Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Sabtu, Juni 27, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeSorot Publik

55 Tahun G30S: Waktunya Lupakan Sejarah?

byRedaksi
01/10/2020
inSorot Publik
99
SHARES
705
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Banyak negara mengalami peristiwa berdarah. Amerika, misalnya, sampai sekarang masih terseret-seret isu perbudakan yang terjadi ratusan tahun lalu dan perang saudara empat tahun, yang berlangsung 155 tahun lalu. Yang dekat dengan Indonesia, bisa kita sebut, adalah perang saudara di Kamboja.

Indonesia mencatat peristiwa pada 30 September 1965, yang dikatakan pemerintah dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI). Peristiwa itu kemudian dikenal dengan G30S/PKI. Dan serangan-serangan lain sebelum maupun setelah tanggal itu juga dikaitkan dengan PKI.

Thowaf Zuharon mengatakan, “Pada tanggal 22 Oktober 1965 terjadi pembantaian juga oleh para pemuda PKI terhadap para santri di daerah Solo, di satu tempat yang namanya Kedung Kopi. Ada puluhan santri dan tokoh-tokoh Islam yang kemudian dikumpulkan di situ oleh para pemuda PKI dan kemudian dimutilasi satu-satu.”

Thowaf Zuharon adalah penulis buku Banjir Darah, yang mencatat rangkaian kekejaman PKI dari tahun 1926, 1945, 1946, 1948, 1965, dan 1968. Untuk tulisan dalam buku itu, ia mewawancarai banyak korban serangan. Secara pribadi, banyak anggota keluarganya juga menjadi korban PKI.

Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, satu dari tiga pendiri Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) baru-baru ini menulis surat terbuka kepada Presiden Jokowi terkait peristiwa G30S. Dalam surat itu, Gatot mengutip kata-kata Bung Karno yang mengatakan “Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Kepada VOA, ia mengatakan, sejarah ini perlu diingat tetapi kita perlu saling memaafkan.

Gatot Nurmantyo mengatakan, “Jadi, kita semuanya sebagai anak bangsa sekarang ini, memaafkan semuanya tetapi tidak melupakan karena ini merupakan sejarah kelam. Tujuannya agar generasi muda mengetahui ini dan tidak terjadi lagi sejarah kelam seperti ini.”

Hal yang tidak mudah, menurut Bradley Simpson, dosen pada departemen sejarah University of Connecticut. Penulis buku tentang Orde Baru Indonesia, dan peneliti hubungan Indonesia-Amerika ini memaklumi kedua pihak, yang sama-sama mengaku sebagai korban, belum bisa berkonsiliasi.

Perlu waktu sangat lama, menurut Simpson, bagi rakyat Indonesia untuk menerima peristiwa itu sebagai bagian sejarah negara. Ia menunjuk pengalaman Amerika yang diisi peristiwa berdarah. Tetapi, ia mengatakan, “Seiring waktu dan generasi baru guru dan cendekiawan yang melihat sejarah dengan lebih kritis, akan mungkin bagi pemuda Indonesia untuk memahami sejarah mereka sendiri dengan lebih jujur.”

Selama bertahun-tahun pemerintah Indonesia menyampaikan sisinya terkait peristiwa itu melalui pemutaran film G30S/PKI serta monumen dan museum. Tetapi, menurut Kepala Pusat Sejarah dan Etika Politik Universitas Sanata Dharma Dr. Baskara T. Wardaya, biasa dipanggil Romo Bas, pihak lain belum diberi kesempatan yang sama. 

Untuk meninggalkan masa lalu yang kelam itu, Romo Bas menyarankan dua hal.

Pertama, saling mendengar dari kedua pihak untuk belajar sejarah sebagai bangsa. Soal siapa benar, siapa salah, kata Romo Bas, belakangan.

Kedua, kata Baskara, “Penyintas atau survivor yang masih ada sekarang ini, mari kita beri perhatian (kepada) mereka. Mereka ini belum pernah dibuktikan di pengadilan, bahwa mereka ini salah. Dengan begitu, kita bisa masuk ke poin satu tadi, belajar juga dari mereka.”

Sampai mereka bisa dibuktikan bersalah, menurut Baskara, kita perlu mendampingi penyintas sebagai warga bangsa. Sebagai sesama manusia.


Source: VOA Indonesia

Tags:#gerakan30s#pki#tragedi
Share40SendShare

Related Posts

PMKRI Pematangsiantar Sukses Gelar MPAB 2026: Momentum Penguatan Kaderisasi Baru

25/05/2026

PIRAMIDA.ID-​SIMALUNGUN – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi sukses menyelenggarakan Masa Penerimaan Anggota Baru...

Ketua ILAJ Soroti Jalan Rusak di Pagagan Hilir, Bupati Dairi: “Kenapa Disebut Tutup Mata?”

10/05/2026

PIRAMIDA.ID - Kecamatan Pagagan Hilir kembali menjadi sorotan akibat kondisi jalan rusak yang dinilai membahayakan masyarakat. Kerusakan terjadi di sejumlah ruas...

Komjen Pol Ridwan Zulkarnaen Panca Putra Jadi Kalemdiklat Polri, Ketua ILAJ: Dimana Saja Beliau Pasti Cemerlang

10/05/2026

PIRAMIDA.ID - Ketua Institute Law And Justice (ILAJ) Fawer Full Fander Sihite memberikan apresiasi atas pelantikan Komjen Pol Drs Ridwan...

Refleksi 800 Tahun Santo Fransiskus: PMKRI Pematangsiantar Ajak Generasi Muda Hidupi Kesederhanaan dan Cinta Lingkungan

10/05/2026

PIRAMIDA.ID-PEMATANGSIANTAR — Dalam semangat memperingati 800 tahun perjalanan spiritual Santo Fransiskus dari Assisi, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang...

ILAJ Desak Dirut PTPN IV PalmCo Copot Regional Head Budi Susanto, Dinilai Lindungi Oknum VAN

04/05/2026

PIRAMIDA.ID — Institute Law and Justice (ILAJ) mendesak Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Krisna Santosa, untuk mencopot Budi Susanto...

Isu Mobil & Rumah, Fawer Sihite Tegaskan Ilal Mahdi Nasution Sosok Taat Aturan, Minta Publik Hentikan Opini Negatif Karena Cemburu

29/04/2026

PIRAMIDA.ID — Fawer Sihite angkat bicara menanggapi berbagai isu miring yang diarahkan kepada Ilal Mahdi Nasution. Sebagai sahabat lama, Fawer...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

Catat Sejarah 26 Santri Generasi Pertama SD Muhammadiyah Serbalawan di Wisuda

27/06/2026
Berita

Bentrok Warga VS PT Bridgestone Pemerintah Wajib Hadir, APH Tidak Boleh Absen

26/06/2026
Berita

TKSK Simalungun Berduka, Kepergian Suhendra Mengejutkan Para Sahabat

25/06/2026
Berita

Edis Galingging: Justice Delayed is Justice Denied, Propam Polri Harus Periksa Kapolres Pematangsiantar

21/06/2026
Berita

663 Lulusan USI Diwisuda, Rektor USI: Wisuda Bukan Akhir, Tapi Awal Pengabdian kepada Masyarakat

20/06/2026
Berita

Di Demo Puluhan Massa,!Hotbinson Damanik dan Mhd Ali Damanik Akan di Periksa? Kejatisu Akan Bentuk Tim Penelaa Penelaahan

17/06/2026

Populer

Berita

TKSK Simalungun Berduka, Kepergian Suhendra Mengejutkan Para Sahabat

25/06/2026
Berita

Bentrok Warga VS PT Bridgestone Pemerintah Wajib Hadir, APH Tidak Boleh Absen

26/06/2026
Berita

Catat Sejarah 26 Santri Generasi Pertama SD Muhammadiyah Serbalawan di Wisuda

27/06/2026
Berita

Edis Galingging: Justice Delayed is Justice Denied, Propam Polri Harus Periksa Kapolres Pematangsiantar

21/06/2026
Edukasi

Surat Cinta untuk Kristina

29/11/2022
ilustrasi/getty images
Pojokan

Sejarah Tai

03/08/2020
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber