Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Selasa, Februari 3, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
Home Sorot Publik

Agama Jadi Faktor Penting dalam Memilih Capres-Cawapres

by Redaksi
27/06/2021
in Sorot Publik
101
SHARES
724
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Konstitusi Indonesia tidak memberi batasan dalam hal agama bagi seseorang untuk menjadi Calon Presiden (Capres) atau Calon Wakil Presiden (Cawapres). Namun dalam sejarahnya, belum pernah ada presiden ataupun wakilnya yang bukan muslim.

Dalam survei yang dilakukan Indonesian Presidential Studies (IPS), agama seorang Capres maupun Cawapres sebenarnya tidak menjadi faktor utama dari deretan alasan pemilih menentukan pilihan. Setidaknya, survei pada September 2020 dan Mei 2021, menggambarkan situasi tersebut. Namun, partai politik justru tidak berani mengambil sikap berbeda, dengan mencalonkan nonmuslim dalam bursa pemilihan presiden.

Direktur Eksekutif IPS, Nyarwi Ahmad Ph.D, menilai elit partai politik Indonesia mungkin masih mempertimbangkan fakta, bahwa mayoritas pemilih di Indonesia adalah muslim. Selain itu, ada juga faktor sikap pemilih muslim itu sendiri.

“Dugaan saya, ini yang menjadikan para elit partai politik belum ada keberanian, padahal secara konstitusi terbuka, untuk mencalonkan sosok pasangan Capres dan Cawapres dengan latar belakang dari agama minoritas, yaitu nonmuslim,” kata Nyarwi dalam diskusi peluang nonmuslim maju dalam Pilpres 2024, Jumat (25/6).

Dalam survei IPS, 80 persen pemilih beragama Budha menyatakan bahwa mereka terpengaruh faktor agama dari pasangan ketika menentukan pilihannya. Sedangkan di kalangan muslim, mereka yang memandang agama penting ketika memilih adalah 67,8 persen, diikuti Protestan 21,5 persen, sedangkan Katolik dan Hindu, masing-masing 9,1 persen.

Namun ketika agama ditempatkan hanya sebagai salah satu variabel pilihan, dalam survei IPS terbukti bahwa sebenarnya pemilih Indonesia tidak menempatkan agama Capres-Cawapres sebagai faktor utama. Jika diminta memilih, mayoritas pemilih masih menempatkan program kerja dan figur pasangan calon di atas faktor agama.

Perlu Kerja Bersama

Wakil Ketua DPP Partai Nasdem, Willy Aditya tidak mau menempatkan partai sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terkait apa yang saat ini terjadi.

“Jangan disalahkan partai karena partai dilahirkan memang untuk alat menang. Kita sama-sama kerja. Apa pekerjaan kita? Membangun instrumen hegemoninya, membangun narasinya,” kata Willy.

Yang disebut membangun narasi oleh Willy adalah proses panjang memupuk kesadaran masyarakat terkait iklim politik. Dia memberi contoh, apa yang terjadi dalam sistem politik Amerika Serikat saat ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba saja. Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian pihak membangun narasi untuk memasukkan ide-ide persamaan hak dalam politik. Misalnya dalam film, baik layar lebar maupun kartun di televisi, yang menggambarkan adanya seorang presiden kulit hitam atau presiden perempuan dalam ceritanya.

Kemunculan Kennedy yang Katolik di tengah pemilih Kristen, atau terpilihnya Obama dalam mayoritas pemilih kulit putih, beber Willy, adalah hasil dalam membangun narasi panjang di tengah masyarakat itu.

“Hari ini kita masih terjebak dalam angka-angka. Jangankan hanya Islam dan non-Islam, antara Jawa dan non-Jawa saja masih besar. Karena kita masih hidup dalam jebakan Batman, terjebak dalam kemalasan berpikir dan bertindak, tidak membangun kerangkanya bersama-sama,” ujar Willy.

Sementara Wakil Sekjend DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Idy Muzayyad, menilai memang ada dua hal kondisi yang tidak menyambung, antara realitas politik dan konstitusi.

Meskipun selama ini PPP sering dianggap sebagai partai eksklusif dalam konteks keagamaan Islam, tetapi Idy memastikan kenyataannya tidak demikian. Setidaknya itu tergambar pada pilihan partai berlogo Kabah itu, ketika memutuskan untuk mendukung Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta 2018. Setelah Ahok kalah, dalam pemilihan legislatif 2019 para pemilih setia mereka di Jakarta memberikan hukuman berat atas sikap partai.

“Kita kemudian memiliki kursi di DPRD hanya satu, dari yang sebelumnya sepuluh. Jadi nolnya menggelinding,” kata Idy.

Padahal dalam kenyataannya, di daerah lain PPP juga pernah mendukung calon kepala daerah nonmuslim. Bahkan di beberapa daerah yang masyarakatnya mayoritas nonmmuslim, PPP juga memiliki pengurus partai yang tidak beragama Islam. Dalam pemilihan calon anggota legislatif, ada pula sejumlah nama dari kalangan nonmuslim yang mereka calonkan dan berhasil terpilih. Karena itu, meski menyebut apa yang terjadi di Jakarta sebagai sebuah anomali, Idy menilai realitas bahwa belum ada kesinambungan antara konstitusi dan realitas pemilih harus diakui.

Tantangan Banyak Negara

Ketua Forum Koordinasi Lintas Fakultas Alumni Universitas Indonesia (Fokal UI) Pande K Trimayuni menyebut, selain agama, etnis adalah faktor penting dalam politik Indonesia. Bahkan dia menilai, pertimbangan etnis kadang lebih dominan dibanding soal agama. Dia mengingatkan, kondisi ini bukan khas terjadi di Indonesia, tetapi di mayoritas negara di dunia.

“Ini bukan tantangan khas Indonesia, tetapi juga di banyak belahan dunia juga berlangsung,” kata Pande.

Tantangannya adalah memperbanyak perbincangan terkait agama dan etnis dalam politik, sehingga muncul paradigma baru di masyarakat. Dalam skala wilayah yang berbeda, pemimpin yang menganut agama berbeda atau berasal dari etnis berbeda dengan pemilihnya terbukti bisa dipilih. Meski Indonesia adalah negara dengan penganut Islam terbesar di dunia, kata Pande, bukan tidak mungkin idealisme itu juga bisa diterapkan di sini. Salah satu pintu masuk yang bisa dipakai adalah dasar negara, yaitu Pancasila.(*)


VOA Indonesia

Tags: #agama#konstitusi#kontestasipemilu#pilpres
Share40SendShare

Related Posts

Fawer Sihite Ucapkan Selamat kepada Andar Amin Harahap, Optimis Golkar Sumut Maju dan Jaya

02/02/2026

PIRAMIDA.ID — Tokoh muda Sumatera Utara, Fawer Sihite, menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi atas terpilihnya Andar Amin Harahap sebagai Ketua...

Wacana Polri di Bawah Kementerian Dinilai “Mundur”: Komite Reformasi Diingatkan Jangan Langgar Mandat UU

27/01/2026

PIRAMIDA.ID | Jakarta — Wacana penempatan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di bawah kementerian kembali memantik perdebatan publik. Isu itu...

Langkah Humanis Polda Metro Jaya Tuai Apresiasi, Kasus “Ijazah Palsu” Diselesaikan Lewat Restorative Justice

19/01/2026

PIRAMIDA.ID | Jakarta — Polda Metro Jaya di bawah pimpinan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri mendapat apresiasi...

GMKI P.SIANTAR-SIMALUNGUN TOLAK WACANA PEMILIHAN KEPALA DAERAH OLEH DPRD

12/01/2026

PIRAMIDA.ID | Pematangsiantar - Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Pematangsiantar-Simalungun menyatakan penolakan tegas terhadap wacana pemilihan kepala daerah oleh...

POLRI Tetap Dibawah Presiden. Komrad Pancasila : Operasi Politik Menjatuhkan Polri Gagal Total !!!

12/01/2026

PIRAMIDA.ID | Jakarta — Komisi III DPR RI menegaskan kedudukan Polri harus tetap berada di bawah Presiden, sekaligus menegaskan pengangkatan...

Merayakan Natal Dengan Penuh Empati, Komrad Pancasila Bagikan Bingkisan Natal Untuk Pemuda Dan Mahasiswa Rantau

26/12/2025

PIRAMIDA.ID | Jakarta - Dalam semangat Natal yang sarat dengan nilai kasih, solidaritas, dan kemanusiaan, Komrad Pancasila menggelar kegiatan berbagi...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

IPM Ranting SMK 2 Muhammadiyah Pematangsiantar Gelar Fortasi

02/02/2026
Sorot Publik

Fawer Sihite Ucapkan Selamat kepada Andar Amin Harahap, Optimis Golkar Sumut Maju dan Jaya

02/02/2026
Berita

Rakernas METI, Aktor, dan Proyek: Narasi Bersih yang Tak Pernah Bersih-Bersih

31/01/2026
Berita

Gatot Tuding Kapolri “Pembangkang”, Komrad: Ini Bukan Kritik Ini Provokasi!

30/01/2026
Berita

KOMRAD PANCASILA DKI Jakarta Apresiasi Sikap Ksatria POLDA METRO JAYA dalam Kasus Penjual Es Jadul

30/01/2026
Berita

ILAJ Desak Polda Riau Segera Menetapkan Tersangka dan Menangkap Pelaku Pembunuhan di Keritang, Indragiri Hilir

28/01/2026

Populer

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasi barak berita hari ini berita bola danau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasi barak berita hari ini berita bola danau tobasumber