Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Sains

Kaum Pagan Penyembah Matahari yang Kita Salah Pahami

Agung Baster*

PIRAMIDA.ID- Dulu, saya sering mendengar pendapat dan asumsi jika agama “modern” adalah paling benar dan paling baik, terlebih bila ia dibandingkan dengan kaum pagan penyembah berhala dan kaum animisme.

Bahkan kita sering mendengar kalau para kaum pagan penyembah kekuatan alam alias kaum animisme seburuk-buruknya suatu kaum, karena mereka menyembah sesuatu yang ‘tidak maha’ dan tidak berguna seperti bulan, bintang, matahari, dan pepohonan, bahkan sering diasosiasikan bahwa kaum tersebut adalah kaum jahiliyah (bodoh) yang tertinggal.

Namun sekarang, saya merasa bahwa para penyembah kekuatan alam tersebut mungkin tidak seburuk yang kita kira, bahkan mereka mungkin jauh lebih bijak dari para penganut agama mapan saat ini.

Hal ini karena sekarang kita tahu persis bahwa yang mereka sembah, seperti matahari, bintang, dan bulan, itu sebenarnya memang sangat berguna bagi kehidupan manusia di bumi.

Hal itu sekarang bisa dibuktikan dengan sains dan teknologi, di mana hampir semua kehidupan di bumi ini sangat tergantung dengan matahari, bulan, dan bintang.

Bahkan menurut salah satu astronom terkenal sepanjang sejarah, Carl Sagan, “Semua elemen yang ada di tubuh kita, termasuk semua benda di bumi ini sendiri berasal dari matahari atau bintang di langit.”

Hal itu karena semua unsur kimia di alam semesta ini dibentuk di dalam jantung atau inti bintang-bintang kuno yang bersuhu jutaan derajat celcius, di mana di situlah terjadi reaksi fusi nuklir maha dahsyat yang menggabungkan atom-atom hidrogen, yang merupakan atom unsur paling sederhana di alam semesta menjadi atom unsur lainnya yang lebih berat, seperti helium, oksigen, besi, aluminium, carbon, dan berbagai unsur kimia lainnya sehingga akan tercipta banyak kombinasi kimia di alam semesta.

Dan juga dari unsur ini lah bumi kita terbentuk yang akhirnya membentuk juga mahluk hidup di atasnya, termasuk speies kita. Hampir semua benda yang kita pakai, kita gunakan, kita makan, bahkan tubuh kita sendiri berasal dari sisa dari bintang kuno yang sudah mati milyaran tahun yang lalu.

Hal ini karena tata surya kita sendiri termasuk tata surya muda yang baru terbentuk 4,5 milyar tahun lalu, sedangkan galaksi kita sudah ada sejak sekitar 12 milyar tahun dan alam semesta sendiri kemungkinan sudah ada hampir 14 milyar tahun yang lalu.

Jadi jelas, sebelum tata surya kita lahir pasti ada tata surya dan bintang lain yang runtuh, hancur, dan meledak.

Nah, nantinya dari keruntuhan dan kehancuran ini lah unsur-unsur kimianya berhamburan di jagat raya dan akhirnya membentuk tata surya kita berserta matahari dan bumi kita.

Matahari dan tata surya kita ini pun suatu saat kelak akan hancur dan materinya akan berhamburan di jagat raya, dan setelah milyaran tahun berikutnya akan membentuk tata surya baru lagi dari sisa-sisa kehancuran ini.

Hal ini seperti siklus reinkarnasi yang berulang, di mana kematian suatu bintang dan tata surya akan melahirkan bintang dan tata surya baru di masa depan.

Selain sebagai pembentuk tata surya, bintang atau matahari juga menyediakan energi yang diperlukan bagi kehidupan di bumi. Hal ini karena 1 detik energi yang dipancarkan matahari jauh lebih besar dari energi yang digunakan semua mesin dalam peradaban manusia modern selama 100 tahun ini.

Energi dari sinar matahari ini lah yang awalnya diolah tumbuhan sebagai bahan pangan tumbuhan melalui proses fotosintesis dan nantinya tumbuhan ini dimakan oleh binatang dan juga dimakan manusia.

Hal ini sebenarnya adalah alur distribusi energi matahari ke seluruh mahluk hidup di bumi yang dimulai dari tumbuhan.

Bagi yang tidak mengerti kenapa perubahan energi ini berawal dari tumbuhan, hal itu karena manusia dan binatang sendiri sebenarnya tidak bisa mengolah energi matahari sebagai bahan makanannya langsung.

Yang bisa mengolahnya hanya tumbuhan. Manusia dan hewan nantinya mengambil energi matahari dari tumbuhan ini sehingga memiliki energi untuk hidup.

Itu sebabnya walaupun manusia dan binatang tidak ada di bumi, tumbuhan tetap bisa hidup karena mereka bisa membuat makanannya sendiri dari tanah, udara, air, dan sinar matahari dalam proses yang kita kenal dengan sebutan fotosintesis.

Selain sebagai pondasi energi di bumi, matahari bersama bulan juga bertanggungjawab dalam perubahan suhu, iklim, dan gelombang pasang di bumi.

Seandainya ukuran matahari lebih besar atau lebih kecil, atau pancaran cahanya lebih banyak atau lebih sedikit, hal itu pasti akan mempengaruhi suhu dan iklim di bumi. Selain itu, bulan juga membantu siklus pasang dan surut di bumi. Gabungan dari faktor pengaruh matahari dan bulan itulah yang membuat bumi ini bisa kita diami.

Dus, mungkin sebenarnya para kaum animisme dulu yang memuja matahari, bintang, dan bulan tidak seburuk yang kita pikirkan.

Mereka mungkin lebih bijak dan rendah hati dengan berterima kasih pada kekuatan alam yang jelas-jelas menciptakan dan mengatur kehidupan di bumi.

Bahkan, bagi saya, kepercayaan mereka jauh lebih riil ketimbang berbagai sosok imaginer di langit yang diklaim berbagai kepercayaan mainstream hari ini.*)

Sumber Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Solar_deity
https://en.wikipedia.org/wiki/Photosynthesis
https://www.britannica.com/topic/sun-worship
https://www.space.com/58-the-sun-formation-facts-and-characteristics.html
https://sciencing.com/elements-formed-stars-5057015.html
https://starchild.gsfc.nasa.gov/docs/StarChild/questions/question57.html
https://www.livescience.com/32828-humans-really-made-stars.html
https://www.scientificamerican.com/article/carl-sagans-star-stuff-made-real/
http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu/hbase/Biology/enercyc.html
https://sciencing.com/energy-cycle-ecosystem-8881.html
https://www.livescience.com/51720-photosynthesis.html


Penulis merupakan penggiat media sosial dan science enthusiast.

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....