Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Pojokan

Mengapa Beda Negara, Beda Stekernya?

PIRAMIDA.ID- Kita sering menemukan di bandara atau kamar hotel di negara lain, saat kita butuh mengecas ponsel, kamera, atau tab, tiba-tiba kita menemukan bentuk steker listrik yang aneh.

Mengapa lubangnya tiga? Mengapa bentuknya tidak bundar? Kenapa negara ini menggunakan steker dan stopkontak yang berbeda dari yang kita pakai di rumah?

Jawaban singkatnya adalah karena sistem distribusi listrik di rumah-rumah di seluruh dunia dibangun oleh ribuan orang berbeda selama 140 tahun terakhir, dan pekerjaan itu belum selesai.

Di seluruh dunia, sekitar 750 juta orang – atau satu dari 10 orang – masih belum memiliki akses listrik.

Dan bagi 90% orang yang bisa mengakses listrik, ada 15 jenis steker yang berbeda yang digunakan di rumah-rumah di seluruh dunia.

Untuk memahami mengapa stopkontak tidak sama semua, kita perlu memahami cara kerja stopkontak.

Di Amerika Serikat (AS), lubang di sebelah kanan disebut sebagai sisi “panas” dan lubang sebelah kiri “netral”. Saat kita mencolokkan steker lampu dan menyalakannya, sirkuit akan tersambung sehingga aliran listrik mengalir dan menyalakan lampu.

Aliran listrik mengalir dari sisi “panas” melewati lampu lalu kembali ke sisi “netral”.

Lubang ketiga di tengah stopkontak disebut “ground” yang berguna untuk menjaga kita tidak tersengat listrik jika ada masalah dengan steker atau jika ada kabel bermasalah di alat yang kita gunakan.

Fungsi ini disebut “grounding” karena jika aliran listrik terlepas dari kabel, maka kabel-kabel khusus di lubang ketiga itu dapat mengalirkannya ke tanah.

Untuk mendorong aliran listrik mengaliri kabel, sistem elektrik menggunakan tekanan yang disebut voltase. Semakin tinggi voltase, semakin kuat tekanannya.

Bayangkan ini seperti aliran air: air bisa menetes, mengalir, atau bahkan menyembur kuat hingga kita terjatuh.

Membangun jaringan listrik

Saat penemu-penemu seperti Thomas Edison, George Westinghouse dan Nikola Tesla membangun jaringan transmisi modern pertama di AS pada 1880-an, voltase yang dialirkan ke rumah-rumah ditetapkan pada 110 volt.

Sebagian besar alat yang menggunakan listrik zaman itu – terutama pencahayaan – bekerja paling baik dengan voltase 110 volt. Ini masih menjadi standar di AS, walau pada praktiknya saat voltase yang mengalir di rumah cenderung lebih tinggi sedikit.

Namun saat orang mulai membangun jaringan listrik di negara lain, mereka mencoba membuat perbaikan.

Perusahaan-perusahaan di Eropa menyadari bahwa mengalirkan listrik pada 220 volt, alih-alih 110 volt, lebih murah.

Pada voltase tinggi, perusahaan listrik dapat mengirimkan tenaga yang sama dengan aliran lebih rendah.

Bayangkan ini seperti sungai sempit yang mengalir cepat dibanding sungai lebar yang mengalir lambat.

Aliran yang lebih rendah membutuhkan kabel yang lebih tipis. Karena tembaga yang menjadi bahan dasar kabel listrik harganya mahal, voltase tinggi dapat menghemat uang.

Steker bundar juga merupakan inovasi pada masa awal. Bentuk ini dianggap lebih aman karena lebih pas saat dicolok.

Awalnya, steker di AS hanya memilik dua pin, tanpa pin ground. Teknisi mulai mendiskusikan gagasan bahwa pin ground membuat steker lebih aman pada 1920-an. Banyak negara mengadopsi pin ground ini dengan segera, tapi tidak selalu menjadikannya sebagai standar.

Misalnya, walau AS menggunakan steker ini untuk beberapa peralatan, steker ini tidak menjadi standar untuk penggunaan di rumah hingga 1971.

Jadi karena banyak negara mengadopsi inovasi pada waktu yang berbeda-beda, steker yang mereka gunakan juga berubah seiring waktu.

Saat ini sebagian besar rumah-rumah di seluruh dunia sudah memiliki akses listrik, maka satu steker standar untuk seluruh dunia tentu akan lebih memudahkan ketimbang beragam jenis steker.

Namun, perubahan akan memakan biaya triliunan rupiah bagi negara-negara untuk mengubah stopkontak, mengubah cara membangun, dan bahkan mengubah cara produksi peralatan.

Maka tidak mengejutkan kalau negara-negara lebih suka menggunakan uang untuk hal lain.

Pada dasarnya, semua negara mendukung gagasan satu steker yang sama untuk seluruh dunia, tapi tidak ada yang mau berubah.

Jadi untuk waktu yang cukup lama ke depan, kita tetap perlu membawa adaptor steker kalau kita pergi ke luar negeri.(*)


The Conversation.

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....