Connect with us

Masukkan kata pencarian...

Dialektika

True Love

Zaprulkhan*

PIRAMIDA.ID- Apakah makna cinta sejati? Menurut Thich Nhat Hanh, dalam karya cemerlangnya “True Love”, dalam perspektif Buddisme, harus ada empat unsur untuk memenuhi makna cinta sejati.

Pertama, maitri, yang dapat diterjemahkan sebagai kebaikan hati atau kebajikan yang penuh kasih. Kebaikan hati bukan hanya keinginan untuk membuat seseorang yang kita cintai menjadi bahagia dan bukan juga hanya membawa kegembiraan pada orang yang kita cintai, tapi kita benar-benar mampu dalam menghadirkan kegembiraan dan kebahagiaan tersebut pada orang yang kita cintai. Sebab, walaupun niat kita mencintai seseorang, tapi kadangkala cinta kita justru bisa melukainya.

Dengan alasan inilah, mencintai itu perlu sebuah upaya.

Agar kita dapat memberikan kebahagiaan dan kegembiraan, kita harus mempraktekkan deep looking, menelisik lebih dalam kepada orang yang kita cintai. Sebab jika kita tidak memahami orang yang akan kita cintai, kita tidak dapat mencintainya dengan tepat. “Understanding,” tulis Thich Nhat Hanh, “is the essence of love. If you cannot understand, you cannot love. That is the message of the Buddha”.

Jika seorang suami ataupun juga seorang istri misalnya, tidak dapat memahami kesulitan-kesulitan yang tengah dirasakan pasangannya dan tidak mengerti aspirasi pasangannya, ia tidak akan bisa mencintai pasangannya dengan benar.

Jika seseorang tidak memahami nestapa dan penderitaan pasangannya, maka ia tidak dapat mencintai pasangannya dengan cara yang tepat. Sehingga kata Thich Nhat Hanh: without understanding, love is an impossible thing. Tanpa pemahaman yang benar, cinta menjadi tidak mungkin terlaksana.

Lalu bagaimana agar kita dapat memahami orang yang kita cintai? Kita harus menyediakan waktu untuk orang yang kita cintai. Kita harus hadir bersamanya, penuh perhatian kepadanya dan menyelami pribadinya dengan tulus. Buah dari semua inilah yang akan menghasilkan sebuah pemahaman. Perasaan cinta akan benar-benar menjelma hubungan cinta yang autentik jika tumbuh dari sebuah pemahaman yang substantif.

Unsur kedua, dari cinta sejati adalah karuna, atau belas kasih, compassion. Karuna bukan cuma sebuah keinginan untuk meredakan luka orang yang kita cintai, tapi juga benar-benar sebuah kemampuan dalam diri kita untuk meredakannya.

Kita harus mempraktekkan sikap penuh perhatian kepada orang yang kita cintai agar memperoleh sebuah pemahaman yang tepat terhadap kesulitan, aspirasi dan penderitaannya, sehingga kita dapat membantunya untuk berubah memperbaiki semua nestapanya.

Sebab pengetahuan dan pemahaman yang autentik merupakan akar dari praktek yang penuh perhatian. Mempraktekkan pemahaman juga adalah belajar mempraktekan meditasi. Dengan meditasi, kita senantiasa berupaya untuk menyelam ke dalam inti sesuatu. Bersama karuna, kita berbagi belas kasih dan kepedulian yang murni dengan orang yang kita cintai.

Unsur ketiga dari cinta sejati adalah mudita atau joy, atau kegembiraan. Jika tidak ada kegembiraan dalam cinta, itu namanya bukan cinta sejati. Jika dalam berhubungan dengan orang yang kita cintai, kita selalu menderita sepanjang waktu, jika kita menangis sepanjang waktu, dan jika kita juga membuat orang yang kita cintai sering menangis, itu namanya bukan cinta sama sekali.

Bahkan itu namanya kebencian. Jika bunga-bunga kegembiraan tidak tumbuh mekar dalam hubungan kita dengan orang yang kita cintai, kita harus mulai menyadari bahwa cinta sejati belum hadir dalam hubungan kita. Karena itu, dalam cinta sejati, percikan-percikan kegembiraan harus sering muncul dalam jalinan cinta kita dengan orang yang kita cintai.

Unsur keempat dari cinta sejati adalah upeksha atau freedom, atau kebebasan. Dalam cinta yang sejati, kita bukan hanya meraih kebebasan, tapi juga ketika kita mencintai seseorang, kita membawa kebebasan kepada orang yang kita cintai.

Bila cinta kita kepada seseorang tidak menghadirkan kebebasan, itu namanya belum bisa disebut cinta sejati. Kata Thich Nhat Hanh, kita harus belajar mencintai orang yang kita cintai dengan penuh keterbukaan, sehingga orang yang kita cintai merasakan kebebasan baik di luar maupun di dalam dirinya.

Lebih jauh, kata Thich Nhat Hanh untuk membuktikan unsur cinta yang terakhir ini, kita bisa mengajukan sebuah pertanyaan tulus kepada orang yang kita cintai: “Sayangku, apakah engkau mempunyai ruang yang cukup bebas dalam hatimu dan di sekelilingmu?” Ini merupakan sebuah pertanyaan yang cerdas untuk membuktikan apakah cinta kita benar-benar nyata dan benar-benar memberikan ruang kebebasan pada orang yang kita cintai.

Sampai di sini, kita bisa melihat bahwa membangun cinta sejati itu ternyata tidak mudah. Cinta sejati membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang panjang dan boleh jadi sepanjang hubungan kita dengan orang yang kita cintai.

Buku “True Love” Thich Nhat Hanh ini, meskipun ditulis dengan cukup singkat, tapi menyuguhkan konsep-konsep cinta sejati yang sangat inspiratif, transformatif, sekaligus aplikatif.

Satu contoh konkret misalnya, ketika berbicara tentang waktu yang perlu kita berikan kepada orang yang kita cintai, biasanya kita berargumentasi bahwa yang penting adalah kita menyediakan waktu yang berkualitas saat bersama orang yang kita cintai. Walaupun waktu yang kita berikan cuma sedikit atau sebentar, tapi yang penting waktu itu berkualitas. Begitu alasan kita umumnya.

Tapi menurut Thich Nhat Hanh, dalam hubungan cinta kasih dengan orang yang kita cintai, yang diperlukan bukan cuma quality time, tapi lebih dari itu quantity time.

Kita tidak akan bisa memberikan waktu yang benar-benar berkualitas untuk orang yang kita cintai bila kita tidak bersedia menyediakan waktu yang cukup untuk mereka. Kita harus bersedia menyediakan waktu yang cukup dan benar-benar being there with her or him, hadir bersama mereka. Karena itu, Thich Nhat Hanh juga mendefinisikan cinta dengan singkat sebagai: Love is being there. Cinta adalah hadir di sana secara total bersama orang yang kita cintai.

Demikian juga sebagaimana karya-karyanya yang lain, dalam buku “True Love” ini, Thich Nhat Hanh menayangkan sejumlah langkah-langkah praktis yang bisa kita jadikan panduan dalam menjalin cinta kasih dan menumbuhkembangkan bunga-bunga cinta kepada orang-orang yang kita cintai.

Sebuah karya yang layak kita apresiasi.


Penulis merupakan dosen di IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik, Bangka Belitung. Produktif menulis berbagai buku tema Filsafat dan Sejarah Islam.

Click to comment

Tinggalkan Komentar

Baca juga...

Sorot Publik

PIRAMIDA.ID- Veronica Koman lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang...

Pojokan

Tia Lestari Sidabutar* PIRAMIDA.ID- Dua bulan sudah aku berada di sini. Rasanya aku telah menyatu dengan segala hal di desa ini dan nama Tiga...

Sopolitika

 Kristian Silitonga* PIRAMIDA.ID- “Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya,...

Dialektika

Yudhie Haryono* PIRAMIDA.ID- Dalam salah satu tulisan yang sangat menyentuh, (almarhum) Arief Budiman menulis, ”Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula...

Dialektika

May Luther Dewanto Sinaga* PIRAMIDA.ID- Coronakrasi? Mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya terkait kata itu. Apa maknanya? Kenapa muncul? Dan apa pentingnya membahas kata itu?...

Pojokan

PIRAMIDA.ID– Beberapa waktu lalu, jagat laman facebook, khususnya Sumatera Utara, digegerkan dengan viralnya video (dugaan) persekusi disertai pengrusakan yang dilakukan segerombolan orang dari FPI...

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Saya sedang menulis buku tentang metafisika pada Kant dan Hegel. Saya mengawali bagian tentang Kant dengan cerita tentang gaya hidupnya....

Dialektika

Fitzerald Kennedy Sitorus* PIRAMIDA.ID- Tokoh-tokoh dan pemikiran para filsuf yang bernaung di bawah nama Mazhab Frankfurt ini sedikit banyak sudah dikenal oleh publik filsafat...