Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Rabu, Agustus 19, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeSorot Publik

Perempuan, Terorisme, dan Tawaran Feminisme untuk Mengatasinya

byRedaksi
02/04/2021
inSorot Publik
99
SHARES
708
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Mengutip sebuah hasil penelitian, feminis muslimah Dr Musdah Mulia menyebut Indonesia sebagai negara demokratis, tetapi intoleran. Ia mengatakan, dibutuhkan upaya bersama untuk menekan praktik intoleransi, sehingga demokrasi yang sudah dicapai lebih bermakna.

Musdah menawarkan tiga langkah, yaitu pendidikan, reformasi kebijakan dan reintrepretasi ajaran keagamaan.

Pendidikan dalam makna luas penting untuk melakukan upaya rekonstruksi budaya terutama melalui dalam skala keluarga. Perempuan kini menjadi agensi perubahan yang bermakna positif, maupun negatif. Misalnya, dicontohkan Musdah, perempuan juga berperan dalam tindak kekerasan, seperti keterlibatan mereka dalam aksi-aksi terorisme belakangan ini.

“Ketika kita melakukan penelitian tentang radikalisme dan aksi-aksi teroris di Indonesia, perempuan sudah menjadi agensi yang luar biasa. Agenda perempuan dalam dunia terorisme itu menarik. Semakin kuat. Jadi, sekarang bagaimana mengubah agensi perempuan dalam upaya membangun pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai perdamaian dan nilai toleransi,” ujarnya.

Upaya kedua adalah reformasi kebijakan. Musdah memberi contoh, upaya gerakan aktivis perempuan untuk mendukung SKB 3 Menteri terkait seragam sekolah yang disambut sekitar 1.200 lembaga. Aktivis perempuan harus terus mendesak pemerintah mencabut aturan hukum yang diskriminatif terhadap perempuan. Dilaporkan ada sekurangnya 400 produk hukum yang perlu dikaji terkait ini, dan sebaiknya tidak dilakukan satu persatu.

Sementara upaya reintrepretasi ajaran keagamaan penting, terutama kata Musdah, karena Menteri Agama saat ini cukup progresif dalam hal ini. Negara, ujarnya, memang sebaiknya tidak melakukan pemaksaan seperti di era Orde Baru, tetapi upaya ke arah itu tetap harus dilakukan.

“Negara harus mampu membuat interpretasi-interpretasi keagamaan yang kondusif, yang kompatibel dengan nilai kemanusiaan, itu menjadi interpretasi yang dominan. Menjadi interpretasi mainstream di masyarakat. Pasti ada cara,” tambahnya.

Tawaran itu disampaikan Musdah Mulia dalam diskusi daring 36 tahun Kalyanamitra: Gerakan Feminis dan Isu Keberagaman di Indonesia. Diskusi diselenggarakan pada Rabu (31/3) oleh lembaga tersebut, untuk memperingati kiprahnya dalam gerakan feminisme di Indonesia sejak 1985.

Feminisme dan Radikalisme

Salah satu pendiri Kalyanamitra, Myra Diarsi, juga menyinggung isu radikalisme di tengah pembicaraannya mengenai feminisme di Tanah Air. Dia menyitir pertanyaan krusial, apakah gerakan fundamentalisme dan radikalisme menjadi ancaman bagi feminisme?

Myra memberi jawaban singkat untuk membalikkan kekhawatiran. Feminisme, ujarnya, adalah perlawanan terhadap tindakan dan praktik diskriminasi serta penindasan.

“Maka harus dibalik. Feminisme itu adalah cara berpikir dan juga cara melawan yang tepat untuk mengalahkan semua fundamentalisme, radikalisme, dan lain-lain,” ujar Myra.

Fundamentalisme dan radikalisme menekan perempuan dari hal sederhana, seperti cara mereka tampil. Awalnya pakaian adalah anjuran atau perkenalan, tetapi dalam proses panjang hal itu kemudian berubah menjadi kewajiban. Lebih jauh lagi, upaya mewajibkan model pakaian itu kemudian juga disertai intimidasi atau bahkan persekusi untuk mereka yang tidak bersedia.

“Sampai kepada hal yang paling ekstrem. Kita terkaget-kaget sejak empat tahun terakhir, bahwa pelaku bom bunuh diri, terorisme, sudah mewujud, mengambil gender perempuan,” ucapnya.

Myra mengingatkan apa yang terjadi dalam peristiwa bom Surabaya 2018, di mana seorang ibu tega mengorbankan empat anaknya. Sementara dalam tragedi Makassar, salah satu pelakunya adalah seorang istri yang masih muda. Padahal, perempuan adalah perawat kehidupan.

“Tetapi kini sudah masuk sampai pelaku bom bunuh diri, dan bahkan menghabisi kehidupan.

Itu dimulai dari yang ringan sampai ekstrem, dan ini membuat perempuan lagi-lagi ditempatkan sebagai bukan manusia, tetapi sebagai obyek, sebagai sasaran tembak, atau korban yang sangat empuk,” tambah aktivis perempuan ini.

Kiprah Kalyanamitra

Ratna Saptari, salah satu pendiri Kalyanamitra yang kini mengajar di Belanda, menyebut feminisme bukan isu baru bagi perempuan Indonesia. Kartini bahkan sudah bersinggungan dengan para feminis Belanda melalui surat-surat yang dikenal sampai sekarang.

“Saya masih ingat, dulu waktu Kalyanamitra awalnya berdiri, kita ngomong feminisme itu kan Barat. Padahal, Kartini sejak jaman dulu sudah feminis, sehinga itu juga menjadi bagian dari sejarah kita sendiri,” papar Ratna.

Kalyanamitra adalah salah satu organisasi perintis dalam isu feminisme di Indonesia. Ita Fatia Nadia, Ketua Kalyanamitra periode 1992-2001, menyebut lembaga itu berdiri dari satu ruang yang tidak kosong. Perintisnya adalah sekumpulan aktivis mahasiswa kelas menengah di Universitas Indonesia, yang juga para sahabat Fatia.

Kumpulan mahasiswi ini sering mendiskusikan persoalan-persoalan sosial, politik, dan isu perempuan sejak 1983. Perhatian terbesar mereka adalah tentang bagaimana Orde Baru memposisikan perempuan sejak runtuhnya pemerintahan sebelumnya.

“Tahun 1983 sampai 1985 itu adalah pematangan dalam diskusi-diskusi. Saya sering datang ke mereka. Saya orang kampung dari Yogya, mahasiswa UGM yang unyu-unyu, datang naik bus kota, duduk, berdiskusi dengan mereka,” kenang Fatia.

Grup diskusi mahasiswi ketika itu menjadi penting perannya, kata Fatia, karena belum ada yang membicarakan isu-isu perempuan secara kolektif. Apa yang menjadi pusat kajian pun berubah seiring waktu. Mulai tema-tema peran perempuan dalam rumah tangga pada pertengahan 80-an, hingga isu buruh perempuan tahun 90-an, dan isu-isu lain yang terus berkembang hingga saat ini.(*)


VOA Indonesia

Tags:#feminisme#Perempuan#toleransi
Share40SendShare

Related Posts

Tak Tanggung-tanggung, Masyarakat Serbalawan Perbaiki Tribun Lapangan Dobana

03/07/2026

PIRAMIDA.ID- Setelah memperbaiki lokasi Tiang Bendera, saat ini masyarakat kelurahan Serbalawan, kecamatan Dolok Batu Nanggar (Dobana) kembali memperbaiki Atap Tribun...

PMKRI Pematangsiantar Sukses Gelar MPAB 2026: Momentum Penguatan Kaderisasi Baru

25/05/2026

PIRAMIDA.ID-​SIMALUNGUN – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi sukses menyelenggarakan Masa Penerimaan Anggota Baru...

Ketua ILAJ Soroti Jalan Rusak di Pagagan Hilir, Bupati Dairi: “Kenapa Disebut Tutup Mata?”

10/05/2026

PIRAMIDA.ID - Kecamatan Pagagan Hilir kembali menjadi sorotan akibat kondisi jalan rusak yang dinilai membahayakan masyarakat. Kerusakan terjadi di sejumlah ruas...

Komjen Pol Ridwan Zulkarnaen Panca Putra Jadi Kalemdiklat Polri, Ketua ILAJ: Dimana Saja Beliau Pasti Cemerlang

10/05/2026

PIRAMIDA.ID - Ketua Institute Law And Justice (ILAJ) Fawer Full Fander Sihite memberikan apresiasi atas pelantikan Komjen Pol Drs Ridwan...

Refleksi 800 Tahun Santo Fransiskus: PMKRI Pematangsiantar Ajak Generasi Muda Hidupi Kesederhanaan dan Cinta Lingkungan

10/05/2026

PIRAMIDA.ID-PEMATANGSIANTAR — Dalam semangat memperingati 800 tahun perjalanan spiritual Santo Fransiskus dari Assisi, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang...

ILAJ Desak Dirut PTPN IV PalmCo Copot Regional Head Budi Susanto, Dinilai Lindungi Oknum VAN

04/05/2026

PIRAMIDA.ID — Institute Law and Justice (ILAJ) mendesak Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Krisna Santosa, untuk mencopot Budi Susanto...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

Sekretaris HMI Kota Batam; Tantang Kapolda Kepri Ungkap Oknum Aparat Yang Melindungi Perjudian Dan Narkoba Di Kota Batam

18/08/2026
Berita

Planet Group Yang Dikendalikan Basri, Runtuh Ditangan Bareskrim Mabes Polri

15/08/2026
Berita

ILAJ Nilai Pernyataan Bupati Karo Tentang Ratusan Siswa Keracunan Langgar Etika Pemerintahan, Mendagri Diminta Proses Pemberhentian Antonius Ginting

14/08/2026
Berita

PMKRI Pematangsiantar Desak Penyusunan Mekanisme Baku Pengawasan dan Sanksi Program MBG Usai Ratusan Pelajar Keracunan di Berastagi

14/08/2026
Berita

Buntut Dugaan Manipulasi Ekspor Pulp PT TPL, Ketua ILAJ Minta Kejagung Periksa Sukanto Tanoto

13/08/2026
Berita

Ketua ILAJ Fawer Sihite Apresiasi Kejagung Bongkar Dugaan Manipulasi Ekspor Pulp PT TPL

13/08/2026

Populer

Berita

Planet Group Yang Dikendalikan Basri, Runtuh Ditangan Bareskrim Mabes Polri

15/08/2026
Berita

Jaksa Rumondang Manurung tuntut 1 Tahun penjara petugas Imigrasi yang membantu mengatur penyelundupan Narkotika Cair

23/07/2026
Berita

Sekretaris HMI Kota Batam; Tantang Kapolda Kepri Ungkap Oknum Aparat Yang Melindungi Perjudian Dan Narkoba Di Kota Batam

18/08/2026
Berita

PMKRI Pematangsiantar Desak Penyusunan Mekanisme Baku Pengawasan dan Sanksi Program MBG Usai Ratusan Pelajar Keracunan di Berastagi

14/08/2026
Berita

Kritik Sastra: Pengertian, Fungsi, Manfaat dan Pendekatan

14/11/2022
Berita

Buntut Dugaan Manipulasi Ekspor Pulp PT TPL, Ketua ILAJ Minta Kejagung Periksa Sukanto Tanoto

13/08/2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber