Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Kamis, November 5, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeDialektika

Menuju Hukum yang Progresif

byRedaksi
02/03/2021
inDialektika
99
SHARES
710
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

Henri Silalahi*

PIRAMIDA.ID- Sebelumnya penulis ingin menggaris bawahi bahwa kata “hukum” dalam artikel ini diartikan sebagai peraturan perundang-undangan (regulasi), bukan hukum yang hidup di dalam masyarakat (adatrecht) atau hukum yang tidak tertulis.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan peraturan perundang-undangan paling banyak di dunia. Dilansir dari website Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK), per 14 November 2019 jumlah regulasi di Indonesia mencapai 42.996 peraturan, dengan perincian peraturan pusat sebanyak 8.414, peraturan menteri 14.453, peraturan lembaga pemerintah non-kementerian 4.164, dan peraturan daerah sebanyak 15.965.

Banyaknya regulasi tersebut, nyatanya, tidak berbanding lurus dengan minimnya jumlah pelanggaran dan kejahatan di Indonesia. Per 24 Maret 2020 jumlah tahanan dan narapidana di republik ini mencapai 293,583 orang. Sementara kapasitas rumah tahanan hanya dapat menampung 131,191 orang. Jadi, jumlah tersebut melebihi kapasitas hingga 123 persen.

Realitas penegakan hukum menunjukkan bahwa, kasus-kasus yang seharusnya dapat diselesaikan di luar pengadilan (restorative justive) atau kasus-kasus kecil (maling sendal, maling ayam, seorang nenek yang mengambil kayu bakar di lahan perusahaan, kritik, dan lain-lain), sangat mudah proses pemidanaanya. Padahal ancaman pidana terhadap kasus-kasus demikian relatif lebih ringan dibanding kejahatan lainnya, seperti korupsi, penyuapan, dan pencucian uang.

Secara kontekstual dapat pula dicarikan alternatif penyelesaian di luar instrumen hukum pidana, untuk menghindari over kapasitas lapas di Indonesia. Karena, dalam perspektif hukum, instrumen pidana adalah upaya terakhir untuk menyelesaikan masalah hukum (ultimum remedium).

Berbeda dengan kasus korupsi, penyuapan, dan pencucian uang yang secara skala dan ancaman hukumannya lebih tinggi, namun proses penegakan hukumnya sangat berbelit-belit dan biasanya vonis hakimnya juga cukup ringan.

Begitulah keadaannya, carut-marut penegakan hukum di Indonesia telah menyebabkan “hukum” seperti tak lagi memiliki asas manfaat. Bagi orang miskin, hukum bekerja bak mesin automatic atau parang yang siap menebas, apabila si miskin itu melawan hukum. Kalau begini, hukum seperti tragedi bagi orang miskin dan alat bagi orang kaya.

Hukum yang adil bukanlah fatamorgana atau ilusi optik yang tidak nyata. “Adil” dalam hukum dapat kita temui apabila kita memaknai hukum bukan sebagai suatu skema yang final dan kaku. Bagi penulis, inilah esensi dari hukum yang progresif.

Hukum progresif merupakan gagasan salah satu begawan hukum Indonesia, Prof. Dr. Satipjo Rahardjo, SH. Asumsi awal hukum progresif adalah “hukum untuk manusia, bukan sebaliknya”. Artinya, hukum yang harus mengabdi kepada manusia, bukan manusia yang mengabdi kepada hukum.

Begini cara kerjanya, kita ambil contoh kasus over kapasitas lapas di Indonesia. Hukum yang kaku (rigid) akan memandang over kapasitas lapas ini sebagai hal yang wajar, karena tidak bertentangan dengan hukum, artinya “mereka” yang dijebloskan ke dalam lapas adalah mereka yang melanggar hukum.

Di sisi lain, hukum progresif melihat ini sebagai suatu hal yang harus diselesaikan. Walaupun mereka dipenjara karena kesalahan mereka, over kapasitas lapas adalah sesuatu yang tidak manusiawi. Hukum progresif akan bergerak ke hulu masalahnya, terhadap kasus-kasus yang bisa diselesiakan dengan mekanisme restorative justice harus diupayakan terlebih dahulu.

Setelah berhasil, “ia” (hukum progresif) akan mencari sumber masalah yang lain, dan menemukan alternatif penyelesaiannya, dan begitu seterusnya.

Karena hukum progresif tidak menerima hukum sebagai institusi yang mutlak dam final, melainkan hukum yang ditentukan oleh kemampuannya untuk mengabdi kepada manusia. Hukum progresif juga menolak pendapat bahwa ketertiban (order) hanya bekerja melalui institusi-institusi kenegaraan dan mengabaikan peran masyarakat.

Di cover buku Prof. Satipjo yang berjudul “Penegakan Hukum Progresif” dituliskan kalimat berikut: “Hukum bukanlah suatu skema yang final (finite scheme), namun terus bergerak, berubah, mengikuti dinamika kehidupan manusia. Karena itu, hukum harus terus dibedah dan terus digali melalui upaya-upaya progresif untuk menggapai terang cahaya kebenaran dalam menggapai keadilan.”

Ketika penegak hukum (polisi, jaksa, hakim, dan pengacara) hanya memaknai hukum sebagai suatu yang final dan kaku, tidak menggali dan mencari makna di dalamnya, penegak hukum seperti inilah yang akan menjadikan hukum sebagai mesin otomatis dan parang penebas tadi.
Bagi hukum progresif, manusialah yang merupakan penentu kemana hukum diarahkan, apa manfaatnya dan fungsinya. Hukum progersif tidak menerima hukum sebagai “mesin penghukum” secara mutlak, melainkan kegunaan hukum sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk mengabdi pada umat manusia.

Dalam konteks pemikiran tersebutlah, hukum dalam pemikiran Prof. Satipjo harus terus menerus menuju kepada tingkatan kesempurnaan yang lebih baik. Kualitas kesempurnaan hukum itu dapat diverifikasi ke dalam faktor keadilan, kesejahteraan, kepedulian (moral) rakyat dan lain-lain.

Inilah hakekat dari “perubahan” yang Prof. Satipjo maksud, hukum harus selalu dalam proses menjadi lebih baik.

Teks hukum itu bisa saja dirumuskan secara umum (general) maupun konkret, sedangkan dalam penerapnya hukum yang dirumuskan tersebut harus berhadapan dengan kekhususan setiap kejadian. Sehingga diperlukan tindakan yang tidak sekedar melaksanakan hukum, karena, hukum sebagai teks itu diam dan hanya melalui perantaraan manusialah ia menjadi “hidup”.

Jika kita telisik keterkaitan hukum progresif dengan hal-hal yang kita bahas di awal, hukum seharusnya dijadikan sebagai alat untuk memperbaiki keadaan yang seperti dijelaskan sebelumnya: over kapasitas lapas, hukum tajam ke bawah tumpul ke atas, hingga obesitas regulasi. Kita tidak membutuhkan kuantitas, melainkan kualitas dari hukum.

Kalau hukumnya sudah progresif (mengalami kemajuan, menjawab tantangan, dan senantiasa berubah serta mengabdi kepada kemanusiaan) dan apabila penegak hukumnya juga sudah progresif niscaya cita-cita kita sebagai negara hukum yang berkeadilan akan dapat kita capai.(*)


Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Borobudur, Jakarta.

Tags:#Hukum#indonesiaraya#progresif#restorativejustice#satjiptoheadline
Share40SendShare

Related Posts

Ngobrol Pintar CS KERAS Bahas Dugaan Keterlibatan Wali Kota Siantar dalam Pembelian Eks Rumah Singgah COVID-19

02/07/2026

PIRAMIDA.ID – ALIANSI CS KERAS (Control Sosial – Kumpulan Elemen Rakyat Anti Suap) menggelar diskusi publik bertajuk NGOPI (Ngobrol Pintar) dengan...

Menantang Narasi Pikiran Ferry Irwandi Desak Reformasi Total Polri

05/09/2025

PIRAMIDA.ID - Seruan Ferry Irwandi dalam beberapa media berita online yang mendesak “reformasi total Polri” terdengar lantang, tetapi jika ditelisik...

Pidato Lengkap Jefri Gultom di Dies Natalis GMKI ke-74: Bangkit Ditengah Pergumulan

26/02/2024

Bangkit Ditengah Pergumulan Pidato 74 tahun GMKI Jefri Edi Irawan Gultom Para peletak sejarah selalu berpegang pada prinsip ini, ‘’perjalanan...

Pewaris Opera Batak

11/07/2023

Oleh: Thompson Hs* PIRAMIDA.ID- Tahun 2016 saya menerima Anugerah Kebudayaan dari Kemdikbud (sekarang Kemendikbudristek) Republik Indonesia di kategori Pelestari. Sederhananya,...

Mengapa Membahas Masa Depan Guru “Dianggap” Tidak Menarik?

01/05/2023

Oleh: Agi Julianto Martuah Purba PIRAMIDA.ID- “Mengapa sejauh ini kampus kita tidak mengadakan seminar tentang tantangan dan strategi profesi guru di...

Membangun Demokrasi: Merawat Partisipasi Perempuan di Bidang Politik

14/04/2023

Oleh: Anggith Sabarofek* PIRAMIDA.ID- Demokrasi, perempuan dan politik merupakan tiga unsur yang saling berkesinambungan satu dengan yang lain. Berbicara mengenai...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Edukasi

HALO USI – APA KABAR PEMILIHAN REKTOR “DEADLOCK”

04/11/2026
Berita

Bintang Empat Bukan Tameng Hukum, Komrad Pancasila Dukung Kapolri Bersih-Bersih Institusi

04/11/2026
Berita

Pentingnya Pemahaman UU Ketenagakerjaan, Forum Think Talk Bahas Pentingnya ‘Memahami UU Ketenagakerjaan’

04/11/2026
Berita

KETUA ILAJ: REGISTER 18 BUKAN WARISAN PARA MAFIA! JANGAN SAMPAI HUTAN NEGARA HANYA JADI LADANG BISNIS SEGELINTIR ORANG

03/11/2026
Berita

REGISTER 18 SIMALUNGUN JANGAN JADI WARISAN SEGELINTIR ORANG! KETUA ILAJ DESAK DINAS KEHUTANAN SUMUT DAN SATGAS PKH BERTINDAK!

03/11/2026
Berita

Ketua ILAJ Desak Dinas Kehutanan Sumut dan Satgas PKH Selamatkan Register 18 Simalungun

03/11/2026

Populer

Berita

Keamanan Bukan Intimidasi, KOMRAD Pancasila Bela Langkah Preventif Polda Jateng Terkait Kasus Sukoharjo

31/10/2026
Edukasi

HALO USI – APA KABAR PEMILIHAN REKTOR “DEADLOCK”

04/11/2026
Berita

Pentingnya Pemahaman UU Ketenagakerjaan, Forum Think Talk Bahas Pentingnya ‘Memahami UU Ketenagakerjaan’

04/11/2026
ilustrasi/getty images
Pojokan

Sejarah Tai

03/08/2020
Ilustrasi/Akun Twitter @Nobodycorp
Pojokan

Cerpen: 1998

24/08/2020
ilustrasi/science photo library
Dunia

Kisah Akhir Hidup Blackbeard, Bajak Laut Paling Kesohor Sepanjang Masa

16/01/2022
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus