Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Selasa, Oktober 27, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeEdukasi

Keragaman dalam Pendidikan: Komitmen Baik, Minim Pelaksanaan

byRedaksi
02/01/2021
inEdukasi
Dua puluhan siswa-siswi dari berbagai agama berkunjung ke GKP Kampung Sawah, Selasa, 30 April 2019. Dalam Wisata Toleransi Kampung Sawah, mereka mengunjungi 5 rumah ibadah dan mengenal ajaran agama yang berbeda. (Foto: Rio Tuasikal/VOA)

Dua puluhan siswa-siswi dari berbagai agama berkunjung ke GKP Kampung Sawah, Selasa, 30 April 2019. Dalam Wisata Toleransi Kampung Sawah, mereka mengunjungi 5 rumah ibadah dan mengenal ajaran agama yang berbeda. (Foto: Rio Tuasikal/VOA)

99
SHARES
706
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Alissa Wahid, aktivis sosial keagamaan yang juga putri sulung mendiang Gus Dur, memajang foto-foto sejumlah peristiwa di tanah air di tengah diskusi. Yang dia paparkan kemudian adalah ketegangan antarkelompok, terutama antarumat beragama di Indonesia.

Foto-foto itu bercerita tentang demo penolakan pendirian mushola di Minahasa dan masjid di Papua, penolakan pendirian gereja di Bogor, penolakan warga Sikka NTT terhadap pembangunan pondok pesantren, dan meme media sosial terkait sentimen terhadap kelompok tertentu.

Peristiwa di berbagai tempat di Indonesia itu tentu tidak berdiri sendiri. Apa yang terjadi itu, kata Alissa, terkait dengan banyak sektor lain, diantaranya dunia pendidikan. Karena itu persoalan keberagaman di dalam ekosistem pendidikan menjadi sesuatu yang sangat penting.

“Sangat penting untuk melihat ini secara lebih jauh. Ketika kita bicara apa yang terjadi di ruang pendidikan, ujungnya adalah peristiwa seperti ini. Kita enggak bisa menganggap remeh apa yang terjadi di dalam ekosistem pendidikan,” kata Aliisa.

Hari Selasa (29/12) Alissa menjadi pembicara dalam diskusi daring manifestasi prinsip penyelenggaraan pendidikan untuk memperkuat keragaman. Diskusi diselenggarakan Yayasan Cahaya Guru (YGC) dan diikuti ratusan pendidik dan aktivis yang peduli dengan isu ini. Diskusi ini didorong masih banyaknya praktik yang tidak menghargai keragaman di lingkungan sekolah.

Problem Mayoritanisme

Menurut Alissa, apa yang terjadi bukan persoalan agama, tetapi praktik sikap mayoritanisme. Demokrasi diterjemahkan sebagai siapa yang mayoritas berhak berkuasa, dan telah menimbulkan persoalan.

“Agamanya bisa apa saja, tetapi ketika agama itu menjadi mayoritas di suatu tempat tertentu, kemudian ada pandangan, ada keyakinan, bahwa sebagai mayoritas, mereka lebih berhak atas apapun. Sikap mayoritanisme ini juga muncul di institusi pendidikan kita,” tambah Alissa.

Komunitas sekolah ada di tengah pertarungan nilai dan perspektif, lanjut Alissa. Paham agama dan nasionalisme dipertentangkan, padahal sejak lama Indonesia telah percaya Pancasila menyelesaikan itu.

“Saat ini kita sedang berhadapan dengan pertentangan nilai-nilai dan salah satu tempat pembibitannya adalah di dunia pendidikan,” imbuhnya.

Guru tidak bisa mengelak dari kenyataan yang ada. Sejumlah penelitian juga membuktikan, fenomena semacam itu benar terjadi di dunia pendidikan.

Banyak Faktor Penentu

Pengamat pendidikan Doni Koesoema melihat ada banyak faktor berpengaruh terhadap situasi ini, mulai penjaga kantin di sekolah hingga Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.

Negara memang telah menetapkan, prinsip pendidikan yang demokratis, adil, nondiskriminasi, menjunjung hak asasi manusia (HAM), nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Namun, payung besar itu harus dilihat dalam skala yang lebih kecil jika ingin memahami apa yang terjadi.

“Kebijakan pendidikan di sekolah, di satuan pendidikan, sangat mempengaruhi terimplementasinya prinsip penyelengaraan pendidikan,” kata Doni.

Kepala sekolah sangat berperan dalam upaya ini. Program-program pengembangan kemampuan kepala sekolah dan intervensi dalam proses seleksi menjadi sangat penting.

“Kepala sekolah itu punya banyak fungsi. Bagaimana demokrasi tercermin dalam anggaran belanja sekolah,” tambahnya.

Jika sebuah sekolah tidak menganggarkan kegiatan-kegiatan pengembangan sikap toleransi bagi siswa dan guru, maka bisa dipastikan program itu tidak ada. Begitupun dengan program lain yang penting, terutama yang menumbuhkan penerimaan terhadap keragaman. Selain itu, guru juga memiliki peran penting, misalnya dalam penentuan kegiatan ekstrakurikuler. Banyak kegiatan ekstra sekolah, yang ternyata menjadi pintu masuk paham intoleran ke lingkungan siswa.

Penerapan demokrasi, kata Doni, harus dicek melalui komunikasi antarwarga sekolah.

“Karyawan, petugas keamanan, petugas kebersihan, pengelola kantin, dan siapa saja yang ada di sekolah berpengaruh terhadap pengalaman hidup siswa,” ujar Doni.

Berhenti di Undang-Undang

Pengamat hukum Mayong Febi Yonesta melihat, Indonesia sudah menetapkan prinsip dasar pendidikan yang baik. Namun sayangnya, prinsip utama dalam UU Sisdiknas ini tidak disertai ketentuan operasionalnya.

“Tidak heran apabila jika berbagai kebijakan dan diskresi pendidikan, praktik pengajaran dan budaya sekolah tidak mencerminkan prinsip sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat 1 UU Sisdiknas,” kata Mayong.

Penafsiran yang keliru atas prinsip itu, lanjut Mayong, mengakibatkan adanya praktik pendidikan yang segregatif, diskriminatif atau tidak sejalan dengan HAM serta ragam kemajemukan bangsa. Karena itulah, dari sisi hukum pemerintah harus mengimplementasikan apa yang ada dalam UU Sisdiknas, ke dalam setiap peraturan hukum di bawahnya.

Harmonisasi peraturan yang sudah ada, terutama yang tidak sejalan dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan juga harus dilakukan. Selain itu, pemerintah juga didesak menghapus segala praktik pendidikan yang melanggar prinsip dasar tersebut.

Keragaman Sekadar Administratif

Pelaksana Tugas Kepala Balitbangbuk, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Totok Suprayitno meminta persoalan semacam ini dibicarakan terbuka. Jika terus disuarakan, dia yakin akan semakin banyak pelaku di sektor pendidikan mengakui, bahwa memang ada persoalan yang harus diselesaikan.

“Karena kalau dipendam terus, seolah-olah kita ini oke-oke saja. Di negara yang sangat beragam, kemudian ada ide-ide, terutama di pendidikan, ide penyeragaman, itu sebuah ironi luar biasa dan itu memang harus diungkapkan supaya menjadi perhatian publik,” kata Totok.

Totok mengakui, ada yang tidak nyambung antara undang-undang yang ada, dengan pelaksanaanya di tingkat sekolah. Banyak aturan turunan, mulai dari peraturan pemerintah, peraturan menteri, peraturan daerah hingga aturan di tingkat sekolah yang harus dijaga koherensinya.

Namun, dia juga mengingatkan, persoalan semacam ini tidak cukup dimuat dalam aturan, tetapi harus dijiwai oleh setiap pemangku kepentingan, mulai kepala sekolah, guru, pengawas hingga pembuat kebijakan. 

Jika tidak dijiwai, banyak kasus upaya penanaman sikap keragaman hanya berhenti di kurikulum pembelajaran sekolah untuk kepentingan administrasi. Di sisi lain, pengawas sekolah juga merasa cukup melakukan pengecekan administratif, tanpa melihat kenyataan apakah sekolah benar-benar mempraktikkan pendidikan keragaman dan toleransi.(*)


VOA Indonesia.

Tags:#keragaman#minim#pendidikan#toleransi
Share40SendShare

Related Posts

Menjaga Marwah Negara Hukum: Confirmation Bias, Perceived Institutional Bias, Hubungan Antar-Lembaga Negara, dan Due Process of Law dalam Perkara Febrie Adriansyah, Mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus

28/07/2026

Menjaga Marwah Negara Hukum: Confirmation Bias, Perceived Institutional Bias, Hubungan Antar-Lembaga Negara, dan Due Process of Law dalam Perkara Febrie...

Budaya Adat di Lingkungan Masyarakat Era Modern saat ini

15/11/2025

PIRAMIDA.ID-Dalam kehidupan Masyarakat era modern, budaya adat sering kali terpinggirkan oleh pengaruh media sosial dan perkembangan teknologi pada saat ini....

Geowisata Kaldera Toba Untuk Bumi Untuk Kita

15/07/2025

Geowisata Kaldera Toba Untuk Bumi Untuk Kita Oleh: Edis Galingging Geliat sektor pariwisata pacu terus pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Tampaknya...

Refleksi Paskah dan Titik Balik Kebangkitan Ekonomi Indonesia

20/04/2025

Refleksi Paskah dan Titik Balik Kebangkitan Ekonomi Indonesia Oleh: Fawer Full Fander Sihite, S.Th.,S.H.,MAPS 1. Menghadapi Perang Dagang Global Perang...

Presiden Prabowo ke Timur Tengah: Mengukuhkan Posisi Indonesia di Panggung Global

14/04/2025

Presiden Prabowo ke Timur Tengah: Mengukuhkan Posisi Indonesia di Panggung Global Oleh: Fawer Full Fander Sihite, S.Th., S.H., MAPS Kunjungan...

Pertemuan Prabowo dan Megawati: Sebuah Sinyal Positif bagi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

11/04/2025

Pertemuan Prabowo dan Megawati: Sebuah Sinyal Positif bagi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Refleksi Mahasiswa Kristen dalam Perspektif Alkitabiah Ditulis Oleh: Fawer...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

Matinya kepakaran merupakan persoalan yang semakin relevan di tengah perkembangan teknologi informasi dan kemudahan akses internet

23/10/2026
Berita

Aktivis Antikorupsi Kritik Wacana Redefinisi Korupsi: Berpotensi impunitas

23/10/2026
Berita

ILAJ Minta Kajari Simalungun Serius Tangani Dugaan Korupsi Dana TPG Di SD Al Washliyah 90 Sinaksak

17/10/2026
Berita

ILAJ Nilai Kajari Simalungun Lambat Tetapkan Tersangka Dugaan Pungli PDAM Tirta Lihou, Potensi Kerugian Warga Rp225 Juta

17/10/2026
Berita

Kemiskinan Disorot, Rocky Marbun Tagih Keberpihakan Pemko

16/10/2026
Berita

Ketua ILAJ Minta DLH Pematangsiantar Periksa Penggunaan Bahan Kimia PT Bumi Sari Prima, Dorong Transparansi dan Jaminan Keamanan Produk Tepung

12/10/2026

Populer

Berita

Aktivis Antikorupsi Kritik Wacana Redefinisi Korupsi: Berpotensi impunitas

23/10/2026
Berita

Matinya kepakaran merupakan persoalan yang semakin relevan di tengah perkembangan teknologi informasi dan kemudahan akses internet

23/10/2026
Pojokan

Musik Disco, Bagaimana Asal Mula Terbentuknya?

17/05/2022
Berita

Jaksa Rumondang Manurung tuntut 1 Tahun penjara petugas Imigrasi yang membantu mengatur penyelundupan Narkotika Cair

23/07/2026
Edukasi

Aksi Demo Mahasiswa dan Buruh dalam Perumusan UU Cipta Kerja dilihat dari Pandangan Sosiologi Konflik

25/10/2022
ilustrasi: tirto.id/Gery
Sains

Apa itu Teori Evolusi Darwin?

27/01/2023
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus