Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Rabu, Juli 22, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeDunia

Inteligensia Artifisial Jamin Pemilihan secara Obyektif?

byRedaksi
06/11/2021
inDunia
99
SHARES
709
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Kompetisi kecantikan “beauty.ai” menjanjikan obyektifitas dalam memilih orang berparas paling menawan di bumi. Yaitu dengan bantuan inteligensia buatan atau artificial inteligence, yang biasa disingkat AI.

Lebih dari 6.000 selfi sudah diserahkan, dari berbagai bagian dunia. Tapi, hampir semua pemenang berkulit putih.

Masalahnya: inteligensia buatan dilatih memberikan penilaian dengan data-data wajah orang dari Eropa Tengah. Sedangkan wajah orang dari kawasan dunia lain tidak dikenali dengan baik.

Keputusan AI berdampak pada hidup manusia

Salah seorang peneliti inteligensia buatan, Joy Buolamwini, juga mengeluhkan kerugian besar lain akibat inteligensia buatan. “Kita harus semakin menyadari adanya algoritme destruktif misterius yang menyebar luas, dan semakin digunakan untuk mengambil keputusan yang berdampak pada hidup kita.“

Hirarki Superioritas Pada Kecerdasan Buatan

Buolamwini menjelaskan lebih lanjut, misalnya dalam hal siapa yang dapat pekerjaan, siapa yang dipecat. Apa orang ini dapat pinjaman atau tidak, dapat asuransi, atau dapat tempat kuliah yang diinginkan.

Banyak piranti lunak yang digunakan perusahaan untuk memilih pekerja baru menggunakan kecerdasan buatan. Piranti lunak ini menganalisa bahasa tubuh atau kata-kata yang digunakan.

Pembuat piranti lunak seperti HireVue menjanjikan obyektifitas lebih tinggi, sehingga katanya keanekaragaman dan keadilan genderbisa tercapai

Pakar seperti Lorena Jaume-Palasí meragukan itu. Ia menganalisa 38 piranti lunak untuk proses penerimaan pegawai yang digunakan pemerintah Jerman.

AI mematuhi ide usang Big Five

“Banyak dari piranti lunak ini berlandaskan teori yang dalam berbagai ilmu sosial, sosiologi juga psikologi dianggap kontroversial, atau sudah lama usang,“ kata Jaume-Palasí. Di dalamnya tercakup ide-ide yang disebut Big Five.

Big Five dalam piranti lunak adalah: sikap terbuka, bertanggungjawab, menerima ide baru, punya empati dan keyakinan diri. Inteligensia artifisial menempatkan orang pada ibaratnya laci-laci ini, dan menarik kesimpulan tentang kelayakan seseorang.

Misalnya, empati tidak termasuk dalam kategori yang dicari untuk posisi pemimpin. Sementara empati diasosiasikan dengan perempuan. Akhirnya piranti lunak berinterpretasi: perempuan tidak cocok jadi pemimpin!

Masalah lainnya: Big Five adalah nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat Eropa. Jika kita memandang Asia misalnya, bisa dilihat, sikap rajin punya bobot sangat tinggi. Dan itu sama sekali tidak diperhitungkan “tool” yang biasanya digunakan perusahaan besar.

Teknologi yang digunakan untuk evaluasi orang

Uni Eropa juga menggunakan piranti lunak seperti itu untuk proses pencarian pegawai baru. Namanya Cammio. Tapi sekarang fungsi inteligensia buatan yang ada di piranti lunak itu belum mulai digunakan.

Lorena Jaume-Palasí yang juga jadi penasehat pemerintah dalam hal intelegensia artifisial mengatakan, “Saya rasa, kita harus memikirkan dulu, apakah teknologi seperti ini bisa digunakan dalam berbagai hal, yang tujuannya memberikan nilai dan mengevaluasi orang.“

Penyebabnya, karena teknologi ini sebenarnya tidak etis dan tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan, dan tidak layak dilempar ke pasaran. Begitu ditekankan Jaume-Palasí yang juga pendiri organisasi non profit Ethical Tech Society

Namun demikian, di seluruh dunia, semakin banyak sistem kecerdasan buatan yang digunakan.

Manusia butuh program yang inklusif

“Kita harus mulai memikirkan bagaimana caranya menciptakan program yang bersifat lebih inklusif dan mengikutsertakan praktik lebih inklusif pula. Ini harus dimulai manusia,“ kata Joy Buolamwini.

Peneliti intelegensia artifisial itu mengemukakan sejumlah hal yang harus dipertimbangkan. Apakah kita menciptakan tim dengan individu beraneka ragam, dan bisa saling melengkapi? Dari segi teknis, apakah kita memperhitungkan keadilan jika mengembangkan sistem?

Kita sekarang punya kesempatan untuk mencapai persamaan dan keadilan, jika kita menjadikan perubahan sosial sebagai prioritas, dan bukan hal sampingan. Demikian ditambahkan Joy Buolamwini.

Menilai orang secara adil, berkaitan dengan tantangan lebih besar. Dan itu menuntut biaya tambahan dari pembuat program inteligensia artifisial.(*)


DW Indonesia

Tags:#AI#kecerdasan#rasisme
Share40SendShare

Related Posts

KOMRAD : Jakarta Buktikan Diri, Dari Kota Rawan Jadi Salah Satu Kota Teraman Di ASEAN

09/04/2026

PIRAMIDA.ID | Jakarta, 8 April 2026 - Koordinator Nasional Komrad Pancasila, Antony Yudha Benusu, menyampaikan apresiasi sekaligus penegasan bahwa Jakarta...

Perang Israel-Iran Menunjukkan Pentingnya STEM, Fawer Sihite: Dukung Sikap Presiden Prabowo

22/06/2025

PIRAMIDA.ID - Dalam sebuah wawancara eksklusif yang berlangsung di Mall Atrium Senen, Jakarta Pusat, Fawer Sihite menegaskan bahwa perang antara...

Kebahagiaan Berasal dari Keyakinan dalam Diri

10/07/2023

PIRAMIDA.ID- Pernahkah Anda berkata pada diri sendiri saat marah, ‘Saya tidak boleh marah?' Atau mungkin ketika Anda merasa sedikit sedih,...

Mengapa Orang Terlihat Serius dan Tidak Tersenyum di Foto-foto Kuno?

30/04/2023

PIRAMIDA.ID- Foto-foto pertama diambil pada akhir tahun 1820-an. Tetapi sampai tahun 1920-an, tampaknya orang-orang mulai “belajar” tersenyum saat di foto....

Bagaimana Asal Usul Jabat Tangan?

02/04/2023

PIRAMIDA.ID- Kita sudah begitu terbiasa berjabat tangan dengan orang lain, kita hampir tidak memikirkan bagaimana, di mana, dan mengapa kebiasaan...

Marcus Aurelius: Kaisar Romawi Baik Hati yang Juga Seorang Filsuf

05/03/2023

PIRAMIDA.ID- Marcus Aurelius lahir pada 26 April 121 Masehi di Roma dengan nama lahir Marcus Annius Verus. Perjalanan hidupnya membuat...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

Dorong Kemandirian Ekonomi, Bendahara GP Ansor Pematangsiantar Ajak Masyarakat Aktif Kembangkan UMKM

21/07/2026
Berita

Ketua ILAJ: Negara Hukum Harus Berani Mengoreksi Diri, Jangan Pertahankan Status Tersangka Tanpa Dasar Hukum yang Kuat

21/07/2026
Berita

Ketua ILAJ Tantang Penegakan Hukum yang Objektif: Jika Bukti Tak Cukup, Mengapa SP3 Tidak Dipertimbangkan?

21/07/2026
Berita

Ketua ILAJ: Jangan Biarkan Due Process of Law Kalah oleh Trial by Opinion, Ini 8 Alasan Hukum Soal Perkara Febrie Adriansyah

21/07/2026
Berita

Ketua ILAJ: Hukum Tidak Boleh Tunduk pada Tekanan Opini, Penyidik Harus Berani Evaluasi Perkara Febrie Adriansyah

21/07/2026
Berita

Ketua ILAJ Sebut Ada 8 Alasan Mengapa Perkara Febrie Adriansyah Patut Dipertimbangkan untuk Dihentikan Penyidikannya

21/07/2026

Populer

Berita

SILPA Rp264,75 Miliar, PMKRI Soroti Perencanaan Anggaran dan Dorong Penguatan Sinergi Pemkab–DPRD

19/07/2026
Berita

ILAJ Desak PWI Pusat: Wujudkan Keberpihakan Nyata dengan Tegur Perusahaan Media yang Abaikan Hak Jurnalis

21/07/2026
Berita

Ketua Umum Jaringan Muda Pendukung Prabowo: 12 Poin Pernyataan Hotman Paris Tentang Febrie Adriansyah Tidak Bisa Dibantah Karena Berdasarkan Fakta

18/07/2026
Berita

Ketua ILAJ: Hukum Tidak Boleh Tunduk pada Tekanan Opini, Penyidik Harus Berani Evaluasi Perkara Febrie Adriansyah

21/07/2026
Berita

ILAJ Resmi Surati Presiden Prabowo, Ajukan Permohonan Pertimbangan Pemberian Abolisi atau Amnesti kepada Febrie Adriansyah

17/07/2026
Berita

Gerakan Ayah Antar Anak Sekolah, Adi Putra dan Dody Arfan Rela Cuti Kerja

13/07/2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber