Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Sabtu, Januari 24, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
Home Dialektika

E-sport Berisiko Besar bagi Kesehatan

by Redaksi
05/07/2021
in Dialektika
100
SHARES
711
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Main game semakin disukai untuk rileks, untuk bersosialisasi dan untuk beralih dari kesibukan sehari-hari. Tapi tidak semua orang bisa berlaga melawan pemain profesional.

Tapi semakin banyak pemain game melihat “video game” sebagai jalan menuju ketenaran, kekayaan, dan untuk memiliki banyak penggemar. Permainan elektronik ini sudah jadi bisnis milyaran dan menarik minat banyak pemain muda yang bermimpi untuk jadi tenar.

Tapi apa konsekuensinya? Jika kita melihat statistik para pemain profesional, rata-rata sudah pensiun di usia antara 23 dan 25 tahun.

Keletihan berlebihan karena main game

“Burn out” atau keletihan berlebihan yang membebani tenaga, adalah masalah yang semakin besar di antara pemain profesional. Di bidang itu sendiri, “burn out” jarang dibicarakan. Tetapi perlahan para pemain profesional mulai membicarakannya dan menuntut perubahan.

Olof Kajbjer Gustafsson, atau lebih dikenal sebagai Olofmeister, terkenal di antara pemain game. Pria Swedia itu jadi pemain game profesional sejak berumur 20. Sekarang ia sudah jadi legenda. Ia dianggap salah satu pemain terbaik game bernama “Counter Strike: Global Offensive”.

2015 ia membantu timnya, yang bernama Team Fnatic untuk jadi juara dunia. Ia mendapat penghargaaan sebagai pemain paling hebat.

Fenomena Keletihan Kronis pada Atlit Olahraga Elekronik

Olofmeister bercerita, “Seumur hidup saya selalu bermain game.” Itu jadi hasrat terbesar saya, kata Olofmeister, tapi juga pelarian. Orang bisa menghilang ke dunia lain. Tidak perlu memikirkan hal lain. “Saya benar-benar menikmatinya.“

Tapi setelah cedera di bagian pergelangan tangan tahun 2016, tekanan hidup dan pertandingan yang meletihkan jadi beban tak tertahankan.

Tuntutan atas atlet tambah besar

Lagi pula, tuntutan sekarang tambah besar, tutur Olofmeister. Pertandingan tambah banyak, tekanannya juga. “Sebelum ada Corona, kami selalu dalam perjalanan ke berbagai tempat lebih dari 200 hari setahun.“ Tentu sangat meletihkan jiwa, jika selalu harus berprestasi 110%. “Ada orang-orang yang menganalisa langkah salah yang kamu buat, dan menyatakan pendapat mereka kepada kamu,“ demikian ditambahkan Olofmeister.

2017 akhirnya ia mengambil cuti singkat karena masalah pribadi. “Saya tidak bisa tidur lagi. 24 jam saya hanya memikirkan permainan itu.” Hampir setiap hari ia merasa stres, dan sepanjang hari.

Ketika itu ia sembuh dan kembali berlaga lagi. Tapi Mei 2020 Olofmeister mengejutkan semua penggemarnya lewat sebuah tweet. Ia akan berhenti sebagai pemain profesional. Alasannya: keletihan, beban mental dan hilangnya motivasi.

Buruk bagi kesehatan

“Berat rasanya, jika melihat sebuah tim yang berlaga delapan jam sehari, dan lebih jago daripada kita.“ Oleh sebab itu, orang jadi ingin bermain sembilan jam per hari untuk mengalahkan lawan, demikian dijelaskan Olofmister. Jadi orang akan berlatih dua belas jam, tambah lima jam latihan terpisah, dan itu setiap hari. “Itu tidak mungkin baik bagi kesehatan,” pungkas Olofmeister.

Pandemi COVID-19 membuat tekanan untuk berlatih sepanjang waktu semakin tinggi. Akibatnya, beberapa pemain sudah mengumumkan istirahat dari berkarir. Alasannya: “burn out” dan stres.

Pakar kesehatan dalam industri game sudah lama khawatir akan dampak latihan yang terlalu banyak, juga kurang tidur dan konsumsi suplemen nutrisi yang tidak dikontrol.

“‘Burn out’ sudah menyebar luas.” Begitu ungkap dokter para pemain game profesiional, Lindsey Migliore. “Tahun ini bahkan ada beberapa kasus kematian. Orang harus mengurus kesehatan mental dan fisik para atlet. Dampak negatifnya sekarang sudah dapat dirasakan.

Bukan permainan melainkan profesi

Ia menambahkan, “Salah satu penyebabnya adalah, kita mendorong mereka untuk berprestasi lebih dari batas yang sehat. Kita tidak benar-benar mendukung mereka.“ Bermain game adalah aktivitas waktu luang. Sedangkan ‘E-Sport’, atau olah raga elektronik, adalah profesi.

Karena pertandingan game melibatkan uang dalam jumlah besar, tim profesional seperti EXCEL kini mengambil langkah perubahan yang besar, untuk melindungi para pemainnya.

Fabian Broich membantu para atlit e-sport untuk mencapai prestasi maksimal. “Kami melakukan pemeriksaan darah, kami juga bekerjasama dengan ahli nutrisi, kami mengadakan latihan olah raga fisik,“ papar Broich. Mereka juga meneliti tidur para atlet dengan pencatat khusus seperti pada pertandingan NBA.

“Saya bekerja sebagai pelatih mereka dan rasanya sangat aneh, bahwa saya memperingatkan mereka juga untuk mengurangi bermain game,” ditambahkan Broich. Kalau ada atlet yang mengalami ‘burn out’ atau masalah lain, maka ia begitu saja diganti dengan pemain lain. “Dari sudut pandang saya, organisasi sepenuhnya, atau setidaknya sebagian, bertanggungjawab atas gaya hidup para atlet”.

Pensiun dalam usia 25

Semakin banyak tim E-Sport profesional menambah pasal menyangkut kesehatan atlet di kontrak kerja mereka. Misalnya: adanya ruang untuk bersantai, juru masak spesial, pelatih kebugaran, pelatih kinerja, fisioterapi dan penasehat psikis. Tapi peraturan resmi tidak banyak yang melindungi para pemain profesional secara aktif.

Fabian Broich juga mengungkap, “Mereka tidak tidur cukup. Mereka setiap harinya juga tidak punya struktur. Baru tidur jam 3 atau 5 pagi.“ Lagi pula, mereka tidak dapat cukup cahaya matahari, sehingga kekurangan vitamin D. Biasanya mereka juga tidak punya juru masak, sehingga gizi mereka buruk.

Dalam sepak bola, ada tim yang punya pelatih. Dalam ‘E-Sport’ belum ada lisensi untuk pelatih. Memang bagus, kalau bisa mendapat uang banyak. Tapi sangat buruk, kalau seseorang terpaksa berhenti bekerja dalam usia 25 atau 30 karena sakit, dan kesehatannya terganggu seumur hidup.”

Pemain profesional butuh perlindungan

Olofmeister kini kembali bekerja secara profesional dengan tim FAZE CLAN. Perjalanannya untuk kembali sehat jadi tantangan hidup terbesar.

“Saya berolahraga lebih sering, dan berusaha mengkonsumsi makanan sehat,“ kata Olofmeister, dan itu sangat membantu. Banyak pemain yang lebih dibebani stres, dan tidak mau menunjukkannya di depan umum. Jika tidak ada yang berani mengaku sakit, tidak akan ada yang berubah dan itu tidak baik bagi kesehatan pemain. Begitu ditekankan Olofmeister

Bidang e-sport masih sangat baru. Karena jumlah pertandingan tambah banyak, dan hadiah tambah besar, perlindungan bagi para pemain profesional terhadap keletihan fisik maupun jiwa jadi tantangan berat.(*)


DW Indonesia

Tags: #atlit#e-sport#game
Share40SendShare

Related Posts

Menantang Narasi Pikiran Ferry Irwandi Desak Reformasi Total Polri

05/09/2025

PIRAMIDA.ID - Seruan Ferry Irwandi dalam beberapa media berita online yang mendesak “reformasi total Polri” terdengar lantang, tetapi jika ditelisik...

Pidato Lengkap Jefri Gultom di Dies Natalis GMKI ke-74: Bangkit Ditengah Pergumulan

26/02/2024

Bangkit Ditengah Pergumulan Pidato 74 tahun GMKI Jefri Edi Irawan Gultom Para peletak sejarah selalu berpegang pada prinsip ini, ‘’perjalanan...

Pewaris Opera Batak

11/07/2023

Oleh: Thompson Hs* PIRAMIDA.ID- Tahun 2016 saya menerima Anugerah Kebudayaan dari Kemdikbud (sekarang Kemendikbudristek) Republik Indonesia di kategori Pelestari. Sederhananya,...

Mengapa Membahas Masa Depan Guru “Dianggap” Tidak Menarik?

01/05/2023

Oleh: Agi Julianto Martuah Purba PIRAMIDA.ID- “Mengapa sejauh ini kampus kita tidak mengadakan seminar tentang tantangan dan strategi profesi guru di...

Membangun Demokrasi: Merawat Partisipasi Perempuan di Bidang Politik

14/04/2023

Oleh: Anggith Sabarofek* PIRAMIDA.ID- Demokrasi, perempuan dan politik merupakan tiga unsur yang saling berkesinambungan satu dengan yang lain. Berbicara mengenai...

Dari Peristiwa Kanjuruhan Hingga Batalnya Indonesia Tuan Rumah Piala Dunia U-20

03/04/2023

Oleh: Edis Galingging* PIRAMIDA.ID- Dunia sepak bola tanah air sedang merasakan duka yang dalam. Kali ini, duka itu hadir bukan...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

IJLS: PT TPL Disebut Ditutup, Namun Masyarakat Adat Masih Menyaksikan Dugaan Aktivitas Operasional di Lapangan

22/01/2026
Berita

Langkah Humanis Polda Metro Jaya Tuai Apresiasi, Kasus “Ijazah Palsu” Diselesaikan Lewat Restorative Justice

19/01/2026
Berita

UU Narkotika Dinilai Tertinggal, Komrad Pancasila Dukung untuk Percepatan RUU Narkoba Demi Selamatkan Generasi Muda

13/01/2026
Berita

GMKI P.SIANTAR-SIMALUNGUN TOLAK WACANA PEMILIHAN KEPALA DAERAH OLEH DPRD

12/01/2026
Sorot Publik

POLRI Tetap Dibawah Presiden. Komrad Pancasila : Operasi Politik Menjatuhkan Polri Gagal Total !!!

12/01/2026
Berita

PC PMII Pematangsiantar–Simalungun Soroti Lambannya Kinerja Kejari Pematangsiantar dalam Penanganan Kasus dan Minimnya Transparansi Penanganan Tindak Pidana Korupsi

12/01/2026

Populer

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasi barak berita hari ini berita bola danau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasi barak berita hari ini berita bola danau tobasumber