Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Senin, November 9, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeDialektika

Tan Malaka dan Ragam Nama Palsunya untuk Mengelabui Penjajah

byRedaksi
05/06/2021
inDialektika
101
SHARES
724
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Tan Malaka merupakan nama populer untuk Sutan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Berdasarkan penuturan sejarawan Albert Poeze, Tan Malaka menghabiskan masa mudanya bersekolah di Rijks Kweekschool Fort de Kock, yang kini telah menjadi SMA 2 Bukittinggi.

Hingga selanjutnya, melanjutkan studi di Belanda untuk menggapai cita-cita menjadi guru. Tetapi yang terjadi, justru ia akan mengalami perjalanan panjang atas idealismenya.

Selama bertualang—atau bisa disebut sebagai buronan—Tan Malaka memiliki banyak samaran untuk mengelabui polisi dan jajaran pemerintahan kolonialis dan imperalis, seperti Amerika Serikat, Belanda, Jepang, dan Inggris.

Bahkan dalam komik Satu Wajah Seribu Nama di majalah Tempo edisi kemerdekaan pada 2008, Tan dijuluki sebagai ahli menyamar. Kepandaiannya didukung kemampuannya untuk menguasai delapan bahasa—Minang, Indonesia, Tagalog, Belanda, Rusia, Jerman, Mandarin, dan Inggris.

Berikut adalah beberapa nama samaran Tan Malaka dalam pelariannya.

Elias Fuentes

Nama ini diketahui sebagai nama samaran pertama Tan Malaka pada Juni 1925. Dalam penyamaran itu ia bekerja sebagai seorang wartawan El Debate agar bisa masuk ke Manila, Filipina, dengan cara menyelundupkan diri ketika berangkat dari Kanton, Tiongkok.

Sosok Elias Fuentes ini, menurut Masykur Arif Rahman dalam Tan Malaka: Sebuah Biografi Lengkap, dapat dengan mudah masuk ke Filipina lewat kapal. Sebab penampilannya yang mirip orang Filipna asli, membuatnya dengan mudah lolos dari pemeriksaan.

Alasan ia ke Filipina tidak lain karena tubuhnya yang kurang membaik akibat iklim Kanton yang tak mendukung. Selain Elias Fuentes, nama samaran Tan Malaka adalah Estahislau Rivera, dan Alisio Rivera.

Hasan Gozali

Tan Malaka menentang rencana pemberontakan PKI yang ingini dilakukan pada 1926/1927. Ia beranggapan rencana itu tidak tepat dengan kondisi partai yang masih belum matang.

Pandangan itu ia tulis kepada Alimin agar disampaikan ke Komitern PKI. Untuk memastikan pandangannya itu sampai ke tangan pusat, Tan Malaka yang kurang sehat datang ke Singapura menggunakan nama Hasan Gozali pada awal 1926.

Ternyata hasil perundingan gagal, dan Alimin malah pergi ke Moskow bersama Musso untuk mematangkan rencana pemberontakan.

Selanjutnya, Tan Malaka bersama pengikut setia pandangannya mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok pada Juli 1927. Partai ini berdiri untuk melanjudkan perjuangan rakyat dan buruh Indonesia setelah PKI hancur.

Ossorio

Setelah kedatangannya ke Filipina, Tan Malaka dikejar-kejar oleh polisi Amerika Serikat dan Inggris. Ia harus melarikan diri lagi ke Amoy, dan disembunyikan oleh nahkoda kapal ketika dilakukan pemeriksaan kapal setelah mendarat di sana.

Kondisi kesehatannya yang memburuk membuatnya harus ke Sionching. Lalu menggunakankan nama Ossorio untuk berkelana lagi ke Shanghai. Identitas Ossorio adalah seorang wartawan Filipina untuk majalah Bankers Weekly.

Tan Ming Sion

Nama Tan Ming Sion digunakan Tan Malaka setelah Amoy dikuasai Jepang agar dapat pergi ke Burma. Sebelum tiba, polisi Inggris yang menguasai Burma mewanti-wanti adanya tokoh intelektual dari Tiongkok.

Untuk menghindari kecurigaan itu, ia bahkan membuang dua bukunya ke laut sebelum mendarat. Tindakannya ternyata tepat, lantaran setelah mendarat polisi menggeledahnya dan buku-bukunya, tak terkecuali kamus bahasa Inggris.

Di Burma, Tan Malaka hanya sebentar karena dananya yang menipis. Ia pun melanjutkan perjalanannya ke Malaysia dan Singapura.

Tan Ho Seng

Jepang menguasai Singapura dan Hindia Belanda pada 1942. Sementara itu, Tan Malaka melanjutkan petualangannya ke tanah air menggunakan identitas Tan Ho Seng lewat Medan. Ia mencari cara agar bisa pergi ke Pulau Jawa.

Tan Malaka juga mendapat kabar bahwa nama aslinya digunakan oleh pemerintah kolonial untuk membohongi masyarakat di Padang. Meski demikian, Tan Malaka tak menggubrisnya dan memilih lanjutkan perjalanan hingga tiba di Jakarta.

Ilyas Hussein

Setibanya di Jakarta, ia tak langsung melebur dengan usaha pergerakan kemerdekaan. Ia menyamarkan dirinya sebagai Ilyas Hussein, untuk mengembara memahami kondisi sosial-ekonomi dan politik di Hindia Belanda yang lama ditinggalkannya.

Dengan identitas ini ia bekerja sebagai kerani di pertambangan Jepang di Bayah, Banten. Dalam pengematannya, pertambangan itu mempekerjakan tenaga romusha dengan sangat eksploitatif.

Ia mencatat bahwa ada sekitar 500 romusha tewas tiap bulannya, dan makamnya mencapai 38 hektar.

Ketika Sukarno dan Hatta tiba di Bayah pada 1943, mereka menyatakan bahwa Indonesia akan merdeka bersama Jepang. Tan Malaka yang masih menyamar menolak itu dan menyela pidatonya, dengan anggapan kemerdekaan Indonesia seharusnya bukan seperti hadiah tetapi hasil perjuangan.

Selain itu dengan nama ini ia menuntaskan buku Madilog-nya saat tinggal di Kalibata, Jakarta.

Diketahui, ia memiliki 23 nama samaran selama pelariannya. Ia bahkan sempat merasa asing dengan nama aslinya ketika kedoknya diketahui Achmad Soebardjo pada 1942 di Sumatera Timur.

Masykur Arif Rahman mengutip tulisan Tan Malaka mengenai perasaannya saat dipanggil kembali dengan nama aslinya oleh Achmad Soebardjo:

“Ganjil berar bunyinya nama itu di telinga saya sendiri, sesudah semenjak lebih daripada dua puluh tahun tak pernah lagi nama itu diucapkan kepada saya dalam pergaulan sehari-hari.”

“Nama itu memperingatkan pada pengalaman pahit, karena berhari-hari diucapkan oleh para pengurus penjara dan agen polisi imperialis kepada saya di luar negeri selang bertahun-tahun lampau, ialah dalam penjara Amerika di Manila pada tahun 1927 dan dalam penjara Inggris di Hong Kong pada tahun 1932.”

Achmad Soebardjo sendiri sudah mengenal Tan Malaka sejak 1919 dan menjalin pertemanan dengannya. Sebelumnya, Achmad Soebardjo terakhir bertemu dengannya pada 1930-an di Leiden, Belanda.(*)


National Geographic Indonesia

Tags:#Indonesia#Pahlawan#samaran#TanMalaka
Share40SendShare

Related Posts

Ngobrol Pintar CS KERAS Bahas Dugaan Keterlibatan Wali Kota Siantar dalam Pembelian Eks Rumah Singgah COVID-19

02/07/2026

PIRAMIDA.ID – ALIANSI CS KERAS (Control Sosial – Kumpulan Elemen Rakyat Anti Suap) menggelar diskusi publik bertajuk NGOPI (Ngobrol Pintar) dengan...

Menantang Narasi Pikiran Ferry Irwandi Desak Reformasi Total Polri

05/09/2025

PIRAMIDA.ID - Seruan Ferry Irwandi dalam beberapa media berita online yang mendesak “reformasi total Polri” terdengar lantang, tetapi jika ditelisik...

Pidato Lengkap Jefri Gultom di Dies Natalis GMKI ke-74: Bangkit Ditengah Pergumulan

26/02/2024

Bangkit Ditengah Pergumulan Pidato 74 tahun GMKI Jefri Edi Irawan Gultom Para peletak sejarah selalu berpegang pada prinsip ini, ‘’perjalanan...

Pewaris Opera Batak

11/07/2023

Oleh: Thompson Hs* PIRAMIDA.ID- Tahun 2016 saya menerima Anugerah Kebudayaan dari Kemdikbud (sekarang Kemendikbudristek) Republik Indonesia di kategori Pelestari. Sederhananya,...

Mengapa Membahas Masa Depan Guru “Dianggap” Tidak Menarik?

01/05/2023

Oleh: Agi Julianto Martuah Purba PIRAMIDA.ID- “Mengapa sejauh ini kampus kita tidak mengadakan seminar tentang tantangan dan strategi profesi guru di...

Membangun Demokrasi: Merawat Partisipasi Perempuan di Bidang Politik

14/04/2023

Oleh: Anggith Sabarofek* PIRAMIDA.ID- Demokrasi, perempuan dan politik merupakan tiga unsur yang saling berkesinambungan satu dengan yang lain. Berbicara mengenai...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

Kader Muda Golkar Jefri Gultom: Jangan Fitnah Bahlil Lahadalia, Kami Siap Tempuh Jalur Hukum!

07/11/2026
Edukasi

HALO USI – APA KABAR PEMILIHAN REKTOR “DEADLOCK”

04/11/2026
Berita

Bintang Empat Bukan Tameng Hukum, Komrad Pancasila Dukung Kapolri Bersih-Bersih Institusi

04/11/2026
Berita

Pentingnya Pemahaman UU Ketenagakerjaan, Forum Think Talk Bahas Pentingnya ‘Memahami UU Ketenagakerjaan’

04/11/2026
Berita

KETUA ILAJ: REGISTER 18 BUKAN WARISAN PARA MAFIA! JANGAN SAMPAI HUTAN NEGARA HANYA JADI LADANG BISNIS SEGELINTIR ORANG

03/11/2026
Berita

REGISTER 18 SIMALUNGUN JANGAN JADI WARISAN SEGELINTIR ORANG! KETUA ILAJ DESAK DINAS KEHUTANAN SUMUT DAN SATGAS PKH BERTINDAK!

03/11/2026

Populer

Berita

Kader Muda Golkar Jefri Gultom: Jangan Fitnah Bahlil Lahadalia, Kami Siap Tempuh Jalur Hukum!

07/11/2026
Edukasi

HALO USI – APA KABAR PEMILIHAN REKTOR “DEADLOCK”

04/11/2026
Berita

Pentingnya Pemahaman UU Ketenagakerjaan, Forum Think Talk Bahas Pentingnya ‘Memahami UU Ketenagakerjaan’

04/11/2026
Ilustrasi/Akun Twitter @Nobodycorp
Pojokan

Cerpen: 1998

24/08/2020
Pojokan

Profesi Apoteker: Perannya Besar dan tak Sekedar Menunggui Apotek

27/09/2020
ilustrasi/getty images
Pojokan

Sejarah Tai

03/08/2020
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus