Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Sabtu, Agustus 1, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeBerita

SERUAN PARKINDO: MENYIKAPI AKSI DEMONSTRASI AGUSTUS 2025

Pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu...untuk membalaskan murka Allah atas mereka  yang berbuat jahat (Rm. 13:4)

byCFT
31/08/2025
inBerita
98
SHARES
700
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

“Polisi pembunuh rakyat,” teriak seorang demonstran yang masih bertahan di kawasan depan Gedung MPR/DPR/DPD hingga Sabtu, 30 Agustus 2025, pukul 05.00 WIB (Abdurrahman 2025).

Teriakan itu merupakan wujud kemarahan rakyat terhadap tewasnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek daring. Kendaraan taktis (rantis) Brimob, yang diperkirakan beratnya mencapai 4,8 ton (Zaki 2025), melindas mendiang di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025) malam.

Tragedi itu memantik aksi demonstrasi berkepanjangan dan masih berlangsung ketika seruan ini dituliskan. Kekerasan aparat kepolisian menghadapi para demonstran, pada dasarnya, adalah puncak gunung es dari kebobrokan seluruh aparatus negara. Sikap arogan dan rendahnya kinerja dari anggota lembaga

eksekutif, legislatif, dan yudikatif membuat rakyat murka. Bukan hanya merusak fasilitas umum, kemarahan membuat rakyat nekat membakar gedung DPRD di Makassar yang juga memakan korban jiwa (Ayu 2025).

Akumulasi dari semua itu dan dipantik kematian Alm. Affan menyebabkan aksi demonstrasi pun berubah menjadi amuk massa. Artinya, fenomena amuk massa lahir dari kerusakan sistemis aparatus pemerintahan dalam mengelola negara.

Oleh karena itulah, gereja mesti menghardik pemerintah karena kinerja mereka yang tidak lagi melayani kepentingan publik (Rm. 13:4). Alih-alih membalaskan murka Allah pada mereka yang berbuat jahat, pemerintah, melalui aparatusnya, yaitu kepolisian, malah menggunakan “pedangnya” untuk membunuh rakyat yang tak bersalah.

Karena pemerintah telah menyimpang dari misi ilahi, dengan segala sarana yang dimilikinya, gereja mesti maju untuk menegur pemerintah serta tetap aktif mengawasi dinamika politik yang ada.

PEMERINTAH TIDAK PEDULI KEPADA RAKYAT

Namun, masalah apa yang sedang kita hadapi sebenarnya? Apakah tragedi kematian Alm. Affan Kurniawan merupakan kesalahan tunggal dari kepolisian? Atau jangan-jangan, kita sedang menghadapi sebuah kegagalan sistemis dari negara?

Kami melihat tindakan kekerasan yang berlebihan dari kepolisian terhadap aksi demonstrasi baru-baru ini merupakan titik nadir dari kegagalan pengelolaan negara.

Negara selalu mengabaikan kebutuhan rakyat kecil, tetapi memprioritaskan kepentingan elite. Sebagai contoh, ketika rakyat kecil berjuang untuk membayar cicilan rumah setiap bulan selama 10–20 tahun, tiba-tiba, atas persetujuan lembaga

eksekutif, setiap anggota DPR menerima tunjangan perumahan. Besarannya pun tak tanggungtanggung, yakni sebesar Rp 50 juta/bulan—setara dengan akumulasi gaji setahun buruh di Indonesia (Purwanti 2025).

Akibatnya, menjadi sesuatu yang “tak mengherankan” jika mobil rantis polisi tega melindas Alm. Affan karena mendiang bukan bagian dari masyarakat elite.

Kondisi pengabaian ini kian diperparah oleh sikap arogan dari para elite pejabat. Alih-alih bersimpati, mereka malah menari-nari di atas penderitaan rakyat. Dalam hal ini, “menari-nari” bukanlah sebuah metafora.

Media sosial ramai menunjukkan anggota DPR memang berjoget-joget ketika tunjangan mereka dinaikkan. Bahkan, dalam rangka menjawab kritik terhadap kenaikan tunjangan itu, seorang politisi dari PDI-P berkomentar bodoh. Dia tega mengatakan agar tidak membandingkan anggota legislatif dengan rakyat jelata. Apa pun konteksnya, pernyataan itu—dan aksi joget-joget—menunjukkan hilangnya empati para elite negara terhadap penderitaan rakyat.

Sikap tak berempati itu kemudian membangkitkan kegeraman publik. Aksi demonstrasi untuk membubarkan DPR merebak di berbagai tempat sejak 25 Agustus 2025. Aksi demonstrasi bahkan terus merebak, bahkan sudah mengarah pada amuk massa, sebagai respons terhadap kematian Alm. Affan Kurniawan hingga 30 Agustus 2025.

Dampaknya pun merembes ke sektor ekonomi, yakni melemahnya IHSG kita di pekan ini (Alhasan 2025). Artinya, selain menyebabkan kegaduhan, rentetan demonstrasi ini juga memperburuk iklim investasi Indonesia. Semua ini berawal dari buruknya tata kelola negara dan sikap arogan para pejabat negara.

MEMERINTAH TANPA KEKERASAN

Lantas, bagaimana kekristenan merespons situasi ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita mesti menilik pandangan Alkitab tentang tugas pemerintah dan cara menjalankannya. Berdasarkan pandangan Alkitab ini, peran gereja, sebagai representasi Kristus di bumi, dapat ditentukan.

Kita bisa mengetahui tugas pemerintah dalam Alkitab berdasarkan tulisan Rasul Paulus. Dia mengatakan, “Pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu…untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat” (Rm. 13:4). Ayat ini mengandung dua hal penting perihal pemerintahan. Pertama, otoritas pemerintah berasal dari Allah karena di hadapan Allah, ia hanyalah

hamba. Kedua, Allah memberikan otoritas itu pada pemerintah demi menciptakan kebaikan. Kebaikan, dalam hal ini, berarti mengendalikan kejahatan demi kebaikan bersama (Tuininga 2017, 8). Dalam

tradisi Calvinis, pemerintah yang menjaga kebaikan berarti “mengurus rakyatnya sendiri, menjaga perdamaian publik, melindungi yang baik, dan menghukum yang jahat” (Calvin 2006, 410).

Apakah pemerintah boleh menggunakan kekerasan dalam menjalankan tugasnya? Jawabannya, boleh, dengan syarat, hanya untuk menghukum yang jahat. Dalam ayat yang sama, Paulus mengatakan pemerintah berhak menyandang pedang. Pedang merupakan sebuah metafora untuk

menggambarkan otoritas dalam memberi sanksi atau hukuman (Dunn 2009, D. Live as Good Citizens (13:1–7)). Namun, hukuman itu harus selaras dengan tujuan pemerintah, yaitu memastikan kebaikan.

Artinya, kekerasan hanya dikhususkan bagi pelaku kejahatan karena mengganggu kebaikan bersama. Dari uraian singkat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pemerintah berperan untuk menghadirkan

kebaikan bagi masyarakat tanpa kekerasan. Jika pun terpaksa melakukan kekerasan, hal itu hanya berlaku bagi mereka yang dipastikan sebagai pelaku kejahatan.

RESPONS KEKRISTENAN DAN SERUAN PARKINDO

Ketika sudah tidak lagi mementingkan kebaikan publik, artinya, pemerintah sudah melenceng dari misi ilahinya. Kebijakan mereka, seperti, menaikkan tunjangan perumahan di tengah penderitaan rakyat, membuktikan orientasi pemerintah sudah tidak lagi demi menghadirkan kebaikan. Mereka sudah melayani kepentingan sendiri daripada masyarakat luas. Dalam hal ini, pemerintah telah menyalahgunakan otoritas dari Allah.

Ketika telah menyalahgunakan otoritas-Nya, predikat pemerintah tidak lagi menjadi hamba Allah. Mereka sudah melawan Allah dengan tidak peduli pada penderitaan rakyat. Bukan hanya perihal tunjangan perumahan, jika kita menelisik lebih jauh, banyak kebijakan pemerintah tidak pro pada

rakyat.

Bagaimana mungkin di tengah rencana efisiensi yang mengakibatkan turunnya kualitas pelayanan publik, pemerintah eksekutif mengizinkan penambahan gaji dan tunjangan bagi anggota legislatif? Dalam hal ini, pemerintah telah berubah menjadi musuh Allah karena tidak lagi mementingkan kebaikan bersama.

Konsekuensinya, perlawanan rakyat, melalui aksi demonstrasi, terhadap pemerintah menjadi sah—bukan hanya secara konstitusional, tetapi juga teologis. Sebab, pemerintah telah mengkhianati tanggung jawab dari Allah.

Namun, aksi kekerasan aparatus negara, yaitu lembaga kepolisian, sehingga menyebabkan kematian pantas dikutuk. Kekerasan itu jelas salah sasaran karena aksi demonstrasi massa itu benar. Mereka menuntut agar pemerintah becus melahirkan kebijakan demi kebaikan bersama, bukan demi kepentingan elite semata. Alih-alih mementungi atau melindas dengan mobil rantis, seharusnya, polisi bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan para demonstran, bukan malah membunuhnya.

Atas analisis di atas, kami, Partisipasi Kristen Indonesia (PARKINDO), menyerukan beberapa hal:

  1. Gereja, sebagai representasi Kristus di dunia, mesti tampil ke depan publik untuk menghardik pemerintah yang sudah menjadi musuh Allah karena tidak lagi memedulikan kebaikan publik.
  2. Gereja, sebagai representasi Kristus di dunia, mesti mengutuk kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian hingga menyebabkan kematian. Kekerasan aparatus negara sudah salah arah karena para demonstran bukanlah penjahat. Mereka, lewat aksi demonstrasi, malah ingin memastikan pemerataan distribusi keadilan bagi masyarakat Indonesia.
  3. Gereja, sebagai representasi Kristus di dunia, mesti ikut mengawasi proses hukum atas petugas yang mengakibatkan tewasnya Alm. Affan Kurniawan. Selain itu, gereja juga ikut menyerukan agar pengawasan dan perbaikan pada lembaga kepolisian segera dilakukan secara konkret. Pasalnya, kematian karena sikap represif yang berlebihan dari lembaga kepolisian bukan hal baru di Indonesia. Kejadian serupa telah sering berulang, tetapi tanpa penyelesaian yang berkeadilan.
Share39SendShare

Related Posts

Korban Penganiayaan Dari Seorang Istri Bhayangkara Polda Kepri Merasa Kecewa dan sebut ada privillage pada Terdakwa yang Dituntut 2 Bulan Penjara. Pricilla; Sepertinya Ada Keistimewaan Khusus, Mungkin Karena Suaminya Polisi?

31/07/2026

PIRAMIDA.ID-Sidang pembacaan putusan yang tertunda ke-3 kali terhadap terdakwa Fara Diba Balqis atas tindakannya yang menganiaya seorang wanita di halaman...

Traffic Light Parluasan Padam Berlarut, PMKRI Pematangsiantar Desak Dishub Percepat Perbaikan

29/07/2026

    PIRAMIDA.ID- Pematangsiantar — Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi* menyoroti lambannya perbaikan...

Penggelapan Esra Angelina di PT RMI, JPU tidak menahan aset milik terdakwa

28/07/2026

PIRAMIDA.ID- Sidang di Pengadilan Negeri Batam agenda pemeriksaan terdakwa dalam perkara Terdakwa Esra Angelina yang mengaku bahwa dirinya menggelapkan uang...

Pemuda Asal Simalungun Rahmat Fauzi Rangkuti Ikuti Ajang Wikimania 2026 di “Paris”

27/07/2026

PIRAMIDA.ID-Pemuda asal kabupaten Simalungun Rahmat Fauzi Rangkuti seorang Penulis (Wikiwan) pemula merasa beruntung dapat kesempatan bergabung di ajang bergengsi Internasional...

Advokat Korban Pengeroyokan sebut dua oknum polisi terlibat hingga TODONG PISTOL ke kliennya

27/07/2026

PIRAMIDA.ID-Peristiwa pengeroyokan di Homestay Mimi Coco Batam terus bergulir panas hingga saling lapor serta adu pendapat. Dalam hal ini, advokat...

Ketua ILAJ: Penentuan Seseorang Bersalah atau Tidak Bukan Ditentukan oleh Seberapa Viral Opini Publik, Melainkan Melalui Mekanisme Hukum yang Sah

26/07/2026

JAKARTA – Ketua Institute Law and Justice (ILAJ), Fawer Sihite, menegaskan bahwa penentuan seseorang bersalah atau tidak dalam suatu perkara...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

Korban Penganiayaan Dari Seorang Istri Bhayangkara Polda Kepri Merasa Kecewa dan sebut ada privillage pada Terdakwa yang Dituntut 2 Bulan Penjara. Pricilla; Sepertinya Ada Keistimewaan Khusus, Mungkin Karena Suaminya Polisi?

31/07/2026
Berita

Traffic Light Parluasan Padam Berlarut, PMKRI Pematangsiantar Desak Dishub Percepat Perbaikan

29/07/2026
Berita

Penggelapan Esra Angelina di PT RMI, JPU tidak menahan aset milik terdakwa

28/07/2026
Edukasi

Menjaga Marwah Negara Hukum: Confirmation Bias, Perceived Institutional Bias, Hubungan Antar-Lembaga Negara, dan Due Process of Law dalam Perkara Febrie Adriansyah, Mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus

28/07/2026
Berita

Pemuda Asal Simalungun Rahmat Fauzi Rangkuti Ikuti Ajang Wikimania 2026 di “Paris”

27/07/2026
Berita

Advokat Korban Pengeroyokan sebut dua oknum polisi terlibat hingga TODONG PISTOL ke kliennya

27/07/2026

Populer

Berita

Jaksa Rumondang Manurung tuntut 1 Tahun penjara petugas Imigrasi yang membantu mengatur penyelundupan Narkotika Cair

23/07/2026
Berita

Penggelapan Esra Angelina di PT RMI, JPU tidak menahan aset milik terdakwa

28/07/2026
Berita

Pemuda Asal Simalungun Rahmat Fauzi Rangkuti Ikuti Ajang Wikimania 2026 di “Paris”

27/07/2026
Berita

Advokat Korban Pengeroyokan sebut dua oknum polisi terlibat hingga TODONG PISTOL ke kliennya

27/07/2026
Berita

Traffic Light Parluasan Padam Berlarut, PMKRI Pematangsiantar Desak Dishub Percepat Perbaikan

29/07/2026
istimewa
Dialektika

Ana ‘Abdu Man ‘Allamani

17/06/2020
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber