Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Pojokan

Omnibus Law Bikin Galau

Rani Romaito Saragih*

PIRAMIDA.ID- Semakin lama dunia semakin kejam. Tak ada lagi yang namanya mengayomi dan diayomi. Resah piluh yang dirasakan oleh masyarakat kini juga sangat menyayat hati. Resah yang dialami oleh masyarat selalu saja menghampiri dengan tak jemu-jemu.

Tak ada rasa segan masalah itu datang kepada kami para masyarakat. Namun masalah itu selalu saja datang.

Ditambah lagi dengan “Omnibus law” yang selalu membuat kami semakin resah dan galau. Pemerintah yang begitu gampangnya membuat RUU Cipta Kerja dengan sesuka hati tanpa memikirkan apa yang akan terjadi terhadap masyarakatnya sendiri untuk ke depannya.

Di mana kalian para pemerintah? Kalian yang selalu bersikap keras untuk dipilih lewat pencoblosan malah menjadikan kami masyarakat ini semakin miskin.

Dan mengapa ketika kami ingin bertemu dengan kalian, kalian menghadapkan kami dengan pasukan berpakaian nan gagah, bersenjatakan api, dan pelindung baja.

Sebenarnya kepada siapa keresahan yang kami rasakan ini kami sampaikan? Apakah kepada berpakaian nan gagah yang bersenjatakan api, atau kalian para pemerintah nan agung yang sangat dihormati?

Suatu kehormatan bagi kami ketika kalian para pemerintah mendengarkan rasa keresahan dari aspirasi kami. Tapi kini apa yang telah kalian berikan kepada kami, kalian malah mencekam kami layaknya kami masyarakat yang tak ada gunanya.

Sungguh Omnibus Law ini membuat kami semakin galau saja dipikirkan menjadi beban, tak dipikirkan pun malah menjadi-jadi.

Inikah yang ingin kalian rencanakan terhadap kami? Melakukan banyak partai, pencoblosan di mana-mana, visi misi disampaikan layaknya tak punya dosa, setelah didapat dan berhasil, kalian langsung melaksanakan aksi untuk melakukan tindakan kemiskinan kepada kami masyarakat kecil ini.

Melakuan pajakan begitu tinggi yang membuat kami para masyarakat tak mampu membayar, lantas kalian menghukum kami seolah-olah kami adalah penjahat yang tak pantas untuk diampuni.

Wahai para pemerintah, kami mengeluarkan aspirasi kami tentang RUU Cipta Kerja, karena kami tak setuju tentang RUU yang telah kalian turunkan dan informasikan terhadap kami.

Sudah begitu banyak masalah yang kami hadapi, kalian malah memberikan masalah baru yang membuat kami semakin tidak mengerti lagi harus melakukan tindakan apa. Namun kalian dengan santainya menurunkan RUU seperti tak punya kesalahan sedikit pun.

Kalian melakukan pesta syukuran yang amat megah di istana kalian setelah berhasil menipu kami para masyarakat dengan suatu wacana yang begitu amat menarik untuk didengarkan. Namun kami masyarakat malah dilemparkan begitu saja.

Pakaianmu yang amat gagah membuat kami semakin tenang untuk dipimpin. Seolah-olah kami mahasiswa dan anak-anak yang lainnya ingin menirukan cara kalian berpakaian yang begitu rapi dan bersih seolah-olah itu adalah diri kami sendiri.

Namun apa yang terjadi, semua sirna begitu saja. Sangat disayangkan jika hal ini dijadikan sebagai candaan, namun apa daya, inilah yang harus kami lakukan. Melihat kalian berpakaian rapi seperti ini seolah-olah kami melihat ada atraksi badut yang amat lucu.

Maafkan atas kelancangan kami untuk berpikiran seperti itu terhadap kalian. Tapi kalianlah yang telah memulainya dan kami malah diberikan pengakhiran yang begitu kejam. Kami datang ke istana kalian seolah-olah kami ada teroris yang menghantam dunia, padahal kalian lah yang sama seperti teroris yang ingin menguasai kami para masyarakat.

Tidak hanya teroris, kalian juga sama halnya dengan tikus-tikus rakus kantor yang tak punya rasa malu. Dan ketika salah satu masyarakat ingin menyuarakan aspirasinya, kini kalian malah berubah menjadi seperti kucing yang berbulu bersih yang tak punya noda sama sekali.

Wahai para pemerintah, ingin rasanya aspirasi ini disampaikan, namun kalian tetap saja mengundang para polisi untuk melindungi kalian, dan bahkan kalian malah menyudutkan para polisi itu untuk melindungi, padahal sebenarnya polisi itu tak memiliki kesalahan apa-apa, namun kalian selalu saja membuat pertikaian antara kami mahasiswa dengan para aparat kepolisian.

Padahal masalah yang kami resahkan sekarang ini hanya kepada kalian para pemerintah.

Luar biasa cara kalian untuk mencekam kami para mahasiswa dan masyarakat kecil ini. Lagi dan lagi kami selalu memiliki masalah dengan kalian. Ada apa dengan kalian para pemerintah? Mengapa kalian selalu membidik kami dengan senjata yang sangat mematikan.

Kami ini adalah masyarakat kalian, bukan musuh bubuyutan kalian. Seharusnya kalian lah yang memberi pengayom yang baik terhadap kami, bukan malah mencekam kami seperti ini.

Tangis pilu yang selalu kami curahkan, darah menetes dengan begitu derasnya, demi untuk mempertahankan suatu hak yang ingin kami terima, namun kalian malah begitu tenangnya melihat kami seperti ini.

Kalian tertawa terbahak-bahak dan seolah ingin merayakan suatu kemenangan yang luar biasa, padahal kemenangan yang kalian terima itu adalah kemenangan dari kepahitan masyarakat kalian sendiri. Ini mengibaratkan kalian seperti “psikopat” yang tak punya rasa iba sedikit pun.

Bahkan tawa pun tak dapat kami lontarkan, hanya kesedihanlah yang selalu kami dapat dari kalian. Padahal kalian lah yang selalu kami junjung tinggi dengan penuh harapan agar kami masyarakat kalian dapat hidup jaya dan makmur selalu, namun nyatanya itu semua hanya angan-angan yang tak sampai dan angan-angan yang tak mampu dipegang, karena kalian telah menarik angan-angan itu dengan cara penuh paksa dan keras.

Kalian tidak tahu bahwa kami para masyarakat kecil ini selalu menangis meratapi kekesalan kami dan mungkin itu hanya suatu penyesalan yang sangat amat menyesal pada saat kami memilih kalian yang untuk dijadikan sebagai pelindung kami kelak.

Suatu wacana yang amat baik yang ingin kami harapkan namun kalian hanya memberi suatu wacana tanpa bukti pasti. Jangan tanyakan apakah kami membenci kalian atau tidak, itu sama saja kalian membodohi pikiran kalian sendiri, yang bahkan kalian tahu sendiri akan jawabannya, setelah apa yang telah kalian lakukan terhadap kami masyarakat kecil ini.

Dan seharusnya kami para mahasiswa hanya ingin belajar dengan damai di universitas kami masing-masing, belajar dengan santai sambil menerima pelajaran dari tiap dosen.

Namun tiba-tiba lami mendapatkan suatu informasi, bahwasannya kalian telah menurunkan suatu informasi yang membuat jiwa aktivis kami sebagai mahasiswa semakin meronta dan ingin segera menemui kalian para aparat pemerintah. Inikah yang ingin kalian inginkan, bukan?

Memanggil kami, lalu mengkambing-hitamkan kami dengan aparat kepolisian, padahal kalian lah yang telah melakukan kesalahan itu. Lalu ketika kami sudah bertemu dengan kalian, kalian malah mencoba-coba menyuguhkan kami dengan makanan, segelas air putih, dan bahkan permen.

Hhhhmmmm, ingin rasanya diri ini tertawa terbahak-bahak akan tingkah lucu kalian. Apakah kami harus memberikan suatu apresiasi kepada kalian wahai pemerintah sang junjungan kami?

Kalian bersikap seperti itu seolah-olah kami sedang lapar ataupun haus. Iya, memang kami sedang lapar dan haus, tapi kami lapar akan realisasi janji manis kalian, dan haus akan tindakan kalian.

Sekali lagi, maaf atas kelancangan kami dalam bertutur, tetapi ada pepatah mengatakan bahwa “Orang serakah tak akan merasakan lezat dan manisnya kenikmatan. Dia bagai orang makan yang tak pernah merasakan kenyang dan nikmat.”

Artinya, sikap serakah menjadikan seseorang tak pernah puas dan bersyukur atas apa yang telah ia peroleh. Itu sama halnya dengan kalian para aparat pemerintah yang tak pernah puas dengan apa yang telah kalian miliki sekarang ini.

Intinya penguasa yang enak hidupnya hanya karena banyak harta bendanya, kelak matinya tidak akan terhormat. Oleh karena itu jangan kejam dan sewenang-wenang terhadap rakyatnya.

Salam Mahasiswa dan Rakyat Indonesia!


Penulis merupakan mahasiswa di Universitas Efarina. Saat ini aktif sebagai kader di PMKRI Cab. Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Asisi.

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....