Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Dialektika

The Shallows

Dr. Zaprulkhan, M.S.I*

PIRAMIDA.ID – Apakah salah satu dampak negatif yang diakibatkan oleh dunia internet? Kalau pertanyaan ini diajukan kepada Nicholas Carr, ia akan menjawab dengan satu kata: shallowness, kedangkalan.

Dalam karyanya yang memukau, The Shallows, Nicholas Carr melukiskan bagaimana dunia internet telah merampas kemampuan sebagian besar orang untuk berpikir secara konsentratif, reflektif, dan kontemplatif. Yang cukup mengkhawatirkan, hilangnya kemampuan membaca dan berpikir secara kontemplatif itu bukan hanya bagi orang kebanyakan atau kalangan masyarakat awam, tapi juga melanda orang-orang berpendidikan tinggi; Menimpa para cendekia dan ilmuwan yang sudah mempunyai jam terbang tinggi dalam pengalaman membaca.

Bahkan dengan jujur Nicholas Carr mengakui kedangkalan berpikir itu juga sudah mulai merasuk ke dalam dirinya. “Dulu…”, tulis Nicholas Carr, “saya adalah penyelam di lautan kata-kata. Kini saya bergerak cepat di permukaannya seperti orang yang mengendarai jet ski. Yang dilakukan internet adalah mengikis kemampuan saya berkonsentrasi dan merenung”.

Barangkali sebagian di antara kita ada yang membantah temuan Nicholas Carr dengan argumen klasik: “Dunia internet bersifat netral; pengguna-nyalah yang menentukan nilainya; Kita yang mengendalikannya dengan menggunakannya secara baik, bijak, dan kreatif sehingga menjadikan hidup kita semakin berkualitas; Atau kita yang dikendalikannya sehingga merusak wajah kehidupan kita.”

Namun Nicholas Carr menolak slogan klasik tersebut. Dalam pelacakan historis-sosiologisnya, ternyata alasan ini pertama kali dilontarkan oleh David Sarnoff, pengusaha media yang mempelopori radio RCA dan televisi NBC. Dalam sebuah pidato di Universitas Notre Dame pada tahun 1955, Sarnoff menepis kritikan terhadap media massa di mana kerajaan dan kekayaannya berada.

Dia menepiskan teknologi dari dampak buruk apa pun dan mengembalikannya kepada pendengar dan penonton, dengan berslogan: “Kita begitu mudah mengambinghitamkan perangkat teknologi untuk dosa para penggunanya. Produk ilmu modern tidak dengan sendirinya bagus atau jelek; penggunaan-nyalah yang menentukan nilai mereka”.

Dengan menurunkan argumentasi dari ilmuwan pakar komunikasi dan media-informatika, Marshall McLuhan, Nicholas Carr mengkritisi alasan klasik tersebut. “Respons konvensional kita terhadap semua media, yakni bahwa yang penting adalah penggunaannya, merupakan pendirian orang yang gagap teknologi”, demkian tulis McLuhan yang dikutip oleh Nicholas Carr.

Sampai di sini, barangkali sebagian kita masih bisa mengajukan keberatan terhadap tesis Nicholas Carr. Namun satu hal, yang saya sepakati dari temuan-temuan faktual yang disuguhkan oleh Nicholas Carr secara langsung adalah dunia internet mengurangi kemampuan kita dalam membaca secara serius dan berpikir mendalam; reading deeply, thinking deeply.

Dengan begitu seringnya kita larut dalam dunia internet, entah melalui WhatsApp, Line, Youtube, Facebook, Twitter, dan lain-lain yang hanya berada dalam satu genggaman smartphone di tangan kita, tanpa kita sadari semua itu mengikis kemampuan membaca mendalam dan berpikir secara reflektif, kritis, dan kontemplatif dalam diri kita.

Kita akan menjadi, seperti yang diisyaratkan pada judul buku Nicholas Carr tersebut: The Shallows: orang-orang yang cara berpikirnya menjadi dangkal setelah terlalu dimanjakan oleh dunia internet.

Salah satu hal yang juga disoroti dengan tajam oleh Nicholas Carr adalah terkikisnya kenikmatan dan keseriusan membaca buku pada orang-orang yang sebelumnya amat menikmati kegiatan membaca buku. Dengan sibuk berselancar di dunia maya, kebanyakan mereka justru terperangkap dalam hanya memindai atau hanya membaca secara sekilas beragam informasi yang membanjir di internet.

Sebagaimana diakui langsung oleh Nicholas Carr, sebagian besar kita malah kehilangan kenikmatan membaca sebuah buku tekstual secara manual dengan serius dan kontemplatif hingga tuntas. Efeknya dahsyat: kita menjadi the shallows: orang-orang yang dangkal cara berpikirnya, meskipun kebanyakan kita tidak menyadarinya.

Padahal sebagaimana kita sadari bersama, buku adalah jendela dunia, merupakan pusaka kemanusiaan yang membuat peradaban berlangsung hingga hari ini. Di dalamnya terkandung jiwa zaman di sepanjang waktu. Ia adalah jendela dunia yang mengandung hikmah masa lalu. Penghargaan terhadapnya adalah pengagungan pada kemajuan bangsa. Buku adalah memori peradaban manusia. Thomas Carlyle mengatakan, “In book lies the soul of the whole past time”. Hanya dengan buku kita dapat mengenggam dunia, menjelajahi seluruh pemikiran dan imajinasi yang terhampar di jagat raya.

Buku bagaikan dunia yang dijilid: seluruh hasil cipta, karsa, dan karya manusia dapat dilestarikan. Di dalam buku, tersimpan rekaman-rekaman teori yang bisa melahirkan suatu teori baru. Bukankah setiap penemuan suatu teori baru selalu dilandasi oleh teori sebelumnya? Sebagaimana yang dimaklumatkan Isaac Newton beberapa abad silam, “If I have seen further, it is because I stood on the shoulders of giants”, “Jika saya mampu melihat lebih jauh, hal itu disebabkan karena saya berdiri di puncak para jenius terdahulu”.

Buku adalah guru yang paling baik karena buku tidak pernah jemu menggurui kita. Ia dengan sabar membimbing dan melayani pembacanya baik yang berkecepatan lamban maupun supercepat. Ia bisa menghampiri kita kapan pun, tidak terikat waktu dan tempat, dan yang pasti menjadikan orang lebih bijaksana. Buku merupakan salah satu sarana untuk mempelajari kekayaan peninggalan budaya dan peradaban abad-abad yang sudah lewat. Karena itulah, buku juga menjadi salah satu kunci terbaik untuk memahami bangsa-bangsa lain yang belum pernah kita kunjungi.

Akan tetapi, kini jendela dunia itu telah terkoyak di negeri kita. Maka rakyat pun tidak sanggup memandangi indahnya wajah dunia yang penuh pesona ini. Dunia yang dapat dilihat adalah dunia yang tersobek dan compang-camping. Belum cukup sampai di situ. Kekaburan melihat dunia juga diperparah oleh tingkat kerabunan bangsa kita karena dilanda gejala buta aksara dimana-mana. Buta aksara itu berupa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia; sebuah gejala yang bersifat masif. Sebagian besar kita terperangkap pesona budaya instan dunia maya.

Dalam salah satu tulisannya, Budayawan tersohor kita, Taufik Ismail, pernah mengungkapkan kegelisahan terhadap rendahnya minat baca masyarakat Indonesia dengan segelintir pertanyaan impresif: Mengapa para penumpang di gerbong kereta api jurusan Jakarta-Surabaya tidak membaca novel, tapi menguap dan tertidur miring? Mengapa di dalam angkutan kota di Bandung, penumpang tidak membaca kumpulan cerpen, tapi menghisap rokok? Mengapa di halaman kampus yang berpohon rindang, mahasiswa tidak membaca buku teks kuliahnya, tapi main gaple? Mengapa di dalam kapal jurusan Makasar-Banda Naira, para penumpang tidak membaca kumpulan buku puisi, tapi main domino? Mengapa di ruang tunggu dokter spesialis penyakit jantung di Manado, pengantar pasien tidak membaca buku drama, tapi asyik main SMS? Mengapa jumlah total pengarang di Indonesia hanya cocok untuk negara berpenduduk 20 juta, bukan 200 juta lebih?

Padahal jarak minat baca berbanding lurus dengan jarak kemajuan sebuah bangsa. Bahkan, dapat dikatakan bahwa kunci utama untuk keluar dari kemiskinan dan menjadi bangsa yang makmur adalah dengan membangkitkan minat baca masyarakat. Akar kemiskinan yang menerpa sebagian rakyat Indonesia adalah karena masih tingginya tingkat buta aksara dan sangat lemahnya minat baca sebagian besar masyarakat. Padahal kita tidak akan menemukan sebuah kenyataan di belahan bumi mana pun ada orang berilmu dan luas pengetahuannya tapi hidupnya miskin, kecuali atas dasar pilihan hidupnya sendiri.

Namun kenyataan menunjukkan pada kita bahwa membaca belum menjadi arus utama pembangunan bangsa kita di Indonesia. Juga memperlihatkan betapa buruknya kita menciptakan budaya membaca. Yang berkembang bukanlah reading society, melainkan watching society, chatting society.

Hari ini, kita sudah mengalami sebuah “lompatan budaya”, yaitu melompat dari keadaan pra-literer ke masa pasca-literer, namun sayangnya tanpa melalui masa literer. Masyarakat pra-literer adalah masyarakat yang hidup dalam tradisi lisan dan sulit mengakses sumber informasi. Kalaupun mudah, mereka tidak bisa mencernanya dengan baik. Kendala utamanya, tentu saja pendidikan.

Masyarakat literasi mewakili masyarakat terdidik. Walaupun memiliki akses terhadap bacaan, tidak berarti tradisi baca-tulis tumbuh subur di kalangan ini. Sebagian mereka terkadang memiliki tradisi baca yang baik, namun lemah dalam tradisi menulis. Sedangkan masyarakat pasca-literasi atau pos-literasi mewakili segmentasi penduduk di kota-kota besar, terutama mereka yang memiliki akses pada teknologi informasi dan audio-visual seperti internet, TV kabel, multimedia, sarana telekomunikasi bergerak, dan sebagainya.

Ironisnya, kita melakukan lompatan kebiasaan yakni melompat dengan senang menonton televisi, tanpa melalui tahap masyarakat gemar membaca. Kita lebih senang bercengkrama melalui WhatsApp, Line, Youtube, Facebook, Twitter, dan lainnya di layar smartphone di tangan kita, ketimbang membaca sebuah buku sampai selesai.

Padahal dalam penelitian Nicholas Carr juga ditemukan bahwa dengan menghabiskan banyak waktu yang digunakan untuk membaca buku, kita akan terlatih berpikir secara lebih intuitif, yang tidak akan kita dapatkan dengan berselancar di dunia internet. Dalam proses perkembangan selanjutnya, menurut para ahli, by reading seriously in the long-term, we not only can think deeply, but finally we can also write deeply; Dengan membaca secara serius dalam waktu jangka panjang, kita bukan hanya mampu berpikir secara mendalam, tapi akhirnya kita juga mampu menulis secara mendalam, menulis secara reflektif-filosofis.

Namun lagi-lagi ironisnya, kebanyakan kita lebih memilih tenggelam dalam dunia internet tanpa melewati dunia literasi, khususnya tanpa melewati pengalaman kenikmatan membaca; Sebuah pengalaman tenggelam dalam belantara dunia teks yang tak bertepi.

Padahal sebagaimana ditunjukkan oleh Paul Ricoeur, justru sebagai pembaca yang intens, by losing our selves in the jungle of text, dengan menenggelamkan diri kita di tengah-tengah belantara teks, kita akan berjumpa dengan keunikan eksistensi diri kita sendiri.

As reader”, tulis Ricoeur, “I find my self only by losing my self. Reading introduces me into the imaginative variations of the ego.” Dengan membaca secara mendalam, kita akan berkenalan dengan beragam lapisan eksistensi diri kita yang selama ini belum kita kenali. Lapisan demi lapisan ego diri autentik kita akan tersibak tatkala kita tenggelam dalam pusaran labirin teks sebuah buku yang mencerahkan.

Dalam hal ini, tidak berlebihan tesis yang digulirkan oleh Neil Postman bahwa dunia hiburan dapat membangkrutkan budaya sebuah bangsa, terutama bangsa dengan tradisi membaca yang lemah. Menurut hasil penelitian beberapa institusi, budaya membaca di Indonesia sampai saat ini masih sangat lemah. Berdasarkan data UNESCO, presentase minat baca Indonesia sebesar 0,01 presen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih ‘mau’ membaca buku secara serius (tinggi). Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia ini makin menyebabkan kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia juga hanya jalan di tempat (stagnan) dan cenderung mundur. Berdasarkan beberapa penelitian, penyebab rendahnya budaya baca ini karena masyarakat Indonesia lebih suka menonton televisi (TV), mendengarkan radio, dan bergelut dengan dunia maya (internet dan media sosial) dibandingkan membaca buku. Istilahnya, masyarakat Indonesia lebih suka mengirim SMS atau BBM-an, Facebook-an, WhatsApp-an, atau Twitter-an dibandingkan membaca buku. Apalagi begitu banyak yang terprovokasi kontek-konten hoax dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang dishare secara massif.

Kondisi ini lebih diperparah lagi dengan rendahnya produksi buku di Indonesia. Setiap tahun, Indonesia hanya menerbitkan sekitar 7.000-8.000 judul buku. Fakta ini jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia yang memproduksi hingga 10 ribu judul buku setiap tahunnya. Angka itu akan semakin tampak memprihatinkan bila dibandingkan dengan Jepang yang menerbitkan 44 ribu judul buku per tahun, Inggris 61 ribu judul, dan Amerika Serikat 100 ribu judul buku per tahun. Artinya, jumlah ketersediaan buku bacaan yang ada, belum mampu memenuhi kebutuhan dasar secara umum masyarakat Indonesia untuk gemar membaca. Jika diakumulasikan, satu buku dibaca oleh tujuh orang warga negara Indonesia. Padahal pada negara maju, satu orang bisa membaca tiga sampai lima buku.

Bila kondisi ini terus berlangsung dan tak diantisipasi sejak dini, maka kita tidak bisa berharap banyak pada mutu dan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

Bagaimana kita bisa mencerdaskan masyarakat Indonesia bila budaya baca saja sangat rendah? Bagaimana masyarakat bisa mau membaca bila perpustakaann dan Taman Bacaan Masyarakat belum banyak tersedia disebagian besar wilayah Indonesia, apalagi wilayah-wilayah terpencil? Sudah saatnya pemerintah mendorong dan lebih maksimal lagi dalam menumbuhkan dan meningkatkan budaya membaca masyarakat Indonesia. Mulai dari memperbanyak kegiatan membaca, baik di sekolah maupun di rumah, hingga pengadaan sarana dan prasarana, seperti penyediaan buku-buku bacaan dan pelajaran, baik di perpustakaan sekolah, perpustakaan daerah, maupun memperbanyak taman-taman bacaan masyarakat.

Akhirnya, kita memang tidak mungkin menghindar ataupun menolak internet dengan beragam terobosan fasilitas praktisnya. Semuanya tetap bisa kita nikmati dalam batas-batas proporsionalitas. Sebab semuanya dapat mempermudah aktivitas kehidupan kita. Tapi tidak seharusnya kita meninggalkan dunia buku dalam kegiatan literasi kita.

Sudah saatnya kita mengindahkan peringatan Nicholas Carr, untuk tetap menghargai buku dengan membaca, menelaah, dan mendiskusikannya secara massif. Sebab bila tidak, kita akan terjebak dalam dunia maya dan mengantarkan kita menjelma The Shallows: orang-orang yang berpikiran dangkal, walaupun kita tidak menyadarinya.


Penulis adalah seorang seorang peneliti dan penulis produktif di bidang Filsafat Islam. Dosen di IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik, Bangka Belitung. Tulisan ini merupakan saduran dari laman Facebook pribadinya dan telah mendapatkan persetujuan untuk dimuat di Piramida.id

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....