Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Senin, Juli 27, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeDialektika

Betapa Tidak Menariknya Agamamu

byRedaksi
04/06/2020
inDialektika
101
SHARES
721
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

Yudhie Haryono*

PIRAMIDA.ID- Jika engkau ingin dikenang ribuan tahun, buatlah agama; jadilah nabi. Jika engkau ingin dikenang ratusan tahun, ciptakanlah imperium; jadilah raja.

Begitulah diktum sejarah. Begitulah catatan perjalanan peradaban. Karenanya, tak ada perang besar yg tak melibatkan agama dan imperium. Tak ada peristiwa besar tanpa absennya kedua aktor. Tanpa agama dan imperium, arsitektur dunia tak layak dituliskan.

Tetapi, “Tidak semua orang beragama masuk sorga. Dan, tidak semua penghuni sorga beragama. Sebab, agama adalah penyakit yang ditularkan lewat dogma dan upacara.” Pada saat yg sama, “tidak semua imperium membuat orang bahagia dan tidak semua warga bahagia tinggal di imperium. Sebab imperium adalah delusi yang ditegakkan via bedil dan senjata.”

Karenanya, kita tidak perlu sombong dengan agama. Tidak perlu ribut soal agama. Karenanya, kita tidak usah cinta buta pada imperium. Tidak perlu fundamentalis pada imperium.

Kita tahu bahwa kata agama berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti “tradisi” dan “keteraturan.” Kata lainnya adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio. Akar katanya re-ligare yang berarti “mengikat kembali.” Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada aturan bersama.

Sedang dalam bahasa Inggris “religion,” bermakna “takut akan Tuhan sambil merenungkan hal-hal eskatologi, kesalehan, ketekunan, ketaatan dan kepatuhan hukum.”

Karena ketaatan, kepatuhan dan keteraturan maka agamawan akan memproduksi kebenaran via ilmu; kebaikan via akhlak/karakter; keindahan via seni.

Dus, subtansi agama dengan demikian adalah moral dan etika yang sembilan: (1) Apabila beriman, ia idealis; (2) Apabila berjuang, ia selesaikan; (3) Apabila dipercaya, ia tidak berkhianat; (4) Apabila berbicara, ia tidak berdusta; (5) Apabila berjanji, ia tidak ingkar; (6) Apabila bermusuhan, ia tidak menelikung; (7) Apabila sukses, ia tidak takabur; (8) Apabila gagal, ia tidak mengeluh; (9) Apabila berkuasa, ia bergotong-royong.

Tentu setiap agama itu luar biasa. Karena itu dalam sejarah yg sangat panjang, nabi-nabi tidak hanya bicara hidup/mati/agama/ideologi/tuhan dan ibadah ritual. Nabi-nabi selalu bicara keadilan dan kesejahteraan via revolusi struktur ekopolotik. Ya. Revolusi Sistemik ekonomi-politik yang gigantik. Tanpa revolusi dan tindakan-tindakan raksasa, agama jatuh menjadi bisnis dan mafia saja.

Karena itu, yang bicara hidup/mati/ritual/tuhan/ibadah, baru sekelas romo dan kyai. Yang baru bicara identitas dan kesalihan individual baru kelas ustad dan artis. Kini dunia keagamaan kita baru sebatas bicara kurikulum artifisial dan ibadah pariferal. Kini dunia kepemimpinan agama kita baru sebatas ustad, room, dan artis. Belum sekelas nabi. Sangat memuakkan dan tidak menarik bagi capaian peradaban.

Jika ingin agama menjadi menarik, jadilah nabi baru yang fatwa dan tindakannya berdentum via revolusi ruhani dan revolusi total, “Tidak penting bagiku apa agamamu. Bahkan aku tak peduli, kamu beragama atau tidak. Yang betul-betul penting bagiku adalah perilakumu di depan kawan-kawanmu, keluarga, lingkungan kerja, negara juga dunia.”

Sebab yang paling genting kini bagi dunia adalah perilaku, “jagalah pikiranmu, karena akan menjadi perkataanmu. Jagalah perkataanmu, karena akan menjadi perbuatanmu. Jagalah perbuatanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu. Jagalah kebiasaanmu, karena akan menjadi karaktermu. Jagalah karaktermu, karena akan menjadi nasibmu.”

Agama tanpa karakter adalah tekhnik dan ekonometrik. Agama tanpa tindakan raksasa adalah sinetron dan pencitraan.


Penulis merupakan Direktur Eksekutif Nusantara Centre. Pendiri PKPK UMP (Pusat Kajian Pancasila dan Kepemimpinan Univ Muhammadiyah Purwokerto).

Tags:headline
Share40SendShare

Related Posts

Ngobrol Pintar CS KERAS Bahas Dugaan Keterlibatan Wali Kota Siantar dalam Pembelian Eks Rumah Singgah COVID-19

02/07/2026

PIRAMIDA.ID – ALIANSI CS KERAS (Control Sosial – Kumpulan Elemen Rakyat Anti Suap) menggelar diskusi publik bertajuk NGOPI (Ngobrol Pintar) dengan...

Menantang Narasi Pikiran Ferry Irwandi Desak Reformasi Total Polri

05/09/2025

PIRAMIDA.ID - Seruan Ferry Irwandi dalam beberapa media berita online yang mendesak “reformasi total Polri” terdengar lantang, tetapi jika ditelisik...

Pidato Lengkap Jefri Gultom di Dies Natalis GMKI ke-74: Bangkit Ditengah Pergumulan

26/02/2024

Bangkit Ditengah Pergumulan Pidato 74 tahun GMKI Jefri Edi Irawan Gultom Para peletak sejarah selalu berpegang pada prinsip ini, ‘’perjalanan...

Pewaris Opera Batak

11/07/2023

Oleh: Thompson Hs* PIRAMIDA.ID- Tahun 2016 saya menerima Anugerah Kebudayaan dari Kemdikbud (sekarang Kemendikbudristek) Republik Indonesia di kategori Pelestari. Sederhananya,...

Mengapa Membahas Masa Depan Guru “Dianggap” Tidak Menarik?

01/05/2023

Oleh: Agi Julianto Martuah Purba PIRAMIDA.ID- “Mengapa sejauh ini kampus kita tidak mengadakan seminar tentang tantangan dan strategi profesi guru di...

Membangun Demokrasi: Merawat Partisipasi Perempuan di Bidang Politik

14/04/2023

Oleh: Anggith Sabarofek* PIRAMIDA.ID- Demokrasi, perempuan dan politik merupakan tiga unsur yang saling berkesinambungan satu dengan yang lain. Berbicara mengenai...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

Ketua ILAJ: Penentuan Seseorang Bersalah atau Tidak Bukan Ditentukan oleh Seberapa Viral Opini Publik, Melainkan Melalui Mekanisme Hukum yang Sah

26/07/2026
Berita

Ketua ILAJ Minta TNI dan Polri Berikan Perlindungan Keamanan kepada Tim 9 Penanganan Kasus Febrie Adriansyah

26/07/2026
Berita

Ketua ILAJ: Tim 9 Harus Berani Menegakkan Kebenaran, Jangan Takut Intimidasi; Jika Hasil Pemeriksaan Menyatakan Febrie Adriansyah Tidak Bersalah, Maka Nama Baiknya Harus Dipulihkan Demi Menjaga Marwah Negara Hukum

26/07/2026
Berita

Pernyataan Prabowo Soal “Londo Ireng”, Ketua ILAJ: Wartawan dan LSM Bagian Penting Perjalanan NKRI, Tak Mungkin Presiden Merendahkan Mereka

25/07/2026
Berita

Ketua ILAJ: Kasus Febrie Adriansyah Jangan Dijadikan Alat Menggerus Kepercayaan Publik terhadap Satgas PKH

25/07/2026
Berita

Sejak Awal Perkara Ini Terlihat Dipaksakan, Ketua ILAJ: Fitri Agus Karo-Karo Harus Dibebaskan Demi Hukum

24/07/2026

Populer

Berita

Jaksa Rumondang Manurung tuntut 1 Tahun penjara petugas Imigrasi yang membantu mengatur penyelundupan Narkotika Cair

23/07/2026
Berita

Dorong Kemandirian Ekonomi, Bendahara GP Ansor Pematangsiantar Ajak Masyarakat Aktif Kembangkan UMKM

21/07/2026
Dialektika

Immanuel Kant, Filsuf Yang Lebih Tepat Waktu Dari Jam

24/05/2020
Berita

Ketua ILAJ: Hukum Tidak Boleh Tunduk pada Tekanan Opini, Penyidik Harus Berani Evaluasi Perkara Febrie Adriansyah

21/07/2026
Berita

ILAJ Desak PWI Pusat: Wujudkan Keberpihakan Nyata dengan Tegur Perusahaan Media yang Abaikan Hak Jurnalis

21/07/2026
Pojokan

Pesan Tersembunyi Ki Narto Sabdo Dalam Lagu Kelinci Ucul

23/09/2020
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber