Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Dialektika

Ana ‘Abdu Man ‘Allamani

istimewa

Ulil Abshar Abdalla*

PIRAMIDA.ID- Salah satu ajaran kebijaksanaan yang terus menempel dalam diri saya sejak mepelajarinya pertama kali dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim (kitab pedagogik yang populer di pesantren) adalah berikut ini: “ana ‘abdu man ‘allamani, walaw harfan wahidan.”

Kalimat ini, konon, berasal dari Sayyidina Ali, khalifah keempat dalam Islam yang oleh Kanjeng Nabi disebut sebagai “gerbang kota ilmu” itu. Makna kebijaksanaan ini adalah sbb.: “Aku adalah hamba/budak bagi siapapun yang mengajarkan ilmu kepadaku, walau sehuruf saja.”

Kalimat ini, bagi saya, mewakili cara pandang yang khas dalam tradisi Islam klasik terhadap ilmu dan orang-orang yang menyebarkannya. Sekurang-kurangnya ada dua pengertian penting di sana. Pertama, kebijaksanaan ini mengajarkan satu hal amat penting: bahwa ilmu amatlah berharga.

Pandangan seperti ini mungkin tampak aneh saat imi. Di tengah-tengah banjir informasi sekarang, pengetahuan seperti mengalami “inflasi”. Di dalam era ketika buku-buku yang telah berubah format menjadi buku-digital (baca: ebook) bisa diperoleh secara gratis hanya dengan satu-dua klik saja, pengetahuan tampak kehilangan harga.

Inilah zaman yang ditandai dengan ciri berikut: Siapa saja bisa baca apa saja (asal memiliki koneksi internet, tentunya!). Sesuai dengan hukum besi suplai-dan-permintaan, manakala sesuatu tersedia melimpah, tentu harganya merosot, nilainya “ambyar”. Inilah nasib informasi dan pengetahuan sekarang.

Zaman saya kecil dulu, sebuah buku menjadi amat berharga, karena sukar diperoleh. Saya akan membaca buku itu huruf demi huruf, paragraf demi oaragraf, dengan sabar, dengan khusyuk dan takzim, hingga tamat. Karena buku lain belum tersedia, sementara semangat membaca masih menyala-nyala, saya kadang  harus membaca buku itu berulang kali, seperti mendaras Qur’an.

Sekarang, di tengah kelimpahan buku dan informasi, pengalaman membaca yang “sakral” itu hilang! Saya kadang kangen pada “firdaus indah” yang pernah saya alami justru pada saat buku sedang langka itu. Apakah ini yang disebut “the curse of abundance,” kutukan kelimpahan?

Kebijaksanaan dari Sayyidina Ali tadi, bagi saya, mengingatkan kembali: bahwa apapun yang terjadi pada pengetahuan, ia tetaplah sesuatu yang berharga. Tentu saja nilai pengetahuan yang diperoleh via online, yang kita pelajari secara “langsung” melalui seorang guru, secara “muwajahah”, face-to-face, jelas berbeda. Tetapi ilmu tetaplah ilmu: ia adalah barang yang amat  berharga.

Karena itu, dan ini adalah pengertian kedua yang terkandung dalam kebijaksanaan Sayyidina Ali di atas, seorang guru yang telah menjadi sarana bagi transmisi atau pemindahan ilmu hingga sampai kepada kita, dengan sendirinya memiliki kedudukan yang juga amat terhormat.

Seseorang yang membawa barang berharga, akan “tertulari” oleh nilai yang terkandung dalam barang ia bawa itu. Jika anda membawa surat yang ditulis oleh, misalnya, Hadratusysyaikh Hasyim Asy’ari (kakek Gus Dur itu), tentu saja anda akan tertulari oleh “barakah” atau nilai di dalam surat tersebut. Anda akan memperoleh “kramat gandul”.

Kira-kira demikianlah “logic” atau alasan di balik kalimat bijaksana yang diucapkan oleh Sayyidina Ali itu. Ketika anda mendapatkan pengetahuan atau ilmu dari seserang, persis pada momen itu terjadi hubungan yang “spesial” antara anda dan orang itu: hubungan yang “keramat”. Anda telah menjadi “budak” bagi orang itu.

Istilah “budak” di sini janganlah ditafsirkan secara keliru, seolah-olah seorang murid harus “manut tanpa bisa berpendapat lain”. Ini jelas pengertian yang salah. Dalam sejarah intelektual Islam, sangat lumrah seorang murid berbeda pendapat dengan guru. Menghormati guru bukan berarti menutup sama sekali pintu untuk berbeda pendapat.

Kata “budak” di sini harus dimaknai dalam konteks kultur bangsa Arab pada abad-abad pertama Islam. Seseorang yang menjadi budak bagi orang lain dan kemudian oleh yang terakhir ini dimerdekakan, ia, dalam budaya masyarakat Arab dahulu, akan memiliki hubungan khusus dengan mantan majikannya itu.

Hubungan itu, dalam tradisi Arab, disebut wala’. Artinya: mantan budak tersebut terikat oleh hubungan khusus yang mirip hubungan kesedarahan atau kesukuan. Bekas budak itu seolah-olah menjadi bagian dari “kabilah” atau “keluarga besar” sang mantan majikan. Ini yang disebut hubungan wala’.

Itulah sebabnya, dalam bahasa Arab klasik, seorang budak/mantan budak disebut juga “maula”, artinya, seseorang yang terikat hubungan wala’ dengan mantan majikan.

Seorang murid/santri yang telah menerima ilmu dari seorang guru/kiai, ia terikat oleh hubungan khusus semacam ini. Santri itu telah menjadi bagian dari “keluarga besar” sang kiai. Hubungan ini akan terus bertahan hingga kapanpun. Seorang santri yang “sowan” kepada guru atau kiainya, ia seperti sedang mengunjungi keluarganya sendiri.

Inilah, menurut saya, makna kalimat Sayyidina Ali yang masyhur itu.

Tentu saja, makna ini, sekarang, sudah mengalami “desakralisasi”, kehilangan kekeramatan, seiring dengan inflasi yang terjadi pada ilmu dan pengetahuan secara umum. Hubungan antara murid dan guru pelan-pelan seperti bergeser menjadi hubungan yang sifatnya agak “kontraktual”: seperti penjual dan pembeli.

Keadaan ini tentu amat kurang menyenangkan bagi orang-orang yang tumbuh dalam tradisi Ta’limul Muta’allim seperti saya. Meminjam istilah terkenal dari Karl Marx, keadaan ini telah menimbulkan “entfremdung,” keterasingan, dan alienasi pada diri saya. Dan setiap alienasi akan membawa kesedihan dan ketidak-nyamanan.

Saya kira, tradisi menghargai ilmu dan guru seperti digambarkan oleh Sayyidina Ali itu tetap layak dipertahankan dan dihidupkan lagi. Inilah, barangkali, salah satu cara untuk memulihkan kembali “pesona” kepada dunia yang sudah mengalami de-sakralisasi terlalu jauh.

Inilah proses (untuk meminjam dengan sedikit modifikasi istilah dari Max Weber) “re-enchantment of the world“.

Sekian.


Penulis adalah seorang tokoh Islam Liberal di Indonesia yang berafiliasi dengan Jaringan Islam Liberal. Ulil berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama. Ayahnya Abdullah Rifa’i dari pesantren Mansajul Ulum, Pati, sedang mertuanya, Mustofa Bisri, kyai dari pesantren Raudlatut Talibin, Rembang.

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....