Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Senin, Juli 20, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeDunia

Sejarah Berubah, Ethiopia Lebih Maju dari Eropa Bukan Sebaliknya

byRedaksi
09/07/2021
inDunia
100
SHARES
715
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Pada awal 2020 saat corona merebak, sejarawan bernama Verena Krebs menghabiskan beberapa bulan di rumah orangtuanya di pedesaan Jerman. Sambil menunggu karantina wilayah Jerman, ia menyelesaikan buku tentang sejarah akhir abad pertengahanEthiopia.

Krebs tahu bahwa sumber bukunya bertentangan dengan narasi dominan yang menempatkan Eropa sang penolong Ethiopia yang membutuhkan. Seperti kerajaan Afrika yang mati-matian mencari teknologi militer yang lebih canggih kepada Eropa. Krebs khawatir bukunya akan mengubah interpretasi abad pertengahan. Akan teapi, ia melakukan sesuatu yang radikal.

Alih-alih mengubah apa yang sudah ditulis, Krebs memutuskan untuk mengikuti sumbernya dan menyelesaikan buku bernama Medieval Ethiopian Kingship, Craft, and Diplomacy with Latin Europe yang terbit pada awal tahun ini.

Cerita ini membalik naskah lama. Dalam narasi tradisional, cerita berpusat di Eropa dan menempatkan Ethiopia sebagai negara pinggiran dengan kerajaan Kristen yang terbelakang dalam teknologi. Akan tetapi, Krebs mampu menampilkan kekuatan Ethiopia.

Narasi tradisional menekankan Ethiopia lemah dalam kesulitan menghadapi agresi dan kekuatan eksternal, terutama Mamluk di Mesir. Akibatnya, Ethiopia mencari bantuan militer dari rekan-rekan Kristen mereka ke utara seperti kerajaan Aragon yang berkembang (Spanyol moderen), dan Prancis. Namun, kisah nyata terkubur dalam teks-teks diplomatik abad pertengahan dan belum disatukan oleh para sarjana moderen.

Raja-raja Solomon di Ethiopia, dalam cerita ulang Krebs, menjalin hubungan trans-regional. Mereka “menemukan” kerajaan-kerajaan Eropaabad pertengahan akhir, bukan sebaliknya. Orang Afrikalah yang mengirim duta besar ke negeri asing dan jauh pada awal abad ke-15.

Mereka mencari keingintahuan dan relik suci dari para pemimpin asing yang bisa menjadi simbol gengsi dan kebesaran. Pada awal Abad Penjelajahan, ada narasi yang menggambarkan penguasa Eropa sebagai pahlawan karena mengirimkan kapal mereka ke negeri asing. Sementara Krebs justru menemukan bukti bahwa raja-raja Ethiopia mensponsori misi diplomasi, iman, dan perdagangan mereka sendiri sebelum Eropa memulainya.

Sejarah Ethiopia abad pertengahan tampaknya memiliki cakupan yang lebih luas daripada abad ke-15 dan ke-16. Mereka telah menjalin hubungan dengan Mediterania, yang lebih terkenal sejak awal ekspansi Kekristenan.

Aksum, kerajaan pendahulu yang sekarang kita kenal sebagai Ethiopa, measuki era Kristen pada awal abad keempat. Fakta ini menunjukkan sejarah Kekristenan di Ethiopia jauh lebih awal dari masa kekaisaran Romawi, yang baru masuk Kristen pada abad keenam atau ketujuh.

Dinasti Solomon secara khusus muncul sekitar 1270 di dataran tinggi Tanduk Afrika. Kemudian pada abad ke-15 memiliki kekuatan yang terkonsolidasi lebih kuat di teritori tersebut.

Nama mereka muncul dari klaim keturunan langsung Raja Salomo dari Israel kuno, melalui hubungan dengan Ratu Sheba. Meskipun menghadapi beberapa ancaman eksternal, mereka secara konsisten mereka mengalahkan itu dan memperluas kerajaan mereka sepanjang periode tersebut. Membangun hubungan yang tidak nyaman (meskipun umumnya damai) dengan Mamluk Mesir dan menginspirasi keajaiban di seluruh Eropa Kristen.

Pada saat inilah, kata Krebs, para penguasa Ethipia melihat kembali ke Aksum dengan nostalgia.

“Ini adalah Renaisans kecilnya sendiri, jika anda mau, di mana raja-raja Kristen Ethiopia secara aktif kembali ke Zaman Kuno Akhir dan bangkan menghidupkan kembali model antik akhir dalam seni dan sastra, untuk menjadikannya milik mereka,” ucap Krebs di laman Smithsonian.

Eropa, kata Krebs, bagi orang Ethiopia adalah tanah yang misterius dan bahkan mungkin sedikit biadab dengan sejarah yang menarik, dan yang penting, barang-barang suci dapat diperoleh raja-raja Ethipia dari sana.

Mereka tahu tentang Paus, katanya. “Tapi selain itu, ini adalah Frankland. (Orang Ethiopia abad pertengahan) memiliki istilah yang jauh lebih tepat untuk Kekristenan Yunani, Kekristenan Siria, Kekristenan Armenia, Koptik, tentu saja. Semua gereja Ortodoks dan Ortodoks Oriental. Tapi semua orang Kristen Latin (bagi orang Ethiopia) adalah Frankland.”

Buku itu sudah berdampak pada kehidupan di luar akademi. Solomon Gebreyes Beyene, seorang peneliti dari Ethiopia sekarang di Universitas Hamburg mengatakan.

“Kebanyakan orang Ethiopia biasa yang telah menyelesaikan sekolah menengah dan bahkan universitas telah mengetahui bahwa Ethiopia menerapkan kebijakan pintu tertutup di Abad Pertengahan. Atau, paling tidak mencari bantuan militer dan senjata dari utara” katanya.

Buku Krebs mengubah semua itu, katanya. Ini membuka periode dan memungkinkan cendekiawan Ethiopia dan masyarakat umum untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah diplomatik yang mulia dari sejarah abad pertengahan.

Krebs tidak puas hanya duduk dan melihat apa yang terjadi selanjutnya. Dia tetap fokus tidak hanya mengubah sejarah Ethiopia, tetapi juga memastikan bahwa cerita mereka diintegrasikan ke dalam cerita abad pertengahan, terutama abad ke-15.

“Raja-raja yang melihat diri mereka sebagai pusat alam semesta, yang duduk di Dataran Tinggi di Tanduk Afrika ini, dan menganggap diri mereka bukan hanya pewaris Raja Salomo yang alkitabiah, tetapi juga sebagai raja pertama di Bumi,” tutur Krebs. “Jadi maksud saya, itu hanya mengubah cara kita perlu membaca, dalam hal ini, interaksi Afrika-Eropa.”

Mengikuti sumber Krebs, cukup jelas bahwa dunia abad pertengahan jauh lebih luas dan lebih luas daripada yang diperkirakan banyak orang.(*)


National Geographic Indonesia

Tags:#ethiopia#modern#sejarah
Share40SendShare

Related Posts

KOMRAD : Jakarta Buktikan Diri, Dari Kota Rawan Jadi Salah Satu Kota Teraman Di ASEAN

09/04/2026

PIRAMIDA.ID | Jakarta, 8 April 2026 - Koordinator Nasional Komrad Pancasila, Antony Yudha Benusu, menyampaikan apresiasi sekaligus penegasan bahwa Jakarta...

Perang Israel-Iran Menunjukkan Pentingnya STEM, Fawer Sihite: Dukung Sikap Presiden Prabowo

22/06/2025

PIRAMIDA.ID - Dalam sebuah wawancara eksklusif yang berlangsung di Mall Atrium Senen, Jakarta Pusat, Fawer Sihite menegaskan bahwa perang antara...

Kebahagiaan Berasal dari Keyakinan dalam Diri

10/07/2023

PIRAMIDA.ID- Pernahkah Anda berkata pada diri sendiri saat marah, ‘Saya tidak boleh marah?' Atau mungkin ketika Anda merasa sedikit sedih,...

Mengapa Orang Terlihat Serius dan Tidak Tersenyum di Foto-foto Kuno?

30/04/2023

PIRAMIDA.ID- Foto-foto pertama diambil pada akhir tahun 1820-an. Tetapi sampai tahun 1920-an, tampaknya orang-orang mulai “belajar” tersenyum saat di foto....

Bagaimana Asal Usul Jabat Tangan?

02/04/2023

PIRAMIDA.ID- Kita sudah begitu terbiasa berjabat tangan dengan orang lain, kita hampir tidak memikirkan bagaimana, di mana, dan mengapa kebiasaan...

Marcus Aurelius: Kaisar Romawi Baik Hati yang Juga Seorang Filsuf

05/03/2023

PIRAMIDA.ID- Marcus Aurelius lahir pada 26 April 121 Masehi di Roma dengan nama lahir Marcus Annius Verus. Perjalanan hidupnya membuat...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

SILPA Rp264,75 Miliar, PMKRI Soroti Perencanaan Anggaran dan Dorong Penguatan Sinergi Pemkab–DPRD

19/07/2026
Berita

Ketua ILAJ: Seluruh Jajaran Satgas PKH Layak Dianugerahi Bintang Mahaputera atas Jasa Luar Biasa Memulihkan Keuangan dan Aset Negara

19/07/2026
Berita

Ketua ILAJ Apresiasi Kepemimpinan Satgas PKH: Sjafrie Sjamsoeddin, ST Burhanuddin, dan Febrie Adriansyah Berhasil Selamatkan Aset Negara Senilai Rp402,4 Triliun

18/07/2026
Berita

Ketua Umum Jaringan Muda Pendukung Prabowo: 12 Poin Pernyataan Hotman Paris Tentang Febrie Adriansyah Tidak Bisa Dibantah Karena Berdasarkan Fakta

18/07/2026
Berita

Bupati Simalungun Terima Audensi Pimpinan BWI

17/07/2026
Berita

ILAJ Resmi Surati Presiden Prabowo, Ajukan Permohonan Pertimbangan Pemberian Abolisi atau Amnesti kepada Febrie Adriansyah

17/07/2026

Populer

Berita

Tak Mau Bahas LKPD, Aktivis ingatkan Anggota DPRD bisa dilaporkan

15/07/2026
Berita

Gerakan Ayah Antar Anak Sekolah, Adi Putra dan Dody Arfan Rela Cuti Kerja

13/07/2026
Berita

Ketua Umum Jaringan Muda Pendukung Prabowo: 12 Poin Pernyataan Hotman Paris Tentang Febrie Adriansyah Tidak Bisa Dibantah Karena Berdasarkan Fakta

18/07/2026
Berita

SILPA Rp264,75 Miliar, PMKRI Soroti Perencanaan Anggaran dan Dorong Penguatan Sinergi Pemkab–DPRD

19/07/2026
Berita

ILAJ Resmi Surati Presiden Prabowo, Ajukan Permohonan Pertimbangan Pemberian Abolisi atau Amnesti kepada Febrie Adriansyah

17/07/2026
Pojokan

Pesan Tersembunyi Ki Narto Sabdo Dalam Lagu Kelinci Ucul

23/09/2020
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobasumber