Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Kamis, Juli 2, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeDunia

Hanya Ada Satu Partai, untuk Apa Soviet Menggelar Pemilu?

byRedaksi
11/12/2020
inDunia
99
SHARES
704
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Agak mengejutkan bahwa sistem partai tunggal Soviet memiliki pemilihan umum (pemilu). Nyatanya, itu memang ada. Ketika konstitusi baru Soviet disahkan pada 1936, badan legislatif tertinggi yang disebut Majelis Agung Uni Soviet dibentuk. Anggotanya dipilih empat tahun sekali melalui pemilu.

Hari pelaksanaan pemilu mirip libur nasional, yang ditandai dengan perayaan massal.

Musik, Barang-Barang Langka, dan Perayaan

Mirip seperti negara-negara yang memonopoli kekuatan politiknya, jumlah pemilih dalam pemilu Soviet hampir selalu seratus persen. Mereka yang berpartisipasi dalam pemilu mengatakan tidak ada tekanan untuk hadir dan datang ke tempat pemungutan suara (TPS) secara sukarela. Mereka menganggapnya sebagai cara untuk menunjukkan keyakinan mereka, yang memang sudah menjadi tugas mereka. Akan tetapi, pihak berwenang juga membujuk mereka secara halus untuk hadir dengan cara memberikan insentif.

Sebelum pemilu, pemerintah gencar meluncurkan kampanye yang bertujuan meningkatkan jumlah pemilih. Koran-koran mencetak pengumuman pemilu yang akan datang untuk memberitahu tanggal penyelenggaraannya. Selain itu, laporan-laporan membosankan tentang persiapan pemilu juga selalu diberitakan.

Para pemilih juga menerima catatan pribadi untuk mengingatkan rekan-rekannya berpartisipasi dalam pemilu.

Dilihat dari jumlah pemilih yang besar, artinya strategi yang diterapkan pemerintah sangat berhasil. Masyarakat datang berdondong-bondong bersama keluarga dan teman, serta sering kali berfoto bersama untuk mengenang hari yang luar biasa itu. Biasanya, suasana di TPS berlangsung meriah.

“Kami selalu memilih datang pagi-pagi karena di TPS Anda bisa membeli berbagai produk yang jarang ditemui setiap hari, seperti jeruk, kue, kue kering, dan beberapa buku langka yang tidak mungkin untuk dibeli. Biasanya, barang-barang itu habis terjual dengan cepat,” kenang Aleksandra Goryushina, 83, yang berpartisipasi dalam pemilu Soviet.

Tugas Sakral

Terlepas dari suasana pesta dan pancingan berbagai produk langka untuk memikat pemilih agar datang ke TPS, mayoritas warga Soviet percaya bahwa memilih adalah tugas mereka karena setiap pemilu nonalternatif secara otomatis menjadi mosi percaya pada validitas sistem komunis.

“Orang-orang datang ke TPS terlepas dari kesempatan untuk membeli produk yang jarang ditemui. Sebagian orang menginginkan sosis, sementara yang lain tidak. Namun, semua orang menganggap bahwa mereka harus memilih. Itu adalah (tugas) sakral,” ujar Nikolai Bobrov, yang telah berpartisipasi dalam pemilu sejak 1971.

Ketika seseorang tidak menyukai gagasan untuk memilih calon yang sudah disetujui dan tidak menghadapi persaingan sebelum mencalonkan diri untuk sebuah jabatan tertentu, ia akan tetap memilih calon itu karena tekanan teman yang memaksa mereka untuk memberikan suaranya.

“Ayah saya, misalnya, sangat tidak menyukai pemilu. Meskipun demikian, dia tetap memilih,” kata Bobrov.

Calon Tunggal

Partai Komunis Uni Soviet (CPSU) adalah satu-satunya kekuatan politik di Negeri Tirai Besi. Jadi, tidak ada oposisi di sana.Semua warga negara diharapkan untuk mendukungnya dan setiap pertentangan terhadap garis partai dianggap sebagai tanda perbedaan pendapat yang tidak dapat di percaya.

Sebagian besar calon diusung oleh CPSU, tetapi ada juga calon resmi independen. Meskipun demikian, mereka juga bersekutu dengan para calon CPSU dan tidak melawan mereka.

Di setiap daerah pemilihan hanya ada satu calon yang mencalonkan diri melalui mimbar yang dikenal sebagai ‘blok komunis dan anggota nonpartai yang tidak dapat dihancurkan’.

Para pemilih diizinkan untuk memberikan suara menentang calon tunggal yang ada, tetapi  mereka harus menggunakan bilik suara. Sementara, mereka yang memberikan suara untuk sang calon tanpa tandingan dapat langsung memasukkan surat suara kosong ke dalam kota suara tanpa harus menggunakan bilik suara.

Kebanyakan orang langsung memasukkan surat suara ke kotak suara dan mereka yang menggunakan bilik suara dicurigai sebagai pembangkang potensial.

Ketika Mikhail Gorbachev berkuasa, langkah-langkah demokratisasi dalam sistem politik Soviet baru diterapkan dengan membentuk badan legislatif baru yang dikenal sebagai Kongres Deputi Rakyat pada 1989. Sejak saat itu, barulah rakyat Soviet merasakan pemilu yang kompetitif.(*)


Russia Beyond.

Tags:#partaitunggal#pemilu#soviet
Share40SendShare

Related Posts

KOMRAD : Jakarta Buktikan Diri, Dari Kota Rawan Jadi Salah Satu Kota Teraman Di ASEAN

09/04/2026

PIRAMIDA.ID | Jakarta, 8 April 2026 - Koordinator Nasional Komrad Pancasila, Antony Yudha Benusu, menyampaikan apresiasi sekaligus penegasan bahwa Jakarta...

Perang Israel-Iran Menunjukkan Pentingnya STEM, Fawer Sihite: Dukung Sikap Presiden Prabowo

22/06/2025

PIRAMIDA.ID - Dalam sebuah wawancara eksklusif yang berlangsung di Mall Atrium Senen, Jakarta Pusat, Fawer Sihite menegaskan bahwa perang antara...

Kebahagiaan Berasal dari Keyakinan dalam Diri

10/07/2023

PIRAMIDA.ID- Pernahkah Anda berkata pada diri sendiri saat marah, ‘Saya tidak boleh marah?' Atau mungkin ketika Anda merasa sedikit sedih,...

Mengapa Orang Terlihat Serius dan Tidak Tersenyum di Foto-foto Kuno?

30/04/2023

PIRAMIDA.ID- Foto-foto pertama diambil pada akhir tahun 1820-an. Tetapi sampai tahun 1920-an, tampaknya orang-orang mulai “belajar” tersenyum saat di foto....

Bagaimana Asal Usul Jabat Tangan?

02/04/2023

PIRAMIDA.ID- Kita sudah begitu terbiasa berjabat tangan dengan orang lain, kita hampir tidak memikirkan bagaimana, di mana, dan mengapa kebiasaan...

Marcus Aurelius: Kaisar Romawi Baik Hati yang Juga Seorang Filsuf

05/03/2023

PIRAMIDA.ID- Marcus Aurelius lahir pada 26 April 121 Masehi di Roma dengan nama lahir Marcus Annius Verus. Perjalanan hidupnya membuat...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

FESTIVAL U-12 RAMER PLUS FC 2026

01/07/2026
Berita

Sunat Gratis 41 Orang, KBG, Koin Dakwah, BKM Safinaatussalam Berkolaborasi di Bandar Huluan

28/06/2026
Berita

Warga Marteng Bangun dan Rawat Kampung Sendiri

28/06/2026
Berita

Areal Lapangan Bola Serbalawan, Mulai Diperbaiki Secara Swadaya

28/06/2026
Berita

Catat Sejarah 26 Santri Generasi Pertama SD Muhammadiyah Serbalawan di Wisuda

27/06/2026
Berita

Bentrok Warga VS PT Bridgestone Pemerintah Wajib Hadir, APH Tidak Boleh Absen

26/06/2026

Populer

Berita

Bentrok Warga VS PT Bridgestone Pemerintah Wajib Hadir, APH Tidak Boleh Absen

26/06/2026
Berita

Areal Lapangan Bola Serbalawan, Mulai Diperbaiki Secara Swadaya

28/06/2026
Berita

Catat Sejarah 26 Santri Generasi Pertama SD Muhammadiyah Serbalawan di Wisuda

27/06/2026
Berita

FESTIVAL U-12 RAMER PLUS FC 2026

01/07/2026
Berita

TKSK Simalungun Berduka, Kepergian Suhendra Mengejutkan Para Sahabat

25/06/2026
Berita

Warga Marteng Bangun dan Rawat Kampung Sendiri

28/06/2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber