Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Pojokan

Sang Pemimpin yang Amat Gagah

Rani Romaito Saragih*

PIRAMIDA.ID- Pemimpin adalah orang yang mengembangkan tugas dan tanggung jawab untuk memimpin dan bisa mempengaruhi orang yang yang dipimpinnya ke arah yang lebih baik.

Suatu harapan baru yang telah saya inginkan terhadap dia yang menjadi seorang pemimpin. Di mana kegagahan dari seorang pemimpin itulah yang selalu dinanti-nantikan bagi setiap anggota maupun kelompok. Dalam bimbingan yang selalu diberikan kepada setiap anggota untuk menjadi ke arah yang lebih baik pun juga suatu harapan baru bagi setiap anggota maupun kelompok.

Bukan hanya itu saja, bahkan menjadi pengayom yang baik juga perlu diterapkan oleh yang namanya seorang pemimpin.

Saya punya cerita tentang pengalaman yang pernah saya alami saat memiliki suatu pemimpin. Pemimpin yang amat sangat memberi ketegasan diri dan juga kegagahannya saat berdiri di antara anggota-anggotanya membuat saya semakin sadar, bahwa begitu menyenangkannya jika menjadi seorang pemimpin. Walaupun seperti itu, menjadi seorang pemimpin juga sangatlah sulit, tak mudah untuk ditaklukan.

Begitu banyak rintangan dan tantangan yang selalu dihadapi oleh seorang pemimpin. Dulu, saya sempat ingin menjadi pemimpin, namun saya berfikir kembali, apakah saya mampu menjadi seorang pemimpin yang baik atau tidak.

Karena yang saya tahu, menjadi seorang pemimpin itu sangatlah tak mudah. Begitu banyak pelajaran yang harus saya ketahui untuk menjadi seorang pemimpin. Namun siapa sangka, keinginan saya untuk menjadi seorang pemimpin itu sirna dengan sendirinya, ditengarai saya masih belum mempunyai kepercayaan diri dalam menjadi seorang pemimpin.

Ingin rasanya ada orang yang mampu mengajarkan saya gimana caranya untuk menjadi seorang pemimpin, namun rasanya itu tidak mungkin.

Siapa yang ingin mengajarkan hal itu kepada saya? Sementara saya tak punya kepribadian yang baik untuk menjadi seorang pemimpin. Keirian yang saya miliki sungguh sangatlah tak bisa dikendalikan, karena menurut saya untuk menjadi suatu pemimpin adalah suatu tantangan yang harus saya jalani.

Ketika saya melihat pemimpin saya sedang melangkahkan kaki dengan keberanian, kegagahan yang ia miliki di tengah-tengah masyarakat, kini saya mulai tertantang akan hal itu. Melangkahkan kaki dengan suatu tindakan untuk membela kaum yang tertindas.

Saya juga ingin seperti dia yang memiliki jiwa seperti itu. Lagi-lagi saya berkhayal akan suatu hari menjadi seorang pemimpin, namun mungkin itu hanya rasa halusinasi yang tak wajar untuk dikhayalkan.

Ingin tertawa lepas dengan kebodohan saya yang terlalu tinggi untuk bermimpi akan menjadi seorang pemimpin. Halusinasi yang tak akan pernah terjadi seakan-akan membuat kebodohan saya semakin memuncak saja.

Ah, sudahlah. Tak usah banyak berharap, intinya semua akan baik-baik saja.

“Hey, kamu seorang pemimpin, maukah kamu mengajariku untuk menjadi seorang pemimpin yang amat gagah dan memiliki jiwa keprbadian tinggi dan mampu mengayomi para anggota ku kelak?”

Pantaskah saya mempertanyakan akan hal itu kepadanya sementara untuk bertutur sapa pun mungkin ku juga tak mampu.

Karena begitu tingginya jiwa kepribadian dia sebagai pemimpin seolah-olah membuatku semakin merasa segan untuk bersapa. Hahahaha ingin ku tertawa akan kebodohanku sekali lagi.

Memunculkan kebodohan yang ingin ku tutup-tutupi namun nyatanya aku juga tak mampu untuk menutupnya.

“Hey, kamu yang sedang menjabat seorang pemimpin, sepertinya sekali lagi ku ingin bertanya, maukah kamu mengajarkan ku akan menjadi seorang pemimpin?”

Lagi dan lagi pertanyaan itu muncul. Sudahlah. Tak perlu banyak halu, intinya jika ingin menjadi seorang pemimpin harus mampu memegang tanggung jawab dalam setiap pekerjaan yang ia pegang penuh.

Tidak harus menjadi seorang pemimpin kita belajar untuk menjadi orang yang bertanggung jawab, tetapi juga di kehidupan kita sehari-hari pun kita mampu untuk menjadi seseorang yang berani bertanggung jawab akan apa yang akan kita kerjakan.

Tidak hanya itu saja, selain menjadi seorang yang berani bertanggung jawab, kita juga harus mampu mengayomi tiap-tiap teman kita sebelum nantinya kita akan menjadi seorang pemimpin.

Setelah kita sudah lulus akan hal seperti itu, baru kita bisa mengayayomi akan setiap anggota kita. Menjadikan mereka menjadi suatu anggota yang mampu bijak akan suatu tindakan yang mungkin itu benar untuk dikerjakan dan dilakukan.

Mungkin dengan hal itu kita bisa saja menjadi seorang pemimpin yang amat gagah dan berani bertanggung jawab akan pekerjaan kita masing-masing. Tidak sekarang, mungkin nanti, besok atau bahkan suatu saat nanti.

Percayalah, itu pasti akan terjadi. Tak ada usaha yang mengkhianati hasil, asal kita mau berusaha pasti itu akan terjadi pada kita. Ingat jika ingin menjadi seorang pemimpin, harus siap-siaplah untuk menjadi pengayom yang baik buat setiap anggotanya.

Jangan menjadi seorang pemimpin yang dibenci oleh anggotanya. Berani bertanggung jawab akan kesalahan, dan berani juga untuk mengambil konsekuensi dalam hal menjadi seorang pemimpin.

Tak apa juga jika dibenci oleh anggota. Asal itu benar dan bagus untuk dicontoh untuk diri kita sendiri, kenapa tidak. Tetap semangat, jangan putus asa, jika tujuan kita untuk menjadi seorang pemimpin, belajarlah dari sekarang.

Jangan menunda-nunda yang nantinya akan menjadi suatu penyesalan di akhir. Tetap semangat untuk menjadi seorang pemimpin kelak, dan jangan lupa tersenyum. Selalu ada saja rintangan yang akan dihadapi, dari situ kita akan belajar bagaimana cara agar kita juga mampu untuk menyelesaikannya dengan baik tanpa menyakiti perasaan orang lain.

Dan asal kita tahu saja, bahwa para pemimpin sejati juga mampu memahami akan kepemimpinan tetntang mereka yang ingin dilayani. Ini bukan tentang meninggikan mereka para kaum pemimpin hebat, tetapi juga tentang bagaimana kita mampu mengangkat derajat dan martabat orang lain bagi masyarakatnya.

Dari situ kita sadar, bahwa semakin sedikit kita membuka hati kepada orang lain semakin banyak hati kita akan menderita. Maka dari itu jangan buat kita para pemimpin menjadi dorongan paling terpuruk bagi anggota.

Tunjukkan, bahwa kita mampu mengajak mereka kearah yang lebih baik, dan mengajari mereka bagaimana cara untuk menjadi orang yang benar-benar bertanggung jawab akan ucapan, tindakan maupun perilaku yang telah kita tunjukan kepada orang lain, anggota, maupun masyarakat lain.

Salam dari saya mahasiswa!!


Penulis merupakan mahasiswa di Universitas Efarina. Saat ini aktif di PMKRI Cab. Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Asisi.

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....