Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Dialektika

Hidup tanpa adanya Hukum dan Aturan, Mungkinkah?

catur tanpa peraturan bukanlah catur/Getty Images

PIRAMIDA.ID- Kita semua merasakan kehadiran aturan yang menekan, baik yang tertulis maupun tidak tertulis – ini sebenarnya aturan hidup.

Ruang publik, organisasi, pesta makan malam, bahkan hubungan dan percakapan santai penuh dengan aturan dan birokrasi yang tampaknya ada untuk menentukan setiap gerakan kita.

Kita menentang aturan yang merupakan penghinaan terhadap kebebasan dan berpendapat bahwa aturan itu “ada untuk dilanggar”.

Tetapi para ilmuwan percaya bahwa bukan aturan, norma dan kebiasaan pada umumnya yang menjadi masalah – tetapi ketidakadilan.

Bagian yang rumit dan penting, mungkin, adalah membangun perbedaan di antara keduanya.

Kita bisa mulai membayangkan hidup di dunia tanpa aturan.

Terlepas dari tubuh kita yang mengikuti beberapa hukum biologis yang sangat ketat dan kompleks, kata-kata yang saya tulis sekarang mengikuti aturan tata bahasa.

Dalam momen Byronic dari individualisme artistik, kita mungkin berpikir untuk membebaskan diri dari aturan tata bahasa.

Tetapi apakah kebebasan linguistik baru ini benar-benar bermanfaat bagi kita atau membebaskan pikiran kita?

Beberapa – Lewis Carroll dalam puisinya Jabberwocky, misalnya – telah membuat tingkat keberhasilan anarki sastra.

Byron adalah seseorang yang sering melaggar aturan dalam kehidupan pribadinya, tetapi ia juga seorang yang setia pada aturan dalam berpuisi.

Dalam puisinya, When We Two Parted, misalnya, Byron menulis tentang cinta terlarang, cinta yang melanggar aturan, tetapi menulisnya dengan mengikuti beberapa peraturan menulis puisi yang sudah ada.

Dan banyak yang akan berpendapat bahwa puisi itu menjadi lebih kuat karenanya.

Pertimbangkan juga, bagaimana aturan adalah inti dari olahraga, permainan, dan teka-teki – bahkan ketika seluruh tujuan kegiatan itu seharusnya adalah membuat kita bahagia.

Aturan catur, katakanlah, dapat memicu kemarahan jika saya hampir kalah.

Demikian pula, sebutkan pada saya penggemar sepak bola yang belum pernah mengamuk melawan aturan offside.

Tetapi catur atau sepak bola tanpa aturan tidak tidak akan menjadi catur atau sepak bola – mereka sepenuhnya akan menjadi aktivitas tanpa bentuk dan tidak berarti.

Banyak norma kehidupan sehari-hari yang melakukan fungsi yang persis sama dengan aturan permainan – memberi tahu kita “gerakan” apa yang bisa kita lakukan, dan tidak bisa kita lakukan.

Kebiasaan mengucapkan “tolong” dan “terima kasih” yang tampaknya sangat menjengkelkan bagi anak-anak – adalah bagian dari apa yang membuat interaksi sosial kita berjalan dengan lancar.

Dan peraturan tentang mengemudi di kiri atau kanan, berhenti di lampu merah, antri, tidak membuang sampah sembarangan, masuk dalam kategori yang sama.

Aturan itu adalah blok bangunan masyarakat yang harmonis.

Tentu saja, telah lama ada keinginan di antara beberapa orang untuk kehidupan masyarakat yang kurang formal, masyarakat tanpa pemerintah, dunia di mana kebebasan individu lebih diutamakan: anarki.

Masalah dengan anarki, bagaimanapun, adalah bahwa keadaan itu secara inheren tidak stabil – manusia terus menerus, dan secara spontan, menghasilkan aturan baru yang mengatur perilaku, komunikasi dan pertukaran ekonomi, dan mereka melakukannya secepat aturan lama dibongkar.

Beberapa dekade yang lalu, kata ganti generik laki-laki dalam bahasa Inggris adalah: he/him/his.

Aturan itu, sebagian besar telah diganti – bukan oleh ketiadaan aturan, tetapi oleh seperangkat aturan yang berbeda dan lebih luas yang mengatur penggunaan kata ganti secara lebih bervariasi.

Atau mari kita kembali ke kasus olahraga.

Dulu sepak bola dapat dimulai dengan menendang kandung kemih babi dari satu ujung desa ke yang lain, dengan tim-tim yang tidak jelas, dan berpotensi menyebabkan kekerasan kerusuhan di akhir permainan.

Tetapi akhirnya, setelah beberapa abad, muncul buku peraturan yang sangat rumit mendikte setiap detail permainan.

Bahkan ada badan pemerintahan internasional untuk mengawasi sepak bola.

Ekonom politik Elinor Ostrom, yang menerima Hadiah Nobel untuk bidang ekonomi pada tahun 2009, mengamati fenomena yang sama dari konstruksi pemerintahan ketika orang secara kolektif mengelola sumber daya bersama seperti tanah bersama, perikanan, atau air untuk irigasi.

Dia menemukan bahwa orang secara kolektif membuat aturan tentang, katakanlah, berapa banyak sapi yang dapat digembalakan, di mana, dan kapan; siapa yang mendapatkan berapa banyak air, dan apa yang harus dilakukan ketika sumber daya terbatas; siapa yang memantau siapa, dan aturan mana yang menyelesaikan perselisihan.

Aturan-aturan ini tidak hanya dibuat oleh para penguasa dan dipaksakan dari atas ke bawah – tapi muncul dari kebutuhan interaksi sosial dan ekonomi yang disepakati.

Desakan untuk membatalkan peraturan yang menyesakkan, tidak adil, atau benar-benar tidak ada gunanya, sepenuhnya dibenarkan.

Tetapi tanpa beberapa aturan – dan kecenderungan masyarakat untuk mematuhinya – masyarakat akan meluncur dengan cepat ke dalam kekacauan.

Memang, banyak ilmuwan sosial melihat kecenderungan manusia untuk membuat, mematuhi, dan menegakkan aturan sebagai dasar kehidupan sosial dan ekonomi.

Hubungan kita dengan aturan tampaknya unik.

Sementara manusia membuat dan memelihara aturan dengan menghukum pelanggar aturan, simpanse – saudara terdekat kita – tidak.

Simpanse mungkin membalas ketika makanan mereka dicuri tetapi, yang terpenting, mereka tidak menghukum pencuri makanan secara umum – bahkan jika korbannya adalah kerabat dekat.

Pada manusia, aturan juga berlaku sejak dini.

Eksperimen menunjukkan bahwa anak-anak, pada usia tiga tahun, dapat diajari aturan sepenuhnya untuk bermain gim.

Tidak hanya itu, ketika “boneka” (yang dikontrol oleh seorang eksperimen) mulai melanggar peraturan, anak-anak akan mengkritik boneka itu, memprotes dengan komentar seperti “Anda melakukan kesalahan itu!” Mereka bahkan akan berusaha mengajari boneka untuk melakukan yang lebih baik.

Memang, meskipun kita memprotes hal yang sebaliknya, aturan tampaknya tertanam dalam DNA kita.

Faktanya, kemampuan spesies kita untuk terikat dan menegakkan aturan sangat penting bagi keberhasilan kita sebagai spesies.

Jika masing-masing dari kita harus mencari alasan setiap aturan dari awal (mengapa kita mengemudi di sebelah kiri di beberapa negara, dan di sebelah kanan di negara lain; mengapa kita mengatakan tolong dan terima kasih), pikiran kita akan terus bekerja tanpa henti.

Sebaliknya, kita dapat mempelajari sistem norma-norma linguistik dan sosial yang sangat kompleks tanpa mengajukan terlalu banyak pertanyaan – kita hanya cukup menerimanya sebagai “cara kita melakukan sesuatu di sini”.

Tetapi kita harus berhati-hati – karena dengan cara ini ada pula tirani.

Manusia memiliki perasaan kuat untuk menegakkan aturan, bahkan kadang-kadang menindas.

Bahaya bisa terjadi jika orang menjadi begitu giat tentang aturan berpakaian yang sewenang-wenang, pembatasan diet, dan lain-lain, sehingga mereka dapat menuntut hukuman paling ekstrem untuk mempertahankan aturan.

Para ideolog politik dan penganut agama fanatik sering kali melakukan hal seperti itu – tetapi begitu juga negara-negara yang represif, bos-bos yang mengintimidasi dan pasangan-pasangan yang memaksa: aturan harus dipatuhi, hanya karena itu adalah aturannya.

Dan kemudian bisa terjadi pula aturan terus ditambahkan dan diperluas, sehingga kebebasan individu semakin dibatasi.https://www.piramida.id/wp-admin/post-new.php

Pembatasan renovasi bangunan kuno bisa sangat ketat sehingga tidak ada renovasi yang layak dan bangunan runtuh; izin lingkungan untuk hutan baru bisa sangat parah sehingga penanaman pohon menjadi hampir mustahil; peraturan tentang penemuan obat bisa sangat sulit sehingga obat yang berpotensi sangat penting tidak jadi diproduksi.

Individu, dan masyarakat, menghadapi pertempuran terus-menerus terhadap aturan – dan kita harus berhati-hati tentang tujuan aturan itu.

Jadi, ya, “berdiri di sebelah kiri” di eskalator dapat mempercepat perjalanan semua orang yang mau bekerja – tetapi berhati-hatilah dengan aturan yang tidak memiliki manfaat nyata bagi semua, dan terutama yang mendiskriminasi, menghukum, dan mengutuk.

Aturan bergantung pada persetujuan kita.

Dan aturan yang tidak mendapat persetujuan dapat menjadi instrumen tirani.

Jadi mungkin saran terbaik adalah mengikuti aturan, tetapi selalu bertanya mengapa aturan itu ada.


Sumber: BBC Future

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....