Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Selasa, September 8, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeSains

Neurobiologi Bahasa

byRedaksi
23/11/2021
inSains
103
SHARES
737
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

Terjemahan: Arya Widihatmaka*

PIRAMIDA.ID-Tak ada spesies lain di planet ini yang menggunakan bahasa atau tulisan—sebuah misteri yang belum terpecahkan bahkan setelah ribuan tahun penelitian. Kini para ilmuwan syaraf sedang memanfaatkan cara baru nan ampuh untuk mengintip ke dalam otak demi menghadirkan wawasan luar biasa perihal kemampuan unik manusia ini.

Apa Anda terbata-bata, atau bersusah-payah mendengarkan teman makan malam di restoran berisik, atau kesulitan menangkap logat asing di TV? Boleh jadi bantuan sedang datang. Dengan alat riset baru nan ampuh, para ilmuwan mulai mengungkap misteri tua: bagaimana otak manusia memproses dan memahami pembicaraan.

Sedikit-banyak, bahasa merupakan salah satu topik tertua dalam sejarah manusia, memikat setiap orang mulai dari filsuf kuno hingga pemrogram komputer modern.

Ini karena bahasa membantu menjadikan kita manusia. Kendati binatang lain saling berkomunikasi, kita satu-satunya spesies yang memakai omongan kompleks dan merekam pesan kita lewat tulisan. Bidang yang baru digiatkan ini, dikenal sebagai neurobiologi bahasa, membantu ilmuwan:

  • Menambah wawasan penting mengenai area-area otak yang bertanggungjawab atas pemahaman bahasa.
  • Mengetahui mekanisme dasar otak yang mungkin menyebabkan kelainan bicara dan bahasa.
  • Memahami “efek pesta koktail”, kemampuan untuk fokus pada suara tertentu di tengah kegaduhan latar

Dalam 200 tahun terakhir para peneliti mulai mengidentifikasi area-area otak terkait bahasa dengan mempelajari orang-orang yang mengalami masalah bicara setelah menderita cedera otak.

Studi-studi ini membuahkan penemuan bahwa dua bagian otak—dikenal sebagai area Broca dan area Wernicke—sangat vital dalam memahami pembicaraan dan menulis. Tapi kemajuan berjalan lamban, karena mempelajari kemampuan bicara manusia sehat tidaklah mudah dan tak ada model binatang andal yang dapat memberi petunjuk berguna. Keadaan ini berubah dalam 20 tahun terakhir.

Perkembangan metode pemindaian telah memungkinkan peneliti memeriksa otak manusia sehat dan terjaga. Pencitraan resonansi magnetik fungsional memperlihatkan area-area otak mana saja yang aktif pada waktu tertentu, sementara pencitraan tensor difusi memperkenankan para ilmuwan untuk melacak bagaimana area-area otak saling terhubung.

Studi-studi pencitraan mutakhir mengungkap bahwa memahami pembicaraan butuh banyak area otak. Pemahaman omongan menjangkau jejaring besar dan rumit yang melibatkan sekurangnya lima area otak dan banyak serat yang saling terhubung.

Riset mengindikasikan proses ini lebih ruwet dan menuntut lebih banyak daya otak daripada yang kita duga sebelumnya. Teknik-teknik baru telah sangat penting dalam memperoleh wawasan lebih luas mengenai kelainan bicara, contohnya [penyakit] gagap. Gagap menjangkiti sekitar satu dari 20 anak, walaupun 80% akhirnya tumbuh lepas dari itu.

Pernah dianggap sebagai respon stres, kondisi ini sekarang dikaitkan dengan ketidaknormalan pada sambungan-sambungan otak. Gagap juga bisa diwariskan, dan ilmuwan sudah mengidentifikasi sekurangnya tiga gen yang mungkin berkontribusi pada kondisi ini.

Belakangan, peneliti mendapati para penderita gagap memperlihatkan aktivitas otak tak lazim ketika mendengarkan kalimat, membaca hening, dan membaca hening selagi orang lain membaca nyaring. Temuan-temuan ini mungkin menandakan gagap bukan disebabkan oleh masalah proses fisik berbicara tapi sesuatu yang lain, misalnya perencanaan akan apa yang hendak diucapkan.

Dalam studi lain, ilmuwan menemukan bahwa orang-orang dewasa penderita gagap mempunyai sambungan otak abnormal, termasuk kurangnya tautan antara area-area untuk perencanaan dan pelaksanaan tindakan. Selain itu, wanita yang gagap memperlihatkan pola-pola sambungan otak berbeda daripada pria.

Perbedaan ini barangkali menjelaskan kenapa pria lebih banyak menderita gagap kronis, walaupun jumlah anak lelaki dan perempuan yang pada awalnya mengalami gagap kurang-lebih sama. Tapi studi-studi pencitraan otak hanya mampu sampai di situ. Mereka kekurangan solusi untuk menyelidiki sel-sel individual otak.

Itu sebabnya para peneliti bahasa berpaling kepada satu binatang berguna untuk menirukan omongan manusia: burung. Burung penyanyi (songbird) belajar bernyanyi seperti halnya manusia belajar bicara.

Mereka punya satu kemiripan lain, sebagaimana diketahui oleh orang-orang yang bangun fajar: jika ditempatkan di ruang kecil, mereka akan berisik karena berusaha lebih terdengar daripada satu sama lain. Keriuhan tumpang-tindih jenis ini membingungkan komputer dan alat bantu dengar, tapi manusia sehat dan burung-burung menampakkan kemampuan luar biasa untuk fokus pada suara yang ingin mereka dengar.

Baru-baru ini peneliti menemukan, burung penyanyi memiliki sel-sel otak yang “menyala” sebagai tanggapan terhadap nada-nada nyanyian tertentu tapi bukan bunyi sembarang—entah nada itu disertai derau ataupun tidak.

Kemampuan menangani efek pesta koktail rupanya menjadi bagian penting dari cara otak memproses suara masuk. Masih banyak pertanyaan tentang bagaimana pemrosesan bahasa bekerja di otak. Otak manusia membentuk ulang dirinya seiring waktu, jadi belum jelas apakah perubahan terjadi di usia dini atau berkembang setelah bertahun-tahun, khususnya pada penderita gagap.

Pada level lebih besar, ilmuwan kebingungan mengapa bahasa menjadi bagian sebegitu penting dalam hidup kita, tapi tidak dalam hidup spesies terdekat, contohnya simpanse. Minat terhadap neurobiologi bahasa terus tumbuh pesat.

Para ilmuwan otak mengakui potensi penting temuan mereka. Jika berhasil, mungkin mereka dapat membantu menjawab pertanyaan tertua: apa yang menjadikan kita manusia?


Sumber : BrainFacts.org

Arya Widihatmaka merupakan seorang science enthusiast & trekker. Ulasan tulisannya dapat dibaca di suarasains.wixsite.com

Tags:#bahasa#manusia#pengetahuan
Share41SendShare

Related Posts

Akankah Waktu Berhenti?

10/07/2023

PIRAMIDA.ID- Waktu dimulai ketika alam semesta mulai tercipta. Apakah jika alam semesta berakhir maka waktu akan berakhir juga? Kami pikir...

Kesenjangan Gender dalam Sains di Indonesia

29/04/2023

Wati Hermawati* PIRAMIDA.ID- Selama ratusan tahun, sains dipandang sebagai bidang laki-laki dan maskulin. Baru pada dekade 1990-an mulai terungkap secara...

Kenapa Beberapa Orang Bisa ‘Mendengar’ Suara Orang Mati

05/03/2023

PIRAMIDA.ID- Pengalaman clairvoyance dan clairaudience merupakan pengalaman melihat atau mendengar sesuatu tanpa adanya stimulus eksternal, dan dikaitkan dengan roh orang...

Cerita tentang Bedes Bijak (Homosapiens)

27/01/2023

Oleh: Agung Baster* PIRAMIDA.ID- Sejarah manusia yang kita ketahui hari ini sebenarnya tidak lebih dari 1% dari sejarah spesies bedes...

Benarkah Mimpi Merupakan Kelanjutan dari Kehidupan Dunia Nyata?

27/01/2023

PIRAMIDA.ID- Dari mana mimpi berasal? Itu merupakan pertanyaan yang banyak diajukan orang. Peradaban kuno menginpretasikan mimpi sebagai kekuatan supernatural atau...

ilustrasi: tirto.id/Gery

Apa itu Teori Evolusi Darwin?

27/01/2023

PIRAMIDA.ID- Teori evolusi dengan seleksi alam, yang pertama kali dirumuskan dalam buku Darwin “On the Origin of Species” pada tahun...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

PMKRI Cabang Pematangsiantar Gelar Camping Rohani 2026: Perkuat Iman Orang Muda dan Komitmen Ekowisata Melalui Penanaman Pohon

08/09/2026
Berita

4 Terdakwa Pembunuh Calon LC dituntut Hukuman Mati, Utusan Sarumaha Kaget dan Sebut Kliennya Tidak Sejajar dengan Terdakwa lain

07/09/2026
Berita

Think Talk: RUU Perampasan Aset Jangan Hanya Dikejar untuk Disahkan

07/09/2026
Berita

Diduga Terjadi Tindakan Represif terhadap Warga; Mahasiswa Kecam Keras Sikap Subkontraktor BP Batam

07/09/2026
Berita

Pelantikan IPM Kids SD Muhammadiyah 03 Pematangsiantar, Cetak Kader Muda Berkarakter dan Berilmu

05/09/2026
Berita

Persatuan Tak Dibela dengan Kekerasan: Komrad Pancasila Dukung Polri Bongkar Tuntas Kematian Bambang Setiyawan

04/09/2026

Populer

Berita

4 Terdakwa Pembunuh Calon LC dituntut Hukuman Mati, Utusan Sarumaha Kaget dan Sebut Kliennya Tidak Sejajar dengan Terdakwa lain

07/09/2026
Berita

Diduga Terjadi Tindakan Represif terhadap Warga; Mahasiswa Kecam Keras Sikap Subkontraktor BP Batam

07/09/2026
Berita

Pelantikan IPM Kids SD Muhammadiyah 03 Pematangsiantar, Cetak Kader Muda Berkarakter dan Berilmu

05/09/2026
Berita

Think Talk: RUU Perampasan Aset Jangan Hanya Dikejar untuk Disahkan

07/09/2026
Berita

Jaksa Rumondang Manurung tuntut 1 Tahun penjara petugas Imigrasi yang membantu mengatur penyelundupan Narkotika Cair

23/07/2026
Berita

Iptu Yanti Harefa Tidak Terima Ada Wartawan Saat Melakukan Olah TKP di Djuwita Play Group

29/08/2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber