Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Minggu, September 20, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeDunia

Kenapa Suku Aztek Suka Bikin Ritual Pengorbanan Manusia Berdarah-darah

byRedaksi
14/10/2021
inDunia
101
SHARES
721
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Pada tahun 1521 penakluk dari Spanyol Hernán Cortés dan para anak buahnya tiba di ibu kota Aztek, Tenochtitlán. Menurut cerita mereka, di sana mereka menyaksikan upacara yang mengerikan.

Dalam upacara atau ritual tersebut, para pendeta Aztek membelah dada orang-orang yang jadi tumbal pengorbanan manusia dengan menggunakan pisau obsidian yang tajam. Mereka kemudian mempersembahkan jantung para korban yang masih berdetak kepada para dewa.

Kebrutalan ritual tak sampai di situ. Sikap kejam para pendeta Aztek tak cuma tecermin pada cara membunuh para korban tersebut, tetapi juga pada cara menangani tubuh para korban yang sudah meninggal. Setelah mengambil jantung para tumbal yang malang, para pemuka kepercayaan suku itu kemudian melemparkan tubuh para korban yang tak bernyawa tersebut ke bawah tangga kuil Templo Mayor yang menjulang tinggi.

Andrés de Tapia, salah seorang conquistador atau penakluk dari Spanyol, menggambarkan dua menara bundar yang mengapit Templo Mayor itu seluruhnya terbuat dari tengkorak manusia. Di antara kedua menara tersebut, ada sebuah rak kayu yang menjulang tinggi yang menjadi tempat ribuan tengkorak dengan lubang-lubang di kedua sisinya yang memungkinkan tengkorak-tengkorak itu ditumpuk ke tiang-tiang kayu.

Membaca kisah-kisah ini ratusan tahun kemudian, banyak sejarawan menolak laporan-laporan abad ke-16 tersebut. Awalnya mereka menganggap laporan-laporan itu sebagai propaganda liar yang dilebih-lebihkan yang dimaksudkan untuk membenarkan pembunuhan kaisar Aztek Moctezuma, penghancuran Tenochtitlán yang kejam, dan perbudakan rakyatnya.

Namun pada tahun 2015 dan 2018, para arkeolog yang bekerja di situs penggalian Templo Mayor di Mexico City menemukan bukti ritual pengorbanan manusia yang meluas di antara suku Aztek. Bukti-bukti itu adalah menara-menara tengkorak dan rak-rak tengkorak sebagaimana yang pernah digambarkan oleh para penakluk dalam catatan-catatan mereka.

Sejarawan Spanyol Fray Diego de Durán melaporkan bahwa setidaknya 80.400 pria, wanita, dan anak-anak telah dikurbankan untuk upacara di Templo Mayor di bawah kaisar Aztek sebelumnya. Bukti-bukti arkeologi yang semakin banyak ditemukan membuktikan bahwa ilustrasi-ilustrasi mengerikan yang ada dalam teks-teks berbahasa Spanyol pada abad ke-16 dan gambar-gambar dalam mural kuil dan ukiran batu mengenai ritual mengerikan suku Aztek itu ternyata benar.

Pertanyaannya, mengapa orang-orang Aztek melakukan upacara brutal seperti itu? John Verano, seorang profesor antropologi di Tulane University, menjelaskan bahwa praktik ritual pengorbanan manusia tersebut memiliki makna spiritual bagi suku Aztek.

“Itu adalah hal yang sangat serius dan penting bagi mereka,” kata Verano, seperti dikutip dari History.

Verano menjelaskan bahwa ritual pengorbanan manusia besar dan kecil akan dilakukan sepanjang tahun bertepatan dengan tanggal-tanggal kalender penting suku Aztek. Ritual-ritual itu dilakukan untuk pemujaan, untuk membalikkan kekeringan dan kelaparan, dan banyak lagi.

Alasan pengorbanan manusia Aztek adalah, pertama dan terutama, masalah kelangsungan hidup. Menurut kosmologi Aztec, dewa matahari Huitzilopochtli mengobarkan perang terus-menerus melawan kegelapan, dan jika kegelapan menang, dunia akan berakhir. Agar matahari tetap bergerak melintasi langit dan melestarikan kehidupan mereka, suku Aztek harus memberi makan Huitzilopochtli dengan jantung dan darah manusia.

Ritual pengorbanan manusia juga memiliki tujuan lain dalam perluasan kerajaan Aztek pada abad ke-15 dan ke-16, yakni intimidasi. Pembunuhan ritual tawanan perang dan pameran tengkorak dalam skala besar adalah pengingat mendalam akan kekuatan kekaisaran dan luasnya kekuasaannya.

Tes DNA dari korban-korban yang didapat dari situs Templo Mayor menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka yang dikorbankan adalah orang-orang luar, kemungkinan tentara musuh atau budak.

Verano mengatakan bahwa di sepanjang sejarah dan budaya, munculnya ritual pengorbanan manusia sering kali bertepatan dengan munculnya masyarakat yang kompleks dan stratifikasi sosial. Ini adalah metode yang sangat efektif untuk mengintimidasi para pesaing dan menjaga agar orang-orang Anda tetap sejalan. Ia mencontohkan, lihat saja pertempuran para gladiator di Kekaisaran Romawi atau penguburan massal para pelayan dan tawanan bersama para firaun Mesir dan para raja Cina.

Selain mengiris jantung para korban dan menumpahkan darah mereka di altar kuil, diyakini bahwa suku Aztek juga mempraktikkan suatu bentuk ritual kanibalisme. Mayat korban, setelah dipenggal kepalanya, kemungkinan akan diberikan kepada bangsawan dan anggota masyarakat terkemuka lainnya.

Ilustrasi dari teks-teks abad keenam belas menggambarkan adanya bagian-bagian tubuh yang dimasak dalam panci besar. Selain itu, para arkeolog juga telah mengidentifikasi tanda-tanda adanya tukang jagal pada tulang-tulang sisa-sisa manusia di situs Aztek di sekitar Mexico City.

Ada satu teori bahwa suku Aztek hanya terlibat dalam ritual kanibalisme selama masa kelaparan. Namun ada juga teori lain yang mengatakan bahwa memakan daging seseorang yang dipersembahkan kepada para dewa seperti berkomunikasi dengan para dewa itu sendiri.

Meski terdengar tidak masuk akal, Verano mengatakan bahwa ritual kanibalisme kemungkinan besar ada di antara suku Aztek. Ritual kanibalisme tersebut, menurut Verano, tidak hanya dianggap normal, tetapi juga merupakan suatu kehormatan besar bagi orang-orang Aztek.(*)


National Geographic Indonesia

Tags:#amerika#Budaya#hernandocortes#sejarah#sukuaztek
Share40SendShare

Related Posts

KOMRAD : Jakarta Buktikan Diri, Dari Kota Rawan Jadi Salah Satu Kota Teraman Di ASEAN

09/04/2026

PIRAMIDA.ID | Jakarta, 8 April 2026 - Koordinator Nasional Komrad Pancasila, Antony Yudha Benusu, menyampaikan apresiasi sekaligus penegasan bahwa Jakarta...

Perang Israel-Iran Menunjukkan Pentingnya STEM, Fawer Sihite: Dukung Sikap Presiden Prabowo

22/06/2025

PIRAMIDA.ID - Dalam sebuah wawancara eksklusif yang berlangsung di Mall Atrium Senen, Jakarta Pusat, Fawer Sihite menegaskan bahwa perang antara...

Kebahagiaan Berasal dari Keyakinan dalam Diri

10/07/2023

PIRAMIDA.ID- Pernahkah Anda berkata pada diri sendiri saat marah, ‘Saya tidak boleh marah?' Atau mungkin ketika Anda merasa sedikit sedih,...

Mengapa Orang Terlihat Serius dan Tidak Tersenyum di Foto-foto Kuno?

30/04/2023

PIRAMIDA.ID- Foto-foto pertama diambil pada akhir tahun 1820-an. Tetapi sampai tahun 1920-an, tampaknya orang-orang mulai “belajar” tersenyum saat di foto....

Bagaimana Asal Usul Jabat Tangan?

02/04/2023

PIRAMIDA.ID- Kita sudah begitu terbiasa berjabat tangan dengan orang lain, kita hampir tidak memikirkan bagaimana, di mana, dan mengapa kebiasaan...

Marcus Aurelius: Kaisar Romawi Baik Hati yang Juga Seorang Filsuf

05/03/2023

PIRAMIDA.ID- Marcus Aurelius lahir pada 26 April 121 Masehi di Roma dengan nama lahir Marcus Annius Verus. Perjalanan hidupnya membuat...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

Demisioner Ketua Umum HMI Cabang Pematangsiantar-Simalungun priode 2024-2025 : Robert Hidayat Pardosi Tantang Kapolres Simalungun komitmen terkait pemberantasan judi dan narkoba 

14/09/2026
Berita

PMKRI Pematangsiantar Serukan Rekonsiliasi Nasional, Tegaskan Organisasi Terlalu Besar untuk Dikorbankan dalam Dualisme

10/09/2026
Berita

DITENGAH ANCAMAN KARHUTLA, DPD GMNI SOROTI DUGAAN PELANGGARAN LAHAN HCV PT LONSUM ! SERUKAN KEBERLANJUTAN EKOLOGIS SUMATERA UTARA.

08/09/2026
Berita

PMKRI Cabang Pematangsiantar Gelar Camping Rohani 2026: Perkuat Iman Orang Muda dan Komitmen Ekowisata Melalui Penanaman Pohon

08/09/2026
Berita

4 Terdakwa Pembunuh Calon LC dituntut Hukuman Mati, Utusan Sarumaha Kaget dan Sebut Kliennya Tidak Sejajar dengan Terdakwa lain

07/09/2026
Berita

Think Talk: RUU Perampasan Aset Jangan Hanya Dikejar untuk Disahkan

07/09/2026

Populer

Edukasi

Kamus Digital Bahasa Batak ke Dalam Bahasa Indonesia

20/11/2022
Berita

Demisioner Ketua Umum HMI Cabang Pematangsiantar-Simalungun priode 2024-2025 : Robert Hidayat Pardosi Tantang Kapolres Simalungun komitmen terkait pemberantasan judi dan narkoba 

14/09/2026
ilustrasi: tirto.id/Gery
Sains

Apa itu Teori Evolusi Darwin?

27/01/2023
Berita

Diduga Terjadi Tindakan Represif terhadap Warga; Mahasiswa Kecam Keras Sikap Subkontraktor BP Batam

07/09/2026
Berita

Jaksa Rumondang Manurung tuntut 1 Tahun penjara petugas Imigrasi yang membantu mengatur penyelundupan Narkotika Cair

23/07/2026
Berita

Bos Mega Mall, Bowie Jonatan Dihukum 2 Bulan 25 Hari, Kajari dan Kasintel Kejari Batam Bungkam Seribu Bahasa

08/08/2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber