Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Ekologi

Mengapa COVID-19 Sangat Berdampak Bagi Lingkungan?

PIRAMIDA.ID- Banyak orang mengatakan pandemi COVID-19 “baik bagi lingkungan”. Mereka mengungkapkan bahwa alam sedang menyembuhkan dirinya sendiri ketika manusia berdiam diri di rumah. Namun, manfaatnya mungkin hanya bisa kita rasakan di awal, mulai dari udara yang lebih bersih hingga kicauan burung yang terdengar ketika suara mobil dan pesawat tidak ada.

Kini, dengan ‘relaksasi’ karantina wilayah, para ahli khawatir kondisi Bumi akan kembali seperti semula, atau bahkan lebih parah. Mungkin akan muncul lebih banyak kemacetan, polusi udara, dan perubahan iklim yang memburuk. Memang terlalu dini untuk mengetahui apakah skenario suram itu akan terjadi, tapi tanda-tanda yang memprihatikan sudah terlihat di beberapa negara.

Pada awal April, dengan adanya karantina wilayah, emisi karbon menurun sebanyak 17% dibandingkan dengan tahun lalu. Namun, pada 11 Juni, data terbaru menunjukkan bahwa itu hanya lebih rendah 5% di waktu yang sama pada tahun lalu—padahal aktivitas normal belum berfungsi sepenuhnya.

“Kita masih memiliki jumlah mobil, jalanan, industri, dan rumah yang sama,” kata Corinne Le Quéré, pemimpin penelitian sekaligus profesor perubahan iklim dari University of East Anglia.

“Oleh sebab itu, saat karantina wilayah dilonggarkan, kita akan kembali ke seperti semula,” paparnya.

Ia menambahkan, saat ini ‘risikonya sangat tinggi’—emisi karbon dapat melonjak melewati angka prapandemi. Diketahui bahwa selama krisis keuangan 2007-08, emisi di Bumi sempat menurun, tapi kemudian bangkit kembali.

Contoh dari Tiongkok

Tiongkok menjadi negara pertama yang menerapkan lockdown ketika virus corona mulai menyerang. Namun, ia juga menjadi negara pertama yang pertama kali melonggarkan kebijakan karantina wilayah.

Perbaikan kualitas udara yang terjadi saat pabrik-pabrik ditutup dan transportasi dihentikan pada Februari dan Maret lalu, kini telah menghilang.

Saat banyak pabrik berusaha ‘membayar’ waktu yang terbuang saat karantina wilayah, polusi udara di negara tersebut pun kembali seperti saat sebelum pandemi.

Selain itu, menurut Lauri Myllyvirta, kepala analis di Center for Research on Energy and Clean Air yang melaporkan data polusi di Tiongkok, para pejabat provinsi yang putus asa berusaha meningkatkan kembali ekonomi dengan memberikan lampu hijau untuk membangun pembangkit listrik tenaga batu bara yang baru. Tindakan tersebut akan memberikan masalah tambahan pada kesehatan dan iklim Bumi di masa depan. Sebab, mesin industri seperti itu akan digunakan selama bertahun-tahun.

Kekhawatiran lainnya adalah kemacetan. Myllyvirta mengatakan, kemacetan di Tiongkok telah kembali seperti sebelum pandemi, padahal belum semua penduduk melakukan perjalanan.

Hutan Amazon paling terdampak

Di Brasil, penebang liar telah meningkatkan aksi mereka untuk merusak hutan hujan Amazon saat virus corona menyerang negara tersebut.

Menurut data satelit dari INPE, sekitar 64% lahan di sana telah ditebang lebih banyak dibanding April 2019. Padahal sebelumnya, 2019 menjadi tahun dengan deforestasi terburuk dalam satu dekade.

“Ini seperti Anda dapat melakukan apa pun yang diinginkan di Amazon dan tidak akan dihukum,” kata Ane Alencar, direktur sains di IPAM Amazonia, sebuah organisasi nirlaba ilmiah.

Vegetasi hutan yang telah ditebang kemungkinan akan menjadi pusat kebakaran pada Juli, saat musim panas. Dan asap tebal yang dihasilkan dari kebakaran tersebut akan menyebabkan masalah kesehatan pada jantung dan paru-paru.

Prioritas pemimpin

Dengan adanya pandemi COVID-19, prioritas para pemimpin dunia mungkin akan berubah. Asa Persson, direktur penelitian di Stockholm Environment Institute mengatakan, urgensi krisis kesehatan dan ekonomi akan mengalihkan perhatian mereka dari upaya perlambatan perubahan iklim.

“Seperti apa prioritas mereka?”, kata Persson.

“Apakah pemerintah berupaya menopang perekonomian dengan memperkuat industri-industri agar lebih ramah lingkungan dan menggunakan dana pemulihan untuk mendukung sektor energi yang ‘bersih dan efisien’?”, imbuhnya.

Mengalokasikan cara tersebut dapat menggerakkan dunia menuju masa depan rendah karbon, juga mengatasi kesenjangan ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi. Strategi tersebut mungkin akan lebih berhasil bagi lingkungan dibanding pengurangan emisi dalam beberapa bulan selama karantina wilayah.


Sumber: National Geographic Indonesia/Gita Laras Widyaningrum.

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....