Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Ekologi

7 Desa Ini Pungut Biaya Masuk, Apakah Setimpal?

Berikut daftar desa yang menerapkan biaya masuk.

Overtourism jadi salah satu masalah yang menyebabkan kehancuran beberapa destinasi wisata populer di dunia.

Kini, dengan lebih dari setengah populasi dunia tengah menjalani lockdown, berbagai kota, resor tepi pantai, dan ekosistem natural lainnya jadi punya kesempatan untuk bisa sembuh dan kembali seperti sedia kala.

Dilansir dari South China Morning Post, cepat atau lambat industri pariwisata bernilai miliaran dolar AS ini akan berbenah dan berusaha menarik masyarakat untuk kembali berwisata.

Seperti apa bentuk dari hasil berbenah industri pariwisata memang belum jelas. Namun, pembatasan mulai berhenti secara bertahap.

Sementara itu, negara-negara yang dianggap bisa mengelola krisis dengan baik pasti akan jadi tujuan utama para wisatawan yang nantinya tidak akan mau mengambil resiko besar dalam hal pariwisata.

Harga penerbangan mungkin akan naik, terutama jika bangku tengah di pesawat harus dibiarkan kosong untuk menciptakan physical distancing bagi para penumpang.

Namun, dengan banyaknya permintaan, banyak hotel dan juga penginapan seperti Airbnb dan penginapan lainnya mungkin akan menawarkan banyak diskon menarik.

Penawaran menarik juga mungkin akan ditawarkan untuk tiket masuk ke taman bermain, museum, dan taman nasional.

Otoritas di Venesia, Italia bahkan sudah meninggalkan rencana soal pajak wisatawan, dan hal ini mungkin tidak hanya akan terjadi di Venesia saja.

Di sisi lain, ada desa-desa berikut yang sepertinya sangat menarik dan otentik, mereka justru menetapkan tiket masuk bagi para pengunjung yang ingin berwisata ke sana.

Hanya waktu yang bisa menjawab apakah desa-desa berikut akan mencoba untuk mengurangi harga tiket masuk mereka atau bahkan benar-benar menghapuskannya.

Berikut daftar desa yang menerapkan biaya masuk.

Nusfjord

Desa Nusfjord di Norwegia

Nusfjord adalah sebuah desa nelayan yang terletak di Kepulauan Lofoten di Norwegia. Di pertengahan abad ke-19, lebih dari 1500 orang tinggal di sini, di kabin kayu selama musim memancing ikan kod.

Kini, populasinya sudah menurun jauh, tersisa 22 orang, dan seringkali terkalahkan dengan lusinan wisatawan yang berkunjung ke sana.

Kabin kayu di sana dibangun di panggung di atas air. Kabin-kabin tersebut terlihat rapi dan juga disewakan untuk para pengunjung.

Bangunan bersejarah jadi atraksi desa tersebut yang bisa kamu lihat dalam tur berjalan kaki di kota.

Beberapa bangunan tersebut termasuk toko perlengkapan sehari-hari, pabrik minyak ikan kod, tempat pandai besi, tempat pengasapan ikan salmon, dan museum penangkapan ikan paus.

Harga tiket masuk ke desa ini adalah 100 kroner Norwegia atau sekitar Rp 146.706.

Clovelly

Desa nelayan Clovelly di Devon, Inggris

Clovelly merupakan desa nelayan tradisional yang ada di Inggris. Jalanan di desa Clovelly terbuat dari batu-batu besar dan hampir tak ada mobil di sana.

Daerah ini dimiliki secara pribadi oleh tiga keluarga, yakni keluarga Giffords, Carys, dan Hamlyns sejak 1242.

Area Devon Utara berhasil mempertahanakn pesona dan karakternya berkat Christine Hamlyn bahkan selama 80 tahun setelah kematiannya.

“Queen of Clovelly” telah membangun kembali, memperbaiki, dan mempercantik jalanan kusam di Clovelly dan pondok-pondok tua yang ada di lereng bukit.

Clovelly mulai menarik wisatawan era Victoria yang ingin pergi dari udara berpolusi di kota-kota industri Inggris. Tren tersebut pun terus belanjut. Tahun lalu saja, 150.000 orang mengunjungi desa nelayan ini.

Hongcun

Desa Hongcun

Desa Hongcun sudah masuk kategori dalam Unesco World Heritage. Desa ini terletak di provinsi Anhui di China dan dibangun dengan prinsip feng shui selama dinasti Song, sekitar 900 tahun yang lalu.

Desa ini diibaratkan seperti lukisan cat air yang muncul di kehidupan asli. Desa ini dibangun dalam bentuk lembu, dengan Bukit Leigang yang jadi kepalanya.

Kediaman masyarakatnya terkoneksi dengan jalur-jalur perairan yang berujung ke Nanhu (Danau Selatan) dan Yuezhao (Moon Pond) yang disinari dengan barisan lentera setiap malamnya.

Hongcun jadi satu dari banyak kandidat untuk mendapatkan titel Venesia di Timur. Desa ini juga jadi latar belakang untuk beberapa adegan di film nominasi Oscar, Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000).

Harga tiket masuk ke desa Hongcun ini adalah 104 yuan China atau sekitar Rp 218.023.

Maasai

Desa Maasai

Banyak jalur safari ke Kenya dan Tanzania termasuk kunjungan ke pemukiman Maasai. Para wisatawan yang tidak mau jadi bagian dari hal yang seringkali dideskripsikan sebagai sirkus manusia bisa melewati lagu sambutan dan ‘adumu’, atau tarian melompat.

Wisatawan bisa memilih untuk berkeliling ke sekitar pemukiman dengan rumah-rumah bergaya pedesaan yang terbuat dari lumpur tersebut.

Para suku di sana yang mayoritas penggembala ternak sadar bahwa mereka telah mengomersialisasi kebudayaan Maasai. Namun mereka sudah bersiap untuk membuat wisatawa bersenang-senang dan mau mengeluarkan pundi-pundi uang.

Para pria menggunakan pakaian panjang dengan warna terang dan juga tombak. Sementara para wanita menunjukkan perhiasan manik-manik mereka yang juga bisa dibeli oleh para wisatawan.

Tiket masuk ke pemukiman Maasai biasanya dihargai sekitar 20 dolar Amerika per orang atau sekitar Rp 297.221 yang langsung dibayarkan ke ketua desa.

Cat cat

Desa Cat Cat terletak di lembah Muong Hoa yang indah di utara Vietnam. Daerah ini dihiasi dengan perbukitan, sungai, dan sawah yang dihuni oleh orang-orang Hmong.

Desa ini terletak sekitar 30 menit berjalan kaki menuruni lembah dari bekas stasiun bukit Perancis di Sapa, kamu bisa menyejukkan diri di sungai yang ada di perjalanan dan mengagumi roda air raksasa yang biasanya digunakan untuk menggiling padi.

Kamu juga bisa berhenti dan menikmati kopi sambil melihat air terjun di sana, serta berfoto dengan warga lokal dengan menggunakan baju tradisional dan berbelanja suvenir.

Ketika kamu sudah siap untuk kembali ke Sapa, kamu juga bisa membawa beberapa dolar untuk naik taksi motor. Kamu bisa menghindari jalur pendakian sejauh 3 kilometer.

Harga tiket masuknya adalah 70 ribu dong Vietnam atau sekitar Rp 44.650 dan akan disalurkan untuk perawatan desa dan pada keluarga-keluarga yang sudah membuka rumah mereka untuk para wisatawan.

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....