Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Dunia

Jesica Yap, Komposer Asal Pematangsiantar di AS Rilis Lagu Bertema Pandemi

PIRAMIDA.ID- Komposer sekaligus musisi asal Pematangsiantar, Sumatera Utara yang bermukim di Los Angeles, Jesica Yap, belum lama ini merilis sebuah lagu yang mengangkat tema terkait “the new normal” alias kelaziman baru, di era pandemi COVID-19, sebagaimana dilansir VOA Indonesia.

Lagu berbahasa Inggris ini diberi judul, “Six Feet Apart,” alias jarak 6 kaki atau sekitar 2 meter yang memisahkan antar sesama sebagai pembatas sosial ini, merupakan gambaran isi hatinya melihat suasana ketidakpastian akibat pandemi ini.

Lagu ini dimulai dengan lirik yang sangat mengena di hati:

Hey, have you ever wondered?

If we’ll ever meet each other

When this craziness is over

Pernahkah kamu membayangkan?

Apakah kita nantinya akan bertemu satu sama lain?

Saat (pandemi) ini berakhir?

Lagu ini sendiri bercerita tentang dua orang yang berkenalan secara virtual dan langsung menjadi akrab selama harus #dirumahaja di era pandemi ini. Mereka lalu merasa cemas, apakah mereka nantinya bisa bertemu? Dan apa yang akan terjadi ketika mereka bertemu nanti.

Ia juga mengatakan, lirik lagu “Six Feet Apart” ini ditulis dalam waktu yang cukup singkat, yaitu hanya beberapa jam saja. Kini, lagu ini sudah bisa disimak di seluruh dunia, melalui berbagai layanan streaming musik dan akun You Tube pribadinya.

Dilansir VOA Indonesia, ini bukan pertama kalinya Jesica merilis lagu di Amerika Serikat. Beberapa waktu lalu ia juga mencipta sebuah lagu yang rencananya akan dirilis di akhir tahun 2020. Namun, ketika pandemi ini terjadi, ia memutuskan untuk merilis lagu yang ia beri judul “Together” ini lebih dulu pada Maret lalu.

Lagu ini menceritakan persahabatannya dengan seorang teman selama bertahun-tahun. Jesica berharap lagu ini bisa menciptakan rasa kebersamaan di tengah masa yang sulit ini.

Siapakah Jesica Yap?

Jesica Yap sendiri lahir pada tahun 1989 di Pematangsiantar, Sumatera Utara. Ia kemudian hijrah ke Amerika Serikat pada tahun 2010 untuk melanjutkan pendidikan S1 jurusan Film Scoring atau penggarapan musik khusus untuk film di Berklee College of Music, di Boston Massachusetts.

Universitas bergengsi ini telah melahirkan nama-nama besar di industri musik, seperti John Mayer, Quincy Jones, Melissa Etheridge, Charlie Puth, dan masih banyak lagi.

Setelah lulus pada tahun 2014, ia pindah ke Los Angeles untuk memulai karirnya di dunia musik dengan bekerja di sebuah studio sebagai asisten composer dan terlibat dalam penggarapan musik antara lain untuk film “Big Hero 6,” “Kingsman: the Secret Service,” “Pixels,” dan “The birth of a Nation.

Selain untuk film, Jesica juga membuat lagu untuk beragam iklan, di bidang fashion, jam tangan, bahan bangunan, dan masih banyak lagi. Ia juga telah menorehkan prestasi yang membanggakan, di mana pada tahun 2018, Jessica mendapat nominasi penghargaan Jerry Golsmith di Ajang Film Music Festival di AS.

Untuk karya musiknya dalam iklan sebuah jam tangan, Jessica dinominasikan di kategori Musik untuk Iklan dan Promosi Terbaik dalam ajang Hollywood Music in Media Awards.

Ia juga berhasil memenangkan penghargaan dalam kategori Musik Terbaik untuk Film Pendek Berbahasa Asing, atas karyanya untuk film, berjudul “Sigek Cokelat,” arahan Sutradara Indonesia, Ashram Shahrivar, dan torehan prestasi lainnya.

Selain sebagai komposer, Jesica juga memiliki pekerjaan sambilan sebagai pianis untuk band dan guru piano di sekolah musik, maupun privat. Hingga saat ini Jesica sudah memiliki hampir 70 murid. Namun, di masa pandemi ini, ia terpaksa mengajar secara virtual.

Jesica sendiri sudah mengenal musik sejak kecil. Orangtua dan keempat saudaranya juga menekuni dunia musik. Ibunya senang bermain akordeon dan menyanyi, sedangkan ayahnya bisa bermain gitar dan juga menyanyi.

Untuk saat ini memang belum ada proyek lagu atau acara manggung untuk Jesica, namun, Jesica tetap berusaha terus menjalani sebisa mungkin dunia musik yang ia cintai di tengah pandemi.


Editor: Red/Hen

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....