Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Dunia

Bob Dylan, 79 and Life

Nico Nathanael Sinaga*

PIRAMIDA.ID- Bagi sebagian besar kalangan anak muda sejawat, ketika disebutkan nama “Bob Dylan” mungkin akan terdengar asing daripada ketika dicoba kembali untuk mendengarkan lagu populer berjudul “Knockin’ On Heaven’s Door” dan “Make You Feel My Love”.

Untuk lagu pertama, barangkali kita akan menyebut sebuah band rock bernama “Guns N’ Roses” dan untuk lagu kedua, seorang penyanyi dan penulis lagu wanita asal Inggris bernama “Adele”.

Indentifikasi seperti itu sebenarnya wajar saja, mengingat kedua entitas musisi itu yang masih berada di urutan terbaik, membuat masing-masing dari kedua lagu tersebut tetap populer dan familiar di telinga anak muda zaman sekarang.

Namun, siapa Bob Dylan?

Bob Dylan merupakan seorang penyanyi, komposer atau penulis lagu dan salah satu musisi terbaik sepanjang sejarah musik. Aktif bermusik sejak awal tahun ’60-an pada usia muda, ia telah banyak melahirkan dan menciptakan karya-karya luar biasa lewat lagu dan musiknya, termasuk lagu berjudul “Knockin’ On Heaven’s Door” dan “Make You Feel My Love”.

Kedua lagu itu hanya salah dua dari banyak lagu terbaik dan dari sekian banyak lagu ciptaan Dylan. Dengan beragam tema yang diangkat Dylan ke dalam musik dan lagunya, hal yang lebih menarik minatku justru tema-tema sarat protes sosial yang menjadi ciri khas utamanya di awal karier bermusiknya.

Tema protes sosial yang selalu diangkatnya lewat musik dan lagunya, menandai keterlibatan kehidupannya terhadap aktivisme, perjuangan hak-hak sipil, serta gerakan kesetaraan ras yang menentang adanya diskriminasi rasial terhadap masyarakat kulit hitam pada periode 1950-an hingga 1960-an.

Tampaknya, musik maupun lagu bisa dijadikan sebagai salah satu penanda atas situasi dan kondisi dari suatu zaman tertentu, baik karena genrenya maupun relevansi tema yang terkandung di dalamnya. Namun, narasi tentang Dylan adalah narasi tentang perlawanan dan protes sosial yang dilakukannya mulai dari sejak periode 1960-an hingga sekarang.

Berkiblat dari salah seorang musisi radikal berhaluan kiri seperti “Woody Guthrie”, serta keterlibatan dan pengaruh dari mantan kekasihnya, seorang aktivis perempuan berhaluan Komunis, “Suze Rotolo”, bisa jadi merupakan kunci utama yang mempengaruhi kesadaran politiknya.

Mengidentifikasinya dengan perlawanan, menurut saya bukanlah hal yang berlebihan.

Penampilan musiknya yang identik dengan permainan harmonika dan alunan gitar akustik, merupakan ciri khas sederhana dari genre musik rakyat (folk) yang membuatnya dikenal oleh para Generasi Baby Boomer’s saat itu. Barangkali cukup beralasan jika ciri khas maestro balada musik Indonesia sekelas Iwan Fals turut jua terpengaruh dari gaya bermusik Bob Dylan.

Bob Dylan telah meraih 11 penghargaan Grammy Award. Piala pertama yang diperolehnya, yakni pada tahun 1973. Bob Dylan meraih penghargaan Pulitzer Prize karena memberi dampak terhadap industri musik dan komposisi lirik dari lagu-lagu Bob Dylan dinilai memiliki kekuatan puitis yang luar biasa.

Empat tahun lalu —pada tahun 2016— Bob Dylan menerima Novel Prize dalam Sastra karena menciptakan ekspresi puitis baru dalam tradisi lagu Amerika. Hingga usia senjanya, Bob Dylan masih tetap menelurkan karya musiknya. “Murder Most Foul” —sebuah lagu yang mengisahkan tentang pembunuhan John F. Kennedy— merupakan singel orisinal pertama Bob Dylan di tahun 2020 ini.

Tepat pada hari ini merupakan hari kelahirannya. 24 Mei 2020 merupakan hari di mana dia telah sampai pada usia 79 tahun, namun karyanya hidup dan tetap relevan dijadikan sebagai ikon untuk menandai protes atas situasi sosial tertentu, baik dulu, sekarang, ataupun nanti.

Semoga alam menyertaimu, Bob Dylan.


Penulis adalah seorang pegiat sosial dan lingkungan hidup.

Editor: Red/Hen

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....