Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Sabtu, Juni 6, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeDunia

Sekilas tentang Abad Kegelapan: Apakah Kesenian juga Menjadi “Gelap”?

byRedaksi
04/07/2022
inDunia
116
SHARES
829
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Setelah kekaisaran raksasa Romawi Kuno perlahan menyusut hingga akhirnya tumbang dan hilang di tahun 476 M, maka hingga bertahun-tahun (bahkan berabad-abad) kemudian, masa tersebut dikatakan sebagai “era kegelapan”. Karena itu, masa setelah “era kegelapan” disebut pula sebagai “era pencerahan”.Apa yang menyebabkan era itu disebut “kegelapan”? Catatan dan sejumlah literatur menyebutkan bahwa nama Francesco Petrarch, seorang seniman, sastrawan, dan ilmuwan dari era “pencerahan” yang pertama kali menyebutkan abad pertengahan awal sebagai era kegelapan. Disebut era kegelapan dengan berbagai alasan, yang pertama adalah tingkat literasi, serta tingkat “melek huruf” di era kegelapan cukup rendah, apalagi bila dibandingkan dengan era renesains.

Alasan kedua adalah, pencapaian tertinggi di bidang seni adalah era Romawi kuno. Tentunya, pondasi utama dari kesenian era Romawi kuno adalah Yunani kuno. Dan di era “kegelapan” belum ada pencapaian artistik yang lebih tinggi dari era kuno tersebut. Petrarch menyebut bahwa masa tersebut sangat gelap, kacau, dan tidak menghasilkan pencapaian yang lebih hebat dari era sebelumnya, baik di ilmu pengetahuan maupun kesenian.

Romawi yang telah tumbang, akhirnya menjadikan pemerintahan atau institusi yang paling kuat di Eropa adalah gereja. Maka, raja dan ratu di era “kegelapan” mulai kehilangan taring. Kelebihannya adalah, tidak ada satupun raja-raja ini yang mampu memonopoli kekuasaan di Eropa. Semuanya akan tunduk di bawah kekuatan besar yang ada di tangan gereja.

Dominasi gereja dinilai oleh para cendikiawan era renesains sebagai “tindakan yang menahan kemajuan intelektual, dengan tujuan meningkatkan keimanan pada agama”. Dengan premis ini, para cendikiawan era pencerahan menganggap bahwa era sebelumnya sebagai era yang “gelap”.

Namun, apakah benar era tersebut benar-benar “gelap” seperti yang tercatat di literatur era pencerahan? Faktanya masih banyak juga penemuan yang muncul di era “kegelapan” yang menjadi inovasi yang mewarnai dunia. Paling terasa di bidang pertanian, ketika banyak penemuan alat bajak sawah dan tanah yang lahir di era tersebut. Saat itu, kuda menjadi hewan yang paling sering mendapatkan “inovasi”. Mulai dari penggunaan kuda sebagai penarik gerobak, kendaraan, dan bajak. Sampai penggunaan “sepatu kuda” yang terbuat dari logam.

 

Inovasi tersebut bahkan masih digunakan hingga hari ini. Sejumlah literatur juga mencatat bahwa di era yang disebut “kegelapan” tersebut, dunia pertanian mengalami kemajuan yang pesat dan mengagumkan.

Ilmu Pengetahuan dan Seni di Era Kegelapan

Terpenting adalah, abad kegelapan tersebut justru tidak berlaku untuk Islam. Di era “kegelapan” tersebut, justru di dunia Islam menunjukkan peningkatan yang signifikan di bidang sains, matematika, hingga kesenian. Dari Baghdad, yang menjadi pusat Persia era tersebut, lahir nama-nama filsuf, cendikiawan, dan sastrawan Islam yang menemukan banyak terobosan baru.

Sebut saja Al-Khawariz yang di tahun 800-an menemukan persamaan linier, kuadrat, dan hingga saat ini disebut sebagai “Algoritma”. Algoritma adalah nama latin dari Alkhawariz.

Sedangkan di Eropa, juga muncul inovasi di bidang literatur, sastra, dan kesenian. Bayangkan saja, pertama kali naskah tulisan tangan standar justru diperkenalkan ketika era raja Charlemagne yang dinobatkan oleh Paus Leo III menjadi “Kaisar Romawi Suci” era tahun 800-an. Sejumlah produksi buku, dokumen, dan produk literasi lainnya juga terbit di tahun itu.

Sejumlah teknik pengajaran di sekolah, pembuatan kurikulum, dan sebagainya juga menjadi pondasi untuk era berikutnya. Teks-teks klasik terutama berbahasa latin direproduksi agar tetap lestari. Bangunan dengan arsitektur gaya Romawi juga dibangun kembali.

Jadi, apakah abad kegelapan itu benar-benar gelap? Terutama untuk kesenian? Tentunya, Anda bisa menyimpulkan sendiri.(*)


Pojok Seni

Tags:#abadkegelapan#eropa#kesenian
Share46SendShare

Related Posts

KOMRAD : Jakarta Buktikan Diri, Dari Kota Rawan Jadi Salah Satu Kota Teraman Di ASEAN

09/04/2026

PIRAMIDA.ID | Jakarta, 8 April 2026 - Koordinator Nasional Komrad Pancasila, Antony Yudha Benusu, menyampaikan apresiasi sekaligus penegasan bahwa Jakarta...

Perang Israel-Iran Menunjukkan Pentingnya STEM, Fawer Sihite: Dukung Sikap Presiden Prabowo

22/06/2025

PIRAMIDA.ID - Dalam sebuah wawancara eksklusif yang berlangsung di Mall Atrium Senen, Jakarta Pusat, Fawer Sihite menegaskan bahwa perang antara...

Kebahagiaan Berasal dari Keyakinan dalam Diri

10/07/2023

PIRAMIDA.ID- Pernahkah Anda berkata pada diri sendiri saat marah, ‘Saya tidak boleh marah?' Atau mungkin ketika Anda merasa sedikit sedih,...

Mengapa Orang Terlihat Serius dan Tidak Tersenyum di Foto-foto Kuno?

30/04/2023

PIRAMIDA.ID- Foto-foto pertama diambil pada akhir tahun 1820-an. Tetapi sampai tahun 1920-an, tampaknya orang-orang mulai “belajar” tersenyum saat di foto....

Bagaimana Asal Usul Jabat Tangan?

02/04/2023

PIRAMIDA.ID- Kita sudah begitu terbiasa berjabat tangan dengan orang lain, kita hampir tidak memikirkan bagaimana, di mana, dan mengapa kebiasaan...

Marcus Aurelius: Kaisar Romawi Baik Hati yang Juga Seorang Filsuf

05/03/2023

PIRAMIDA.ID- Marcus Aurelius lahir pada 26 April 121 Masehi di Roma dengan nama lahir Marcus Annius Verus. Perjalanan hidupnya membuat...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

PA Simalungun dan Posbakum Perkuat Komitmen Berikan Akses Keadilan Masyarakat.

06/06/2026
Berita

Ketua BEM FE USI: Uang Rakyat Harus Kembali untuk Rakyat

03/06/2026
Berita

Jakarta Bisa Kalahkan Sampah! Komrad Pancasila Puji Gebrakan Polda Metro, Kodam Jaya dan Pemprov DKI Jakarta Lewat Gerakan Pilah Sampah

03/06/2026
Berita

Pancasila Bukan Hanya Seremonial: Saatnya Menjadi Etika Kekuasaan dan Jalan Keadilan Rakyat

01/06/2026
Berita

KNPI Simalungun Apresiasi Pemkab Simalungun Pertahankan Opini WTP dari BPK RI

31/05/2026
Berita

Pemkab Simalungun Raih Opini WTP dari BPK Tahun Anggaran 2025, ILAJ: Bupati, Sekretaris Daerah dan Inspektorat Layak di Apresiasi

31/05/2026

Populer

Berita

PA Simalungun dan Posbakum Perkuat Komitmen Berikan Akses Keadilan Masyarakat.

06/06/2026
Pojokan

Asal Usul Kata Rokok di Indonesia

05/08/2022
Berita

Penyidik Polsek Bandar Huluan Dinilai Lambat” PH Tegaskan: BAP Tersangka Adalah Hak, Bukan Pemberian

29/05/2026
Berita

Ketua ILAJ Fawer Sihite Minta Kapolres Simalungun & Kasat Reskrim Serius Tangani Dugaan Pungli PDAM Totap Majawa

26/05/2026
Berita

Pemkab Simalungun Raih Opini WTP dari BPK Tahun Anggaran 2025, ILAJ: Bupati, Sekretaris Daerah dan Inspektorat Layak di Apresiasi

31/05/2026
Berita

Ketua BEM FE USI: Uang Rakyat Harus Kembali untuk Rakyat

03/06/2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber