Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Jumat, Juli 11, 2025
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
Home Pojokan

Mereka yang Menjadi Tumbal Kenaikan Cukai Rokok

by Redaksi
19/11/2020
in Pojokan
99
SHARES
705
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Selama ini kenaikan cukai rokok dianggap hanya menjadi isu bagi konsumen dan pabrikan saja. Padahal, kenaikan tarif cukai rokok yang selama ini terjadi justru berdampak pada seluruh komponen stakeholder di industri hasil tembakau. Mereka yang menjadi tumbal dari keserakahan negara ini bukan cuma pabrik atau pun konsumen belaka.

Naiknya cukai rokok secara signifikan tahun ini, di angka 23% rata-rata, telah berhasil membuat seluruh stakeholder IHT menjadi korban.

Mungkin ya ada sedikit faktor pandemi yang berperan, tetapi aktor utama dari sengsaranya petani, buruh, konsumen kretek, pedagang, dan juga pabrikan tahun ini adalah pemerintah. Karena mereka lah yang membuat kebijakan tarif cukai rokok.

Perlu diketahui, bahkan jika harus berhadapan langsung dengan pandemi, industri rokok saya kira masih sanggup bertahan. Hanya saja, industri hasil tembakau harus menghadapi pandemi di tengah terpaan badai kenaikan cukai 23% tadi. Hal itu yang kemudian membuat keadaan di IHT menjadi berat bagi seluruh pihak.

Perlu diketahui, hingga saat ini produksi rokok telah turuh hingga belasan persen dibandingkan tahun lalu. Bahkan, Sekretaris Jendral Gabungan Perserikatan Perusahaan Rokok Indonesia memprediksi produksi rokok tahun ini akan jatuh hingga 30%. Suka atau tidak, jatuhnya produksi rokok akan mempengaruhi semua pihak yang terlibat di IHT.

Di Bali, misalnya, para petani cengkeh telah mengeluhkan betapa sulitnya mereka menjual cengkeh dengan harga normal saat ini. Perlu diketahui, rerata harga cengkeh ketika panen berada di kisaran Rp 90 ribu hingga Rp 130 ribu.

Namun, akibat turunnya permintaan, harga pasaran cengkeh saat panen kemarin hanya berkisar di Rp 45 ribu hingga Rp 65 ribu. Sangat jauh dari harga normal.

Harga tadi tentu saja tidak sebanding dengan beban produksi yang harus dikeluarkan petani. Bahkan jika harga jual cengkeh bisa menutup biaya produksi saja, mereka belum mendapatkan laba guna mempertahankan hidup mereka satu tahun ke depan sebelum panen berlangsung lagi.

Hal yang jelas saja membuat mereka rugi meski mereka menanam komoditas asli nusantara.

Tak hanya itu, para petani tembakau di berbagai daerah juga turut menjadi tumbal dari kenaikan cukai rokok tahun ini. Di Ngawi, Klaten, serta beberapa daerah yang bukan menjadi sentra penghasil tembakau, kuota pembelian yang diberikan petani benar-benar minim. Jangankan untuk mengharap harga bagus, untuk menjual tembakau yang telah dipanen saja petani sudah sulit.

Semua terjadi lantaran turunnya produksi membuat pabrikan ikut mengurangi kuota pembelian baik cengkeh juga tembakau. Turunnya kuota pembelian ini berdampak pada sulitnya petani menjual hasil panen mereka. Jangankan mengharap harga bagus, bisa terjual saja sudah alhamdulilah.

Hal yang sama juga terjadi di sektor pekerja atau buruh yang harus kehilangan pekerjaan lantaran beberapa pabrik rokok harus tutup akibat keadaan ini. Berdasar hitungan dari Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia, pada setiap penurunan 5% produksi, potensi PHK bagi pekerja ada di kisaran 7 ribu orang. Coba bayangkan seandainya produksi turun 30%, berapa banyak kena PHK?

Semua ini terjadi akibat keserakahan pemerintah dalam mengeruk uang cukai rokok. Dengan asumsi mendapatkan dana segar yang besar, kenaikan cukai pun dikerek setinggi-tingginya. Walau pada kenyataanya, tahun ini sebenarnya pendapatan pemerintah dari cukai rokok tak sesuai ekspektasi mereka sendiri.

Jika mengacu pada pada APBN 2020, target penerimaan cukai rokok tahun ini ada di angka Rp 171,9 triliun. Target ini kemudian berkurang di APBNP 2020 hingga hanya menjadi Rp 164,9 triliun. Angka tersebut berada di bawah total penerimaan cukai rokok tahun 2019 yang ada di kisaran angka Rp 165 triliun. Ini menjadi bukti jika naiknya tarif cukai tak mesti seiring naiknya penerimaan cukai.

Dengan begitu, harusnya pemerintah belajar bahwa kenaikan cukai rokok yang tinggi seperti tahun ini justru membawa kerugian, bahkan untuk mereka sendiri.

Mengingat target penerimaan Rp 164.9 triliun tahun ini juga diprediksi tidak bakal tercapai akibat kondisi buruk di IHT. Pada akhirnya, pemerintah turut menjadi tumbal dari kebijakan mereka sendiri.(*)


Komunitas Kretek Indonesia.

Tags: #cukai#imbas#rokok#tarif
Share40SendShare

Related Posts

Asal-usul Permainan Tradisional Anak-anak

12/07/2023

PIRAMIDA.ID- Anda merasa jenuh dengan bermain dengan gim di ponsel dan laptop? Terlalu lama bermain gim bisa menyebabkan kerusakan mata akibat...

Mengapa ada Tujuh Hari dalam Seminggu?

11/07/2023

PIRAMIDA.ID- Akhir pekan selalu tak kunjung tiba, kita harus menunggu enam hari penuh antara Senin dan Sabtu. Satu minggu itu...

Ini Medan, Bung!

05/03/2023

Supriadi Harja* PIRAMIDA.ID- Aku lupa, kapan aku pernah mengenal orang ini. Begitu melihatku, ia memperkenalkan diri. Namanya Pak Sukri. Namun...

Seperti Apa Sistem Absensi yang Banyak Digunakan di Indonesia?

20/12/2022

PIRAMIDA.ID- Aset terbesar perusahaan adalah karyawan. Tanpa karyawan, perusahaan tidak akan dapat mencapai tujuan perusahaan. Untuk mencapai tujuannya, human resources...

Mimpi

07/12/2022

Billie Gregorine* PIRAMIDA.ID- Semua orang sekiranya pastilah pernah bermimpi. Sambil rebahan, sayup-sayup kudengar lagu dari Nadin Hamizah yang judulnya 'Rumpang'....

Mengantongi Ragam Cerita dari Tanah Papua

04/09/2022

Oleh: Roberto Duma Buladja* PIRAMIDA.ID- Konsultasi Nasional (Konas) GMKI berlangsung pada 23–27 Agustus 2022 di Jayapura, tanah Papua. Kurang lebih...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

Penyelidikan Dihentikan, Kuasa Hukum Korban Penipuan Segera Laporkan Penyidik Polda Sumut ke Propam

10/07/2025
Berita

150 Hari Kerja Bupati Simalungun, GMKI : Simalungun mau dibawa kemana?

09/07/2025
Berita

Ketua ILAJ Minta Hakim Berhikmat: Kasus Hasto & Tom Lembong Jangan Dikendalikan Politik, Vonis Bebas Adalah Pilihan Konstitusional

07/07/2025
Berita

Dugaan Fee Proyek, Ketua ILAJ Minta KPK Pantau Bagi-Bagi Proyek di Kota Siantar

04/07/2025
Berita

Robot Polri Tuai Kritik Netizen, Fawer Sihite: Inovasi Harus Disambut Baik, Tapi Polri Perlu Bangun Instrumen Komunikasi yang Efektif

30/06/2025
Berita

Tokoh Cipayung Plus Gabung Golkar Lewat AMPI, Jefri Gultom: Politik Adalah Etika untuk Melayani

28/06/2025

Populer

Berita

Dugaan Fee Proyek, Ketua ILAJ Minta KPK Pantau Bagi-Bagi Proyek di Kota Siantar

04/07/2025
Berita

Resmi Sertijab, Ini Struktur PP GMKI 2022-2024

01/02/2023
ilustrasi/Cleopatra dalam budaya pop.
Pojokan

Cleopatra: Simbol Kecantikan yang Tidak Cantik-Cantik Amat

24/09/2020
foto: Ridwan Alimudin
Ekologi

Menjual Pulau demi Kepentingan Pribadi

10/07/2020
Dialektika

Konsep Negara Organik Hegel dan Negara Integralistik Soepomo: Sebuah Klarifikasi dan Kritik

14/11/2020
Sains

Ada Berapa Banyak Bintang di Langit

01/12/2021
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasi barak berita hari ini danau toba

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasi barak berita hari ini danau toba