Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Rabu, Juni 24, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeSorot Publik

Anak Jokowi Ikut Pilkada: Picu Pembicaraan Tentang Dinasti Terbaru Indonesia

byRedaksi
22/11/2020
inSorot Publik
98
SHARES
702
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Maju dalam kontestasi Pilkada melawan saingan yang tidak jelas, anak dari Presiden Indonesia Joko Widodo diprediksi meraih kemenangan sebagai wali kota Solo bulan depan. Jabatan ini pernah dipegang ayahnya.

Aspirasi politik putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, telah menimbulkan kecurigaan bahwa Presiden Jokowi, sedang membentuk dinasti baru untuk menyikut elit lama Indonesia.

Tidak terkait dengan keluarga berpengaruh yang mendominasi pemerintahan, bisnis, dan militer di negara terbesar di Asia Tenggara itu, Jokowi dianggap sebagai orang luar dalam perpolitikan nasional ketika terpilih jadi presiden pada tahun 2014.

Selama enam tahun berkuasa, Jokowi telah memprioritaskan proyek infrastruktur dan pembangunan, tapi beberapa kroni era Suharto juga masih tetap berkuasa lebih dari dua dekade setelah terjadinya reformasi demokrasi.

Jokowi telah menolak tudingan bahwa masuknya putranya ke arena politik merupakan sinyal akan ada dinasti baru yang bergabung dalam lingkaran elit yang ada sekarang.

“Setiap orang di Indonesia memiliki hak politik. Saya tidak pernah mengarahkan anak-anak saya,” kata Jokowi kepada kantor berita Reuters pekan lalu.

“Ini adalah kompetisi. Anda bisa menang atau kalah,” demikian alasan Presiden Jokowi.

Gibran menjadi salah satu pendatang baru politik dengan kerabat berpengaruh di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, dan para analis mengatakan politik Indonesia semakin menjadi urusan keluarga.

Dibandingkan Pilkada 2015 ketika ada 52 kandidat ‘dinasti’, tahun ini ada 146, menurut penelitian Yoes Kenawas, kandidat PhD bidang ilmu politik di Northwestern University di Illinois.

Di antara mereka bukan hanya putra Presiden Jokowi, tetapi juga menantu laki-lakinya, serta putri wakil presiden, dan keponakan menteri pertahanan.

Di satu daerah pemilihan di pinggiran ibu kota Jakarta, tiga calon adalah bagian dari dinasti.

“Demokrasi hanya memfasilitasi segelintir orang untuk mengakses kekuasaan,” kata Titi Anggraini dari lembaga pengawas pemilu, Perludem, yang mengeluhkan tren tersebut.

Politik Indonesia telah lama didominasi oleh elit-elit Jawa, yang merupakan pulau terpadat di dunia, dan rumah bagi ibu kota negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia.

Namun di kampung halaman presiden di Solo, Jawa Tengah, sekitar 500 kilometer dari Jakarta, pencalonan Gibran telah menimbulkan kontroversi tersendiri.

‘Kotak Kosong’

Halim HD, seorang aktivis berusia 69 tahun, telah lama menjadi duri dalam daging bagi para politisi yang punya koneksi.

Dua tahun lalu ketika kerabat wakil presiden Jusuf Kalla mencalonkan diri dalam pilkada di Kota Makassar, Halim turut mengkampanyekan ‘kotak kosong’ – dorongan untuk memilih kotak kosong yang muncul di kertas suara dalam pemungutan suara.

Kotak kosong menang di sana.

Tahun ini ketika muncul putra presiden yang didukung koalisi 9 parpol juga tidak memiliki lawan, Halim menghidupkan kembali kampanye ini.

“Dalam konteks politik modern,” katanya, “Kotak-kotak kosong ini adalah pertanda bahwa ada yang salah.”

Pada akhirnya, hanya beberapa jam sebelum pendaftaran ditutup pada 6 September, seorang kandidat saingan muncul.

Bagyo Wahyono, seorang tukang jahit berusia 59 tahun, menurut KPUD, telah menyampaikan pemberitahuan sementara tentang niatnya untuk mencalonkan diri tahun lalu, tetapi konfirmasi pencalonannya di detik-detik terakhir masa pendaftaran tetap mengejutkan banyak orang.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, Sugeng Riyanto, Wakil Ketua DPRD Kota Solo, mengaku yakin ada desakan untuk tidak memiliki kotak kosong, apalagi jika kemudian kotak kosong ini akan mendapat suara yang banyak.

“Itu akan sangat memalukan, tidak hanya untuk Gibran tetapi juga presiden,” kata Sugeng, satu-satunya anggota dari partai politik yang tidak mendukung putra Jokowi.

Dia percaya pencalonan Bagyo tak lebih dari “upaya menghindari skenario itu”. Bagyo membantahnya.

Baik tim kampanye Gibran maupun pihak kepresidenan tidak menanggapi permintaan komentar atas tuduhan tersebut.

Mengumpulkan angka dukungan

Menggambarkan dirinya sebagai kandidat anti-kemapanan, Bagyo didukung oleh organisasi sosial yang kurang terkenal bernama Tikus Pithi Hanata Baris.

“Saya mencalonkan diri karena kemampuan saya untuk mematahkan kemapanan, [untuk menunjukkan] siapapun dapat memilih dan dipilih,” kata Bagyo kepada Reuters.

Namun, bahkan untuk seorang calon yang independen, pencalonan Bagyo dianggap beberapa pengamat aneh karena ia tidak memiliki modal sosial atau politik yang kuat dengan organisasi massa atau jaringan politik mana pun.

Calon di Solo ini sepertinya datang entah dari mana, kata Wawan Mas’udi, ilmuwan politik dari Universitas Gadjah Mada.

Untuk memenuhi syarat sebagai calon independen, Bagyo diharuskan mengumpulkan hampir 36.000 tanda tangan.

Juru bicara tim kampanye Bagyo, Budi Yuwono, mengatakan timnya pertama kali mengumpulkan KTP dari pintu ke pintu pada awal 2019. Awalnya tim menghindari media sosial, katanya, karena khawatir partai politik akan menghalangi kampanyenya.

Tetapi nampaknya mereka juga menghindari perhatian masyarakat. Beberapa orang yang berbicara dengan Reuters di Solo mengatakan bahwa mereka baru mendengar tentang Bagyo sejak September, ketika dia mendaftarkan pencalonannya, meluncurkan situs web kampanye dan mengaktifkan halaman media sosialnya.

Reuters juga berbicara dengan orang-orang yang ada di daftar penandatangan dukungan untuk Bagyo tapi merasa tidak pernah memberikan dukungan mereka.

Tresno Subagyo, misalnya, termasuk di antara mereka yang terkejut saat petugas pemilu datang ke rumahnya untuk memeriksa bahwa ia menandatangani dukungan.

“Saya tidak pernah memberikan dukungan saya kepada Bagyo,” katanya. “Saya juga tidak pernah memberikan KTP saya.”

Johan Syafaat Mahanani, dari kelompok pemantau pemilu masyarakat, mengatakan ada puluhan kasus yang serupa.

“Mereka hanya orang biasa, takut melaporkannya ke pihak berwajib,” ujarnya.

Penduduk lain mengatakan kepada Reuters bahwa ada dua orang yang telah mengunjungi rumahnya dan mengambil foto KTP-nya, kemudian menjelaskan alasannya setelah itu.

“Mereka datang kepada saya hanya untuk memastikan Bagyo bisa ikut pilkada,” katanya, seraya menambahkan bahwa setidaknya tujuh tetangga mengalami hal serupa.

Tim kampanye Gibran tidak menanggapi pertanyaan tentang keaslian dukungan Bagyo.

Tim kampanye Bagyo mengatakan mungkin saja ada “satu atau dua” kesalahan dalam pengumpulan tanda tangan, tapi tidak sampai ribuan.

Komisioner KPUD Kota Solo, Suryo Baruno, mengatakan 14.000 nama yang terdaftar untuk Bagyo dianggap tidak memenuhi syarat setelah melalui dua putaran verifikasi.

Tim kampanye Bagyo kemudian mencari penandatangan tambahan untuk memenuhi targetnya.

Badan pengawas pemilu secara terpisah kemudian mengatakan pihaknya menyelidiki laporan tentang penggunaan KTP yang curang, tetapi tidak menemukan penyimpangan.

Wakil Ketua DPRD Kota Solo Sugeng Riyanto mengatakan, ia yakin apa yang terjadi telah “menodai demokrasi”.

Membentuk citra

Ketika Gibran mendaftarkan pencalonannya, ia mengendarai sepeda antik ke kantor KPUD, dia membentuk citra seperti ayahnya, yang melakukan hal yang sama ketika mendaftar menjadi presiden.

Dihadapkan dengan tuduhan bahwa dia mengabadikan politik dinasti Indonesia, Gibran mengatakan kepada Reuters bahwa dia “menyambut semua kritik”, dan yakin dia dapat menciptakan perubahan positif dalam kehidupan orang banyak sebagai walikota daripada sebagai seorang pengusaha.

Jajak pendapat Kompas Agustus ini, menunjukkan hampir 61% responden tidak menyukai politik dinasti, tetapi di Solo, kota yang terkenal dengan keraton dan batik tradisionalnya, pemilihnya pragmatis.

“Telah ada dinasti politik dari generasi ke generasi,” kata Hartanto, seorang tukang becak berusia 42 tahun, “Yang penting mereka mengenal orang-orangnya.”(*)


 

Tags:#pilkada#polemikdinasti#solo#walikota
Share39SendShare

Related Posts

PMKRI Pematangsiantar Sukses Gelar MPAB 2026: Momentum Penguatan Kaderisasi Baru

25/05/2026

PIRAMIDA.ID-​SIMALUNGUN – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi sukses menyelenggarakan Masa Penerimaan Anggota Baru...

Ketua ILAJ Soroti Jalan Rusak di Pagagan Hilir, Bupati Dairi: “Kenapa Disebut Tutup Mata?”

10/05/2026

PIRAMIDA.ID - Kecamatan Pagagan Hilir kembali menjadi sorotan akibat kondisi jalan rusak yang dinilai membahayakan masyarakat. Kerusakan terjadi di sejumlah ruas...

Komjen Pol Ridwan Zulkarnaen Panca Putra Jadi Kalemdiklat Polri, Ketua ILAJ: Dimana Saja Beliau Pasti Cemerlang

10/05/2026

PIRAMIDA.ID - Ketua Institute Law And Justice (ILAJ) Fawer Full Fander Sihite memberikan apresiasi atas pelantikan Komjen Pol Drs Ridwan...

Refleksi 800 Tahun Santo Fransiskus: PMKRI Pematangsiantar Ajak Generasi Muda Hidupi Kesederhanaan dan Cinta Lingkungan

10/05/2026

PIRAMIDA.ID-PEMATANGSIANTAR — Dalam semangat memperingati 800 tahun perjalanan spiritual Santo Fransiskus dari Assisi, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang...

ILAJ Desak Dirut PTPN IV PalmCo Copot Regional Head Budi Susanto, Dinilai Lindungi Oknum VAN

04/05/2026

PIRAMIDA.ID — Institute Law and Justice (ILAJ) mendesak Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Krisna Santosa, untuk mencopot Budi Susanto...

Isu Mobil & Rumah, Fawer Sihite Tegaskan Ilal Mahdi Nasution Sosok Taat Aturan, Minta Publik Hentikan Opini Negatif Karena Cemburu

29/04/2026

PIRAMIDA.ID — Fawer Sihite angkat bicara menanggapi berbagai isu miring yang diarahkan kepada Ilal Mahdi Nasution. Sebagai sahabat lama, Fawer...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

Edis Galingging: Justice Delayed is Justice Denied, Propam Polri Harus Periksa Kapolres Pematangsiantar

21/06/2026
Berita

663 Lulusan USI Diwisuda, Rektor USI: Wisuda Bukan Akhir, Tapi Awal Pengabdian kepada Masyarakat

20/06/2026
Berita

Di Demo Puluhan Massa,!Hotbinson Damanik dan Mhd Ali Damanik Akan di Periksa? Kejatisu Akan Bentuk Tim Penelaa Penelaahan

17/06/2026
Berita

Masa Perkenalan (MAPER) Gel. III 2026 GMKI Pematangsiantar-Simalungun Sukses Terlaksana

16/06/2026
Berita

“Tuntutan 45” Aliansi Mahasiswa Batam; Desak Sahkan RUU Perampasan Aset, Evaluasi MBG hingga sorot isu Lingkungan di Kota Batam

15/06/2026
Berita

Ketua Pemuda Muhammadiyah Simalungun, Film Children of Heaven: Dakwah Kultural Muhammadiyah.

11/06/2026

Populer

Berita

Edis Galingging: Justice Delayed is Justice Denied, Propam Polri Harus Periksa Kapolres Pematangsiantar

21/06/2026
ilustrasi/getty images
Pojokan

Sejarah Tai

03/08/2020
ilustrasi: tirto.id/Gery
Sains

Apa itu Teori Evolusi Darwin?

27/01/2023
Pojokan

Pesan Tersembunyi Ki Narto Sabdo Dalam Lagu Kelinci Ucul

23/09/2020
Dialektika

Mengapa Membahas Masa Depan Guru “Dianggap” Tidak Menarik?

01/05/2023
Pojokan

Situs Resmi Dewan Pers Kembali Diretas Hacker

26/06/2020
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber