Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Sabtu, September 5, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeSorot Publik

Agama Jadi Faktor Penting dalam Memilih Capres-Cawapres

byRedaksi
27/06/2021
inSorot Publik
101
SHARES
724
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Konstitusi Indonesia tidak memberi batasan dalam hal agama bagi seseorang untuk menjadi Calon Presiden (Capres) atau Calon Wakil Presiden (Cawapres). Namun dalam sejarahnya, belum pernah ada presiden ataupun wakilnya yang bukan muslim.

Dalam survei yang dilakukan Indonesian Presidential Studies (IPS), agama seorang Capres maupun Cawapres sebenarnya tidak menjadi faktor utama dari deretan alasan pemilih menentukan pilihan. Setidaknya, survei pada September 2020 dan Mei 2021, menggambarkan situasi tersebut. Namun, partai politik justru tidak berani mengambil sikap berbeda, dengan mencalonkan nonmuslim dalam bursa pemilihan presiden.

Direktur Eksekutif IPS, Nyarwi Ahmad Ph.D, menilai elit partai politik Indonesia mungkin masih mempertimbangkan fakta, bahwa mayoritas pemilih di Indonesia adalah muslim. Selain itu, ada juga faktor sikap pemilih muslim itu sendiri.

“Dugaan saya, ini yang menjadikan para elit partai politik belum ada keberanian, padahal secara konstitusi terbuka, untuk mencalonkan sosok pasangan Capres dan Cawapres dengan latar belakang dari agama minoritas, yaitu nonmuslim,” kata Nyarwi dalam diskusi peluang nonmuslim maju dalam Pilpres 2024, Jumat (25/6).

Dalam survei IPS, 80 persen pemilih beragama Budha menyatakan bahwa mereka terpengaruh faktor agama dari pasangan ketika menentukan pilihannya. Sedangkan di kalangan muslim, mereka yang memandang agama penting ketika memilih adalah 67,8 persen, diikuti Protestan 21,5 persen, sedangkan Katolik dan Hindu, masing-masing 9,1 persen.

Namun ketika agama ditempatkan hanya sebagai salah satu variabel pilihan, dalam survei IPS terbukti bahwa sebenarnya pemilih Indonesia tidak menempatkan agama Capres-Cawapres sebagai faktor utama. Jika diminta memilih, mayoritas pemilih masih menempatkan program kerja dan figur pasangan calon di atas faktor agama.

Perlu Kerja Bersama

Wakil Ketua DPP Partai Nasdem, Willy Aditya tidak mau menempatkan partai sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terkait apa yang saat ini terjadi.

“Jangan disalahkan partai karena partai dilahirkan memang untuk alat menang. Kita sama-sama kerja. Apa pekerjaan kita? Membangun instrumen hegemoninya, membangun narasinya,” kata Willy.

Yang disebut membangun narasi oleh Willy adalah proses panjang memupuk kesadaran masyarakat terkait iklim politik. Dia memberi contoh, apa yang terjadi dalam sistem politik Amerika Serikat saat ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba saja. Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian pihak membangun narasi untuk memasukkan ide-ide persamaan hak dalam politik. Misalnya dalam film, baik layar lebar maupun kartun di televisi, yang menggambarkan adanya seorang presiden kulit hitam atau presiden perempuan dalam ceritanya.

Kemunculan Kennedy yang Katolik di tengah pemilih Kristen, atau terpilihnya Obama dalam mayoritas pemilih kulit putih, beber Willy, adalah hasil dalam membangun narasi panjang di tengah masyarakat itu.

“Hari ini kita masih terjebak dalam angka-angka. Jangankan hanya Islam dan non-Islam, antara Jawa dan non-Jawa saja masih besar. Karena kita masih hidup dalam jebakan Batman, terjebak dalam kemalasan berpikir dan bertindak, tidak membangun kerangkanya bersama-sama,” ujar Willy.

Sementara Wakil Sekjend DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Idy Muzayyad, menilai memang ada dua hal kondisi yang tidak menyambung, antara realitas politik dan konstitusi.

Meskipun selama ini PPP sering dianggap sebagai partai eksklusif dalam konteks keagamaan Islam, tetapi Idy memastikan kenyataannya tidak demikian. Setidaknya itu tergambar pada pilihan partai berlogo Kabah itu, ketika memutuskan untuk mendukung Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta 2018. Setelah Ahok kalah, dalam pemilihan legislatif 2019 para pemilih setia mereka di Jakarta memberikan hukuman berat atas sikap partai.

“Kita kemudian memiliki kursi di DPRD hanya satu, dari yang sebelumnya sepuluh. Jadi nolnya menggelinding,” kata Idy.

Padahal dalam kenyataannya, di daerah lain PPP juga pernah mendukung calon kepala daerah nonmuslim. Bahkan di beberapa daerah yang masyarakatnya mayoritas nonmmuslim, PPP juga memiliki pengurus partai yang tidak beragama Islam. Dalam pemilihan calon anggota legislatif, ada pula sejumlah nama dari kalangan nonmuslim yang mereka calonkan dan berhasil terpilih. Karena itu, meski menyebut apa yang terjadi di Jakarta sebagai sebuah anomali, Idy menilai realitas bahwa belum ada kesinambungan antara konstitusi dan realitas pemilih harus diakui.

Tantangan Banyak Negara

Ketua Forum Koordinasi Lintas Fakultas Alumni Universitas Indonesia (Fokal UI) Pande K Trimayuni menyebut, selain agama, etnis adalah faktor penting dalam politik Indonesia. Bahkan dia menilai, pertimbangan etnis kadang lebih dominan dibanding soal agama. Dia mengingatkan, kondisi ini bukan khas terjadi di Indonesia, tetapi di mayoritas negara di dunia.

“Ini bukan tantangan khas Indonesia, tetapi juga di banyak belahan dunia juga berlangsung,” kata Pande.

Tantangannya adalah memperbanyak perbincangan terkait agama dan etnis dalam politik, sehingga muncul paradigma baru di masyarakat. Dalam skala wilayah yang berbeda, pemimpin yang menganut agama berbeda atau berasal dari etnis berbeda dengan pemilihnya terbukti bisa dipilih. Meski Indonesia adalah negara dengan penganut Islam terbesar di dunia, kata Pande, bukan tidak mungkin idealisme itu juga bisa diterapkan di sini. Salah satu pintu masuk yang bisa dipakai adalah dasar negara, yaitu Pancasila.(*)


VOA Indonesia

Tags:#agama#konstitusi#kontestasipemilu#pilpres
Share40SendShare

Related Posts

Tak Tanggung-tanggung, Masyarakat Serbalawan Perbaiki Tribun Lapangan Dobana

03/07/2026

PIRAMIDA.ID- Setelah memperbaiki lokasi Tiang Bendera, saat ini masyarakat kelurahan Serbalawan, kecamatan Dolok Batu Nanggar (Dobana) kembali memperbaiki Atap Tribun...

PMKRI Pematangsiantar Sukses Gelar MPAB 2026: Momentum Penguatan Kaderisasi Baru

25/05/2026

PIRAMIDA.ID-​SIMALUNGUN – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi sukses menyelenggarakan Masa Penerimaan Anggota Baru...

Ketua ILAJ Soroti Jalan Rusak di Pagagan Hilir, Bupati Dairi: “Kenapa Disebut Tutup Mata?”

10/05/2026

PIRAMIDA.ID - Kecamatan Pagagan Hilir kembali menjadi sorotan akibat kondisi jalan rusak yang dinilai membahayakan masyarakat. Kerusakan terjadi di sejumlah ruas...

Komjen Pol Ridwan Zulkarnaen Panca Putra Jadi Kalemdiklat Polri, Ketua ILAJ: Dimana Saja Beliau Pasti Cemerlang

10/05/2026

PIRAMIDA.ID - Ketua Institute Law And Justice (ILAJ) Fawer Full Fander Sihite memberikan apresiasi atas pelantikan Komjen Pol Drs Ridwan...

Refleksi 800 Tahun Santo Fransiskus: PMKRI Pematangsiantar Ajak Generasi Muda Hidupi Kesederhanaan dan Cinta Lingkungan

10/05/2026

PIRAMIDA.ID-PEMATANGSIANTAR — Dalam semangat memperingati 800 tahun perjalanan spiritual Santo Fransiskus dari Assisi, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang...

ILAJ Desak Dirut PTPN IV PalmCo Copot Regional Head Budi Susanto, Dinilai Lindungi Oknum VAN

04/05/2026

PIRAMIDA.ID — Institute Law and Justice (ILAJ) mendesak Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Krisna Santosa, untuk mencopot Budi Susanto...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

Persatuan Tak Dibela dengan Kekerasan: Komrad Pancasila Dukung Polri Bongkar Tuntas Kematian Bambang Setiyawan

04/09/2026
Berita

Dugaan Fee Proyek di Simalungun, Pro-Public Institute Minta PPATK dan KPK Tulusuri Aliran Dana ke JR. Saragih Mantan Bupati

31/08/2026
Berita

Iptu Yanti Harefa Tidak Terima Ada Wartawan Saat Melakukan Olah TKP di Djuwita Play Group

29/08/2026
Berita

Mahasiswa di Batam Akan Gelar Unjuk Rasa, Desak Pemkot Batam Tinjau Ulang Kerja Sama Pembangunan Pasar Induk Jodoh

27/08/2026
Berita

Bank Mandiri Jangan Berlindung di Balik “Permintaan Aparat”, Publik Berhak Tahu Dasar Hukumnya

25/08/2026
Berita

Jalin Sinergi Pendidikan, PCM Siantar Utara Studi Tiru ke Perguruan Muhammadiyah Aekkanopan

25/08/2026

Populer

Berita

Iptu Yanti Harefa Tidak Terima Ada Wartawan Saat Melakukan Olah TKP di Djuwita Play Group

29/08/2026
Berita

Dugaan Fee Proyek di Simalungun, Pro-Public Institute Minta PPATK dan KPK Tulusuri Aliran Dana ke JR. Saragih Mantan Bupati

31/08/2026
Berita

Jaksa Rumondang Manurung tuntut 1 Tahun penjara petugas Imigrasi yang membantu mengatur penyelundupan Narkotika Cair

23/07/2026
Berita

Resmi Dilantik, GMKI Pangkalpinang Dorong Kolaborasi Pemerintah dan Elemen Masyarakat Mengatasi Pandemi

29/09/2021
Berita

Mahasiswa di Batam Akan Gelar Unjuk Rasa, Desak Pemkot Batam Tinjau Ulang Kerja Sama Pembangunan Pasar Induk Jodoh

27/08/2026
Edukasi

Kesenjangan Sosial Wilayah Perkotaan Menurut Pandangan Sosiologi

25/10/2022
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber