Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Sabtu, November 29, 2025
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
Home Dialektika

Kala Shakespeare Hidup dalam Bayang Wabah Seumur Hidupnya

by Redaksi
08/08/2020
in Dialektika
thinkeryaustin.org

thinkeryaustin.org

98
SHARES
699
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- William Shakespeare menjalani seluruh hidupnya dalam bayang-bayang penyakit pes. Pada 26 April 1564, dalam daftar paroki Holy Trinity Church di Stratford-upon-Avon, John Bretchgirdle, mencatat pembaptisan seorang bernama “Gulielmus filius Johannes Shakspere.”

Beberapa bulan kemudian dalam daftar yang sama, vikaris mencatat kematian Oliver Gunne, seorang penenun. Dia menuliskan kata-kata “hic incipit pestis“, yang bermakna “di sini mulai wabah“.

Pada tahun-tahun itu epidemi merenggut nyawa sekitar seperlima dari populasi kota London. Untungnya, nyawa bayi bernama William Shakespeare dan keluarganya terselamatkan.

Wabah seperti itu tidak mengamuk selamanya. Dengan bantuan karantina yang ketat dan perubahan cuaca, epidemi perlahan-lahan berkurang, seperti yang terjadi di Stratford. Kehidupan pun kembali seperti semula.

Namun, selang beberapa tahun, di kota-kota besar dan kecil di seluruh dunia, wabah pes kelak kembali. Biasanya muncul dengan sedikit atau tanpa peringatan, dan celakanya sangat menular.

Korban akan terbangun karena demam dan kedinginan. Perasaan sangat lemah atau letih, diare, muntah, pendarahan dari mulut, hidung, atau dubur. Juga, tanda-tanda bubo atau pembengkakan kelenjar getah bening di selangkangan atau ketiak. Kematian hampir pasti mengikuti setelahnya.

Shakespeare harus bergulat sepanjang karirnya dengan wabah penyakit yang parah sepanjang 1582, 1592-93, 1603-04, 1606, dan 1608-09.

Sejarawan teater J. Leeds Barroll III dalam majalah The New Yorker, mengungkapkan bahwa pada kisaran 1606 dan 1610, gedung teater London tidak  buka selama lebih dari sembilan bulan. Dan, pada periode inilah Shakespeare menulis dan menghasilkan beberapa drama termasyhurnya dari Macbeth, Antony and Cleopatra, The Winter’s Tale, dan The Tempest.

Namun demikian, ada perkara yang menarik. Dalam drama dan puisinya, Shakespeare hampir tidak pernah secara langsung mengungkapkan kehadiran wabah itu. Seperti Thomas Nashe, sastrawan sezaman, membuat A Litany in Time of Plague.

Dalam karya Shakespeare, penyakit epidemi sebagian besar muncul dalam pidato tokoh-tokohnya dengan ungkapan metaforis tentang amarah dan jijik. Metafora tentang wabah itu muncul di seluruh karya Shakespeare dalam bentuk seruan sehari-hari.

Wabah diterima sebagai bagian yang tak terhindarkan dari kehidupan. Wabah muncul juga dalam bentuk efek komik, seperti ketika Beatrice mengolok-olok Benediktus dalam karya bertajuk Much Ado About Nothing:

“Ya Tuhan! Dia akan menggantungnya seperti penyakit. Dia lebih cepat tertangkap daripada wabah penyakit, dan pencuri berjalan sekarang gila. Tuhan tolong yang mulia Claudio. Jika dia telah menangkap Benediktus, itu akan menghabiskan biaya seribu pound sebelum sembuh.”

Wabah sebagai peristiwa aktual hanya menonjol di salah satu drama Shakespeare. Friar Laurence, dalam Romeo and Juliet, telah meminta seorang rekan biarawan untuk menyampaikan pesan penting kepada Romeo di pengasingan di Mantua, memberitahukan kepadanya tentang obat pintar yang akan membuat Juliet tampak telah mati.

Dalam beberapa baris, kurir menyampaikan banyak informasi, jauh lebih dari sekadar diperlukan untuk persyaratan plot:

Akan menemukan saudara bertelanjang kaki keluar,
Salah satu pesanan kami, untuk mengaitkan saya,
Di sini, di kota ini mengunjungi orang sakit,
Dan menemukannya, para pencari kota,
Curiga bahwa kami berdua ada di rumah
Di mana wabah menular memang memerintah,
Menutup pintu dan tidak akan membiarkan kita keluar,
Sehingga kecepatan saya ke Mantua tetap ada.

Shakespeare tampaknya telah berbagi skeptisisme Nashe bahwa akan ada solusi medis untuk wabah itu. Dan dari apa yang kita ketahui tentang ilmu pada masanya, pesimisme ini dibenarkan.

Dia memusatkan perhatiannya pada wabah yang berbeda, wabah diperintah oleh seorang pemimpin yang ulet, bangkrut secara moral, tidak kompeten, berlumuran darah, dan akhirnya merusak diri sendiri.


Sumber: National Geographic Indonesia/Fikri Muhammad

Share39SendShare

Related Posts

Menantang Narasi Pikiran Ferry Irwandi Desak Reformasi Total Polri

05/09/2025

PIRAMIDA.ID - Seruan Ferry Irwandi dalam beberapa media berita online yang mendesak “reformasi total Polri” terdengar lantang, tetapi jika ditelisik...

Pidato Lengkap Jefri Gultom di Dies Natalis GMKI ke-74: Bangkit Ditengah Pergumulan

26/02/2024

Bangkit Ditengah Pergumulan Pidato 74 tahun GMKI Jefri Edi Irawan Gultom Para peletak sejarah selalu berpegang pada prinsip ini, ‘’perjalanan...

Pewaris Opera Batak

11/07/2023

Oleh: Thompson Hs* PIRAMIDA.ID- Tahun 2016 saya menerima Anugerah Kebudayaan dari Kemdikbud (sekarang Kemendikbudristek) Republik Indonesia di kategori Pelestari. Sederhananya,...

Mengapa Membahas Masa Depan Guru “Dianggap” Tidak Menarik?

01/05/2023

Oleh: Agi Julianto Martuah Purba PIRAMIDA.ID- “Mengapa sejauh ini kampus kita tidak mengadakan seminar tentang tantangan dan strategi profesi guru di...

Membangun Demokrasi: Merawat Partisipasi Perempuan di Bidang Politik

14/04/2023

Oleh: Anggith Sabarofek* PIRAMIDA.ID- Demokrasi, perempuan dan politik merupakan tiga unsur yang saling berkesinambungan satu dengan yang lain. Berbicara mengenai...

Dari Peristiwa Kanjuruhan Hingga Batalnya Indonesia Tuan Rumah Piala Dunia U-20

03/04/2023

Oleh: Edis Galingging* PIRAMIDA.ID- Dunia sepak bola tanah air sedang merasakan duka yang dalam. Kali ini, duka itu hadir bukan...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

GMKI Wilayah II: Keracunan MBG dan Krisis Pendidikan Sumsel Adalah Alarm Darurat bagi Negara

27/11/2025
Berita

Tokoh Pemuda Simalungun, Andro Saragih: Minta Kapolres Usut Aksi Demo yang Diduga Sengaja Ganggu Pesta Rakyat Tuan Rondahaim

26/11/2025
Berita

Viral Kritik Sumbangan Natal Ke Palestina: Langkah Maruarar Sirait Adalah Dukungan Kemanusiaan Dan Kebangsaan Bagi Palestina

26/11/2025
Berita

KNPI Simalungun Apresiasi Acara Pesta Rakyat Tuan Rondahaim, Sabaruddin: Terimakasih Pak JR. Saragih dan Bungaran Saragih

26/11/2025
Berita

Edis Galingging Desak Kejaksaan Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Dana Hibah KNPI Simalungun Palsu

26/11/2025
Berita

Dorong Jaminan Sosial Ketenagakerjaan yang inklusif untuk Penyandang Disabilitas, IRMI dan FRM Gelar Ruang Dialog Bersama BPJS Ketenagakerjaan

25/11/2025

Populer

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasi barak berita hari ini berita bola danau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasi barak berita hari ini berita bola danau tobasumber

xnxx
xnxx
xnxx
xnxx