Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Pojokan

Awal Memulai Tulisan

Rani Romaito Saragih*

PIRAMIDA.ID- Kata mereka, membuat karya tulisan itu tidak ada gunanya, hanya bisa buang-buang waktu saja dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan kata mereka juga bahwa membuat suatu karya tulisan dapat menjadikan kita hanyalah orang yang paling bodoh karena harus memaksakan pikiran kita untuk memutarkan isi pikiran kita sendiri.

Dan selalu berusaha untuk memberi kesimpulan tentang apa yang sudah kita pikirkan serta yang akan kita tuangkan ke dalam sebuah tulisan.

Bukan hanya itu saja, mereka juga berkata bahwa membuat suatu karya tulisan hanyalah suatu beban yang tak habis-habisnya untuk dilakukan. Apalagi dalam membuat suatu karya tulisan masuk dengan suatu pelajaran di sekolah ataupun di universitas.
Saya heran, mengapa mereka sangat membenci dengan karya tulisan. Bahkan untuk memulainya saja pun mereka tak ingin melakukannya.

Hal apa sih yang mereka tak suka dengan membuat suatu karya tulisan?

Sangat jarang sekali saya temukan akan hal seperti itu. Membuat suatu karya tulisan atas dasar hati mereka, bukan suatu paksaan yang membuat mereka sangat kacau untuk memulainya. Jujur, saya sungguh tidak menyukai akan suatu karya tulisan. Bahkan untuk memulainya pun saya juga tak ingin melakukannya.

Saya selalu beranggapan bahwa membuat suatu karya tulisan kita harus selalu rajin membaca. Tidak hanya itu saja, membuat suatu karya tulisan kita juga harus saling melakukan suatu diskusi agar apa yang kita tuliskan menjadi referensi baru kelak.

Namun, hal seperti itu tidak pernah saya lakukan. Saya tidak suka membaca, bahkan untuk melakukan perdiskusian pun saya kurang akan hal itu. Jujur, ketika melakukan perdiskusian saya tidak pernah fokus untuk mendengarkannya.

Maaf jika saya menuliskannya sesuai dengan apa yang ada di isi hati, tapi itulah kenyataannya. Saya tidak pernah menyukai mata pelajaran Bahasa Indonesia, karena yang saya tahu, bahwa ketika kita ingin membuat suatu karya tulisan itu mencakup tentang mata pelajaran tersebut.

Saya heran dengan diri saya sendiri, saya adalah orang berdarahkan Indonesia, tetapi saya malah tidak menyukai mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Entah apa yang terjadi pada diri saya, sampai saya tak menyukai mata pelajaran yang sesuai dengan negara sendiri. Padahal, di dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia mengajarkan kita tentang membuat suatu karangan. Bukan hanya itu saja, di dalam Bahasa Indonesia juga mengajarkan kita tentang materi “5W+1H”, tapi sampai sekarang pun saya benar-benar tak menyukai mata pelajaran tersebut.

Ingin tertawa akan kebodohan yang ada pada diri saya sendiri, tapi buat apa? Sudah terjadi mau bilang apa.

Hanya bisa pasrah akan kebodohan yang saya punya. Sejak duduk di bangku SD sampai kuliah, saya tidak pernah suka dengan pelajaran itu. Tetapi ketika saya mulai bergabung dengan suatu organisasi, awal saya juga masih tak suka dengan membuat sebuah karya tulisan.

Ketika saya melihat di sosmed terkait suatu karya tulisan dari mahasiswa, saya masih berfikir mengapa mereka bisa untuk membuat suatu karya tulisan?

Apa sebenarnya yang mereka tulis, sehingga mereka mampu membuat sebuah karya tulisan yang benar-benar menarik untuk dibacakan. Saya selalu bertanya di dalam hati dan pikiran saya terkait mahasiswa yang mampu membuat karya tulisan tersebut.

Lalu semakin lama, semakin banyak saja yang saya lihat akan tiap karya tulisan yang mereka tulis. Dalam benak saya, saya juga ingin menulis, tapi saya bingung, kalimat apa yang harus saya tulis. Dan bahkan judul pun saya tidak mampu untuk menuangkannya ke dalam suatu karya tulisan yang akan saya tulis nanti.

Lalu ketika saya tidak tahu apa yang ingin saya tulis, yang tadinya saya ingin menulis, tiba-tiba hilang begitu saja.

Hal ini ditengarai karena saya masih tak mampu berpikir, tulisan apa yang akan saya tuangkan nanti ke dalam tulisan saya.

Kemudian ada senior yang sangat meyakinkan saya untuk tetap terus berkarya, apalagi berkarya dalam membuat suatu karya tulisan. Lalu saya berpikir lagi, apa mungkin saya bisa membuat suatu karya tulisan, sementara judul pun saya tak mampu untuk menuliskannya.

Tetapi, ada terlintas di benak saya, bahwa, “Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”. Ketika senioran saya mengatakan hal seperti itu kepada saya, saya semakin mencoba untuk membuat suatu karya tulisan.

Tibalah pada saat perayaan ulang tahun organisasi saya pada saat itu, yang membuat suatu perlombaan tentang membuat suatu karya tulisan. Awalnya, saya hanya ingin coba-coba saja.

Kemudian saya mulai menulis, membuat suatu karya yang mungkin belum ada di dalam hati dan pikiran saya. Karena pada saat itu saya melakukan pencopyan ke dalam tulisan saya. Tibalah saatnya pengumuman pemenang dalam membuat suatu karya tulisan. Di situ saya sangat down sekali, karena pada saat itu saya harus bisa belajar menerima akan kekalahan saya.

Saya gagal dalam membuat suatu karya tulisan. Di dalam benak saya, sudah saatnya saya mundur, dan tidak akan mau lagi untuk mencoba membuat suatu karya tulisan, karena saya takut pasti saya akan gagal lagi nantinya.

Kemudian saya sudah mulai meninggalkan karya tulisan. Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun telah dilalui. Senior itu pun masih saja tetap menyemangati saya untuk membuat suatu karya tulisan.

Kemudian saya berpikir lagi, bahwa saya pasti bisa, mengapa mereka bisa lalu saya tidak! Kemudian, tibalah di hari ulang tahun organisasi saya selanjutnya, dan ada juga suatu perlombaan di dalamnya tentang membuat suatu karya tulisan.

Di situ saya mulai semangat lagi untuk membuat suatu karya tulisan, membuat suatu karya tulisan dengan sangat-sangat mendadak sekali. Tetapi untuk yang kedua kalinya saya tak ingin membuat suatu karya tulisan dengan cara saya yang pertama. Kemudian saya mulai membuat sebuah karya tulisan dengan konsentrasi penuh, tak hiraukan dengan banyak orang, hanya fokus dengan membuat karya tulisan.

Tetapi pada saat saya melakukan sebuah karya tulisan, saya berfikir lagi, apa kali ini saya berhasil? Atau malah sebaliknya, gagal untuk yang kedua kalinya?

Tetapi saya harus mampu berfikir optimis, untuk tetap membuat suatu karya tulisan. Kemudian ketika saya sudah selesai membuat suatu karya tulisan, tibalah saatnya saya mengirimkan kepada orang yang ingin memberi penilaian kepada tiap peserta yang telah membuat sebuah karya tulisan.

Jujur, pada saat itu yang ada di dalam pikiran saya sangatlah kacau, saya masih tak yakin kalau saya akan berhasil. Tetapi tibalah pada hari-H nya, pada saat pembacaan penilaian pemenang dalam membuat suatu karya tulisan, jujur saya terkejut, di dalam hati saya sungguh tak karuan.

Selalu banyak tanda tanya yang ada di pikiran saya. Ternyata saya berhasil untuk membuat suatu karya tulisan yang kedua kalinya. Jujur pada saat itu saya benar-benar sangat terharu, menangis akan keberhasilan saya yang sangat benar-benar saya tak akan menyangka bahwa diperujungnya saya akan berhasil.

Saya benar-benar sangat bersyukur kepada yang Maha Kuasa bahwa saya akan berhasil pada saat itu.

Pada saat itu, saya sudah mulai bersemangat lagi dalam membuat suatu karya tulisan. Saya sempat berfikir, benar apa kata orang bahwa, “Usaha tak mengkhianati hasil, asal kita mau berusaha pasti ada kemenangan yang akan kita dapat.”

Jadi, ini adalah sebagian dari kisah cerita yang saya miliki, mengapa saya bisa menulis sampai sekarang. Karena saya tidak ingin gagal untuk yang kedua kalinya. Selalu tetap berpikir optimis dalam melakukan suatu tindakan, pasti memuaskan hasil yang baik pula.

Jadi, intinya kesalahan terburuk adalah ketika kamu tidak percaya dengan kemampuan kamu sendiri. Jangan pernah menyerah. Serta jika ingin putus asa dan ingin menyerah, jangan memaksa untuk terus bergerak. Tapi paksalah hati dan pikiran Anda untuk mampu menemukan tujuan baru yang ada pada diri Anda sendiri.(*)


Penulis merupakan mahasiswa di Universitas Efarina. Aktif sebagai kader di PMKRI Cab. Pematangsiantar.

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....