Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Spiritualitas

Cintailah Pendidikan

Penulis: Pdt. Dr. Martongo Sitinjak*

Minggu V Dung Trinitatis
Khotbah, Luk 6:39-42

PIRAMIDA.ID – Dalam misi penyelamatan umat manusia, Yesus mengajar murid-muridNya untuk menggapai kehidupan yang baik, benar dan berguna. PengajaranNya bersumber dari Allah Maha Pengasih yang menyelamatkan manusia dari dosa dan kematian menuju hidup yang kekal. Yesus mengajar murid-muridNya agar mereka mampu hidup dengan baik di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Firman ini adalah pengajaran khusus dari Yesus sebagai guru kepada para murid-muridNya. Pengajaran ini terbatas kepada murid-muridNya, karena merekalah yang sanggup menerima pengajaran ini. Pengajaran ini tidak akan sanggup diterima orang-orang yang tidak percaya, bahkan mereka akan menolak pengajaran ini.

Pengajaran ini diawali Yesus dengan sebuah rumusan yang sangat tepat dan tak terbantahkan: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?” Rumusan ini adalah pasti, orang buta tidak dapat menuntun orang buta, keduanya akan sama-sama jatuh ke dalam lobang.

Perumpamaan ini adalah gambaran hubungan seorang guru dan murid. Mata adalah gambaran penuntun hidup “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu” (Mat 6:22). Guru sebagai penuntun murid bagaikan mata sebagai pelita tubuh.

Guru yang berhikmat sebagai penuntun murid-muridnya akanmenghasilkan murid yang bijaksana, demikian sebaliknya. Itulah sebabnya Yesus melanjutkan penjelasannya: “Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya”. Apa yang dimiliki gurunya, itu jugalah yang akan diajarkannya kepada muridnya. Seorang yang dituntun tidak melebihi orang yang menuntun dalam tuntunannya.

Yesus adalah Guru Agung yang menuntun manusia pada kehidupan yang benar, baik dan berguna hingga menuju pada kehidupan yang kekal. Yesus mengajarkan apa yang telah disampaikan Allah kepadaNya, didalam doaNya kepada Bapa, Yesus berkata: “Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepadaKu telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya”.

Yesus mengetahui segala hal yang berkaitan tentang kehidupan, Dialah yang mengajarkan dan menuntun manusia kepada kehidupan yang kekal (Yoh 3:16-36). Yesus adalah terang dunia yang membuat manusia berjalan dalam terang dan hidup (Yoh 8:12).

Lebih jauh, Yesus memperdalam gambaran orang buta yang menuntun orang buta: Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Guru-guru buta mengajar orang dengan kemunafikan.

Mereka mempunyai kecenderungan melihat kesalahan orang lain, tapi buta atas kesalahannya sendiri. Lebih parahnya dia berkeinginan mengeluarkan selumbar di mata orang lain atau memperbaiki kesalahan kecil orang lain; tetapi kesalahan besar di dalam dirinya, balok dimatanya tidak dia lihatsehingga dia tidak bisa memperbaikinya.

Para pengajar demikian hanya menyesatkan orang-orang yang dituntunnya. Dengan keras Yesus berkata: Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu”. Sebelum mereka menuntun orang mengeluarkan selumbar dimata orang lain, mereka harus terlebih dahulu melepaskan balok di mata mereka.

Kekuatan manusia untuk menuntun orang lainadalah kemampuannya melihat dan memperbaiki kesalahannya sendiri terlebih dahulu, sehingga dia mempunyai kemampuan menuntun saudaranya memperbaiki kesalahan mereka.

Kehidupan orang-orang buta yang mendapat pengajaran dari guru-guru buta yaitu orang-orang munafik dapat digambarkan dengan ungkapan berikut ini:

1. Mampu melihat kesalahan orang lain tetapi buta atas kesalahannya sendiri. Mereka selalu berkata untuk memperbaiki kesalahan orang lain dengan kacamata kesalahannya sendiri, sehingga mereka tetap bangga dalam kesalahannya sendiri dan melihat kesalahannya itu sebagai kebenaran. Karena itu mereka tetap tinggal hidup dalam kesalahannya.

2. Mampu melihat kebaikan sendiri tetapi buta atas kebaikan orang lain. Mereka akan melihat dirinya sebagai orang yang baik dan benar dan melihat orang lain tidak pernah berbuat baik dan benar. Mereka selalu melihat dirinya lebih baik dan orang lain lebih buruk. Mereka gemarmenghakimi orang lain.

Murid-murid buta yang mendapat tuntunan dari guru-guru buta, akan sama-sama jatuh ke dalam lobang kebinasaan bersama guru-guru munafik mereka.

Kehidupan orang-orang benar yang telah mengeluarkan balok dari matanya adalah orang-orang benar yang tergantung pada pengajaran Yesus, mereka adalah:

1. Mampu melihat kesalahannya sendiri dan melupakan kesalahan orang lain. Mereka mampu memperbaiki kesalahannya sendiri; sehingga mereka bisa menuntun orang lain unntuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bersama-sama mampu memperbaiki kesalahannya. Mereka dengan tulus mampu mengampuni orang lain.

2. Mampu melihat kebaikan orang lain dan melupakan kebaikan sendiri. Mereka selalu bersyukur dan berterimakasih atas kebaikan orang lain, dan terus berusaha berbuat baik sebab dia selalu merasa belum melakukan yang baik. Mereka terus bertumbuh untuk menjadi samaseperti Yesus Guru yang baik itu.

Kita, murid-murid Yesus akan terus belajar dari Yesus hingga tamat agar bisa sama seperti Yesus guru kita itu. Salah satu pengajaranNya yang penting hari ini adalah memperbaiki kesalahan besar diri kita sendiri, agar kita dapat menuntun orang lain untuk memperbaiki kesalahan kecil mereka. Proses pengenalan diri atas segala kesalahan-kesalahan kita, adalah tangga menuju kesempurnaan untuk sama seperti guru Agung yaitu Yesus Kristus.


Penulis merupakan Kadep Koinonia HKBP

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....