Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Pojokan

Cleopatra: Simbol Kecantikan yang Tidak Cantik-Cantik Amat

ilustrasi/Cleopatra dalam budaya pop.

PIRAMIDA.ID- Selama ratusan tahun, ketika menyebut nama Cleopatra sang Firaun wanita dari Mesir kuno maka apa yang akan terbayang? Tentunya wajah cantik, rambut halus, tubuh sintal, tinggi, dan semua keindahan dari sosok wanita melekat padanya.

Film-film dari Hollywood semakin menambah dalam imajinasi tentang tokoh fenomenal dalam sejarah dunia ini. Bagaimana sang maharaja diraja bernama Julius Caesar bisa jatuh hati padanya. Mark Antony juga bisa jatuh cinta pada seorang wanita bernama Cleopatra. Pada kasus Julius Caesar misalnya, ia bisa saja mendapatkan ratusan wanita di Roma apabila ia menginginkannya. Kenapa ia bisa jatuh hati pada ratu Mesir kuno?

Maka mitos tentang kecantikan Cleopatra begitu ternama ke seluruh dunia. Bahkan di Indonesia, jarang ada penduduknya yang tidak pernah mendengar nama Cleopatra, setidaknya sekali dalam hidupnya. Ketika ditanyakan apa pendapatnya tentang Cleopatra, maka jawabannya adalah sama: wanita yang cantik, bahkan super cantik sehingga bisa menaklukkan siapapun lelaki yang melihatnya.

Rekontruksi wajah Cleopatra berdasar patung. Meski sudah “dicantikkan” tapi tetap tak cantik-cantik amat

Namun, ada pula yang meragukan fakta tentang pesona “berlebihan” dari Cleopatra ini di zaman dulu. Bahkan, sekitar 100 tahun setelah meninggalnya Cleopatra, seorang penulis biografi asal Yunani bernama Plutarch juga menyebutkan keraguannya.

Memang benar Cleopatra itu cantik, tapi tak cantik-cantik amat. Mungkin bila saat ini Anda melihat wajah Raisa, atau Chelsea Islan misalnya, rasanya wajah dua nama itu mungkin lebih cantik ketimbang Cleopatra.

Kelebihannya ada pada bakat Cleopatra yakni kecerdasannya. Ia juga berbakat dan mampu membuat dirinya menjadi fokus perhatian siapapun. Lebih tepatnya, ia adalah penggoda yang licik.

Terlebih lagi, setelah seorang professor dari Universitas Warwick bernama Kevin Butcher yang menulis buku berjudul The Metalurgi of Roman Silver Coinage: From the Reform of Nero to the Reform of Trajan (diterbitkan oleh Cambridge University Press, 2014).

Apa yang diteliti Prof. Kevin Butcher? Yah, coin atau uang logam dari zaman Yunani dan Romawi. Maka saat itu, hasil penelitian tersebut mengarahkan Prof Kevin Butcher menemukan wajah “asli” Cleopatra yang terukir di sebuah koin.

Satu hal yang pasti adalah ciri khas Mesir menampilkan sisi terbaik dari para Firaunnya. Anda bisa melihat relief yang tergambar di bangunan kuno semacam Piramid dan Sphinx bahwa rata-rata Firaun Mesir bertubuh langsing, baik laki-laki maupun perempuan. Faktanya, sangat jarang ada Firaun yang langsing, rata-rata gendut bahkan obesitas karena pola makan mereka. Jadi, gambar yang ada di dinding kuno tersebut bukan menggambarkan Firaun dalam bentuk sesungguhnya. Melainkan dibuat “tampan” atau “cantik” sebagai bentuk penghormatan.

Wajah asli Cleopatra

Nah, di koin yang bergambar Cleopatra, meski sudah  dibuat lebih cantik sebagai bentuk penghormatan, nyatanya wajah Cleopatra masih tetap tidak cantik-cantik amat. Koin ini dipajang di Universitas Newcastle di Inggris sejak tahun 2007. Apa yang terlihat dari koin bertanggal 32 SM ini?

Yah, kurang lebih seperti itu wajah Firaun Cleopatra VII tersebut. Anda bisa melihat sebenarnya tampilannya tak begitu menarik dengan bibir sempit, dagu tajam dan hidungnya yang besar. Seperti ditulis oleh Majalah Smithsonian, Cleopatra memang telah memiliki kharisma, kecerdasan sekaligus keseksian yang mampu menjadikannya sebagai pusat perhatian.


Source: Pojok Seni.

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....