PIRAMIDA | JAKARTA — Koordinator Komrad Pancasila, Antony Komrad, mengingatkan pentingnya menjaga ketelitian dalam menanggapi laporan investigasi mengenai kematian Bambang Setiawan dan kekerasan terhadap Faturrohman di Pejompongan. Menurutnya, setiap temuan perlu diperiksa secara serius, tetapi kesimpulan mengenai identitas dan tanggung jawab seseorang harus sebanding dengan kekuatan buktinya.
Antony menyoroti laporan kolaborasi BBC News Indonesia, Project Multatuli, dan Suara.com yang menelusuri dugaan keterlibatan aparat melalui rekaman video, ciri pakaian, pergerakan kelompok, serta keterangan warga. Laporan itu juga mengakui keterbatasan kualitas video untuk mengidentifikasi wajah orang-orang dalam pengeroyokan. (meleleh.pages.dev)
“Penelusuran visual dapat menghasilkan petunjuk penting. Namun, mencocokkan pakaian, memastikan identitas, dan membuktikan peran dalam kekerasan merupakan tiga tahapan berbeda. Setiap perpindahan kesimpulan membutuhkan dasar yang dapat diuji,” ujar Antony.
Menurutnya, keterbatasan identifikasi wajah tidak otomatis membatalkan seluruh temuan. Namun, keterbatasan tersebut harus diperhitungkan ketika menilai seberapa kuat kesimpulan tentang individu tertentu dan afiliasinya.
Ia menekankan perlunya menguji kesinambungan rekaman, ketepatan waktu dan lokasi, kekhasan ciri yang dibandingkan, serta kemungkinan penjelasan lain. Keberadaan seseorang di sekitar aparat, menurutnya, perlu dibaca bersama bukti tambahan sebelum dipakai untuk memastikan status maupun tanggung jawabnya.
“Cocokologi muncul ketika kecocokan diperlakukan sebagai kepastian tanpa menguji kemungkinan lain. Kritik metodologis harus menunjukkan di mana lompatan kesimpulan terjadi. Begitu pula sebuah tuduhan: harus menjelaskan bagaimana bukti menopang kesimpulannya,” tegasnya.
Dalam konteks penanganan perkara, Antony mengapresiasi langkah Polda Metro Jaya yang telah menetapkan tiga tersangka, yakni FP, DS, dan DDS. Dalam keterangan yang dimuat laporan kolaborasi tersebut, kepolisian menyebut ketiganya sebagai pekerja harian lepas. (liks.suara.com)
“Penetapan tiga tersangka merupakan langkah konkret yang patut diapresiasi. Kerja pengungkapan perkara layak mendapat dukungan, sekaligus harus dilanjutkan dengan penjelasan mengenai keterkaitan para tersangka, barang bukti, dan rangkaian peristiwa,” katanya.
Antony menilai apresiasi tersebut harus disertai dorongan agar penyidik memeriksa seluruh petunjuk baru. Penetapan tiga tersangka belum dengan sendirinya menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan keterlibatan pihak lain.
Laporan kolaborasi juga menyebut permintaan tanggapan kepada Polda Metro Jaya belum memperoleh jawaban hingga pemberitaan diterbitkan. Antony mendorong kepolisian memberikan respons substantif terhadap temuan yang diajukan. (meleleh.pages.dev)
“Kepercayaan publik akan lebih kuat ketika kepolisian menjawab pertanyaan dengan bukti. Jika sebuah dugaan keliru, tunjukkan bagian yang keliru beserta dasarnya. Jika ada petunjuk baru yang relevan, periksa secara terbuka dan profesional,” ujarnya.
Ia menambahkan, standar ketelitian harus berlaku bagi seluruh pihak. Temuan jurnalistik perlu diuji, sementara penjelasan resmi kepolisian juga perlu ditopang bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami mendukung Polda Metro Jaya menuntaskan perkara ini. Ukuran keberhasilannya adalah terungkapnya peristiwa secara utuh dan pertanggungjawaban setiap orang yang terbukti terlibat. Keluarga Bambang dan Faturrohman berhak atas kejelasan,” pungkas Antony.


















