Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Kamis, Oktober 29, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeDialektika

Eksistensi ABRI Sebagai Aktor Kekuatan Politik Pasca Orde Baru

byRedaksi
16/11/2022
inDialektika
101
SHARES
721
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

Oleh: Aulia Sindi Pifua*

PIRAMIDA.ID- Berbicara mengenai politik merupakan satu hal yang sangat menarik, namun perlu digarisbawahi juga bahwa tidak semua orang tertarik dengan politik itu. Sejak Indonesia merdeka, sangat banyak sekali terjadi perubahan perubahan akan sistem perpolitikan di Indonesia, khususnya mengenai sistematika kekuatan politik itu sendiri.

Kemampuan suatu kelompok dalam mempengaruhi proses pembuatan dan perumusan keputusan keputusan politik yang menyangkut masyarakat umum merupakan defenisi dari kekuatan politik. Salah satu aktor kekuatan politik Indonesia pasca Orde Baru adalah ABRI.

Menurut berbagai sumber yang saya baca, sejarah perkembangan ABRI berawal dari lahirnya Badan Keamanan Rakyat (BKR) tanggal 22 Agustus 1945. Kemudian menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada tanggal 5 Oktober 1945, diubah lagi namanya menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Tanggal 26 Januari 1946, TKR diubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan tanggal 3 Juni 1947 TRI diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Istilah ABRI lahir ketika penyatuan angkatan-angkatan dan kepolisian ke dalam satu wadah, dwifungsi ABRI diawali dengan banyaknya kekosongan dalam pemerintahan sipil pasca proklamasi kemerdekaan, sehingga dari inisiatif para pemimpin militer pada saat itu diusulkan untuk diisi oleh golongan militer.

Kemudian rapuhnya pemerintahan sipil di bawah Presiden Soekarno dalam menyikapi perubahan cara pandang golongan militer sehingga terjadi ketidaksesuaian pendapat antara golongan pemerintah dengan golongan militer.

Namun dapat kita lihat bersama, peran ABRI sebagai kekuatan sosial politik dapat dilaksanakan melalui berbagai cara dan bentuk, di antaranya adalah dengan mengemukakan konsepsi, tanggapan, pandangan, usul, di segala bidang kehidupan, di bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan hankam yang menyangkut kepentingan masyarakat, baik dalam forum resmi maupun tidak resmi.

Peran ABRI sebagai kekuatan politik di Indonesia, menitikberatkan pada pemeliharaan dan pemantapan stabilitas politik dalam rangka menjamin kesinambungan pembangunan nasional.

Dalam catatan sejarah, peran Dwifungsi sudah terlihat nyata pada tahun 1946 akibat kegagalan peran politik sipil dalam membangun demokrasi dan modernisasi. Sehingga pada masa Orde Baru keterlibatan ABRI dalam kancah politik di Indonesia mulai dikembangkan baik dalam pemerintahan maupun kenegaraan. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa peran dalam kancah politik di Indonesia.

Beberapa eksistensi atau peran ABRI dalam politik pasca Orde Baru, yaitu: kemampuan ABRI untuk berkomunikasi dengan rakyat ,yang di mana ABRI secara langsung mendorong masyarakat untuk aktif dalam partisipasi maupun pembangunan politik. Kemudian kesadaran nasional yang tinggi oleh setiap prajurit ABRI, serta ABRI sebagai Golongan Karya (Golkar) dan sekaligus wakil rakyat, dan ABRI juga beperan dalam pemilihan umum.

Maka kesimpulan yang bisa saya tuliskan adalah peran ABRI dalam bidang politik di Indonesia pada masa Orde Baru ditujukan pada fungsi kekaryaan ABRI. Sasaran ABRI sebagai kekuatan politik di indonesia merupakan sasaran kekaryaan ABRI, yaitu: bidang ideologi salah satunya melalui terwujudnya Penghayatan dan Pengamalan Pancasila secara mantap di kalangan masyarakat. Bidang politik melalui ABRI sebagai dinamisator dan stabilisator diharapkan mampu menciptakan stabilitas nasional yang mantap dan dinamis guna menunjang suksesnya pembangunan nasional dan terpeliharanya ketahanan nasional.(*)


Penulis merupakan Mahasiswa Ilmu Politik Fakultas Hukum Universitas Jambi.

Tags:#abri#analisa#sejarah
Share40SendShare

Related Posts

Ngobrol Pintar CS KERAS Bahas Dugaan Keterlibatan Wali Kota Siantar dalam Pembelian Eks Rumah Singgah COVID-19

02/07/2026

PIRAMIDA.ID – ALIANSI CS KERAS (Control Sosial – Kumpulan Elemen Rakyat Anti Suap) menggelar diskusi publik bertajuk NGOPI (Ngobrol Pintar) dengan...

Menantang Narasi Pikiran Ferry Irwandi Desak Reformasi Total Polri

05/09/2025

PIRAMIDA.ID - Seruan Ferry Irwandi dalam beberapa media berita online yang mendesak “reformasi total Polri” terdengar lantang, tetapi jika ditelisik...

Pidato Lengkap Jefri Gultom di Dies Natalis GMKI ke-74: Bangkit Ditengah Pergumulan

26/02/2024

Bangkit Ditengah Pergumulan Pidato 74 tahun GMKI Jefri Edi Irawan Gultom Para peletak sejarah selalu berpegang pada prinsip ini, ‘’perjalanan...

Pewaris Opera Batak

11/07/2023

Oleh: Thompson Hs* PIRAMIDA.ID- Tahun 2016 saya menerima Anugerah Kebudayaan dari Kemdikbud (sekarang Kemendikbudristek) Republik Indonesia di kategori Pelestari. Sederhananya,...

Mengapa Membahas Masa Depan Guru “Dianggap” Tidak Menarik?

01/05/2023

Oleh: Agi Julianto Martuah Purba PIRAMIDA.ID- “Mengapa sejauh ini kampus kita tidak mengadakan seminar tentang tantangan dan strategi profesi guru di...

Membangun Demokrasi: Merawat Partisipasi Perempuan di Bidang Politik

14/04/2023

Oleh: Anggith Sabarofek* PIRAMIDA.ID- Demokrasi, perempuan dan politik merupakan tiga unsur yang saling berkesinambungan satu dengan yang lain. Berbicara mengenai...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

Minim Kegiatan Pemuda, KNPI Desak Kepala Dispora Simalungun Dicopot

28/10/2026
Berita

10 Bulan Menjabat Bob Saragih Dinilai Gagal, Ketua ILAJ: Pada Hari Sumpah Pemuda Ini Kami Minta Bupati Copot Kadispora Simalungun

28/10/2026
Berita

Matinya kepakaran merupakan persoalan yang semakin relevan di tengah perkembangan teknologi informasi dan kemudahan akses internet

23/10/2026
Berita

Aktivis Antikorupsi Kritik Wacana Redefinisi Korupsi: Berpotensi impunitas

23/10/2026
Berita

ILAJ Minta Kajari Simalungun Serius Tangani Dugaan Korupsi Dana TPG Di SD Al Washliyah 90 Sinaksak

17/10/2026
Berita

ILAJ Nilai Kajari Simalungun Lambat Tetapkan Tersangka Dugaan Pungli PDAM Tirta Lihou, Potensi Kerugian Warga Rp225 Juta

17/10/2026

Populer

Berita

10 Bulan Menjabat Bob Saragih Dinilai Gagal, Ketua ILAJ: Pada Hari Sumpah Pemuda Ini Kami Minta Bupati Copot Kadispora Simalungun

28/10/2026
Berita

Minim Kegiatan Pemuda, KNPI Desak Kepala Dispora Simalungun Dicopot

28/10/2026
Berita

Aktivis Antikorupsi Kritik Wacana Redefinisi Korupsi: Berpotensi impunitas

23/10/2026
Ilustrasi: dw.com
Dialektika

Zoroaster, Agama Pertama Yang Menyembah Satu Tuhan

15/06/2020
Berita

Matinya kepakaran merupakan persoalan yang semakin relevan di tengah perkembangan teknologi informasi dan kemudahan akses internet

23/10/2026
Edukasi

Aksi Demo Mahasiswa dan Buruh dalam Perumusan UU Cipta Kerja dilihat dari Pandangan Sosiologi Konflik

25/10/2022
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus