Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Pojokan

Merefleksikan Kembali Serangan Teror di Sigi

Daniel Perangin-angin*

PIRAMIDA.ID- Satu keluarga tewas dibantai dengan keji oleh Pembunuh misterius atau orang tak dikenal (OTK). Korban antara lain adalah Yasa, Naka, Pinu, dan Pedi.

Dalam kejadian ini tak hanya korban jiwa yang diserang, melainkan membakar 7 bangunan dan 6 rumah warga serta 1 rumah warga yang dijadikan oleh masyarakat sekitar sebagai pos pelayanan Gereja Bala Keselamatan.

Peristiwa ini terjadi di Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Selatan.

Saat kejadian itu berlangsung, warga yang takut pergi melarikan diri ke hutan untuk menyelamatkan diri. Hal itu terjadi karena warga sekitar menduga bahwa pelakunya adalah Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang telah menciptakan rasa trauma terhadap masyarakat Desa Lembantongoa.

Warga yang menjadi korban dari serangan tersebut tidak ingin untuk kembali bertempat tinggal di daerah itu. Salah seorang warga yang menjadi korban adalah Astri, beliau telah kehilangan orang tua dan suaminya.

Astri berkata bahwa, “Saya tidak ingin tinggal di tempat itu lagi, walaupun pemerintah akan membangun kembali rumah saya yang telah rata dengan tanah.”

Bukan hanya itu, bahkan hampir seluruh warga yang terkena serangan dari aksi brutal terorisme tersebut enggan untuk kembali ke daerah itu. Mereka mengatakan bahwa jika ada pembangunan kembali rumah-rumah warga yang telah dihancurkan, ada baiknya dilakukan di daerah yang lain karena adanya rasa trauma yang mendalam, khususnya warga Desa Lembantongoa.

Mujahidin Indonesia Timur (MIT) adalah kelompok terorisme yang telah bersumpah untuk setia kepada ISIS pada tahun 2014 lalu, dan sekarang tengah beroperasi di 3 desa di Sulawesi Tengah, yakni Sigi, Poso, dan Parigi Moutong.

Saat ini kelompok MIT tengah berada dibawah pimpinan Ali Kalora yang meneruskan kepemimpinan Santoso yang meninggal dalam baku tembak dengan aparat 2016 silam.

Kini pasukan khusus yang telah dikerahkan oleh Mabes TNI untuk memburu kelompok terorisme Mujahidin Indonesia Timur (MIT) telah tiba di Palu, Sulawesi Tengah. Dari informasi yang didapat bahwa tim sergap yang masih dikerahkan adalah tim pendahulu, terdiri dari satuan Kostrad dan marinir.

Mereka dipercaya mempunyai kemampuan intel sekaligus tempur yang tinggi.

Sinegritas TNI-Polri yang tergabung dalam Satgas Tinombala yang dibentuk pada 10 Januari 2016 untuk memberantas aksi teroris ini, sekarang telah bertambah dengan kedatangan pasukan khusus, sehingga untuk menemukan markas persembunyian MIT Poso akan lebih mudah tentunya.

Mari bersama kita memanjatkan doa untuk korban dari serangan keji kelompok MIT yang telah meregang nyawa dan juga untuk para pasukan Satgas Tinombala yang sedang berusaha untuk menumpas sampai tuntas aksi terorisme tersebut.

Saat ini para personil kelompok MIT yang sudah terdaftar dalam DPO sedang diburu, dan kemungkinan mereka sudah berpencar ke beberapa wilayah di indonesia.

Saya sebagai partisan KSPM mewakili Kelompok Studi Pendidikan Merdeka (KSPM) menyatakan sikap bahwa kami menentang ataupun menolak segala bentuk terorisme dan radikalisme!

Kita perlu memulai pencegahan sejak dini sebagai dasar untuk tetap memukul mundur segala tindakan yang radikal di masyarakat, sehingga jika ada hasutan ataupun ajakan dapat langsung dilaporkan kepada pemerintah ataupun aparat setempat agar ditindak lanjuti.

Saat ini kita perlu menyadari bahwa bukan hanya aparat dan pemerintah saja yang berperan untuk memerangi tindakan radikalisme dan terorisme tersebut, kita sebagai warga negara juga berperan sama penting untuk memahami dan membantu memerangi bibit-bibit radikal yang banyak kita temui.

KSPM juga mengutuk keras serangan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang telah memakan korban jiwa dan kerugian bagi warga Desa Lembantongoa, serta mengajak seluruh warga negara terkhususnya pembaca untuk bersama-sama ikut dalam menyuarakan kedamaian dan waspada dengan segala tindakan terorisme maupun radikalisme.

Selalulah berjaga akan tempat kita, jangan sekali-kali mengabaikan tindakan seperti ini meski sekecil apapun, karena tindakan teror akan selalu berpindah-pindah.(*)


Penulis merupakan mahasiswa Prodi PGSD Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar. Partisan KSPM (Kelompok Studi Pendidikan Merdeka).

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....