Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Pojokan

Catatan Kenangan Di Tiga Runggu

Tia Lestari Sidabutar*

PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga Runggu menjadi begitu manis di telingaku. Mendengarnya bagai melihat hujan turun untuk pertama kalinya setelah musim kemarau berkepanjangan: melegakan. Dan kau bisa mencium bau tanah menguap karena air hujan.

Seseorang berkata, “Orang sepertimu seharusnya berada di kota besar jadi kau bisa mengembangkan bakatmu. Saat ini kau sedang bergerak mundur, bukan bergerak maju. Semua orang berlomba ke kota, kenapa kau malah pergi ke desa?” Aku merasa tersanjung saat dia mengatakan itu.

Tapi aku tak bahagia mendengar ucapannya. Namun ketika salah seorang anakku berkata, “Miss, terima kasih, karena orang sepertimu datang ke desa kami dan mengajari kami.” Di situlah letak kebahagianku.

Masih terekam jelas di benakku bagaimana aku bisa “terdampar” di desa ini. Aku begitu suka anak-anak dan mengajar. Tapi gelarku bukan pendidikan. Aku seharusnya tidak bisa mengajar. Seharusnya pekerjaanku adalah menulis cerita atau menjadi editor di sebuah kantor penerbitan.

Tapi anehnya, aku bisa mengajar dengan baik. Aku mendapat begitu banyak pujian dari anak-anak dan orangtua murid tentang bagaimana caraku mengajar dan itu selalu menjadi motivasi bagiku.

Saat masih di Medan, aku bisa berdiri hampir 11 jam memakai sepatu ber-hak saat mengajar. Di sekolah aku mengajar dari pukul delapan pagi hari dan mulai mengajar lagi di tempat les dari pukul dua sore sampe jam sembilan malam. Non-stop. Begitu setiap hari.

Pertanyaanmu pasti, “Kau tidak lelah?”.

Tentu saja aku lelah, aku merasa kacau dan depresi. Aku tidak punya banyak teman, tapi aku punya banyak sekali anak-anak yang selalu berharap agar aku bisa masuk ke kelas mereka sesekali. Betapa aku merasa spesial, dicintai begitu boros.

Meski gelarku bukan pendidikan, tapi aku diberi kesempatan untuk mengajar di sekolah Katolik selama dua tahun. Kupikir Yayasan akan mempertimbangkanku menjadi salah satu guru honor di sana. Tapi rupanya tidak. Kepala sekolah memanggilku dan berkata, “Bu…maaf. Di sekolah kita, untuk Kurikulum 2013, pelajaran “Mulok” akan dihapuskan. Pelajaran yang Ibu ajarkan tidak akan dibuat lagi untuk tahun ajaran baru.”

Kau bisa bayangkan bagaimana air mataku jatuh bercucuran saat Suster Kepala Sekolah menjelaskan hal itu padaku. Aku tidak dipecat, tapi aku merasa dipecat. Aku menangis dan mengurung diri sepanjang hari. Aku menelepon ayahku dan aku menangis. Di hari terakhirku mengajar di sekolah itu, aku menangis keras meninggalkan sekolah, meninggalkan teman-teman dekatku, dan meninggalkan semua anak-anak yang kucintai.

Sempat terbersit di pikiranku, “Sekolah ini kejam sekali.”

Tapi saat aku sampai di Tiga Runggu, aku berbisik, “Tuhan, terima kasih untuk dua tahun yang sangat berharga di sekolah itu.”

**

Aku tidak mau hanya menjadi guru les pada sore hari, yang selalu gajian tidak tepat waktu. Aku harus bangkit lagi. Lalu aku menelepon ibuku dan memohon agar dia mendukungku untuk membuka kursus Bahasa Inggris. Awalnya ibuku menolak dan dia berkata, “Kau selalu mencoba segala hal tapi tidak pernah berhasil.”

Aku menangis. Lagi, dalam kesunyianku.

Tapi satu waktu ibuku meneleponku lagi dan bertanya, “Di mana kau berencana membuka tempat kursusmu?” Dan aku jatuh cinta lagi pada ibuku, berulang-ulang kali. Lalu ide untuk membuka kursus di Saribu Dolok datang dari kekasih adik perempuanku. Dia meyakinkanku bahwa lokasi itu akan cocok. Biasanya aku orang yang plin-plan. Aku orang yang tak tetap pendiriannya. Tapi entah karena aku frustasi terhadap kenyataan bahwa aku menganggur, aku mengiyakan tawarannya dan kami berangkat untuk mencari lokasi dan gedung yang tepat.

Dan semangatku jatuh lagi begitu aku sampai di Saribu Dolok. Selain karena sewa gedungnya mahal, aku melihat sebuah gedung besar bertingkat di depan mataku. Sebuah kursus besar bernama GO.

Melihatnya, aku tertawa malu bercampur sedih. Apalah aku dibanding mereka yang sudah punya nama ini? Jika aku ngotot membuka di Saribu Dolok, sudah pasti aku tidak akan mendapatkan murid.

Kemudian seseorang menyaranku membuka usahaku di Tiga Runggu saja. Orang itu bilang, “Belum ada kursus Bahasa Inggris di sana. Jika kau berhasil di sana, maka kau bisa kembali ke Saribu Dolok.” Maka aku dan saudara-suadaraku pergi ke Tiga Runggu dengan harapan bahwa aku memang orang pertama yang membuka kursus di sana.

Aku naif sekali. Ternyata, begitu aku sampai di Tiga Runggu untuk pertama kalinya, aku melihat satu tempat les terpampang jelas di depan mataku, dan ada lagi satu yang lain. Nyaliku menciut. Aku menelan air ludahku dengan susah payah. Setelah aku benar-benar membuka pintu untuk anak-anak untuk pertama kalinya, tahulah aku bahwa masih ada tempat les yang lain. Jadi sekarang, termasuk milikku, ada empat tempat kursus di sini. Persaingan mengerikan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku meyakinkan diriku bahwa aku pasti bisa berdiri. Selama dua tahun mengajar siang dan malam, sangatlah menyedihkan bahwa aku hanya punya tabungan sebesar Rp. 5.000.000.

Aku tertawa karena membeli kursi saja uang itu tidak akan cukup. Aku kemudian meminjam uang. Terima kasih untuk ibuku.

Pemilik rumah ini berkata dia hanya akan menyewakan rumah ini jika aku membayar tiga tahun. Bagiku itu kejam. Bagaimana jika dalam tiga tahun aku bahkan tidak punya murid? Tapi tetap saja, aku membayarnya. Aku membeli kursi-kursi plastik, peralatan-peralatan kantor, membuat brosur, membuat buku dan memberikannya kepada percetakan untuk dicetak. Aku mencatat semua pengeluaran dan hatiku menciut lagi. Bagaimana jika aku tidak bisa membayar hutang-hutangku dan menjadi malu?

Aku dan saudaraku pergi ke Pasar Hindu pukul dua pagi untuk mencari pick-up yang bisa membawa semua barang-barangku dengan harga murah. Pagi-pagi sekali sekitar pukul empat dini hari, kami berangkat ke Tiga Runggu. Aku duduk di kursi belakang dengan kain pel dan sapu di pangkuan. Aku tidak tidur sepanjang malam. Pukul setengah delapan, aku sampai di depan rumah baruku, dan aku muntah banyak di kamar mandi.

Demi Tuhan! Aku bersin dan mual bila terkena udara dingin, ditambah dengan asam lambungku yang akut. Cuaca Tiga Runggu dua kali lebih dingin dibanding Samosir. Ayahku datang dari Samosir untuk membantu memasang spanduk dan saudara-sadauraku membantuku membenahi seisi rumah.

Dua hari setelahnya, kakak dan adik-adikku kembali ke Medan dan sadarlah aku bahwa aku sendirian di rumah ini. Aku menggigit bibirku kuat-kuat sampai berdarah.

***

Sembari menunggu meja dan papan tulis pesananku datang, aku menunggu siswa untuk mendaftar. Seminggu berlalu, tidak ada yang datang; tidak ada yang datang bahkan hanya sekadar bertanya-tanya. Aku menghibur diriku dengan menempeli kertas-kertas di dinding dengan kalimat-kalimat bahasa Inggris. Aku menggunting-gunting kertas dan memasukkannya ke dalam botol. Itu berarti aku sedang depresi dan takut.

Lalu aku dan kekasih adikku pergi promosi ke sekolah. Meski ditolak beberapa orang dan proses promosi yang tidaklah mudah, aku berpikir keras tentang uang les anak-anak. Saat aku bilang anak-anak hanya perlu membayar Rp.350.000 untuk 4 (empat) bulan –yang kupikir sudah kelewat murah— anak-anak masih tidak ada yang mendaftar.

Aku menangis lagi dalam kesendirianku saat aku meringkuk di bawah selimut. Aku bergumul lagi dengan Tuhan dan sampailah aku pada keputusan yang berat. Bahwa aku harus melupakan uang les yang tertera di brosur (di brosur tertulis Rp.500.000/4 bulan).

Aku kembali lagi promosi ke SMA dan SMP. Saat pertama kalinya aku memegang mikrofon di mana tanganku bergetar dan aku akan muntah karena gugup, aku bilang, “Jika kau mendaftar sampai hari Sabtu Ini, uang lesmu hanya Rp. 50.000 per bulan.”

Mendengar Rp. 50.000 untuk dua kali pertemuan dalam seminggu meluncur dari mulutku sendiri sungguhlah sebuah lelucon yang kejam. Aku meyakinkan diriku, “Tidak apa-apa Molly. Anggap saja promosi.” Besoknya, aku menunggu siswa mendaftar, tidak ada juga.

Fix! Anak-anak Tiga Runggu memang tidak mau belajar, batinku. Aku harus kembali ke Medan. Aku hanya perlu menebalkan mukaku dan bekerja seperti anjing pemburu lagi. Selama dua minggu, aku tidak punya murid satu pun. Wajar saja aku merasa hancur. Saat aku hendak menutup pintu, seorang anak SD datang, harapanku terbit.

Nadin, nama anak itu, menjadi murid pertamaku. Aku langsung mengajarinya pelajaran mengeja di hari dia mendaftar. Rasanya sudah lama sekali aku tidak memegang marker. Lalukemudian Modesty datang, anak TK yang menggemaskan. Lucu sekali rasanya jika aku harus mengajar anak TK juga. Tapi tetap kuajari. Dan entah bagaimana, beberapa anak SD mendaftar lagi, aku ingat hari itu aku mendapat 8 anak-anak yang manis.

****

Setelah hari Tujuh Belasan selesai, besoknya beberapa anak-anak SMA datang, mereka mendaftar. Hatiku berbunga. 3 orang anak SMP datang, muridku menjadi 27 orang. Beberapa hari kemudian, setiap hari menjadi kejutan. Anak-anak membawa teman-teman mereka. Setiap hari ada murid baru. Dari 27 menjadi 38, dari 38 menjadi 41, dari 41 menjadi 53, dari 53 menjadi 60, lalu menjadi 90, kemarin menjadi 102 orang.

Sungguh, aku menyebutnya sebuah mukjizat. Tetanggaku berkata, “Aku tak tahu bagaimana caramu mengajar, tapi mempunyai anak sebanyak itu saat kau masih belum genap dua bulan berada di sini sungguh sebuah hal yang bagus.”

Aku bilang, “Tuhan bekerja sangat baik untukku.”

“Tapi pertahankanlah. Jadilah berbeda,” katanya melanjutkan.

Beberapa orang mungkin akan menertawaiku dengan uang les yang hanya Rp. 50.000 per bulan.

Pertanyaan “Kamu dapat apa dari uang segitu?” sesekali ada benarnya juga. Mungkin butuh beberapa lama untuk melunasi hutang-hutangku. Tapi aku orang yang akan berjuang keras. Ada Tuhan di sampingku.

Aku adalah bos, aku adalah gurunya, dan akupulah petugas kebersihan. Aku merangkap semua pekerjaan. Tapi aku berterimakasih kepada keluargaku yang selalu mendukungku, aku berterima kasih pada kekasih adikku yang membantuku banyak, orang-orang dari percetakan. Orang-orang yang selalu mengidolakanku dan menjadikanku panutan mereka.

Mungkin suatu hari nanti aku akan lengah, anak-anakku akan berkurang dengan sendirinya, mungkin akan ada masa di mana aku kehilangan setengah dari jumlah anak-anakku dan aku mulai dilupakan.

Tak apa.

Aku sudah pernah berada di zona terburuk, aku tidak ingin menyerah. Aku hanya perlu bangkit lagi. Berdoa, membiarkan Tuhan mengambil alih segala hal. Lalu mengajar sepenuh hati, mencintai anak-anak dengan boros. Intinya, melakukan sesuatu hal itu harus dari hati. Tuhan akan memperhitungkan usahamu.

Kemarin, salah satu murid lesku, Riski menuliskan di ceritanya, “Aku berharap, semoga Miss tetap berada di Tiga Runggu.”

Dalam hatiku aku berkata, “Tuhan… aku mencintai Tiga Runggu, mencintai anak-anak di sini. Jika Tuhan ingin aku tetap di sini, maka bantu dan ajari aku lagi. Jika Engkau memintaku untuk pergi ke tempat lain dan melayani lagi, aku akan ikut, tapi pastikan aku TELAH cukup berbuat di desa ini.”

Aku tidak sedang pamer padamu tentang tempat lesku. Tolong jangan berpikir begitu. Aku hanya menuliskan catatan harianku, kelak akan kujadikan buku tentang kisahku saat aku menua nanti. Kuharap kau yang sabar membaca kisah panjang ini termotivasi. Percayalah, kau juga bisa.

Jangan putus saja. Ketika kau punya harapan yang ingin kau gapai, percayalah seluruh semesta akan mengabulkannya untukmu. Pertanyaannya hanya ini, “Maukah kau menjadi berani? Maukah kau menjadi berbeda? Maukah kau melakukan pekerjaanmu dengan tulus?”

Lakukan dari hati, setulus yang hatimu bisa beri. Tuhan di sini, untukku, untukmu juga.

Bagiku, sekarang ini, setiap hari adalah……. Keajaiban!


Penulis merupakan penyanyi lagu pop-daerah serta pemilik salah satu les privat di Tiga Runggu. Akrab dipanggil Molly Moore.

3 Comments

3 Comments

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Tokoh-tokoh dan pemikiran para filsuf yang bernaung di bawah nama Mazhab Frankfurt ini sedikit banyak sudah dikenal oleh publik filsafat...