Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Spiritualitas

Ibadah dan Persembahan Kepada TUHAN

Penulis: Pdt. Dr. Martongo Sitinjak*

Minggu VI Setelah Trinitatis
Ulangan 16: 13-17

PIRAMIDA.ID – Ada 3 perayaan penting dimana setiap orang laki-laki umat Israel harus menghadap hadirat Tuhan di tempat yang dipilih-Nya, yaitu:

1. Hari Raya Roti tidak beragi, masa mengingat peristiwa mereka dibebaskan Tuhan dari penjajahan Mesir dengan memberi persembahan Paskah.

2. Hari Raya Tujuh Minggu, masa memulai menyabit gandum, masa bersukaria dengan persembahan sukarela sesuai berkat Tuhan.

3. Hari Raya Pondok Daun, masa sukacita atas keberhasilan panen, dengan memberi persembahan sesuai dengan berkat yang diberikan TUHAN.

Pada perayaan itu semua umat beribadah kepada TUHAN dan memberikan persembahan kepada TUHAN sesuai dengan berkat yang diberikan oleh TUHAN Allah. Persembahan adalah merupakan wujud  dari hubungan kepada TUHAN Allah. Dalam setiap perayaan itu, umat TUHAN mengingat segala perbuatan Allah yang telah terjadi pada umatNya. Dalam perayaan-perayaan itu, mereka tetap mengingat sejarah kehidupan mereka dahulu sebagai umat yang menderita. Perayaan itu sendiri harus mewujudkan keadilan dan kebersamaan bagi semua orang secara nyata, sehingga mereka juga harus tetap melakukankepedulian kepada orang yang menderita supaya turut bersukacita.

Salah satu dari perayaan itu adalah Perayaan Pondok Daun,yaitu masa dimana mereka telah selesai mengumpulkan hasil pengirikan gandum dan pemerasan anggur. Pada masa itu mereka melakukan perayaan selama tujuh hari. Perayaan ini dilakukan atas segala berkat TUHAN yang melimpah atas segala hasil pekerjaan mereka. Perayaan ini harus menjadi sukacita bagi semua orang yang berada di tempat mereka yaitu: “Engkau ini dan anak-anakmu laki-laki serta anak-anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, orang Lewi, orang asing, anak yatim dan para janda”. Tidak ada perbedaan tuandan hamba, penduduk lokal atau orang asing, janda dan yatim piatu, pengusaha atau orang Lewi. Semuanya bersukaria selama tujuh hari memuji dan memuliakan Allah. Perayaan bagi TUHAN bermakna persekutuan dan kebersamaan di hadapan TUHAN.

Perayaan ini juga bermuatan janji dari TUHAN yaitu: “TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala hasil tanahmu, dan dalam segala usahamu, sehingga engkau dapat bersukaria dengan sungguh-sungguh”. Selain ucapan syukur atas berkat yang sudah diterima, Perayaan Pondok Daun ini juga membangun hubungan umat dengan Tuhan yang semakin erat dan terikat untuk menerima berkat yang akan diberikan TUHAN. Setiap berkat Tuhan yang telah diterima dari Tuhan melahirkan perayaan bersama yang membangun kebersamaan umat manusia bebas dari perbedaan-perbedaan yang mengikat tetapi perbedaan yang menjadi kebersamaan. Pada saat yang sama perayaan itu juga membangun hubungan yang erat dan terikat kepada Tuhan di mana TUHAN Allah akan memberkati mereka berkelimpahan. Sukaria kebersamaan adalah perayaan bagi TUHAN yang terus memelihara dan memberkati umatNya.

Perayaan bagi TUHAN itu dilakukan di “tempat yang akan dipilih TUHAN”, yaitu tempat di mana namaNya berdiam di sana. Tempat itu adalah tempat kudus buat Tuhan dimana TUHAN Allah berdiam dan setiap orang dapat bertemu dengan TUHAN. Tempat itu adalah Jerusalem di mana Allah berdiam untuk memberkati umat-Nya. Tempat itu sering disebut sebagai rumah Allah, Bait Allah, di mana Allah berdiam memberkati umatNya. Inti perayaan itu adalah Tuhan yang yang berdiam di tengah-tengah umat-Nya, yang sudah dan akan memberkati umatNya. Dalam hal ini Yesus sebagai Allah yang berdiam di tengah-tengah kita adalah pusat perayaan dan persembahan umat yang percaya. Perayaan  dan persembahan kita bersumber dari segala berkat dan segala sesuatu yang telah dilakukan Allah di dalam Yesus kepada kita. Itulah yang menjadi dasar orang percaya untuk melakukan perayaan dalam persekutuan dengan sesama umat percaya dan dengan segala persembahan sukarela yang disampaikan kepada Tuhan.

Segala sesuatu yang dilakukan TUHAN kepada umatNya adalah dasar dari perayaan dan persembahan. Karena itu umat TUHAN perlu menghitung segala berkat yang diterima dari Tuhan.Berdasarkan berkat Tuhan yang diterimanya itulah juga mereka memberikan persembahan kepada TUHAN sesuai dengan berkat yang diterimanya. Setiap orang memberikan persembahan kepada TUHAN secara sukarela berdasarkan berkat yang diterima dari TUHAN, Jika jumlah berkat yang diterimanya banyak, patutlah dia memberikan persembahan yang banyak dan jika jumlah berkat yang diterimanya sedikit maka dia memberikannya sedikit. Jadi semua persembahan yang diberikan didasarkan pada berkat yang diberikan Tuhan Allah.Itulah sebabnya dalam doa persembahan setiap minggu di sampaikan “sebahagian daripada karunia itu, kami serahkan kembali sebagai persembahan kepada Tuhan”.

Sebagai wujud dari berkat yang diterima dari Tuhan, dapat dipahami ketika Yesus berkata bahwa persembahan janda yang miskin yang hanya dua peser disebut sebagai persembahan yang lebih banyak berbanding persembahan orang kaya yang angkanya lebih besar (Epistel, Markus 12:41-44) . Ada banyak orang memberi dari kelimpahannya atau sisa dari kekayaanya sementara janda miskin itu memberi seluruh nafkahnya.Menghitung berkat yang diterima dari Tuhan adalah penting supaya bisa memberi berdasarkan berkat yang diterimanya dari Tuhan. Persembahan kepada Tuhan haruslah dari apa yang diberikan oleh Tuhan, dan tidak baik memberikan hanya dari sisa-sisa kekayaan seseorang yang diberikan kepada Tuhan. Persembahan kepada Tuhan pada hari raya itu diberikan secara sukarela sesuai porsi masing-masing atas berkat yang diberikan Tuhan kepadaNya.

Perayaan atau ibadah dan persembahan adalah wujud ketaatan kepada TUHAN yang sudah memberkati dan akan memberkati umat-Nya. Ibadah bagi TUHAN adalah moment untuk berbagi dengan sesama merayakan berkat TUHAN. Keperduliaan dan solidaritas terhadap kaum lemah dan miskin menjadi bentuk nyata dari peribadahan yang sesungguhnya. Moment perayaan itu adalah moment di mana setiap orang dapat berbaur dalam kebersamaan bebas dari ikatan-ikatan strata sosial kehidupan.Tuan atau hamba, laki-laki atau perempuan, orang kaya atau orang miskin sama-sama merayakan segala berkat Tuhan.


Penulis Merupakan Kadep Koinonia HKBP

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Dialektika

Zaprulkhan* PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....