Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Kamis, Agustus 6, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeSorot Publik

Obat untuk COVID-19 makin Langka dan Mahal, ini Dampaknya bagi Pasien

byRedaksi
25/07/2021
inSorot Publik
99
SHARES
709
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Di tengah makin cepat melonjaknya kasus COVID-19 dalam dua bulan terakhir di Indonesia, obat-obat untuk pasien terinfeksi virus corona makin langka dan mahal.

Bukan hanya pasien yang menghadapi masalah tersebut tapi juga dokter. Saya sebagai dokter keluarga yang menjalankan praktik sehari-hari di layanan primer di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, juga kesulitan mendapatkan obat untuk pasien-pasien COVID yang saya tangani.

Masalah obat langka ini bukan hanya mengancam keselamatan pasien, tapi juga akan makin memperpanjang masa pandemi. Sebab orang-orang yang terinfeksi tidak segera sembuh sehingga berisiko memperparah atau menularkan pada orang lain.

Obat yang biasa untuk pasien COVID

Selama setahun terakhir klinik saya melayani juga pasien-pasien COVID 19, memeriksa status sakit mereka baik melalui skrining antibodi, antigen maupun pengambilan sample PCR.

Informasi akurat dan kredibel bagaikan oksigen yang menyehatkan kita.

Kepada pasien yang positif dan bergejala ringan, kami membantu memantau mereka menjalani isolasi mandiri di rumah, baik secara video call maupun kunjungan rumah.

Dalam pemantauan sehari-hari, klinik juga memberikan pengobatan rutin sesuai pedoman yang diberikan oleh kementerian kesehatan. Misalnya, oseltamivir untuk antivirus, yang jelas merupakan obat utama dalam mengatasi infeksi oleh virus.

Pedoman tersebut juga menganjurkan pemberian azitromisin. Obat ini sebenarnya tergolong antibiotik yang berguna untuk melawan bakteri. Namun azitromisin direkomendasikan kepada pasien COVID 19 yang sebenarnya disebabkan virus, dengan pemikiran untuk mencegah terjadinya perburukan oleh infeksi sekunder bakteri.

Sejak akhir Juni klinik kami mulai kesulitan meresepkan obat-obatan tersebut karena obat tidak ada. Pasien-pasien mengirim pesan melalui WhatsApp atau menelepon minta supaya saya membantu mencarikan. Bahkan saya menyarankan mereka mencari di aplikasi online. Harga melonjak tajam, dari yang sekitar Rp 200 ribu per strip, naik mendekati Rp 500 ribu-an. Itu pun barangnya tidak ada.

Apa yang terjadi? Selain berlaku hukum pasar, tampaknya tidak ada pengawasan dari otoritas pengawas obat (BPOM) untuk harga obat ini. Padahal di setiap kemasan obat ada tertulis HET (harga eceran tertinggi). Harga obat ini ditetapkan dari beberapa komponen, yaitu bahan baku, biaya pengolahan, biaya kemasan, biaya distribusi, biaya pemasaran serta biaya administrasi.

Naik dalam sepekan jelas tidak wajar

Indonesia mengimpor bahan-bahan aktif dari luar negeri untuk diolah menjadi obat-obat sediaan jadi di pabrik obat. Biaya bahan baku menyumbang sekitar 25%-30% dari beban produksi keseluruhan.

Kenaikan harga suatu obat seperti azitromisin dua kali lipat dalam satu minggu tidak wajar. Hanya selisih satu minggu kemungkinan besar obat yang beredar adalah obat yang tanggal produksi yang sama. Seharusnya tidak ada perbedaan biaya produksi dan komponen-komponen biaya lainnya.

Kalau pun ada perbedaan tanggal produksi, hampir mustahil ada perbedaan biaya pengolahan. Tidak ada kenaikan harga listrik dan bahan bakar minyak yang mempengaruhi kenaikan biaya produksi dan distribusi.

Saya masih ingat, harga-harga obat biasanya naik kalau ada kenaikan harga dari sumber-sumber energi, bahkan termasuk impor barang.

Dampak pada pasien

Kelangkaan obat membuat masyarakat panik karena kesulitan mengakses obat yang mereka butuhkan saat sakit. Padahal, panik dan kecemasan membuat hormon adrenalin dan kortison seseorang meningkat yang justru memperburuk kerusakan jaringan, meningkatkan gula darah, menurunkan imunitas.

Di tengah rasa panik ini, banyak informasi yang tidak akurat tentang resep obat COVID 19 di media sosial termasuk berita-berita yang menyarankan berbagai resep obat COVID-19 yang belum terbukti secara klinis.

Mungkin tanpa membawa resep dari dokter, sebagian masyarakat “menyerbu” pasar untuk membeli obat. Ini fenomena sama seperti tahun lalu ada awal pandemi ketika masker dan sarung tangan, bahkan hand sanitizer menjadi barang langka dan mahal.

Banyak obat yang direkomendasikan untuk mengobati COVID 19 namun pembuktian khasiatnya masih memerlukan penelitian klinis (clinical trial). Dalam kondisi belum adanya hasil riset, obat-obat sudah kadung beredar dengan berbagai berita efektivitas maupun efek samping yang dikeluhkan masyarakat dalam media sosial. Hal ini akan menimbulkan keragu-raguan bagi banyak orang yang membutuhkan terapi.

Masyarakat sebaiknya berkonsultasi dengan dokter keluarganya atau dokter di Puskesmas sebelum mengambil tindakan sendiri. Sungguh berbahaya bila masyarakat membeli obat-obatan, seperti oseltamivir untuk penyakit COVID, tanpa resep dokter.

Peran pemerintah dalam kendalikan harga obat

Harga obat tidak bisa diserahkan kepada pasar. Pemerintah harus turun tangan mengendalikan harga yang tidak terkendali.

Langkanya obat adalah bukti dari keterlambatan pemerintah dalam mengantisipasi dampak dari ledakan kasus COVID-19 dalam dua bulan terakhir. Kepanikan masyarakat adalah gambaran ketidakpercayaan masyarakat pada pemerintah, khususnya dalam hal pengendalian pandemi ini.

Pemerintah terlambat belajar dari pengalaman tahun lalu ketika masker dan sarung tangan menjadi barang mahal.

Kita berharap peraturan terbaru mengenai harga eceran tertinggi obat-obatan COVID-19, dapat menurunkan harga obat dan akses obat-obatan lebih mudah bagi mereka yang membutuhkan.(*)


The Conversation

Tags:#apotik#langka#obatcovid
Share40SendShare

Related Posts

Tak Tanggung-tanggung, Masyarakat Serbalawan Perbaiki Tribun Lapangan Dobana

03/07/2026

PIRAMIDA.ID- Setelah memperbaiki lokasi Tiang Bendera, saat ini masyarakat kelurahan Serbalawan, kecamatan Dolok Batu Nanggar (Dobana) kembali memperbaiki Atap Tribun...

PMKRI Pematangsiantar Sukses Gelar MPAB 2026: Momentum Penguatan Kaderisasi Baru

25/05/2026

PIRAMIDA.ID-​SIMALUNGUN – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi sukses menyelenggarakan Masa Penerimaan Anggota Baru...

Ketua ILAJ Soroti Jalan Rusak di Pagagan Hilir, Bupati Dairi: “Kenapa Disebut Tutup Mata?”

10/05/2026

PIRAMIDA.ID - Kecamatan Pagagan Hilir kembali menjadi sorotan akibat kondisi jalan rusak yang dinilai membahayakan masyarakat. Kerusakan terjadi di sejumlah ruas...

Komjen Pol Ridwan Zulkarnaen Panca Putra Jadi Kalemdiklat Polri, Ketua ILAJ: Dimana Saja Beliau Pasti Cemerlang

10/05/2026

PIRAMIDA.ID - Ketua Institute Law And Justice (ILAJ) Fawer Full Fander Sihite memberikan apresiasi atas pelantikan Komjen Pol Drs Ridwan...

Refleksi 800 Tahun Santo Fransiskus: PMKRI Pematangsiantar Ajak Generasi Muda Hidupi Kesederhanaan dan Cinta Lingkungan

10/05/2026

PIRAMIDA.ID-PEMATANGSIANTAR — Dalam semangat memperingati 800 tahun perjalanan spiritual Santo Fransiskus dari Assisi, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang...

ILAJ Desak Dirut PTPN IV PalmCo Copot Regional Head Budi Susanto, Dinilai Lindungi Oknum VAN

04/05/2026

PIRAMIDA.ID — Institute Law and Justice (ILAJ) mendesak Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Krisna Santosa, untuk mencopot Budi Susanto...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

Hakim PN Batam, Meneik Latuputty Anjurkan Pemohon Dan Termohon Gunakan Toga Advokat Dalam Sidang Praperadilan

03/08/2026
Berita

Kasat Resnarkoba Polres Pematangsiantar Disorot, Dugaan Bandar Narkoba Masih Bebas Beroperasi

02/08/2026
Berita

MUSYRAN DAN PEMILU PERTAMA KETUA UMUM IPM kids SD Muhammadiyah 03 pematangasiantar

02/08/2026
Berita

Korban Penganiayaan Dari Seorang Istri Bhayangkara Polda Kepri Merasa Kecewa dan sebut ada privillage pada Terdakwa yang Dituntut 2 Bulan Penjara. Pricilla; Sepertinya Ada Keistimewaan Khusus, Mungkin Karena Suaminya Polisi?

31/07/2026
Berita

Traffic Light Parluasan Padam Berlarut, PMKRI Pematangsiantar Desak Dishub Percepat Perbaikan

29/07/2026
Berita

Penggelapan Esra Angelina di PT RMI, JPU tidak menahan aset milik terdakwa

28/07/2026

Populer

Berita

Jaksa Rumondang Manurung tuntut 1 Tahun penjara petugas Imigrasi yang membantu mengatur penyelundupan Narkotika Cair

23/07/2026
Berita

MUSYRAN DAN PEMILU PERTAMA KETUA UMUM IPM kids SD Muhammadiyah 03 pematangasiantar

02/08/2026
Berita

Hakim PN Batam, Meneik Latuputty Anjurkan Pemohon Dan Termohon Gunakan Toga Advokat Dalam Sidang Praperadilan

03/08/2026
Berita

Kasat Resnarkoba Polres Pematangsiantar Disorot, Dugaan Bandar Narkoba Masih Bebas Beroperasi

02/08/2026
Berita

Penggelapan Esra Angelina di PT RMI, JPU tidak menahan aset milik terdakwa

28/07/2026
Dialektika

Seabad Soeharto: Selain Kontroversinya, Ada Siasat Politik Cerdik

19/06/2021
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber