Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Senin, Januari 26, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
Home Sorot Publik

Apa yang Perlu Kita Waspadai saat Membaca Berita?

by Redaksi
29/03/2022
in Sorot Publik
101
SHARES
723
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Media sosial maupun media konvensional punya peran penting dalam menyebarluaskan terobosan ilmiah ke publik.

Namun, sebagai pembaca, kita juga harus hati-hati saat mengkonsumsi informasi dari berbagai sumber tersebut.

Mulai dari berbagai klaim tentang efek berbahaya vaksin sampai riset yang meragukan krisis iklim, kita bisa lihat bahwa di balik berbagai judul berita atau artikel seringkali ada temuan riset yang meragukan, dilebih-lebihkan, atau disalahartikan.

Jadi, apa yang harus pembaca waspadai ketika membaca berita yang mengandung klaim ilmiah?

Banyak penelitian yang hasilnya gagal direplikasi

Hal pertama yang pembaca perlu ketahui sebelum mengambil kesimpulan usai membaca berita yang mengandung klaim riset adalah memahami bahwa selama ini ada ‘krisis replikasi’ dalam dunia riset.

Artinya, banyak riset yang kita baca di berita gagal membuahkan hasil yang serupa saat peneliti lain mencoba untuk melakukan verifikasi dengan mengulangi eksperimennya.

Jurnal ilmah ternama Nature, misalnya, menunjukkan lebih dari 70% peneliti gagal memproduksi ulang hasil temuan peneliti lain, dan lebih dari 40% bahkan gagal memproduksi ulang hasil temuan mereka sendiri.

Senada dengan itu, sebuah riset tahun 2012 melaporkan hanya terdapat 11% dari 53 metode baru perawatan kanker dalam satu dekade sebelumnya yang bisa direplikasi. Sementara itu, riset lain yang mengukur 159 penelitian ekonomi kuantitatif menunjukkan bahwa 80% dari publikasi ilmiah tersebut hasilnya dilebih-lebihkan.

Terdapat berbagai alasan yang bisa menjadi penyebabnya, termasuk kesalahan manusia (human-error), pengambilan sampel yang kurang baik, sengaja hanya memilih hasil yang positif, dan pada beberapa kasus langka manipulasi data.

Sebuah survei oleh University of Melbourne di Australia yang melibatkan 800 ahli ekologi dan biologi, misalnya, menunjukkan bahwa 64% dari mereka yang disurvei pernah tidak melaporkan hasil penelitian mereka karena tidak “signifikan” secara statistik – artinya temuan eksperimennya tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.

Media seringkali memanfaatkan kebutuhan kita akan “kabar baik”

Meskipun secara umum penelitian yang terbit di publikasi terkemuka dapat dipercaya, tetap saja ada potensi eror, kecurangan, atau penemuan yang dilebih-lebihkan.

Namun, terkadang media mengabaikan berbagai kekurangan tersebut – sengaja ataupun tidak – terutama ketika membahas riset medis yang kerap memberikan harapan untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Coba kita kembali ke tahun 2009, saat ada sebuah berita tentang peneliti asal Italia, Paolo Zamboni yang mengklaim bisa menyembuhkan penyakit yang diidap istrinya, yakni multiple sclerosis (MS) dengan cara “melegakan” pembuluh darah di lehernya.

Dia menantang kepercayaan umum tentang MS sebagai gangguan sistem kekebalan, dan sebaliknya, berteori bahwa MS adalah penyakit vaskular – yang dapat disembuhkan dengan membersihkan pembuluh darah.

Tapi, bagi media, hal yang paling menarik dari riset ini adalah kisah seorang laki-laki yang ingin menyelamatkan istrinya yang tercinta. Capaian medis yang dibalut kisah asmara ini – sesuatu yang sangat populer dalam berita kesehatan – nampaknya memulihkan harapan banyak pasien di seluruh dunia.

Sayangnya, penelitian Zamboni memiliki jumlah sampel yang sangat kecil dan desain eksperimennya memiliki beberapa kekurangan. Hal yang membuat pembaca heboh adalah kisahnya yang romantis, alih-alih riset yang saat itu bisa jadi adalah terobosan ilmiah.

Sejak saat itu, berbagai peneliti yang mencoba mereplikasi penemuannya tidak berhasil dan memunculkan berbagai insiden. Bahkan, terdapat banyak insiden yang melaporkan komplikasi pada pasien dan penyakit yang kambuh.

Kasus Zamboni hanyalah bagian kecil dari fenomena di mana media bisa menyalahartikan atau melebihkan suatu temuan riset. Riset kesehatan yang menjanjikan, yang awalnya dipromosikan di media, bahkan seringkali gagal direplikasi dan dan tidak jadi diterapkan secara klinis.

Riset tahun 2003 yang diterbitkan dalam American Journal of Medicine mengamati 101 publikasi ilmiah yang di enam jurnal sains ternama yang menawarkan janji pengobatan baru. Namun, hanya lima yang diberi izin untuk penggunaan klinis setelah 20 tahun, dan hanya satu yang terbukti memiliki dampak kesehatan yang signifikan.

Banyak dorongan bagi peneliti untuk tidak melaporkan riset secara jujur

Di seluruh dunia, target pekerjaan, pendapatan, bonus, dan promosi kerja peneliti sering berhubungan erat dengan publikasi mereka.

Di sisi lain, media maupun jurnal ilmiah ternama bisa jadi juga lebih tertarik dengan penelitian dengan hasil yang “signifikan” atau positif. Padahal, hasil penelitian yang tidak “signifikan” dan replikasi ilmiah yang gagal pun memberikan kontribusi besar bagi ilmu pengetahuan.

Tim peneliti dari Universitas California Davis di Amerika Serikat pernah mengkaji 359 riset yang diterbitkan di jurnal imliah terkemuka pada tahun 1990an. Mereka mengungkap bahwa sebagian besar dari riset tersebut “dilaporkan dengan cara yang berpotensi menyesatkan, dengan statistik yang dirancang untuk membuat hasilnya menjadi lebih positif dibandingkan dengan jika menggunakan uji statistik lain”.

Banyak staf pengajar di universitas juga mendengar laporan tentang peneliti dan mahasiswa S3 yang membingkai ulang data atau penemuan mereka untuk mendukung hipotesis yang mereka buat, atau sebaliknya. Mereka juga bisa saja menghapus, menambah, atau mengubah data mereka supaya karya penelitian mereka lebih menarik untuk diterbitkan jurnal ilmiah maupun diliput media.

Sesekali komunitas ilmiah menangkap studi dan jurnal yang dimanipulasi tersebut, kemudian jurnal ilmiah mencabutnya dari penerbitan.

Kita perlu kritis saat membaca berita

Setiap riset berpotensi untuk memperluas pemahaman kita tentang cara kerja dunia ini.

Namun, kita harus waspada atas temuan yang dilebih-lebihkan, studi yang belum direplikasi, atau penelitian yang belum diterbitkan dalam publikasi berbasis peer-review (telaah sejawat) yang kredibel.

Ini memang butuh usaha lebih, tapi pembaca perlu lebih hati-hati terutama pada riset tunggal, dan sebaliknya berusaha untuk melihat apa yang diyakini oleh komunitas ilmuwan secara umum terkait bidang ilmiah tersebut.

Pandemi COVID-19 memperlihatkan bahaya dari misinformasi dan bagaimana misinformasi bisa tersebar lebih cepat dari virus di udara. Jika penemuan yang kita baca terdengar terlalu bombastis, kemungkinan besar memang demikian!(*)


The Conversation

Tags: #berita#filter#hoax
Share40SendShare

Related Posts

Langkah Humanis Polda Metro Jaya Tuai Apresiasi, Kasus “Ijazah Palsu” Diselesaikan Lewat Restorative Justice

19/01/2026

PIRAMIDA.ID | Jakarta — Polda Metro Jaya di bawah pimpinan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri mendapat apresiasi...

GMKI P.SIANTAR-SIMALUNGUN TOLAK WACANA PEMILIHAN KEPALA DAERAH OLEH DPRD

12/01/2026

PIRAMIDA.ID | Pematangsiantar - Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Pematangsiantar-Simalungun menyatakan penolakan tegas terhadap wacana pemilihan kepala daerah oleh...

POLRI Tetap Dibawah Presiden. Komrad Pancasila : Operasi Politik Menjatuhkan Polri Gagal Total !!!

12/01/2026

PIRAMIDA.ID | Jakarta — Komisi III DPR RI menegaskan kedudukan Polri harus tetap berada di bawah Presiden, sekaligus menegaskan pengangkatan...

Merayakan Natal Dengan Penuh Empati, Komrad Pancasila Bagikan Bingkisan Natal Untuk Pemuda Dan Mahasiswa Rantau

26/12/2025

PIRAMIDA.ID | Jakarta - Dalam semangat Natal yang sarat dengan nilai kasih, solidaritas, dan kemanusiaan, Komrad Pancasila menggelar kegiatan berbagi...

SERUAN PARKINDO: MERAYAKAN NATAL DENGAN RATAPAN

25/12/2025

Kalau dipijak-pijak dengan kaki tawanan-tawanan di dunia, kalau hak orang dibelokkan di hadapan Yang Mahatinggi, atau orang diperlakukan tidak adil...

GMKI Dukung Persembahan Natal Nasional 2025 Untuk Kemanusiaan Palestina

22/11/2025

PIRAMIDA.ID | Jakarta - Perayaan Hari Natal Nasional 2025 akan berlangsung Stadion Tenis Indoor pada 5 Januari 2026. Natal nasional...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

IJLS: PT TPL Disebut Ditutup, Namun Masyarakat Adat Masih Menyaksikan Dugaan Aktivitas Operasional di Lapangan

22/01/2026
Berita

Langkah Humanis Polda Metro Jaya Tuai Apresiasi, Kasus “Ijazah Palsu” Diselesaikan Lewat Restorative Justice

19/01/2026
Berita

UU Narkotika Dinilai Tertinggal, Komrad Pancasila Dukung untuk Percepatan RUU Narkoba Demi Selamatkan Generasi Muda

13/01/2026
Berita

GMKI P.SIANTAR-SIMALUNGUN TOLAK WACANA PEMILIHAN KEPALA DAERAH OLEH DPRD

12/01/2026
Sorot Publik

POLRI Tetap Dibawah Presiden. Komrad Pancasila : Operasi Politik Menjatuhkan Polri Gagal Total !!!

12/01/2026
Berita

PC PMII Pematangsiantar–Simalungun Soroti Lambannya Kinerja Kejari Pematangsiantar dalam Penanganan Kasus dan Minimnya Transparansi Penanganan Tindak Pidana Korupsi

12/01/2026

Populer

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasi barak berita hari ini berita bola danau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasi barak berita hari ini berita bola danau tobasumber