Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Sabtu, Oktober 10, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeBerita

PP GMKI Gelar Webinar Internasional Soal Krisis Afghanistan dan Dampaknya di Indonesia

byRedaksi
27/08/2021
inBerita
100
SHARES
715
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Webinar Internasional yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Bidang Hubungan Internasional mendapat banyak apresiasi dan dukungan dari banyak pihak yang hadir, umumnya berasal dari kalangan mahasiswa, akademisi, pengamat, aktivis dan masyarakat umum lainnya.

Antusias peserta webinar sangat tinggi, hal ini dapat dilihat dari keaktifan para peserta webinar dalam menanggapi dan memberikan ide tentang stabilitas politik dan keamanan Indonesia akibat dampak krisis yang terjadi di Afghanistan. Webinar ini dilaksanakan pada hari Jumat (27/08/2021) pukul 09.00 WIB. Diskusi ini mengambil tema Dampak Krisis Afghanistan Terhadap Stabilitas Politik dan Keamanan Indonesia”.

Acara ini dimoderatori oleh Artinus Hulu selaku Sekretaris Fungsi Hubungan Internasional Pengurus Pusat GMKI dan doa pembuka dibawakan oleh Elfrida Hutasoit.

Adapun pemateri pada diskusi tersebut, yakni Bapak Dr. Rizal Sukma selaku mantan Duta Besar Indonesia untuk Inggris Raya Merangkap Irlandia; Bapak Prof. Hikmahanto Juwana S.H., LL.M., Ph.D selaku Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani dan Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum UI; Bapak Prof. Dr. Indria Samego, MA.Ph.D selaku Pengamat Politik dan Peneliti Senior LIPI; dan, Bapak Firman Jaya Daeli selaku Ketua Dewan Pembina Puspolkam Indonesia.

Pada pemaparannya, Rizal Sukma menjelaskan bahwa kehadian Taliban di Afghanistan sejak tahun 1996 hanya bertahan dalam beberapa bulan saja, sehingga negara ini berada dalam okupasi Amerika dan sekutunya. Ketika Presiden Donald Trump melakukan perundingan dengan pemerintah Afghanistan pada tahun 2020, bahwa Amerika akan keluar dari Afghanistan.

Tepat setelah pelantikan presiden Joe Biden memutuskan Amerika keluar dari Afghanistan pada akhir bulan Agustus. Menariknya adalah bagaimana posisi Indonesia dan kaitannya pasca krisis di Afghanistan, serta keluarnya Amerika dari Afghanistan. Ada 3 partisipasi Indonesia untuk Afghanistan, yaitu pertama, kita membantu Afghanistan dari sisi capacity building; kedua, membantu di bidang education; dan ketiga, Indonesia terlibat dalam peace bulding.

Keterlibatan kaum perempuan dalam mewujudkan perdamaian di Afghanistan serta peran para ulama, sangat penting untuk mengkondusifkan keadaan Afghanistan. Oleh karena itu, krisis Afganistan membutuhkan domestic support dari berbagi negara. Sisi lain, Indonesia perlu antisipasi pergeseran prioritas Amerika di kawasan indopasifik dan Indonesia tidak perlu terburu-buru masuk dalam perdebatan mengakui Taliban.

Selain itu menurut Prof. Hikmahanto Juwana, untuk kita ketahui bersama, bahwa Taliban sudah menguasai wilayah Afghanistan, tetapi sampai hari ini Taliban masih belum membentuk pemerintahannya, sebab di dalam Taliban sendiri juga banyak faksi. Jadi, pemerintahan sekarang di Afghanistan belum ada. Oleh karena itu, Indonesia tidak perlu buru-buru mengambil sikap.

“Memang banyak yang bilang, Taliban sekarang sudah berubah tidak seperti dulu lagi. Menurut saya, ini bisa kita lihat bagaimana masyarakat di sana merasa takut dan tidak tenang, maka dari itu kita sudahi perdebatan mengenai Taliban. Indonesia tidak punya kendali atas Afghanistan, kita harus menghormati setiap proses yang terjadi disana. Setiap negara punya kedaulatannya sendiri,” ujarnya.

“Betul, bahwa apa yang terjadi di suatu negara akan berdampak bagi Indonesia. Sebab itu, kita harus punya penguatan visi negara ini seperti yang dimunculkan oleh founding fathers kita untuk terus kita kuatkan di setiap generasi. Jangan sampai apa yang terjadi negara lain, menjadi inspiratif bagi kita yang hanya menimbulkan sisi negatif dan tidak ada manfaatnya bagi kita,” tuturnya.

Pada pemaparannya menurut Prof. Dr. Indria Samego, Indonesia jangan terlalu buru-buru dalam mengambil sikap, sebab persoalan domestik kita masih banyak. Persoalan yang sedang kita hadapi masih pada persoalanan Covid-19.

“Yang jelas adalah persoalan di Afghanistan itu murni bukan persoalan agama. Di internal kita banyak menimbulkan reaksi yang keras, karena pergerakan yang terjadi di sana selalu dikaitkan dengan persoalan agama. Akibatnya menimbulkan ketersinggungan kelompok Islam di Indonesia. Kondisi yang semakin keruh adanya politik agamanisasi, sehingga mempertajam dinamika dalam negeri. Jika kita lihat ini persoalan agama, maka akan menimbulkan gesekan-gesekan yang tidak produktif,” paparnya.

“Oleh karena itu keamanan domestik, harus diperhatikan dengan serius tidak hanya sebatas retorika saja. Penting bagi kita agar tidak terlalu khawatir dengan pengaruh-pengaruh asing. Kita juga harus fokus pada persoalan kita tentang Laut Cina Selatan, perbatasan dan keamanan,” lanjutnya.

Firman Jaya Daeli, pada pemaparannya manyampaikan, bahwa Indonesia harus menggunakan model politik bebas aktif bukan pasif.

“Artinya adalah kita harus aktif dalam berperan dan tidak mencampuri urusan domestik internal Afghanistan serta mempersiapkan sejumlah instrument, pemikiran dan kebijakan agar keamanan Indonesia tetap terjaga dan terbangun. Politik domestik pasca Taliban, politik kawasan dan politik global. Taliban harus menunjukkan, bahwa mereka telah berubah secara pragmatis mungkin tidak secara ideologi, tetapi transformasi yang inklusif dan toleransi. Oleh karena itu, sikap pendirian Indonesia harus pada posisi kokoh dan mengukuhkan diri dalam 2 hal, yaitu pertama, memboomingkan spritualitas pembukaan Undang Undang Dasar 1945 yang di dalamnya mengandung kebebasan, keseragaman, kemanusiaan, hak asasi manusia dan pengakuan; Kedua, nilai-nilai Pancasila melalui perundingan dan membangun keamanan Indonesia. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat dan bangsa Indonesia, sebaiknya menunggu, melihat dan memantau proses politik domesatik Afghanistan. Dan harus memperkuat Indonesia tanpa kekerasan,” paparnya..

Ketua Umum Pengurus Pusat GMKI pada sambutannya mengucapkan, GMKI mengapresiasi kepada ibu Menteri Luar Negeri atas inisiatifnya yang cepat bersama tim dalam proses evakuasi warga negara Indonesia di Afghanistan.

“Krisis kemanusian yang menyita perhatian global saat ini adalah pandemi covid-19 dan krisis politik di Afghanistan yang akan kita diskusikan bersama pada kesempatan ini. Afganistan sama seperti Indonesia. Sama-sama menganut negara demokrasi. Namun menjadi negara demokrasi saja tidak cukup, menurut Prof Erwin Tobing di Harian Kompas 23 Agustus 2021 lalu menekankan bahwa pemerintahan dan masyarakat yang demokratis akan terwujud jika nilai-nilai demokratif benar-benar menjadi budaya. Sebagai komunitas intelektual, GMKI dari waktu-ke waktu selalu mengasah wawasan para kader baik dalam negeri maupun wawasan global, dalam konteks diskusi ini lebih tepatnya politik luar negeri. Sejarah mencatat bahwa isu apapun yang terjadi di Timur Tengah pasti menjadi perhatian dan mendapatkan reaksi pro dan kontra dari masyarakat di Indonesia,” tegasnya.

Di akhir diskusi, moderator menyampaikan apa yang terjadi di dunia internasional hendaknya menjadi referensi bagi bangsa Indonesia dalam menjaga kemajemukan.

“Sebagai penutup, apa yang terjadi di luar kiranya bisa menjadi referensi bagi kita bangsa Indonesia, agar tetap menjaga keutuhan dan kemajemukan serta menjaga nilai-nilai Pancasila,” tutup Artinus Hulu.(*)

Tags:#GMKI#Indonesia#internasional#konflikafghanistan#taliban
Share40SendShare

Related Posts

Reshuffle Berkali-kali: Forum Think and Talk Soroti Netralitas Evaluasi Kinerja vs Kepentingan Politik Kabinet Prabowo

08/10/2026

PIRAMIDA.ID- JAKARTA, 6 OKTOBER 2026 — Memasuki dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, dinamika dalam Kabinet Merah Putih terus...

FAJAR BARU TRUNOJOYO: MENANTI REVOLUSI POLRI DI TANGAN JENDRAL SUYUDI

05/10/2026

PIRAMIDA.ID | Jakarta - Penunjukan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) yang baru membawa...

62 Tahun PMKRI Pematangsiantar: Bertumbuh dalam Persaudaraan, Mengabdi dalam Perjuangan

05/10/2026

PIRAMIDA.ID- Pematangsiantar, 4 Oktober 2026 — Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi memperingati Dies...

Tokoh Simalungun: Pemilihan Rektor USI PerluMengedepankan Kapasitas dan Visi

05/10/2026

PIRAMIDA.ID  – Pemilihan Rektor Universitas Simalungun (USI) tengah berlangsung. Sejumlah tokohmasyarakat Simalungun meminta proses tersebutmempertimbangkan kapasitas, integritas, rekam jejak, serta...

5 Fraksi DPRD tidak mau bahas P-APBD berpotensi melakukan Perbuatan Melawan Hukum

02/10/2026

PIRAMIDA.ID- Karena tidak menjalankan fungsi legislasi dengan tidak membahas Perubahan P-APBD Pematangsiantar Tahun Anggaran (TA) 2026, mencuat pernyataan, 5 Ketua...

Apresiasi Polda Metro Jaya Dalam Pengungkapan Kasus Alm Bambang Setiawan, Komrad Pancasila: Jangan Naikkan Dugaan Menjadi Vonis

01/10/2026

PIRAMIDA | JAKARTA — Koordinator Komrad Pancasila, Antony Komrad, mengingatkan pentingnya menjaga ketelitian dalam menanggapi laporan investigasi mengenai kematian Bambang...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

Reshuffle Berkali-kali: Forum Think and Talk Soroti Netralitas Evaluasi Kinerja vs Kepentingan Politik Kabinet Prabowo

08/10/2026
Berita

FAJAR BARU TRUNOJOYO: MENANTI REVOLUSI POLRI DI TANGAN JENDRAL SUYUDI

05/10/2026
Berita

62 Tahun PMKRI Pematangsiantar: Bertumbuh dalam Persaudaraan, Mengabdi dalam Perjuangan

05/10/2026
Berita

Tokoh Simalungun: Pemilihan Rektor USI PerluMengedepankan Kapasitas dan Visi

05/10/2026
Berita

5 Fraksi DPRD tidak mau bahas P-APBD berpotensi melakukan Perbuatan Melawan Hukum

02/10/2026
Berita

Apresiasi Polda Metro Jaya Dalam Pengungkapan Kasus Alm Bambang Setiawan, Komrad Pancasila: Jangan Naikkan Dugaan Menjadi Vonis

01/10/2026

Populer

Berita

FAJAR BARU TRUNOJOYO: MENANTI REVOLUSI POLRI DI TANGAN JENDRAL SUYUDI

05/10/2026
Berita

5 Fraksi DPRD tidak mau bahas P-APBD berpotensi melakukan Perbuatan Melawan Hukum

02/10/2026
Berita

62 Tahun PMKRI Pematangsiantar: Bertumbuh dalam Persaudaraan, Mengabdi dalam Perjuangan

05/10/2026
Pojokan

Putu Laxman Pendit, Doktor Perpustakaan yang Tidak Dapat Tempat di Indonesia

30/07/2021
Berita

Reshuffle Berkali-kali: Forum Think and Talk Soroti Netralitas Evaluasi Kinerja vs Kepentingan Politik Kabinet Prabowo

08/10/2026
Berita

Tokoh Simalungun: Pemilihan Rektor USI PerluMengedepankan Kapasitas dan Visi

05/10/2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus