Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Dialektika

Berdamai dengan Tubuh

Thompson Hs*

PIRAMIDA.ID- Ada pentingnya kita berdamai dengan tubuh. Kita secara filosofis merupakan berbagai tubuh yang terpisah dan secara sederhana disatukan oleh jiwa masing-masing. Saya dan Anda punya tubuh dan jiwa. Kadang tubuh dan jiwa kita diperkaya oleh fenomena roh.

Betulkah roh sebagai fenomena untuk tubuh dan jiwa kita? Saya tidak ingin berspekulasi tentang itu. Namun roh bisa seperti nafas yang menghidupi tubuh dan jiwa kita masing-masing. Itu persis juga seperti angin atau ruah dalam pengertian satu peradaban di Timur Tengah.

Nafas dan angin ada miripnya dalam kosakata Batak Karo melalui kata kesah. Bahkan saya pertama kali mendengar kesah simbadia (roh kudus) dari sebuah koor berbahasa Karo.

Sebaliknya di kosakata yang mirip dengan kesah (Karo) adalah hosa di Batak Toba. Namun yang jelas tidak ada hosa na badia, kecuali tondi porbadia (Toba). Jadi beda tapi bisa serupa dengan memahami roh, nafas, dan angin dalam konteks tubuh dan jiwa.

Jiwa orang yang sudah mati kadang disebut begu, baik di Karo dan Toba. Mungkin serupa juga di Angkola, Simalungun, dan Mandailing. Jadi begu itu pernah populer di mana-mana hingga dengan berbagai jenisnya yang muncul pula dari alam.

Tubuh manusia juga bersifat alamiah dan jiwanya sering disebut akan kembali ke luar tubuhnya. Luar tubuh manusia itu adalah alam makro, lebih besar dari tubuhnya. Dia berasal dari alam makro dan seperti pulang suatu saat ke sana.

Aneh juga ya? Tubuh seperti dipecundangi jiwa. Jiwa masuk ke dalam tubuh dan pergi atau pulang seturut sumbernya. Jangan-jangan anggapan itu hanya akal-akalan para filsuf terdahulu sebelum diadopsi ke dalam teologi agama.

Pengaruh para filsuf terdahulu memang sungguh hebat karena filsafat waktu itu adalah jalan kebenaran utama sebelum agama, ilmu pengetahuan, dan sastra. Atau jiwakah yang sesungguhnya membesarkan tubuh?

Saya bertanya, diam-diam Anda dapat menjawab. Jadi kita renungkan bersama. Tubuh dan jiwa kita bisa beda karena banyak faktor luar dan dalam. Kita sudah sering berdamai dengan faktor luar itu, selain berkonflik atau menginginkan perang.

Dalam uruzan konflik dan perang kita benar-benar bukan kita. Tubuh saya bisa lebih hebat dari tubuh Anda. Tubuh orang Barat lebih tampan dari tubuh orang Timur. Tubuh orang Arab lebih hitam dari tubuh orang Cina. Tubuh orang Batak lebih kapak dari tubuh orang Bukbak (Bukan Batak).

Kita beda karena bermasalah atau berdilema. Selanjutnya kalau mau berdamai harus ada caranya; bukan menurutmu saja atau menurut saya saja. Sedangkan perseteruan di tingkat Internasional perlu arbitrase. Masalah perdamaian memang sudah setingkat Internasional.

Tubuh bukan jiwa. Namun tubuh dan jiwa bisa sama-sama liar dan bekerjasama. Setiap apa yang dikerjakan tubuh dapat dilengkapi oleh kehadiran jiwa. Namanya dijiwai. Ilmu jiwa seperti psikologi bersumber dari proses dijiwai itu. Dari jiwa yang seperti berkelamin laki-laki dan perempuan itu ada sebutan animas dan animus.

Jangan-jangan kepercayaan animisme merupakan praktik psikologi awal. Hanya mungkin bersifat low-profil atau tak laku dijual sepertj barang dagangan. Di manapun penganut animisme berada mereka hanya laku dijual sebagai kafir atau koper. Kalau sebagai cover? Cari saja loper penjual buku atau majalah.

Tubuh dan Tubuh

Tubuh saya bisa disebut sehat. Demikian dengan tubuh selain saya. Tubuh saya seperti kolam yang direnangi oleh jiwa. Tangan jiwa itu seperti pikiran dan perasaan. Kadang jiwa itu senang dan lelah hingga berperilaku seperti emosi.

Seakan apa saja dapat diperlakukan oleh jiwa selagi menyatu atau ada di dalam tubuh kita. Selagi kita bisa menyatu dengan jiwa tubuh terasa lengkap. Sebaliknya tubuh terasa sakit kalau jiwa mulai tak bersahabat. Jiwa menjadi sekadar keinginan yang tidak sampai di dalam tubuh. Kadang dia keluar dari tubuh kita waktu tubuh tertidur istirahat.

Jiwa yang terkesan tidak pernah istirahat di dalam tubuh kita tahu sedang keluar lewat sinyal mimpi. Semalam kamu ketemu orang-orang yang tidak dikenal atau yang sudah duluan mati lewat suatu mimpi. Itu artinya bisa bilang tubuhmu sedang ada gangguan alias kurang sehat.

Anda mimpi apa-apa lagi yang terhubung dengan kondisi tubuh sesungguhnya? Para peramal mimpi selalu berusaha menjawabnya. Sedangkan Sigmund Freud sudah pernah menjelaskan mimpi lewat teori psikoanalisa. Atau psikologi dalam dari Carl Gustaf Jung dan Adler.

Rasanya bagaimana tubuh yang disebut sehat adalah ketika ada perasaan enak dan selalu nyaman. Sedang tubuh yang sedang tidak enak dan tidak nyaman benar-benar disebut lagi tak enak badan. Kalau begitu sedang tidak enak badan perlu istirahat lebih lama dan tidur tanpa beban pikiran dan perasaan. Tubuh tidur dengan badan yang memiliki kepala, tangan, kaki, jemari, hidung, mata, rambut, kulit, dan kuku.

Kelihatanya seperti itu. Namun tulang, otot, otak, paru-paru, jantung, perut, ginjal, bagian-bagian perut seperti usus dan lambung, limpa, liver, dan bermacam organ lain di dalam tubuh terus bekerjasama dengan saraf, kelenjar, enzim, sel, darah, dan bagian terkecil di dalam tubuh untuk kesehatan metabolisme dan imunitas yang menopang tubuh Anda.

Kita kelihatan dapat mengatur semuanya untuk luar dan semua yang bekekerja di dalam tubuh kita. Ini seperti pekerjaaan anatomis. Namun caranya tidak sederhana dan tidak menjadi wilayah pemikiran filosofis dan teologis. Sains atau ilmu pengetahuan juga mencoba mengenali semua itu melalui ilmu kedokteran.

Seorang mayat bisa dibedah dengan teknis otopsi. Maka secara perlahan kita mengenal anatomi tubuh. Berbagai terapi pembedahan dilakukan untuk penyakit parah seperti tumor, kanker, kardiovaskular, dan lain-lain adalah suatu cara melihat kelainan atau penyimpang komponen atau organ di dalam tubub kita.

Silau pisau skalpel tak lagi ditakuti pasien karena sudah mendapat suntikan morfin dalam ukuran tertentu. Morfin adakah sejenis narkotik, asosiatif dengan akar kata di belakang neurotik (kelainan saraf). Jadi jangan terlalu fanatik dengan gerakan narkoba (narkotik dan obat-obat terlarang). Nanti bisa berhenti dunia kedokteran sampai semua rumah sakit tutup. Yang benar saja adalah pentalahgunaan narkoba.

Pengguna narkoba di luar ketetapan medis atau kedokteran termasuk perhatian psikiater. Sehingga ada pula muncul spesialisasi untuk itu di dunia kedokteran. Ini berarti tidak main-main. Selain dokter ingin mengobati tubuh yang sakit, jiwa juga harus disembuhkan dengan pendekatan tubuh. Bukankah ada pepatah mengatakan Mensano in Corporesano?

Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Begitu kata pepatah itu. Sementara kita tak usah membaliknta menjadi: di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang sehat. Itu kayaknya urusan para ahli psikosomatis atau psikoterapi.

Daripada kepada mereka atau jangan terus-terus lagi ke dokter dan rumah sakit, Anda bisa mengukur kartu asuransi kesehatan atau BPJS. Anda butuh pegangan dan sentuhan untuk tubuh enak dan nyaman tidak harus selalu mengandalkan BPJS. Ada baiknya memang itu dianjurkan dan diikuti. Namun tidak terbukti sakti semasa pandemi Covid-19 untuk periksa, rapid, dan swab. Anda harus bayar untuk itu meskipun ada kartu BPJS. Begitukah?

Ada pentingnya kita berdamai dengan tubuh. Caranya hanya sederhana. Rileks dan tarik/keluar nafas secara rutin hanya untuk tubuh diri sendiri. 20 menit sehari sekali.

Ini bukan resep kedokteran tang harus dilakukan tiga kali sehari, kecuali Anda ingin menjadi seorang yogis profesional. Tiga kali minum kopi setiap hari tak apalah. Asal satu sendok per sekali minum.(*)

NB. Ide tulisan ini digali untuk perspektif yang akan disampaikan untuk meningkatkan Capacity Building di Bukit Lawang pada 29 Januari 2021.


Penulis adalah Penerima Penghargaan Kebudayaan dari Kemendikbud RI pada September 2016 dan terlibat dalam Tim Kreatif Presiden untuk Acara Karnaval Kemerdekaan Danau Toba pada Agustus 2016.

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....