Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Senin, November 2, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeSains

Clubhouse: Bagaimana Membangun Ruang Diskusi Digital yang Inklusif?

byRedaksi
19/03/2021
inSains
101
SHARES
718
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Di tengah pandemi COVID-19, anak muda mendapat hiburan baru dengan hadirnya “Clubhouse”, media sosial berbasis diskusi audio yang viral pada awal tahun ini, terutama di kalangan profesional muda.

Seperti pengalaman media sosial pendahulunya yakni Twitter, Snapchat, dan Facebook saat pertama muncul, pertumbuhan pengguna Clubhouse diiringi berbagai perdebatan.

Masalah utama yang juga menjadi perdebatan publik adalah terbatasnya akses Clubhouse hanya pada iPhone – yang penggunanya hanya 3,4% dari total pengguna smartphone di Indonesia. Media sosial ini dianggap bersifat eksklusif untuk kalangan kelas sosial menengah-atas saja.

Paul Davidson dan Rohan Seth sebagai pendiri Clubhouse mengatakan perusahaannya tengah berupaya membuka akses aplikasi ini untuk pengguna Android.

Tapi, apakah dengan dibukanya akses aplikasi ke pengguna Android akan serta merta membuat Clubhouse menjadi lebih inklusif?

Menurut kami, jawabannya tidak. Kami melihat ini dari masih tingginya bias kelas dalam penggunaan media sosial di Indonesia.

Akses pada ruang diskusi digital minim, bahasannya pun berpotensi bias kelas

Dalam waktu dekat, Clubhouse memang kemungkinan akan merilis versi Android, ditambah lagi akan muncul aplikasi serupa lain seperti Twitter Spaces.

Namun, tetap saja belum semua warga Indonesia bisa berpartisipasi dalam diskusi publik yang terjadi di platform digital dan media sosial.

Survei global dari Pew Research Center pada tahun 2019 mencatat bahwa di Indonesia, 72% lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Sekolah Menengah Atas (SMA) lebih mungkin menggunakan media sosial dibandingkan dengan 23% dari mereka yang berpendidikan lebih rendah.

Artinya, kesenjangan aksesnya dari segi pendidikan sangat besar yakni 49%.

Dominasi kelompok orang yang berpendidikan tinggi juga cukup kuat dalam mendiskusikan isu dan kebijakan publik di media sosial. Padahal kurang dari 15% dari penduduk Indonesia yang berusia 20-39 tahun mengenyam pendidikan tinggi.

Lebih jauh lagi, karena ruang diskusi digital aksesnya masih terbatas bagi sebagian besar warga Indonesia, pembahasannya pun berpotensi didominasi oleh agenda dari mereka yang bisa mengaksesnya – kelas menengah atas.

Kehadiran Clubhouse akan semakin menunjukkan betapa lebarnya kesenjangan ini.

Clubhouse sendiri memungkinkan penggunanya berinteraksi lebih mudah dengan direktur perusahaan start-up, aktivis, politisi, hingga tokoh idola mereka. Hal ini memungkinkan berkurangnya batasan atau sekat untuk berinteraksi dengan individu yang dulunya dianggap ‘tidak terjangkau’ oleh masyarakat umum.

Sayangnya, diskusi yang membawa topik-topik isu sosial-politik di Clubhouse tidak jarang mendapat kritik dari publik. Beberapa waktu lalu, warganet mengkritik diskusi tentang banjir di Jakarta yang diadakan selebriti hingga pebisnis sukses – yang mungkin tidak pernah mengalami kebanjiran.

Fenomena ini mengikut tren terdahulu terkait diskusi media sosial yang bias kelas.

Beberapa akademisi, misalnya, mengamati bagaimana media sosial kerap dijadikan wadah untuk mengkritik selera musik dan acara televisi masyarakat miskin. Tentunya, diskusi ini terjadi pada berbagai platform media sosial di mana akses bagi kelompok yang dikritik sangat minim.

Alih-alih bersifat produktif dan menginspirasi, diskusi justru bisa menenggelamkan suara dari kelompok marjinal yang tidak terwakili dalam ruang diskusi tersebut.

Ketika anggota masyarakat kelas dominan (kelompok menengah ke atas) mendiskusikan isu yang merugikan kelompok masyarakat marjinal, niat baik saja tidak cukup.

Membuat ruang diskusi digital lebih inklusif

Untuk mewujudkan ruang digital yang tidak bias kelas, warganet bisa menarik inspirasi dari bagaimana dunia penelitian memperhatikan inklusivitas ketika membicarakan penelitian sosial-politik.

Sebagai peneliti, kami dilatih untuk berhati-hati terutama ketika membicarakan mengenai pengalaman hidup kelompok marjinal.

Ketika kami melakukannya, setidaknya terdapat 3 hal yang selalu kami perhatikan.

Pertama, menyadari privilese dari posisi pembicara dan mengungkapkan segala kemungkinan bias terkait pengetahuan yang mereka miliki.

Diskusi yang dilakukan bisa dimulai dengan memberikan konteks siapa saja pembicara yang hadir, dan apa saja keterbatasan pengetahuan yang mungkin dimiliki.

Membicarakan isu-isu perempuan dengan pembicara laki-laki, misalnya, dapat diawali dengan bahasan terbuka bahwa mungkin perspektif pembicara perlu dipertentangkan oleh perempuan yang memiliki pengalaman langsung terhadap isu yang diangkat.

Kedua, membuka kesempatan bagi individu marjinal untuk menyuarakan isu dan kebutuhannya sendiri dibandingkan harus diwakili kelompok lain.

Tidak ada pembicara yang lebih baik dibandingkan mereka yang memiliki pengalaman langsung dan pengetahuan yang mumpuni terkait isu yang diangkat, apalagi menyangkut pengalaman kelompok marjinal.

Untuk mengurangi bahasan yang penuh dengan asumsi dan prasangka, kesempatan sebaiknya diberikan langsung ke individu dari kelompok tersebut untuk berbicara.

Ketiga, memegang prinsip untuk sebisa mungkin tidak semakin membahayakan atau membawa ancaman kepada pembicara maupun pendengar dari topik yang dibicarakan.

Artinya, pihak yang terlibat dalam diskusi perlu senantiasa sensitif terhadap potensi bahaya yang mungkin muncul dari diskusi. Jangan sampai pesan yang disampaikan justru melanggengkan stigma dan kerentanan yang dialami individu atau kelompok yang dibicarakan.

Misalnya, stigma terhadap kelompok miskin yang dianggap pemalas dan tidak peduli terhadap lingkungan. Selain belum tentu kebenarannya, stigma ini tidak memberikan jalan keluar dan justru memperkuat perbedaan kelas sosial.

Saat ini, kami sedang mengembangkan kerangka berpikir feminis ‘knowing responsibly’ (mengetahui dengan penuh tanggung jawab). Kerangka berpikir ini mendorong kesadaran bagi mereka yang memiliki privilese untuk lebih rendah hati karena tentu ada modal sosial yang membuat mereka bisa “lebih paham” tentang suatu isu.

Kita pun perlu lebih memperhatikan apakah dampak materiil – seperti uang, honor, atau investasi lain – yang muncul akibat diskusi sosial-politik membawa manfaat untuk kelompok marjinal yang dibahas.

Mengingat semakin banyaknya bentuk pengawasan terhadap masyarakat sipil – apalagi dengan adanya polisi siber – kemunculan media sosial yang memberikan kesempatan untuk diskusi terbuka patut dirayakan di Indonesia.

Namun, eksklusivitas dari media sosial baru seperti Clubhouse memperlihatkan pentingnya keterbukaan akses diskusi bagi individu dari berbagai kelompok.

Clubhouse mungkin akan menjadi media sosial yang kian populer atau sekadar menjadi tren ‘selewat’ bagi kaum muda Indonesia. Namun, semangat membangun ruang diskusi digital yang inklusif adalah sesuatu yang harus terus dipelihara.(*)


The Conversation

Tags:#aplikasi#eksklusif#medsos
Share40SendShare

Related Posts

Akankah Waktu Berhenti?

10/07/2023

PIRAMIDA.ID- Waktu dimulai ketika alam semesta mulai tercipta. Apakah jika alam semesta berakhir maka waktu akan berakhir juga? Kami pikir...

Kesenjangan Gender dalam Sains di Indonesia

29/04/2023

Wati Hermawati* PIRAMIDA.ID- Selama ratusan tahun, sains dipandang sebagai bidang laki-laki dan maskulin. Baru pada dekade 1990-an mulai terungkap secara...

Kenapa Beberapa Orang Bisa ‘Mendengar’ Suara Orang Mati

05/03/2023

PIRAMIDA.ID- Pengalaman clairvoyance dan clairaudience merupakan pengalaman melihat atau mendengar sesuatu tanpa adanya stimulus eksternal, dan dikaitkan dengan roh orang...

Cerita tentang Bedes Bijak (Homosapiens)

27/01/2023

Oleh: Agung Baster* PIRAMIDA.ID- Sejarah manusia yang kita ketahui hari ini sebenarnya tidak lebih dari 1% dari sejarah spesies bedes...

Benarkah Mimpi Merupakan Kelanjutan dari Kehidupan Dunia Nyata?

27/01/2023

PIRAMIDA.ID- Dari mana mimpi berasal? Itu merupakan pertanyaan yang banyak diajukan orang. Peradaban kuno menginpretasikan mimpi sebagai kekuatan supernatural atau...

ilustrasi: tirto.id/Gery

Apa itu Teori Evolusi Darwin?

27/01/2023

PIRAMIDA.ID- Teori evolusi dengan seleksi alam, yang pertama kali dirumuskan dalam buku Darwin “On the Origin of Species” pada tahun...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

Keamanan Bukan Intimidasi, KOMRAD Pancasila Bela Langkah Preventif Polda Jateng Terkait Kasus Sukoharjo

31/10/2026
Berita

Minim Kegiatan Pemuda, KNPI Desak Kepala Dispora Simalungun Dicopot

28/10/2026
Berita

10 Bulan Menjabat Bob Saragih Dinilai Gagal, Ketua ILAJ: Pada Hari Sumpah Pemuda Ini Kami Minta Bupati Copot Kadispora Simalungun

28/10/2026
Berita

Matinya kepakaran merupakan persoalan yang semakin relevan di tengah perkembangan teknologi informasi dan kemudahan akses internet

23/10/2026
Berita

Aktivis Antikorupsi Kritik Wacana Redefinisi Korupsi: Berpotensi impunitas

23/10/2026
Berita

ILAJ Minta Kajari Simalungun Serius Tangani Dugaan Korupsi Dana TPG Di SD Al Washliyah 90 Sinaksak

17/10/2026

Populer

Berita

Keamanan Bukan Intimidasi, KOMRAD Pancasila Bela Langkah Preventif Polda Jateng Terkait Kasus Sukoharjo

31/10/2026
Berita

10 Bulan Menjabat Bob Saragih Dinilai Gagal, Ketua ILAJ: Pada Hari Sumpah Pemuda Ini Kami Minta Bupati Copot Kadispora Simalungun

28/10/2026
Berita

Minim Kegiatan Pemuda, KNPI Desak Kepala Dispora Simalungun Dicopot

28/10/2026
Edukasi

Aksi Demo Mahasiswa dan Buruh dalam Perumusan UU Cipta Kerja dilihat dari Pandangan Sosiologi Konflik

25/10/2022
Ilustrasi: dw.com
Dialektika

Zoroaster, Agama Pertama Yang Menyembah Satu Tuhan

15/06/2020
Berita

Jaksa Rumondang Manurung tuntut 1 Tahun penjara petugas Imigrasi yang membantu mengatur penyelundupan Narkotika Cair

23/07/2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus