Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Selasa, Oktober 6, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeDialektika

Tuak

byRedaksi
01/09/2022
inDialektika
99
SHARES
709
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

Budi P. Hatees*

PIRAMIDA.ID- Sejarah tuak dan gula merah bagai anak kembar yang lahir pada hari yang sama. Itu sebabnya, di sebuah daerah penghasil gula merah, bisa dipastikan juga menghasilkan tuak. Tidak jarang, tuak dan gula merah kemudian bertemu dalam sebuah acara adat, di mana tuak jadi minuman dan gula merah disajikan dalam bentuk makanan ringan (kudapan).

Cuma, akhir-akhir ini tuak jadi sesuatu yang dianggap negatif. Minuman tradisional yang kehadirannya nyaris setua peradaban manusia itu, dipandang sesuatu yang buruk dan harus dihindarkan.

Orang-orang menyebut tuak itu “haram” karena termasuk “segala yang dapat memabukkan”. Tapi apa bedanya dengan jabatan, sesuatu yang telah membuat Ferdy Sambo mabuk berat hingga hilang nilai kemanusiaan dan menganggap membunuh Brigadir J sebagai pilihan tepat untukengembalikan kehormatan dirinya. Apa pula bedanya dengan harta yang membuat mabuk dan tak bisa sadar hingga para pejabat melakukan korupsi dan menyebutnya sebagai budaya masyarakat moderen.

Kita gemar memberi cap buruk pada semua yang berbau masa lalu, apalagi bila hal itu diterakan dalam kitab suci, tapi kita selalu memilih bagian yang paling membenarkan diri sendiri dari kitab suci yang kita baca. Kita membaca kisah Qorun, tapi kita hanya menyimak bahwa ada banyak harta karun yang masih tersimpan di bumi, dan bekerja keras untuk menemukannya.

Tuak memang haram jika membuat mabuk dan orang mabuk itu tidak sadar diri. Bagaimana jika tuak dijadikan obat untuk menyembuhkan para penderita diabetes, sejenis penyakit kelebihan glukosa yang jarang ditemukan pada orang yang rutin meminum tuak? Bukankah penyakit dalam kesadaran religi adalah ujian dari Tuhan bagi umat?

Jadi, tuak itu adalah satu dari sekian banyak nikmat yang diberikanNya kepada manusia, dan setiap nikmat yang berlebihan akan menyebabkan kemudaratan.

Simpul ini akan banyak menolaknya, sebab banyak dalil yang bisa direntangkan untuk menentang tuak sebagai salah nikmat yang diciptakan untuk manusia dari sekian banyak nikmat lainnya. Semua nikmat itu hakikatnya untuk ujian ketaqwaan, siapa dari hamba yang paling sanggup untuk lebih mencintai penciptanya.

Hampir semua suku bangsa memiliki tradisi menghasilkan minuman beralkohol. Dia minuman fermentasi, dan fermentasi adalah hasil ilmu pengetahuan. Kemampuan melakukan fermentasi termasuk pengetahuan tradisional. Semua minuman beralkohol hasil pengetahuan tradisional.

Orang Jepang tak akan pernah menghasilkan sake, fermentasi beras, seandainya mereka lahir di Sipirok. Tapi mereka pasti akan menciptakan tuak, fermentasi dari nira pohon aren. Dan orang Makassar jika dia lahir sebagai orang Jepang, sudah tentu tak bisa membuat minuman tradisional dari nira lontar. Artinya, pengetahuan tradisional itu diciptakan manusia untuk memanfaatkam alam disekitarnya guna kehidupannya sendiri.

Begitulah tuak diciptakan manusia. Pada awalnya, masyarakat tradisional pendukung budaya megalitik menciptakan tuak untuk menghilangkan kesadaran (intoksidasi) yang tujuannya untuk melaksanakan upacara. Penghilangan kesadaran ini biasanya diikuti bunyi tetabuhan.

Di lingkungan masyarakat Angkola, ada tradisi gondang dan tortor Sarama. Ini seni yang dilakukan seorang dukun untuk mencapai tras, situasi tak sadar agar dirinya dimasuki kekuatan leluhur. Seorang penari Sarama mengawali dengan minum tuak yang dimasukkan dalam gerigit dan selama menari dia memegang gerigit itu. Ketika kesadarannya hilang, roh leluhur akan masuk, lalu raja-raja adat bertanya tentang segala hal yang penting di bonabulu mereka.

Tanpa tuak, mereka tak akan tahu apa yang akan terjadi di kampungnya. Mereka akan jadi masyarakat yang tak cerdas, yang tak bisa menata kampungnya, yang kemudian akan punah.

Lalu aku ingat seorang kawan yang merasa dirinya super setelah minum tuak. Suatu malam, sepulang minum tuak, kawan itu berjalan kaki lewat jalan sawah. Di tengah jalan, dia menemukan sebatang kayu dan meraihnya untuk tongkat. Ajaib, kayu itu ternyata seekor ular cobra, dan ular itu mematok si kawan. Hari ini, kawan itu hanya tinggal kuburannya.(*)


Penulis merupakan sastrawan dan jurnalis. Banyak menulis esai di berbagai media. 

Tags:#aren#filosofi#sejarah#tuak
Share40SendShare

Related Posts

Ngobrol Pintar CS KERAS Bahas Dugaan Keterlibatan Wali Kota Siantar dalam Pembelian Eks Rumah Singgah COVID-19

02/07/2026

PIRAMIDA.ID – ALIANSI CS KERAS (Control Sosial – Kumpulan Elemen Rakyat Anti Suap) menggelar diskusi publik bertajuk NGOPI (Ngobrol Pintar) dengan...

Menantang Narasi Pikiran Ferry Irwandi Desak Reformasi Total Polri

05/09/2025

PIRAMIDA.ID - Seruan Ferry Irwandi dalam beberapa media berita online yang mendesak “reformasi total Polri” terdengar lantang, tetapi jika ditelisik...

Pidato Lengkap Jefri Gultom di Dies Natalis GMKI ke-74: Bangkit Ditengah Pergumulan

26/02/2024

Bangkit Ditengah Pergumulan Pidato 74 tahun GMKI Jefri Edi Irawan Gultom Para peletak sejarah selalu berpegang pada prinsip ini, ‘’perjalanan...

Pewaris Opera Batak

11/07/2023

Oleh: Thompson Hs* PIRAMIDA.ID- Tahun 2016 saya menerima Anugerah Kebudayaan dari Kemdikbud (sekarang Kemendikbudristek) Republik Indonesia di kategori Pelestari. Sederhananya,...

Mengapa Membahas Masa Depan Guru “Dianggap” Tidak Menarik?

01/05/2023

Oleh: Agi Julianto Martuah Purba PIRAMIDA.ID- “Mengapa sejauh ini kampus kita tidak mengadakan seminar tentang tantangan dan strategi profesi guru di...

Membangun Demokrasi: Merawat Partisipasi Perempuan di Bidang Politik

14/04/2023

Oleh: Anggith Sabarofek* PIRAMIDA.ID- Demokrasi, perempuan dan politik merupakan tiga unsur yang saling berkesinambungan satu dengan yang lain. Berbicara mengenai...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

FAJAR BARU TRUNOJOYO: MENANTI REVOLUSI POLRI DI TANGAN JENDRAL SUYUDI

05/10/2026
Berita

62 Tahun PMKRI Pematangsiantar: Bertumbuh dalam Persaudaraan, Mengabdi dalam Perjuangan

05/10/2026
Berita

Tokoh Simalungun: Pemilihan Rektor USI PerluMengedepankan Kapasitas dan Visi

05/10/2026
Berita

5 Fraksi DPRD tidak mau bahas P-APBD berpotensi melakukan Perbuatan Melawan Hukum

02/10/2026
Berita

Apresiasi Polda Metro Jaya Dalam Pengungkapan Kasus Alm Bambang Setiawan, Komrad Pancasila: Jangan Naikkan Dugaan Menjadi Vonis

01/10/2026
Berita

PMKRI Pematangsiantar Kota Pendidikan Tak Boleh Membiarkan Anak Belajar dalam Ketakutan

26/09/2026

Populer

Berita

5 Fraksi DPRD tidak mau bahas P-APBD berpotensi melakukan Perbuatan Melawan Hukum

02/10/2026
Berita

62 Tahun PMKRI Pematangsiantar: Bertumbuh dalam Persaudaraan, Mengabdi dalam Perjuangan

05/10/2026
Pojokan

Putu Laxman Pendit, Doktor Perpustakaan yang Tidak Dapat Tempat di Indonesia

30/07/2021
istimewa
Dialektika

Ana ‘Abdu Man ‘Allamani

17/06/2020
Berita

BNN Bekuk ‘Mami’ Dua Ton Sabu, Komrad Pancasila: Kemenangan Negara atas Kartel Narkoba Internasional

03/12/2025
Berita

Tokoh Simalungun: Pemilihan Rektor USI PerluMengedepankan Kapasitas dan Visi

05/10/2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus