PIRAMIDA.ID — Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Ketua Institute Law And Justice (ILAJ), Fawer Full Fander Sihite, mendesak Bupati Simalungun agar mengevaluasi secara serius dan mempertimbangkan pencopotan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Simalungun, Bob Presly Saragih, yang disebut telah menjabat sekitar 10 bulan. Rabu, 28 Oktober 2026.
Menurut Fawer, masa jabatan tersebut sudah seharusnya menjadi momentum untuk mengukur sejauh mana visi, inovasi, dan program pembangunan kepemudaan telah diwujudkan. Ia menilai pemuda Simalungun membutuhkan kepemimpinan yang progresif, memiliki arah kebijakan yang jelas, serta mampu menghadirkan program yang berdampak langsung bagi generasi muda.
“Sudah sekitar 10 bulan menjabat sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, apa terobosan besar yang bisa ditunjukkan untuk kemajuan pemuda Simalungun? Ini yang harus dijawab melalui evaluasi terbuka dan objektif. Jangan sampai jabatan strategis ini hanya berjalan secara administratif tanpa arah pembangunan kepemudaan yang jelas,” tegas Fawer.
Ia menekankan, jabatan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga bukan sekadar posisi birokrasi, melainkan tanggung jawab besar untuk menyiapkan generasi muda yang berdaya saing, kreatif, mandiri, dan mampu menjadi motor pembangunan daerah.
10 BULAN BUKAN WAKTU YANG SINGKAT UNTUK MENUNJUKKAN ARAH KERJA
Fawer menilai, setelah sekitar 10 bulan menjabat, masyarakat berhak meminta penjelasan mengenai arah kebijakan dan capaian program Dispora Simalungun.
Menurutnya, evaluasi harus mencakup sejumlah aspek penting, mulai dari kejelasan visi pembangunan kepemudaan, inovasi program, pembinaan organisasi kepemudaan, pengembangan kewirausahaan anak muda, hingga pembinaan atlet dan peningkatan prestasi olahraga.
“Sepuluh bulan memang bukan waktu untuk menuntut semua persoalan kepemudaan selesai. Namun, waktu tersebut seharusnya cukup untuk menunjukkan arah kepemimpinan, menetapkan prioritas, membangun kolaborasi, dan memperlihatkan hasil awal yang terukur. Kalau arah dan terobosan saja tidak terlihat, tentu Bupati harus mengevaluasi secara serius,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan kepemudaan tidak boleh hanya diukur dari jumlah kegiatan seremonial, melainkan dari manfaat nyata yang dirasakan pemuda.
BUPATI SIMALUNGUN JANGAN TUTUP MATA
Fawer meminta Bupati Simalungun tidak menutup mata terhadap aspirasi masyarakat dan kebutuhan generasi muda yang menginginkan perubahan dalam pengelolaan sektor kepemudaan dan olahraga.
Menurutnya, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian dalam evaluasi terhadap Bob Presly Saragih.
Pertama, visi pembangunan kepemudaan. Dispora harus memiliki arah kebijakan yang jelas untuk meningkatkan kapasitas, kreativitas, keterampilan, dan daya saing pemuda.
Kedua, inovasi program. Pemuda membutuhkan program konkret di bidang kewirausahaan, literasi digital, kepemimpinan, kreativitas, dan pengembangan potensi lokal, bukan sekadar kegiatan rutin.
Ketiga, keberpihakan kepada organisasi kepemudaan. Pemerintah harus membangun kolaborasi yang terbuka dan memberikan ruang partisipasi kepada organisasi, mahasiswa, komunitas kreatif, serta pemuda di tingkat kecamatan dan nagori.
Keempat, pembinaan atlet dan olahraga. Pembinaan harus dilakukan secara terencana dan berkelanjutan, dengan target prestasi yang jelas serta dukungan terhadap atlet, pelatih, dan sarana olahraga.
Kelima, akuntabilitas program dan anggaran. Setiap program harus memiliki indikator keberhasilan yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
ILAJ mendorong agar seluruh aspek tersebut diperiksa berdasarkan data, realisasi program, dan capaian kinerja yang dapat diverifikasi.
JANGAN SAMPAI PEMUDA HANYA MENJADI OBJEK SEREMONIAL
Fawer menegaskan bahwa momentum Hari Sumpah Pemuda seharusnya menjadi pengingat bahwa generasi muda merupakan aset strategis yang menentukan masa depan Kabupaten Simalungun.
Ia menyayangkan apabila potensi besar pemuda tidak diimbangi dengan kebijakan yang inovatif dan keberanian pemerintah untuk melakukan pembenahan.
“Jangan sampai setiap 28 Oktober kita berbicara tentang semangat pemuda, tetapi setelah itu persoalan dan kebutuhan pemuda kembali tidak mendapatkan perhatian yang semestinya. Pemuda Simalungun membutuhkan ruang aktualisasi, kesempatan berusaha, pembinaan, dan dukungan untuk berprestasi,” katanya.
Menurutnya, Dispora harus tampil sebagai motor penggerak yang mampu menjembatani potensi pemuda dengan program pembangunan daerah.
JIKA TIDAK MEMILIKI VISI, COPOT DAN GANTI!
Fawer secara tegas meminta Bupati Simalungun mengambil langkah evaluasi terhadap kepemimpinan Bob Presly Saragih.
“Di momentum Hari Sumpah Pemuda ini, kami meminta Bupati Simalungun mengevaluasi Kadispora Bob Presly Saragih yang sudah sekitar 10 bulan menjabat. Ukur kinerjanya secara objektif. Apakah ada visi yang jelas? Apakah ada inovasi? Apakah programnya memberikan dampak nyata bagi pemuda dan olahraga?” tegasnya.
Ia melanjutkan, “Jika hasil evaluasi menunjukkan bahwa yang bersangkutan tidak mampu menghadirkan arah kebijakan, inovasi, dan capaian yang dibutuhkan, maka Bupati jangan ragu mengambil tindakan tegas, termasuk mencopot dan menggantinya dengan figur yang lebih kompeten, visioner, dan memiliki keberpihakan nyata terhadap pemuda.”
Fawer menegaskan bahwa desakan tersebut merupakan kritik terhadap tata kelola pemerintahan dan bentuk kepedulian terhadap masa depan generasi muda Simalungun, bukan persoalan pribadi.
SUMPAH PEMUDA HARUS MENJADI TITIK BALIK
Menutup pernyataannya, Ketua ILAJ itu menegaskan bahwa Hari Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti pada upacara, pidato, dan slogan persatuan.
Peringatan ini harus menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Simalungun untuk membenahi kebijakan kepemudaan, memperkuat pembinaan olahraga, dan memastikan bahwa generasi muda memperoleh kesempatan yang adil untuk berkembang.
“Pemuda tidak membutuhkan janji yang terus diulang. Pemuda membutuhkan kepemimpinan yang bekerja, program yang jelas, dan hasil yang bisa dirasakan. Sepuluh bulan sudah menjadi waktu untuk menunjukkan arah. Sekarang saatnya Bupati Simalungun membuktikan keberpihakannya kepada masa depan pemuda melalui evaluasi yang tegas dan terukur,” tutup Fawer. (TIM)















