cukai, seperti Zakheus, lih. Luk. 19:7. Bagi mereka saat itu, kehidupan sehari-hari hanyalah rentetan penderitaan dan penindasan akibat penjajahan. Masa depan Israel terlihat begitu gelap dan suram.
Situasi mereka kian berat jika melihat situasi pemerintahan. Israel dipimpin oleh seorang raja boneka, yaitu Herodes (Mat. 2:1–16). Dia adalah seorang megalomania (pengidap delusi keagungan). Dia merasa terganggu ketika orang-orang Majus dari Timur bertanya kepadanya perihal lokasi kelahiran Raja Yahudi, yakni Yesus. Karena merasa posisinya terancam oleh kehadiran seorang Raja baru, dia akhirnya merencanakan pembunuhan Yesus. Namun, rencana itu gagal. Kegagalan itu berimbas pada sebuah keputusan ekstrem, yakni membunuh semua anak yang berusia dua tahun ke bawah. Dapatkah kita bayangkan nasib masyarakat yang dipimpin oleh raja demikian? Raja seperti ini hanya akan menciptakan penderitaan demi penderitaan.
Selain persoalan ekonomi dan politik, kehidupan sosial masyarakat Israel di masa kelahiran Yesus tak kalah pelik. Sebagai bangsa terjajah, jangan harap hukum akan berpihak kepada mereka (bdk. Luk. 18:3). Stratifikasi sosial dan diskriminasi, seperti merendahkan perempuan dan orang Samaria, adalah kelaziman kala itu. Hingga akhirnya, kombinasi dari segala persoalan ini adalah timbulnya gerakan pemberontakan, misalnya, yang diinisiasi oleh kaum Zelot (bdk. Luk. 6:15). Sama seperti Indonesia sekarang, Israel ketika itu sedang tidak baik-baik juga.
Di tengah ketegangan sosial dan politik inilah, Yesus lahir ke dunia. Dia lahir ketika kesenjangan sosial menjadi sebuah fenomena biasa. Dia lahir ketika Israel dipimpin oleh seorang raja korup. Dia lahir ketika hukum tidak pernah berpihak pada yang lemah. Dia lahir ketika pemberontakan marak di berbagai tempat. Dia lahir ketika masyarakat merasa gamang akan masa depannya. Pada situasi sosial dan politik seperti inilah, lonceng Natal bergema untuk pertama kalinya.
Artinya, Yesus lahir di tengah ketidakadilan dan penindasan sebagai konteks utamanya. Maria memahami situasi ini. Dia bahkan sudah tiba pada kesimpulan bahwa kerusakan kehidupan sosial Israel merupakan produk dari ketidakadilan struktural. Dalam Magnificat-nya, dia lugas menyatakan, “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah,” (Luk. 1:52). Maria mengharapkan kelahiran Yesus sebagai titik awal untuk memperbaiki realitas sosial Israel. Sambil melihat kandungannya, jiwa Maria berbisik, “Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,” (ay. 54). Dengan kata lain, Natal adalah momentum kebangkitan harapan sebagai awal dari perubahan keadaan.
Harapan akan transformasi ini relevan dengan Ratapan 3:31–66. Penderitaan dan kesusahan tidaklah abadi (ay. 31–33). Sebab, Tuhan menyayangi umat-Nya dan tidak untuk selama-lamanya Ia mengucilkan. Hak orang tertindas akan dipulihkan dan keadilan akan kembali ditegakkan (ay. 34–36, 59). Bukan hanya itu, Tuhan malah akan membalas orang-orang yang menghina hukum (ay. 60–66). Artinya, ratapan bukanlah tanda menyerah dan kalah. Ratapan adalah usaha untuk mengumpulkan kembali harapan untuk memperbaiki keadaan yang dimotivasi oleh belas kasih Tuhan .
Seruan PARKINDO
Perayaan Natal dalam bentuk ratapan seperti inilah yang kami maksudkan. Natal bukan lagi sekadar euforia untuk belanja dan bertukar kado belaka. Melampaui itu, Natal menjadi momentum untuk merekatkan kembali tekad yang hampir remuk karena diterjang kenyataan. Natal, dalam konteks sekarang, semestinya dijalani dalam semangat ratapan untuk menghapuskan kegamangan. Sebab, Yesus Kristus, Sang Logos dan Juru Selamat, telah lahir untuk merintis agenda itu.
Lantas, bagaimana merefleksikan Natal dalam semangat meratap pada konteks kita hari-hari ini?
Pertama, Natal mengingatkan kita tentang semangat untuk mengubah keadaan. Kedatangan Yesus ke dunia membuktikan perhatian-Nya pada penderitaan umat-Nya. Perhatian itu mewujud dalam aksi konkret, bukan melalui doa semata, yaitu Dia berinkarnasi menjadi manusia. Sepak terjang pelayanan-Nya kelak menunjukkan orientasi-Nya untuk melenyapkan segala bentuk penindasan (Luk. 4: 18–19). Irama pembebasan inilah yang mengumandang dalam hati kita ketika mendengar gita Natal bergema.
Kedua, di tengah fenomena ketegangan sosial dan politik, Natal mengingatkan kita untuk menjaga sikap optimis. Magnificat Maria dan Kitab Ratapan menggemakan satu pesan utama, yaitu perubahan adalah keniscayaan. Para pemimpin culas dan yang tak becus akan digulingkan. Kebenaran akan diungkapkan karena Tuhanlah yang akan membalikkan keadaan.
Namun, tentu saja, pesan-pesan Natal ini mesti mewujudkan dalam aksi konkret dari gereja atau kekristenan. Oleh karena itulah, Partisipasi Kristen Indonesia (PARKINDO) menyerukan agar gereja aktif melibatkan diri dalam persoalan sosial dan politik. Cara termudah untuk mewujudkan partisipasi aktif ini adalah melalui mimbar khotbah. Gereja mesti menyuarakan suara kenabian untuk mengedukasi jemaat. Edukasi ini bertujuan supaya jemaat memahami perannya sebagai seorang Kristen sekaligus warga negara. Agar selaras dengan Magnificat Maria dan Kitab Ratapan, mimbar khotbah mesti agresif menyerang dosa-dosa struktural. Sebab, dosa-dosa struktural inilah yang menjadi pangkal dari segala bentuk ketidakadilan dan penindasan. Natal semoga menjadi momentum untuk menguatkan gereja dalam menggemakan irama pembebasan—setidaknya dimulai dari mimbarnya.
Penutup
Indonesia butuh mendengar suara kenabian dari gereja. Sebab, situasi sosial dan politik kita akhir-akhir ini terlihat rentan dan kompleks. Entah kebetulan atau tidak, situasi serupa juga menyertai peristiwa kelahiran Yesus di Bethlehem. Yesus lahir ke dunia di tengah masyarakat yang sedang kalut dan merasa gamang dengan kehidupannya. Sama seperti kelahiran Yesus, kehadiran gereja mestinya menyemai harapan akan perubahan.
Hati akan terasa gundah jika memperingati kelahiran Yesus sekarang ini dengan pesta meriah nan gegap gempita. Keadaan hari ini sepertinya membawa kita lebih dekat dengan meratap. Namun, ratapan di hari Natal bukanlah untuk memanjakan emosi. Alkitab mengajarkan ratapan sebagai usaha untuk menyatukan kembali harapan. Yesus telah lahir dan malaikat surga telah meniupkan sangkakalanya. Dengarkanlah gita surga Natal itu. Sebab, iramanya adalah irama pembebasan.
Selamat Natal!















