Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Pojokan

Termanis dan Tak Terlupakan (Lanjutan II)

Gideon Sidharta Aritonang*

PIRAMIDA.ID- “Penyakit suka maki-maki sesuatu itu udah mendarah daging banget, ya?”

“Apaan sih?!”

“Yaiya, pas pertama sketemu aku kamu pandang aku seperti steak siap saji. Ya tinggal dilahap aja selesai. Terus yang kedua, maki batu. Terus tadi maki kasir. Hahaha.”

Aku hanya terdiam kesal saja mendengar celotehan mu.

Lalu pesanan pun datang. Dua gelas kecil Caramel Hot Chocolate.

“Coba deh! Kamu pasti suka,” ucap mu pada ku.

Lalu aku pun mengikuti saran mu untuk mencobanya. Sensasi yang agak terbilang aneh saat minuman itu mulai mendarat di lidah ku.

Bayangkan saja, hot chocolate saja sudah sangat manis – kini dengan tambahan Caramel yang juga manis, membuat nuansa yang sulit dijelaskan.

Tapi entah mengapa aku langsung menyukainya.

Saat melihatku yang sedikit tersenyum aneh ketika pertama kali menyeruput jenis minuman kesukaanmu itu, kamu langsung berkata dengan nada sombong,

“Enak, kan? Kan aku udah bilang tadi!”

Terus aku menjawabmu dengan ketus, “Rasa nya aneh!”

“Iya, sih. Buat yang pertama kali minum emang bakalan ngerasa aneh. Tapi Caramel Hot Chocolate itu ngangenin loh. Kamu hati-hati aja, deh! Sekali coba, kamu akan mulai candu!”

Ya, saat itu aku membalas ucapan sok puitis mu itu dengan wajah awkward dan kamu langsung tertawa terbahak-bahak menanggapinya.

Sekarang aku percaya dengan kata-kata mu itu. Caramel Hot Chocolate ini memang benar-benar bisa membuat candu dan aku tak lupa tuk selalu memilihnya saat sedang berkumpul dengan teman-teman ku.

Bahkan beberapa teman ku pun ikut dalam aksi mencicipinya karena penasaran. Beberapa suka, beberapa lagi merasa aneh dan tak mau lagi.

Aku juga ingat, alasan mengapa kamu sangat menyukai Caramel Hot Chocolate.

“Minuman ini tuh bagi ku seperti kenangan. Dia adalah kenangan yang tidak akan terlupakan. Rasa manis yang pekat, dilumeri dengan caramel yang kental – menandakan, kalau hal-hal yang manis adalah sebuah bentuk nyata kalau kita ingin kembali ke masa-masa yang menyenangkan dalam hidup kita. Makanya kita menyematkannya sebagai kenangan yang tak terlupakan!”

Oh iya pada saat kamu mengatakan itu, kalau tidak salah itu adalah hari jadian kita yang ke-tiga bulan.

Sangat cepat kamu merengkuh hati ku dan menjadikanmu sebagai seseorang yang istimewa di hati ku. Kamu juga mengatakan kalau suatu saat kamu tak lagi bersamaku atau saat nanti kita sudah tak bersama-sama lagi, kamu akan tetap menjadi kenangan yang tak terlupakan untukku.

Karena apa? Karena di hari-hari yang sedang kita ukir bersama-sama ini, kamu akan selalu memberikan yang terbaik untuk hubungan kita. Kamu akan memperlakukanku sebagai wanita paling berharga di hidup mu — kala itu.

***

Ya, sudah dua tahun lama nya kamu dan aku tak bersama-sama lagi.

Aku bisa mengatakan kalau semua memanglah kesalahanku. Keputusanku membuat jurang yang sangat besar diantara kita dan kita pun terpisah.

Tak bisa ku katakan kalau kamu lebih memilih dunia mu daripada memilih aku. Kamu sedang berusaha mempertahankan kedua nya. Kamu bahkan mengatakan untuk mempertimbangkan untuk tidak pergi.

Sampai suatu hari, saat aku sedang berada di kondisi terburukku juga, kamu datang dan memintaku untuk membahas tentang kepergianmu ke negeri seberang untuk melanjutkan studi yang sangat kamu inginkan, yaitu menjadi seorang barista.

Kebetulan kenalan ibu mu yang berada di Perancis yang merekomendasikanmu langsung untuk ke sana.

Kemudian aku membuat keputusan yang sangat ku sesali itu. Bahkan aku masih sangat menyesalinya hingga saat ini.

Aku memintamu pergi. Aku memintamu untuk meninggalkan aku dan menyudahi hubungan itu.

Aku tahu kamu. Kamu bukanlah orang yang suka memaksakan keadaan. Kamu juga bukan orang yang pandai dalam mengubah prinsip yang sudah di bangun oleh seseorang.

Saat ketiga kalinya kamu mengatakan kalau kamu tak ingin aku meninggalkanmu dan tiga kali juga aku mengatakan untuk meninggalkanku saja, ditambahi dengan pertanyaan darimu, “Apa kamu yakin dengan pilihanmu ini?” — yang kamu layangkan pada ku dan aku pun tanpa ragu-ragu mengiyakannya.

Kamu pun pergi. Kamu pergi ke tempat yang sangat jauh dan butuh banyak tenaga juga asa agar bisa mencapaimu lagi. (TIA)


Penulis merupakan jurnalis di salah satu portal berita nasional. Dan juga Mahasiswa Ilmu Komunikasi yang belum lulus-lulus juga.

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....